akuarium planet – 2

10 Juli, 2012

(sambungan)

“Pilih mana, kidzania atau planetarium?” Bubu menawarkan kepada anak-anak rencana mengisi hari Rabu itu. “Planetarium aja, Bubu. Kan asyik melihat planet-planet,” jawab Radya. “Asyiiik! Kita ke planet-arium!” Tsuraya menimpali. “Tapi, kita tidak naik kereta lagi,” ujar Baba, “Kita akan naik angkot, busway, ambil mobil di bengkel, lalu menuju Planetarium. Setuju?” tanya Baba. “Setuju!” seru anak-anak.

Berterima kasih kepada supir angkot M20 yang memberi diskon tarif karena tidak punya kembalian pembayaran. Mencoba pintu otomatis halte busway Departemen Pertanian dengan kartu JakCard. Menikmati perjalanan busway sampai halte Mampang Prapatan. Insiden keseleo Radya saat berjalan kaki menuju Plaza Toyota Tendean yang segera ditangani dengan tusukan jari jempol Baba di betis atas kaki yang cedera. Terheran-heran dengan penuhnya Ayam Bakar Fatmawati padahal rasanya kurang menggugah selera. Menikmati waktu bermain saat shalat zuhur dan belepotan cat di Masjid Cut Meutia, Menteng.

Mendapati sisa 20 kursi tersedia untuk ruang pertunjukan Planetarium, karcis seharga Rp7 ribu untuk dewasa dan Rp3,5 ribu untuk anak-anak adalah tarif yang cukup murah untuk merawat fasilitas berharga ini. Admission fee untuk dewasa di Peter Harrison Planetarium di Greenwich saja seharga £6.50 sedangkan di Planetarium Negara di Kuala Lumpur dihargai RM12.00. Tidak perlu turut mengantri panjang karena pengunjung lainnya sudah masuk dan sepertinya berebut kursi di dalam ruang pertunjukan karena karcis tidak ditandai dengan nomor bangku. Kami berlima kerepotan mendapatkan tempat duduk yang berkumpul. Secara spot tersedia satu atau dua bangku kosong. Di barisan depan kami dapati tiga bangku kosong di samping seorang laki-laki dewasa yang nampaknya sendirian.

“Permisi, Pak. Boleh kami bertukar tempat duduk di sini? Kami sekeluarga,” Baba  meminta kesediaan laki-laki itu yang kemudian mempersilakan kami menduduki tiga bangku kosong yang ada. Bubu, Tsuraya dan Radya pun duduk di situ. Baba yang menggendong Athiya, 9 bln, masih berdiri di hadapan laki-laki yang sibuk dengan Blackberry-nya itu dan meminta perkenan dia, “Maaf, Pak. Boleh saya duduk di tempat Bapak, untuk menemani keluarga saya?” Dengan acuh, ia berkata, “Lho, saya duduk di mana?” Baba mempersilakan dia duduk di tempat lain. “Saya juga bersama keluarga,” ucapnya menunjuk istri dan anak-anaknya yang duduk di barisan belakangnya. “Iya, Pak. Justru suami saya duduk di depan, karena tidak dapat bangku,” istrinya menimpali, “kalau ia pindah ke bangku lain, nanti anak-anak saya menangis, tidak ada bapaknya.”

Lho? Bubu terheran dengan alasan si ibu karena anak-anak mereka nampak lebih tua usianya daripada Radya. Tidak produktif jika mendebat, Baba dan Athiya pun mendapati sebuah bangku kosong yang tidak jauh dari Bubu dan duduk di sana. Sepanjang pertunjukan, laki-laki itu tampak tidak menikmati acara, karena terdengar oleh Bubu celotehan anaknya, “Papah ini kok, main hape melulu.”

Mengikuti beberapa remaja peserta olimpiade sains, Baba, Bubu, Radya, Tsuraya dan Athiya yang sudah tertidur sejak awal pertunjukan, turut telentang di lantai depan menikmati proyeksi universarium di langit-langit kubah. Dibandingkan dengan posisi duduk di bangku yang hanya menghadap satu arah, posisi telentang ini cukup nyaman dan memungkinkan untuk melihat ke seluruh penjuru. Melirik ke bangku si bapak yang disibukkan dengan hape tadi , ia nampak menghilang selepas paruh awal pertunjukan, dan tidak satupun anak-anaknya yang menangisi kepergiannya dari ruang pertunjukan. Empat bangku di barisan depan itu pun kembali kosong hingga akhir pertunjukan.

