Menabung Air di Musim Hujan

19 Februari, 2010

Problem utama setiap musim panas adalah kurangnya pasokan air tanah untuk keperluan air rumah tangga. Sedangkan di musim hujan, isu banjir menjadi momok mengerikan, terutama bagi yang tinggal di dataran rendah atau daerah aliran sungai. Padahal banyak upaya yang bisa disiasati, tentu saja ada yang butuh dukungan dari para tetangga karena dampaknya akan kurang maksimal jika dilakukan sendirian. Berikut di antara upaya yang dapat dilakukan sebagai solusi atas problem tersebut.

1. Stop penggunaan jet pump

Alasan utama adalah, karena jet pump menguras cadangan air lebih cepat dan lebih banyak, sehingga potensi kekeringan menjadi lebih besar. Apalagi melihat kesalahan kaprah jika seorang tetangga menggunakan jet pump, maka 4 hingga 8 tetangga lainnya memasang jet pump.

Sebagai alternatif, gunakan pompa listrik biasa, atau jika perlu kembali menggunakan pompa tangan yang tetap dapat digunakan walau aliran listrik mati, sekalian berolahraga 🙂
Baca entri selengkapnya »


fungsional dan praktis

17 Februari, 2010

Demi bergaya, seseorang membeli Honda CBR yang baru turun dari kapal, kemudian bergabung dengan klub, melakukan turing, membuat setiap mata yang dilaluinya memandang takjub dan terpana. Perawatan motor itu hanya pada bengkel tertentu saja, mungkin hanya ada beberapa di negeri ini. Suatu saat ia terjatuh sehingga patah spionnya, harus indent untuk mendapat penggantinya. Ketika harus mengganti suku cadang karena sudah waktunya pun harus indent, menunggu kiriman dari kapal karena tidak terdapat di toko suku cadang biasa. Tibalah waktunya si pemiliki motor sport bergaya itu melepas masa lajangnya, ia sadar dirinya tidak berharta lebih, dilego pula CBR kesayangannya pada angka 25 juta.

Baca entri selengkapnya »


kejatuhan durian runtuh

16 Februari, 2010

Peribahasa yang sudah sangat jarang didengar ini sempat divisualisasikan dengan sangat menarik oleh salah satu bank nasional dalam promo programnya. Pada film animasi besutan anak negeri jiran [1] mengambil latar cerita di kampung durian runtuh. Agaknya hendak memopulerkan kembali peribahasa yang aslinya berbunyi “bagai mendapat durian runtuh”, bermakna “mendapat keuntungan yg tidak tersangka-sangka atau tidak dengan bersusah payah”.

Baca entri selengkapnya »


antara dua tukang ojek

1 Maret, 2008

mengejar waktu rapat di hotel novotel bogor yang terletak di kawasan bogor raya, tak mudah jika menggunakan kendaraan umum sehingga kugunakan ojek dari seberang terminal baranangsiang.

aku sudah lupa berapa biaya ojek ke hotel novotel, karena sudah lama tidak berojek ke sana.
kugunakan saja patokan Rp3 ribu per kilometer mengingat aku sering menggunakan ojek dari
rumahku ke jalur angkot yang berjarak kurang lebih satu kilometer dengan ongkos tiga ribu
rupiah saja. jarak dari pos ojek ke hotel novotel berkisar lima kilometer.

di hari pertama, aku sengaja tidak menanyakan dahulu ojek yang kutumpangi mengenai
ongkosnya. setibanya di tujuan barulah kutanyakan ongkos ojeknya. dijawab olehnya Rp20 ribu. kucoba menawar sepuluh hingga lima belas ribu rupiah, akhirnya tukang ojek itu menerima tiga lembar uang lima ribuanku. ia berlalu hanya dengan senyum canggung.

di hari kedua, perjalanan ojekku diiringi gerimis. aku tak perlu lagi bertanya dan langsung
saja kuberikan Rp15 ribu sesampai di hotel. baru saja kulangkahkan kaki tuk pergi, tukang
ojek itu memanggilku, “Pak”.

“ada apa pak? ongkosnya kurang?”