(bersambung)

Iklan

akuarium planet – 1

10 Juli, 2012

“Baba, kita kan jadi pergi ke planet-akuarium, ya?” tanya Tsuraya, 3 thn 9 bln, di sela jalan kaki antara Stasiun Cikini dan Taman Ismail Marzuki (TIM), jarak yang cukup jauh bagi anak sekecil itu untuk berjalan kaki tanpa digendong dan menikmatinya dengan berbagai dialog. “Bukan planet-akuarium, adek, Planet-arium! Emangnya planet itu ikan ya, Baba?” sanggah dan konfirmasi Radya, si kakak 6 thn 2 bln, yang juga menikmati perjalanan bermotor sejak dari rumah menuju Stasiun Pondok Cina dilanjut ber-KRL Ekonomi. Sesampainya di Planetarium, hanya pintu kantor saja yang buka. Ternyata, setiap hari Senin fasilitas pengunjung ditutup untuk perawatan.

“Is-ma-il-mar-zu-ki,” Radya mengeja tulisan di bawah patung kepala, “itu patung kepala orang ya, Baba?” saat kami keluar dari halaman TIM. “Iya, nak. Dia adalah salah satu penyair Indonesia yang karya-karnyanya menggugah rasa kebangsaan rakyat negeri ini,” jawab Baba. “Ayo, itu Bubu dan adik-adik sudah menunggu di depan.” Naik Kopaja P20 turun di Jalan Pegangsaan Timur, menikmati KFC Kids Meal dan mainan Spiderman Swing, lalu kembali ke Depok dengan KRL Komuter yang perbedaannya dengan KRL Ekonomi hanyalah AC dan pintu gerbong.

(bersambung)


menikmati segarnya udara jakarta

11 Januari, 2007

Ketika saya ditanya, “mengapa musim hujan terhenti?”, saya tertegun sejenak menyadari bahwa sudah lebih dari dua minggu Jakarta tidak diguyur hujan, tepatnya sejak Natal 2006 yang lalu. Cuaca selama itupun sangat cerah, siang hari dapat terlihat jelas langit biru, awan putih dan pemandangan yang sangat jelas dari jendela ruanganku yang terletak di lantai empat belas gedung kantor. Udara sangat bersih, bebas debu dan polusi. Sedangkan di malam harinya dapat menikmati bintang-bintang yang sinarnya menembus ruang dan waktu, dan bulan yang cahayanya tak terhalang mendung. Benar-benar kondisi yang sangat mahal untuk suasana di Jakarta.

Sayapun membuat analisis kecil-kecilan, bahwa pada akhir tahun 2006 dan awal tahun 2007 ini begitu banyak hari libur, Natal, Idul Adha, Tahun Baru ditambah dengan liburan semester anak sekolahan. Kondisi ini juga membuat orangtua dari anak-anak yang bersekolah mengambil cuti untuk menemani keluarga berlibur. Dengan begitu volume penggunaan kendaraan bermotor di jalan raya di Jakarta pun berkurang, hal ini mengurangi jumlah pencemaran udara akibat asap kendaraan bermotor dan membuat langit cerah, udara bersih, dan segar tak tercemar.

Sebaliknya, pada hari-hari biasa para pekerja yang memiliki kendaraan bermotor memenuhi ruas-ruas jalan raya dan menimbulkan kemacetan di mana-mana, belum lagi ditambah dengan tekanan batin (baca: stress) akibat kemacetan justru sering menambah keruwetan, dan juga anak-anak bersekolah sehingga jumlah penggunaan kendaraan bermotor di jalan raya bertambah. Hal ini masuk akal, karena anak-anak sekolah itu pergi ke sekolah dengan mengendarai sendiri atau diantar oleh ortu maupun sopirnya. Semua kendaraan bermotor itu memroduksi pencemaran udara.