“tidak pak, justru saya mau bilang terima kasih”

tukang ojek itu pun berlalu meninggalkan aku yang merasa takjub. entah untuk alasan apa
tukang ojek itu berterima kasih, mungkinkah apa yang kuberikan melebihi standar ongkos? atau

aku adalah penumpang pertama sejak pagi ia berjaga di pos ojek? atau hal-hal lain? satu hal
yang kukagumi adalah ia telah melakukan hal yang luar biasa, berbeda dengan tukang ojek yang pertama: berterima kasih.
terima kasih sudah membaca 🙂

[nd, 22022008]


bullying bocah di sekitar kita

15 November, 2007

“bibi, ada si X ga?”

“ngga ada, emangnya kenapa?”

“aku ngga mau main sama dia, karena dia licik. si Y aja tau makanya dia gak main sama si X”

“trus kamu main sama siapa dong?”

“aku mainnya sama dek raka”

“lho, dek raka kan masih kecil, kalau kamu gak main sama seumuran kamu bagaimana kamu bisa berkembang?”

“habis, aku bakalan kena marah kalau ketahuan mama, main sama si X”

sebetik percakapan itu menggelitik, sebab dilakukan oleh bocah laki-laki kelas VI SD kepada bibi di rumah kami terhadap salah seorang anak tetangga yang seumuran dengannya. FYI, raka adalah anak kami, si X adalah anak laki-laki tetangga, si Y adalah anak perempuan tetangga kami lainnya, nama keduanya sengaja kami samarkan untuk kebaikan. jelas aja si Y tidak main dengan si X, beda jenis kelamin sih 🙂

tidak sekali itu saja bocah tersebut menjelek-jelekkan temannya. pernah sebelumnya memojokkan anak tetangga lainnya dengan panggilan yang buruk. tetapi sayangnya ketika “korban” ejekannya menantang berkelahi, si bocah malah lari tunggang langgang ngumpet di kolong tempat tidur mamanya, nggak keluar-keluar hingga yakin si “korban” ejekannya pergi.

si bocah yang masih jadi anak tunggal itu, tidak hanya melakukan bullying kepada teman-temannya, tetapi sedang menumbuhkan sikap kebencian dalam dirinya kemudian mencari dukungan dari pihak lain. apabila pihak lain tersebut tidak dapat dipengaruhi, maka ia akan membencinya pula. hal ini kelak membuatnya hidup tanpa teman seorang pun. sungguh kasihan.

yang lebih menarik lagi adalah, pernyataan bocah tersebut bahwa ia melakukan itu karena ada “tekanan” dari mamanya. [jadi ingat kasus fadil, siswa sman 34 yang kabarnya ditekan oleh ayahnya untuk berbicara kepada media massa sesuai dengan keinginan ayahnya, walaupun menurut beberapa siswa sman 34 kesaksiannya itu terlalu banyak yang tidak sesuai kenyataan]

mengapa bocah tersebut berlindung di balik ketiak mamanya? jika ditelusuri ke belakang, mamanya si bocah pernah mengalami konflik dengan mamanya si X. kasus sebenarnya sudah diselesaikan secara baik-baik dengan penengah yang dianggap adil. tetapi dalam hati siapa yang tahu 🙂

yang jadi pertanyaan lagi, apakah berlindungnya si bocah di balik mamanya itu benar-benar atas suruhan mamanya atau inisiatif si bocah tersebut untuk mencari patron – pelindung, back up kelakuannya yang buruk itu.

istilah “bullying” sendiri sangat sulit dicari definisi yang resmi, namun ketika disebutkan bullying, kebanyakan sepakat bahwa tindakan itu meliputi ulah negatif yang intensif untuk menyakiti orang lain secara verbal, fisik dan koersif (intimidasi), sehingga membuat orang lain tersebut tidak nyaman, merasa takut dan dapat mengalami gangguan perkembangan jiwa.

bullying itu ada di sekitar kita, sebuah kenyataan yang harus dihadapi, bukan disikapi dengan paranoid apalagi fobia. jika pelakunya masih bocah, jadikan refleksi apakah anak-anak kita bisa saja menjadi seperti itu? dan sudah menjadi tugas sosial kita untuk mengarahkan anak-anak pelaku bullying kepada jalan yang baik. karena anak-anak kita bukan hanya yang lahir dari rahim kita, tetapi juga anak-anak yang bermain dengan anak-anak kita, yang secara moral berhak mendapat pendidikan yang baik juga dari kita sebagai orang tua sosial mereka.

banyak hal yang bisa kita lakukan sebagai orang tua untuk mengurangi efek bullying itu pada anak-anak kita. yang jelas tidak dengan tindakan represif yang memperkeruh suasana. bisa baca di kids health

“mas kan sudah besar, tentu bisa membedakan hal-hal seperti benar-salah, dan baik-buruk?”