Mengapa anak-anak di masa sekarang pergi ke sekolah dengan kendaraan pribadi? Begitu banyak alasan yang dapat dibuat, di antaranya kekhawatiran ortu terhadap keamanan anaknya di jalan, jauhnya jarak sekolah dari rumah, kenyamanan berkendaraan pribadi karena kalau naik kendaraan umum berpeluh dan berpolusi, dan sebagainya. Padahal jika mau kilas balik ke masa di mana kendaraan pribadi masih sedikit, atau jika mau berkaca kepada negara yang penduduknya memilih berjalan kaki, berkendaraan umum atau naik sepeda, semua alasan tadi perlu dipertanyakan lagi. Ini sebab akibat, seperti mempermasalahkan mana duluan ayam dengan telur.

Jika kita sendiri memiliki niat memperbaiki udara kota Jakarta tidak hanya bersih di saat liburan tetapi sepanjang waktu, tentu saja kita harus mendukung program langit biru dengan mengurangi keseringan kita menggunakan kendaraan pribadi dan memilih kendaraan umum, karena terus terang jika kita telusuri yang menjadi sumber kemacetan adalah kendaraan pribadi, kendaraan umum hanya menjalankan tugasnya mengantar penumpang dan mereka mendapatkan upah dari pekerjaannya itu, sedangkan kendaraan pribadi hanya memuaskan pemiliknya saja.

Upaya penjernihan udara Jakarta sudah dimulai beberapa elemen masyarakat baik secara pribadi, kelompok maupun pemerintahan, misalnya dengan menanam pohon di rumah masing-masing, bersepeda ketika berangkat ke kantor, dan busway. Saya berpikir, ketika semua orang mau menggunakan fasilitas umum, ketika pemerintah mau menyediakan fasilitas umum yang memadai dan nyaman untuk digunakan masyarakat, dan semua bekerja sama untuk membersihkan langit Jakarta dari polusi, insya Allah kesegaran udara Jakarta bukan lagi impian di saat liburan 

Pagi ini, dari balik jendela ruangan kantor saya sudah mulai terlihat lagi asap hitam yang menghalangi pemandangan indah pegunungan di timur dan selatan Jakarta serta pemandangan gedung-gedung perkantoran dan hotel di sebelah utara dan barat. Ah, ternyata para pekerja yang cuti sudah mulai kembali masuk kerja, dan senin besok anak-anak sekolah di Jakarta mulai meramaikan lalu lintas. Itu semua berarti saya harus kembali berangkat lebih pagi untuk menghindari kemacetan.

Kembali ke pertanyaan di awal tulisan, saya menjawab, “yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya, mungkin Allah menghendaki kita dapat menikmati suasana indah kota Jakarta sebelum kita kena tekanan batin oleh keruwetannya lagi.”

[lesson on 11012007]
happy birthday to dober, keep in faith bro!


16 Trip M-3

18 April, 2006


[pob.26.03] sunrise at Payalaman. Diskusi di messhall. Main tennis.
Sebagaimana hari sebelumnya setelah salat subuh, kami berangkat ke dermaga payalaman mengejar suasana matahari terbit di dermaga. Tak lupa membeli jajanan ketika melewati kedai penjaja makanan tradisional untuk kami makan di dermaga.Siang yang terik, di dalam messhall berlangsung diskusi seru antara kami dengan pak Arifin dan dr Juri. Sore yang sumuk digunakan untuk menguras keringat dengan bermain tennis.

[pob.27.03] Matak ERP Review meeting at training room

Sementara bayu dan bagus bermain tennis, saya mengikuti pertemuan di ruang training. Pertemuan tersebut membahas perencanaan tanggapan keadaan darurat untuk Matak Base. Pembahasan yang dilakukan hanya melakukan review berdasarkan template yang sudah dibuat oleh perusahaan disesuaikan dengan kondisi Matak Base. Pembahasan yang memakan waktu 3 jam itu dihadiri oleh setiap champion.

Berbeda dengan kemarin, siang itu Matak diguyur hujan dan terus berlangsung sampai malam hari.

hujan mengguyur pulauku..
sejenak teduhkan suasana,
dada yang terbakar kangen,
kepada kasihnya
yang menatap gerimis
dari balik jendela
”tenanglah,” bisik bulan sabit
yang mengintip di balik terang mega,
”detik mengejar masa tinggal sekejap,
tak perlu kau risau,
dia dalam pengawasan-Nya”
mentari pasti kembali bersinar,
hembus angin mengusir mendung hati
yang terusik dan kembangkan senyum
untuk kekasih yang sabar menanti

iluvu

[pob.28.03] makan seafood di Payalaman.

Sore itu bagus pergi bersama Johan ke ds Langir untuk membeli ketam dan kerang, sedangkan bayu bersama wiwin makan jambu air di rumah pak bukhari di ds. Gunung Cak. Saya masih asyik dengan internet di kantor Matak Base.

Malam itu kami berlima bersama Era, insinyur sipil untuk perawatan base, berangkat ke rumah pak Herman, kakaknya Johan, di ds Payalaman untuk makan malam, menyikat habis ketam dan kerang yang direbus, dan dihidangkan dengan sambal Bugis.

[pob.29.03] presentasi proses pengadaan. Airport & Traffic activities. Jalan ke Langir.

Ketika saya dan bagus bermain tennis, bayu diminta melakukan presentasi mengenai proses pengadaan di ruang pertemuan pada morning meeting. Menjelang siang, kami mengunjungi pak Fredy Yuniansyah sebagai Airport Supervisor untuk mendapatkan penjelasan mengenai pekerjaan yang berkaitan dengan airport.

Tugas utama airport Matak Base adalah mengoordinasikan penerbangan fixwing dan rotating wing berdasarkan permintaan pengguna jasa penerbangan. Kami juga mengunjungi airport dan melihat aktivitas despatcher, di hanggar kami menemui para pilot helikopter, dan juga ke menara melihat aktivitas radio operator.

Sore hari kami pergi ke ds. Langir, tak lupa mampir ke rumah pak Amir untuk makan kelapa muda. Sampai di desa Langir kami terus menuju dermaga Langir dan menikmati senja, serombongan bangau pulang ke sarang, sedangkan kelelawar keluar mencari makan.

Setelah menunaikan salat magrib di masjid, kami menuju rumah pak Safri, di sana hidangan seafood telah menanti. Kami segera kembali ke base sebelum jam 9 malam.

[pob.30.03] mengunjungi lokasi tangki dan incinerator. Melihat sumber air bersih. Clinic. Jalan sore. Menikmati bintang di ujung runway.

Berencana pagi itu kami ke Terempa, sesampainya di dermaga Payalaman, kami dapati ramai orang sudah memenuhi pompong reguler, berikut juga pompong tambahan. Rupanya itu hari libur nasional, ditambah para pelajar akan melakukan perjusami keesokan harinya, sehingga ramai orang pergi berbelanja ke Terempa. Kami tidak jadi berangkat dan akhirnya kembali ke base setelah sarapan di kedai dekat dermaga.

Sesampai di base, setelah berbenah, kami menemui pak Arifin yang hari itu mengajak kami menengok rencana lokasi tangki dan incinerator. Dari lokasi tersebut kami menengok sumber air bersih yang menjadi reservoir bagi kebutuhan air di base. Lokasi mata air terlindung dengan baik dan tumbuh di sekitarnya tanaman pandan yang membuat harum suasana.

Kami menuju klinik untuk memberi ucapan selamat kepada dr Ary yang diangkat menjadi chief medical support. Setelah lebih dari 8 tahun mengabdikan profesinya di Matak, dan setelah tiada lagi orang yang memenuhi persyaratan menjadi chief medical, dr Ary diberikan amanah tersebut.

Sore itu, dengan sepeda motor kami pergi menyusuri pantai pulau Matak. Dari Matak Base kami ke Masjid Raya Payalaman, mengambil jalan ke Batu Ampar, dilanjutkan ke arah Putik, Ladan, Tebang, menyeberangi jembatan kayu ke Candi, Teluk Gali, Piabung dan terakhir ke dermaga Kampung Baru. Setelah mengambil gambar dan menikmati senja, menjelang magrib kami kembali ke base.