“iya, bi”

“mas harus bisa bermain dengan siapapun, jangan pandang bulu, kalau ada kesalahan diselesaikan dengan diskusi dan maaf, bukan dengan cara membenci seperti ini”

[citra]


kasus bullying dan pemberitaan lebay

15 November, 2007

(belajar dari kasus geng di sman 34) 

sejak kasus sman 34 jadi headline kompas minggu 11 november 2007 lalu, milis-milis dan forum online yang dikelola oleh alumni dan siswa sman 34 ramai dengan thread diskusi. ada yang bertanya-tanya, ada yang mengecam, dan ada yang mencoba mengurai permasalahan, ada yang mencoba mengklarifikasi, bahkan ada yang bersaksi mengenai kejadian sebenarnya berdasarkan apa yang diketahui. tentu saja hal itu bermanfaat bagi keluarga alumni sman 34 karena mendapat informasi yang lebih valid daripada informasi berlebih-lebihan yang terdapat di media massa.

terus terang, pemberitaan “lebay” (baca: berlebih-lebihan) oleh media massa lebih sering berasal dari pihak “korban”, namun sedikit sekali yang berasal dari pihak “pelaku” atau counter part-nya. pemberitaan tidak seimbang akan membuat opini yang tidak sehat dan cenderung pointing finger kepada tersangka. padahal belum tentu semua yang diungkapkan oleh “korban” adalah kenyataan di lapangan. karena “korban” sendiri secara sadar lebih tepat menjadi korban dari persepsi dirinya sendiri atau pelapor (yang notabene adalah ayah “korban”).

ayah mana yang tak tergerak untuk melaporkan kepada pihak berwajib apabila menemukan keganjilan pada anaknya? tentu saja ini wajar. namun jika harus menjadi berita nasional yang dampaknya memperburuk citra sekolah, walaupun pada awalnya “hanya” berniat mengungkapkan adanya “geng” dan “kenakalan” remaja siswa sman 34 (dimana anaknya bersekolah), tentu saja ini menjadi berlebihan. apalagi dengan kelakuan aneh para pencari warta, yang pengen denger sendiri kesaksian “korban” akhirnya malah menjadi bumbu penyedap yang bikin gerah para alumni sman 34.

akhirnya ada beberapa alumni sman 34 menjadi informan para pencari warta, dengan maksud bermacam-macam. tentu saja “kepedulian” seperti ini diperlukan untuk mengembalikan citra positif sman 34. namun bukan aneh apabila ada saja oportunis yang justru memperburuk keadaan dengan membongkar kisah yang seharusnya hanya jadi “rahasia keluarga”. tanpa sadar pemberitaan yang semakin heboh ini menjadi perbincangan berbagai kalangan yang lebih luas, memperburuk keadaan dan tentu saja akan menguatkan eksistensi kepopuleran “korban” dan ayahnya.

dengar-dengar, gubernur dki akan makan es campur (baca: mendukung) “pembasmian” geng yang ada di sman 34 itu. waduh! benar-benar “lebay” !!!

apakah pak gubernur yang terhormat sudah selesai dengan program 100 hari mengatasi kemacetan dan banjir?

lalu apa langkah selanjutnya untuk kasus ini?
perilaku “kriminal” para tersangka memang patut ditindak secara hukum, namun asas peradilan yang berimbang harus mendampingkan para tersangka dengan bantuan hukum supaya mereka mendapat keadilan dari “fitnah” (baca: bumbu-bumbu berita) yang disebarkan media.

perlu ketegasan dari pihak sekolah mengenai sikap mereka menghadapi kasus semacam ini. sudah seharusnya pihak sekolah membangun kembali komunikasi yang baik dengan siswa. terus terang, munculnya geng dan kelakuan aneh siswa dapat saja dipicu oleh kebijakan sekolah yang menuntut teralalu banyak dari siswa, sedangkan potensi siswa sebenarnya tidak diapresiasi dengan baik oleh sekolah.

perlu dukungan lebih baik dari alumni sman 34 yang masih peduli untuk melakukan langkah nyata dalam memperbaiki “kaderisasi” kebaikan kepada para siswa sman 34 dan membangun komunikasi yang baik dengan pihak sekolah, bahwa: “ini lho, para alumni berniat baik dan mendukung sekolah”.

perlu kebijaksanaan para orang tua siswa untuk melihat permasalahan lebih komprehen. bangun komunikasi yang positif dengan anak-anak mereka, sehingga tidak perlu “menunggu” tiga bulan untuk mengendus “keganjilan” perilaku anaknya. tindakan represif ortu kepada anaknya dapat menjadi sikap bullying, karena memaksa anak menuruti kehendak ortu. padahal secara fisik dan kejiwaan, usia sma sudah bukan anak-anak lagi, tetapi orang dewasa yang memiliki pemikiran dan pilihan sendiri. di sinilah peran ortu untuk mengarahkan, bukan memaksakan, supaya perjalanan hidup anaknya lebih mengarah positif dan bermakna.

terakhir, perlunya menghentikan ulah para pencari warta dalam membesarkan kasus internal keluarga sman 34 ini. karena ulah mereka sama sekali tidak menyelesaikan permasalahan, justru memperburuk keadaan. serahkan saja kepada pihak-pihak yang “bertikai” untuk berdamai. toh mereka bukan selebriti, selebriti seperti Roy Marten saja butuh privasi apalagi para pelaku kasus ini?

ah, tulisan ini hanya segelintir pemikiran dari seorang alumni sman 34.
[andi]


dakwah turun ke jalan

13 November, 2007

pemuda itu meminta ijin kenek untuk naik bus metromini yang membawa penumpang ke arah pasar minggu. wajahnya penuh senyum, setelah pengamen turun dari bus, ia maju ke depan, mengucap salam dan shalawat kemudian mulai berbicara tentang maraknya aliran sesat, dan ia memperkenalkan program dakwah turun ke jalan.

ia berbicara begitu santun dan anggun, pemilihan kata-katanya berusaha untuk tidak menyinggung perasaan, walaupun sementara masih dangkal. tetapi ia mengajak penumpang untuk berterima kasih dan bersyukur kepada Allah atas segala karunia dan kemampuan yang diberikan secara berbeda-beda kepada setiap orang. keahlian yang dimiliki sepatutnya digunakan dengan rasa syukur.

setelah selesai ia mengajak penumpang untuk berpartisipasi mendanai program dakwah turun ke jalan. walau tak seorang pun yang mengulurkan receh, barangkali karena sudah habis untuk pengamen sebelumnya, pemuda itu tetap menghiasi wajahnya dengan senyuman dan berusaha ikhlas. ia pun turun dari bus seraya berterima kasih kepada kenek.

ada sebuah ayat di dalam Alquran surat Yaasin, 36:21

Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.

mungkin perlu perhatian dari pihak yang berwenang (ulama, pemerintah, lembaga dakwah, lembaga pendanaan umat, dsb) untuk penggagas program dakwah turun ke jalan, supaya mereka tidak menjual ayat-ayat dengan harga murah. meminta penumpang berpartisipasi dalam program tersebut (ini pun berlaku bagi para pencari dana pembangunan masjid) adalah perilaku yang dibenci dalam agama, karena hanya orang-orang yang mencari balasan dari Tuhan mereka saja itulah yang mendapat petunjuk dan memberi petunjuk yang benar.

QS 6:90 Katakanlah: “Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran).”


[lessons] siapa yang peduli…

1 Februari, 2007

Pagi ini dalam perjalanan ke kantor, di bilangan cilandak-ampera, tertangkap oleh mataku seseorang yang berjongkok di atas genangan air (Hujan semalam telah menggenangi beberapa wilayah di Jakarta). Lelaki itu mengenakan pakaian seadanya, tangan kirinya menopang badannya yang membungkuk ke arah genangan air itu lalu … ah… ia menjulurkan leher dan mulutnya kemudian meminum airnya seperti binatang. Astaghfirullah…

Masih pagi ini, di jalur busway yang sudah dioperasikan, melajulah beberapa kendaraan bermotor, padahal sudah jelas tanda verboden kecuali bus transjakarta yang boleh melalui jalur tersebut. Walhasil polisi harus repot menilang mereka, bahkan sempat seorang pengendara sepeda motor dapat saja menyeret polisi ketika polisi memegang jaketnya. Masya Allah…

Beberapa waktu lalu, ketika seorang ibu yang menggandeng anaknya menyeberang jalan yang ramai, tiba-tiba mainan yang digenggam oleh si anak terlepas dan jatuh di jalan. Sang ibu berniat mengambil mainan tersebut namun dilarang oleh pengatur lalu lintas karena padatnya lalu lintas saat itu. Ibu dan anak itu akhirnya hanya memandang terpaku mainan itu terlindas kendaraan yang berlalu. Inna lillaahi…

Mungkin tak banyak yang memperhatikan ketiga kejadian itu. Bisa jadi ketiganya adalah sebagian kecil dari banyaknya kejadian yang memrihatinkan yang terjadi di sekitar kita. Bisa jadi semua kejadian yang memrihatinkan itu sama sekali tidak menjadi perhatian kita.