Saya dan bagus berhenti di Masjid Raya untuk menunaikan salat magrib. Keluar masjid, kami bertemu dengan dr. Ary. Kami bertiga kembali ke base dengan mobil. Di messhall, diskusi mengenai Gie dan idealisme bersama dr Ary berlangsung selama makan malam.

Malam itu, dr Ary membawa berkat dari acara pengajian di masjid, setelah mampir di rumah Rais di payalaman, saya mengajak bayu dan wiwin ikut bersama dr Ary ke ujung runway. Bagus sudah nyenyak di kamar. Ngemil kue berkat dan berbual-bual di atas selimut yang dihampar di atas aspal, menikmati bintang-bintang di langit ditemani musik oldies yang mengalun dari tape mobil dr Ary.

Bercerita tentang iqbal, anak asuh dr Ary, berbual tentang humor jenaka, berkisah tentang negeri segantang lada, dan terlelap dalam asuhan malam. Sekitar jam 1 ½ pagi, langit menitikkan gerimis, kami segera bangkit dan masuk ke mobil, melanjutkan tidur di kamar.

[pob.31.03] main tennis. Presentasi. Ke Terempa. Syukuran di TK Anoa.

Bermain tennis lagi, nonton film Gie yang dipinjamkan oleh dr Ary. Setelah salat jumat dan makan siang, kami diminta menyampaikan presentasi di training room. Selesai pada waktu ashar, kami diminta bersiap-siap untuk jalan ke Terempa. Dengan speed boat seharga mercedes, kami bertiga, pak Arifin, dr Ary, Era dan Wiwin serta pak Yusuf meluncur ke Terempa. Menikmati senja di ibukota kecamatan Siantan. Kegiatan sore hari penduduk kota itu di antaranya bernyanyi karaoke, berolahraga di antaranya bermain tennis, bola kaki dan sepak takraw, ada juga yang berjoging.

Menjelang petang, kami makan mie di kedai dekat dermaga. Pulang dari Terempa, kami mengalami petualangan melaut, berpapasan dengan kelelawar yang terbang melintasi speedboat kami, dan berayun dahsyat di akar bergayut. Di sebut begitu karena ombak mengayun boat kami dengan luar biasa, selain itu lokasi akar bergayut berada di atas palung laut. Alhamdulillah, kami sampai di base dengan selamat.

Malam itu kami diundang untuk mengikuti acara syukuran di TK Anoa, mensyukuri dimulainya beroperasi salah sebuah anjungan produksi lepas pantai di lapangan Anoa.

**


15 Trip M-2

16 April, 2006

[pob.23.03] Down to Matak. CD Program.

Pagi itu kami turun ke Matak bersama rombongan pak Johanes. Jam 9 kami diajak berkeliling fasilitas di Matak Base. Kami mengunjungi Warehouse, Harbour, Jetty, Hanggar, Explosive House, Airport, mendengar dari pak Johane tentang sejarah Matak dan perkembangan yang dialami. Kemudian melihat jalan ke Teluk Sunting, tetapi tidak berhasil terus karena mobil yang kami tumpangi tidak sanggup mendaki bukit, akhirnya kami kembali ke Matak Base.
Setelah makan siang, kami melanjutkan kegiatan mengunjungi Pulau Beleba, melihat terumbu karang yang dibiakkan di sana. Untuk ke Pulau Beleba, dari Matak Base kami menuju Desa Ladan, dilanjutkan perjalanan pompong. Di Pulau Beleba kami habiskan waktu sampai sore. Kemudian kami kembali dan menuju landasan menikmati senja.

Malam hari kami makan malam di rumah pak Hasnan, despatcher Airport, hidangan khas laut yaitu ketam bumbu dan pepes ikan, serta abon ikan. Sepulangnya kami mampir melihat mobile hospital di Payalaman, kemudian menuju landasan untuk menikmati bintang-bintang.

[pob.24.03] ke BLK Antang di Teluk Buluh. Ke Air Terjun di Temburun. Makan siang di Tanjung Tebu. Menikmati sunset di Pulau Langu.

Dengan boat, kami bersama rombongan pak Johanes menuju Teluk Buluh di Pulau Siantan. Setelah mampir di rumah seorang pegawai, kami berjalan ke BLK Antang. Sebuah balai latihan kerja yang dibangun oleh perusahaan sebagai program pengembangan masyarakat. Setelah setahu dibina, BLK ini diserahkan pengelolaannya oleh perusahaan kepada Depnaker. Tetapi sejak itu pula BLK ini tinggal bangunan saja. Peralatan di dalamnya tidak terawat dengan baik karena tidak ada dana untuk perawatan. Selain itu sudah jarang orang yang menggunakan BLK sebagai pelatihan. Menyedihkan..

Dari BLK kami berjalan melalui pabrik es batu. Kemudian dengan boat kami menuju Temburun. Temburun terkenal dengan objek wisata air terjun. Menuju ke lokasi air terjun dilakukan dengan mendaki bukit. Sesampainya di air terjun, pemandangan ke atas dan ke bawah sama indahnya. Memandang air terjun, mendengar percik dan riak air sangat syahdu. Memandang ke selat, pulau-pulau sangat damai. Subhanallah…

Kami sempatkan mandi di danau dan merasakan pijatan air terjun di punggung kami. Sangat segar dan menyenangkan.

Kami makan siang di Tanjung Tebu, sebuah rumah makan dan penginapan yang melakukan konservasi terhadap terumbu karang dan penyu. Kemudian kami pulang ke Matak Base dengan hati senang.

Sore hari kami dijemput untuk ke pulau Langu. Di sana kami menikmati senja dengan berenang. Ketika sedang menikmati pemandangan bawah laut, saya merasa tidak enak, kaki sulit bergerak, dan saya menelan banyak air laut, oh no… i was drowning! Untunglah beberapa orang segera menolong, walau pada mulanya tak yakin apakah saya bermain-main atau serius. Sesampainya di pantai, saya minum banyak air dan batuk.

Penasaran dengan pemandangan bawah laut yang indah, saya hendak kembali snorkling, kali ini mengenakan life vest. Dengan life vest saya merasa lebih nyaman, karena jika lelah, saya tinggal diam dan tak perlu tenggelam. Life vest membuat tubuh senantiasa mengambang. Puas menikmati keindangan terumbu karang, saya kembali ke pantai.

Sunset, kami kembali ke Base.

Makan malam dilakukan di saung barak 5, di sana telah menunggu pak Johanes dan teman-teman pekerja yang tergabung dalam Junior Focus Group. Focus Group merupakan team yang dibentuk oleh pak Johanes sebagai sarana pengembangan diri dan juga menjadi corong objektif dalam menanggapi isu yang berkembang di kalangan pekerja.

Kami diminta menjadi pembicara dalam pertemuan itu, menyampaikan kegiatan usaha hulu migas dan konsep kerja sama yang dibangun pemerintah dengan kontraktor migas.

[pob.25.03] sunrise at Payalaman. Senior Focus Group meeting. Hujan.

Pagi-pagi kami menuju dermaga Payalaman, menanti matahari terbit. Menikmati suasana pagi yang sejuk dan damai. Jam 8 ½ ditunggu di training room untuk bertemu dengan Senior Focus Group dan menyampaikan hal serupa yang disampaikan kepada Junior Focus Group. Ada perbedaan nilai dan metode penyampaian, supaya lebih mudah ditangkap maksudnya. Diskusi pun berlangsung dengan seru.

Pak Johanes dan rombongan kembali ke Jakarta pagi itu. Kami tetap berada di Matak sampai sabtu depan. Siang itu hujan mengguyur Matak.


12 Sepercik Semangat dari Matak Kecil

6 April, 2006

Kampung terdekat Matak Base adalah Gunung Cak, Payamaram dan Payalaman. Di seberang jetty terdapat kampung Batuampar. Sedangkan yang agak jauh adalah Putik, Ladan, Tebang, Candi, Teluk Gali, Piabung dan Kampung Baru. Pada jalan yang lain adalah Langir. Dari Gunung Cak ada jalan menuju Matak Kecil. Dari Payamaram terdapat jalan menuju Teluk Sunting. Semua kampung tersebut terletak di pulau Matak. Kebanyakan kampung berada di pesisir pantai.Pulau Matak adalah salah satu pulau di kepulauan Anambas yang berada di Laut Natuna Selatan. Batuan vulkanik merupakan pondasi pulau-pulau di Anambas. Sebagian besar pantainya bercadas, hanya sebagian kecil yang berupa pasir putih.

Hutan-hutan di pulau Matak digunakan sebagai ladang karet, durian, singkong, kelapa dan cengkeh. Hewan-hewan penghuninya diantaranya adalah kancil, ular, anjing, bangau, biawak, elang dan kalong. Hewan ternak yang dipelihara penduduk antara lain: ayam, itik, kerbau, dan sapi.

Sore yang cerah, kami memutuskan untuk berjalan menuju Matak Kecil. Keluar dari pos penjagaan Matak Base ke arah kanan melalui kampung Gunung Cak, kemudian berbelok ke kiri menyusuri jalanan tanah yang mendaki. Pendakian landai namun melelahkan karena treknya panjang sekali. Sesampainya di dataran pada sebuah tempat yang dapat disebut puncak kami bertemu dengan seorang petani karet yang sedang beristirahat. Karet ia ambil dari hutan di atas bukit, kemudian dengan gerobak dan pikulan ia bawa karet tersebut menuju Matak Kecil. Terbayang betapa besar usaha yang dilakukannya untuk mencari nafkah. Dari Matak Kecil, ia harus menyusuri selat menuju Tarempa dengan menggunakan pompong. Di Terempa-lah karet-karet itu akan dijual.

Perjalanan kami lanjutkan dengan menuruni bukit, sebagian telah dikongkrit dengan peluran semen dan pasir. Namun jalan menurun ini sangat curam dan licin oleh pasir tanah. Hingga sampailah kami di dekat dermaga PT. PAN. Di sisi bukit kami temui dua orang sedang membakar batu. Batu tersebut sudah dibakar selama 3 jam, dan terus dibakar hingga cukup rapuh untuk dipecah. Pecahan batu akan digunakan sebagai pondasi rumah penduduk.

Kami berkenalan dengan salah seorang dari pembakar batu itu, namanya Erwan. Ia mengajak kami mampir di rumahnya. Rumahnya langsung dapat dikenali dari jauh, karena warna cat yang berbeda dengan rumah sekitar. Erwan pernah bekerja sebagai pegawai catering di Matak Base, namun ia berhenti karena mendengar PT. PAN membutuhkan pekerja. Akan tetapi sampai saat itu ia masih belum bekerja di PT. PAN.

Di rumahnya, Erwan mengusahakan warung kebutuhan sehari-hari. Ia menyuguhi kami dengan botol air mineral dan sebungkus kacang kulit. Sambil menikmati udara pantai di sore hari, kami ngobrol banyak hal. Dari obrolan itu kami ketahui bahwa Erwan yang kelahiran Matak pernah merantau ke Ranai ketika ia menginjak kelas 2 SD. Orang tuanya tidak mampu menyekolahkan beliau hingga tamat. Dengan bekal semangat ia pergi meninggalkan kampung halamannya menuju Ranai di kepulauan Natuna Besar. Di perantauan, ia tinggal bersama orang yang mau menampungnya. Ia rela disuruh mengerjakan segala pekerjaan asalkan ia tetap dapat sekolah. Ketika menginjak SLTA, ada seorang pejabat lokal yang bekerja di PLN mengangkatnya sebagai asuhan. Erwan dibiayai sekolahnya hingga selesai. Namun, orang baik itu harus bertugas di Padang, ia menyarankan kepada Erwan agar meminta ijin orang tua jika hendak mengikut beliau ke Padang.

Pulanglah Erwan ke Matak Kecil dan menyampaikan maksudnya kepada orang tuanya, tetapi orang tuanya mencegah kepergian Erwan. Tidak berapa lama, sang ayah meninggal dunia, menyusul pula sang ibu beberapa waktu kemudian. Erwan dititipi amanah menjaga adik-adiknya perempuan. Karena khawatir akan pengurusan adik-adiknya, Erwan menikah