Siapa yang peduli seseorang yang kehausan lalu minum air genangan bekas hujan?
Siapa yang peduli orang yang melanggar lalu lintas bahkan hampir saja mencelakakan petugas?
Siapa pula yang peduli bahwa mainan yang dibeli sang ibu untuk anaknya mungkin saja adalah dari uang yang diperolehnya setelah menabung sekian lama, namun harus hancur seketika terlindas kendaraan?

Dan kita sama sekali tak bisa berbuat sesuatu untuk mereka, karena disibukkan oleh urusan kita sendiri…

[lesson on 01022007]


[lessons] Hidup hanya seperti parkir

29 Januari, 2007

Wajah lelaki usia setengah baya itu hampir setiap hari menyapa saya dengan senyum dan keramahannya yang khas. Ajaibnya dia selalu punya tempat untuk memarkirkan motor saya (maklum, kalau sering telat ngantor, tempat parkir pun selalu penuh). Sepetik percakapan setiap kali mengisi pertemuan kami. Entah tentang solat subuh, puasa sunah, dan masalah ibadah lainnya (beliau beberapa kali memanggil saya ustad karena sempat mengisi kultum di masjid). Kadang-kadang dia membicarakan keluarganya, mulai dari liburan sekolah yang mengajak mereka pergi menengok sanak saudara di kampung, anak pertamanya yang kontrak kerjanya sudah habis, kebutuhan praktik anak keduanya yang sekolah di STM dan kemanjaan anak ketiganya yang masih duduk di kelas 2 SD.

Sejauh yang saya kenal mengenai dirinya adalah kebersahajaannya. Beliau punya semangat untuk memelajari agama dan hidup sederhana. Pekerjaan sebagai penjaga parkir di gedung perkantoran kami sudah dilakoninya bertahun-tahun. Rasa terima kasihnya atas kebaikan orang lain dia wujudkan dalam bentuk pelayanan yang totalitas. Kadang-kadang saya sampai malu sendiri dilayani beliau yang usianya jauh lebih tua daripada usiaku.

Saya teringat pelajaran tukang parkir yang disampaikan oleh Aa Gym, bagaimana bagus dan banyaknya kendaraan yang berada di lahan parkir tetap tidak membuat si tukang parkir menjadi sombong, apalagi rasa kehilangan apabila kendaraan itu semua diambil oleh pemiliknya. Rasa memiliki si tukang parkir diwujudkan dalam menjaga kendaraan yang diparkir supaya tetap aman dan pemilik kendaraan merasa nyaman. Dan dari sisi kendaraan itu sendiri, kadang-kadang ia parkir di suatu tempat, kemudian berpindah ke tempat lain.

Begitulah hidup hanya seperti parkir, kadang berada di sini kadang berada di sana. Dan begitu juga si tukang parkir, hidup yang dijalani hanyalah untuk memelihara amanah yang dititipkan kepadanya.

Bagi pak Mahmudin, tokoh yang saya ceritakan di atas, tugasnya sebagai penjaga parkir sudah harus selesai per tanggal 25 Januari 07 kemarin walau usianya baru 47 tahun dan beliau kini tidak perlu lagi memusingkan permasalahan hidup yang dihadapinya. Tetapi bagi saya, dengan selesainya tugas beliau sapaan ramah dan obrolan singkat di pelataran parkir tak akan lagi ada. Pertama kalinya saya sowan ke rumahnya kemarin adalah untuk mengantarkan beliau kepada tempat istirahatnya yang terakhir.

Selamat jalan pak Mahmudin, hidup memang hanya seperti parkir.

[lesson on 26012007]

 


jika suami membantu istri

12 Januari, 2007

Tak banyak para suami yang mau membantu istrinya, paling tidak begitu menurut survey kecil-kecilan yang saya lakukan. Secara ilmiah, survey diambil dari obrolan antara teman-teman yang sudah jadi suami maupun yang akan jadi suami, diskusi yang saya ikuti di dunia maya, ditambah dengan diskusi dengan istri saya yang sering mendengar atau jadi curhatan para ibu-ibu tentang kelakuan suaminya. Adapun yang dimaksud dengan membantu istri di antaranya adalah mengerjakan pekerjaan rumah tangga (mengurusi pakaian kotor, membersihkan rumah dan perabotan, memasak makanan), berbelanja kebutuhan rumah tangga, mengurusi dan mendidik anak.

Entah apa yang ada di dalam benak masing-masing suami terhadap “membantu istri”, ada yang bilang bahwa itu semua pekerjaan perempuan. Saya ingat tentang pendapat seorang ahli yang saya lupa namanya, bahwa keluarga yang dibangun memiliki 2 macam:
1) memisahkan peran dan tanggung jawab antara suami dan istri. Macam yang ini juga terbagi 2 yaitu:
a) peran suami di luar rumah lebih besar daripada istri
b) peran istri di luar rumah lebih besar daripada suami
2) menyeimbangkan peran dan tanggung jawab antara suami dan istri. Macam yang ini berusaha secara adil dan melihat kondisi, peran siapa yang dapat lebih besar, dan dapat saling melengkapi satu sama lain.

Secara sejarah, macam yang pertama merupakan warisan nenek moyang dimana para lelaki berburu dan berperang, para perempuan berkebun, menyiapkan makanan dan mengurus anak. Sedangkan macam yang kedua hadir sebagai kebutuhan budaya, kesadaran akan kesetaraan, dan keimanan.

Ketika sejarah mencatat bahwa nilai perempuan di mata lelaki tidak berarti, dianggap menyusahkan dan tidak produktif, bahkan menjadi tempat pemuasan nafsu belaka, sejarah juga mencatat bahwa perempuan dihormati 3 kali daripada lelaki, kedudukannya di mata Allah adalah setara sehingga harkat dan martabat perempuan terangkat, peran perempuan dan laki-laki sama dalam melahirkan peradaban yang berbudaya.

Nabi sendiri amat mencintai istri-istrinya dan menempatkan mereka pada kedudukan yang terhormat dan mulia. Di saat tidak berperang, beliau mencari nafkah, memasak untuk kebutuhan makanan keluarga sampai-sampai beliau menjahit sendiri pakaian dan sandalnya yang putus talinya. Nabi juga mencintai anak-anak dan cucu-cucunya, mengurusi mereka tatkala ibu mereka sedang sibuk, dan berperan besar dalam mendidik mereka menjadi generasi yang kuat dan tangguh.

Pada masa beliau, peran perempuan menjadi jelas dan nyata, eksistensi perempuan menjadi lebih kentara dan diakui seiring dengan produktifitas karya yang dibuat oleh kaum perempuan. Dengan begitu perempuan menyadari posisinya sebagai pendamping laki-laki dalam membesarkan dan mendidik generasi, sehingga para perempuan dengan senang hati dan ikhlas karena Allah, membantu tugas suami dalam menjalankan roda rumah tangga.

Belajar dari cara Nabi dan para sahabat dalam mengurusi rumah tangga, suami tidak sepatutnya menuntut banyak hal kepada istrinya di luar kemampuan mereka. Justru ketika suami mengabdikan dirinya dalam mengurusi rumah tangga, para perempuan salihah itu akan serta merta berpartisipasi. Ini merupakan bentuk pendidikan keluarga, dimana anak-anak akan melihat bagaimana ayah mereka memuliakan ibu mereka, kelak mereka juga akan memuliakan perempuan. Sebaliknya jika suami tidak berbuat demikian, sangat mungkin keluarga yang dibangun akan kehilangan kebahagiaan dan berpotensi gagal dalam melanjutkan pelayaran kehidupan berkeluarga.

Saya berterima kasih kepada Allah yang memberikan orangtua yang mendidik saya untuk memuliakan perempuan sebagaimana juga merupakan ajaran dari Nabi-Nya, dengan begitu saya berusaha untuk menerapkannya dalam kehidupan rumah tangga saya dengan membantu istri dan berusaha mewujudkan keluarga yang salih. Maka ketika saya pulang ke rumah, satu hal yang paling membahagiakan diri saya adalah saya diakui sebagai suami sekaligus ayah.

[lesson on 12012007]


%d blogger menyukai ini: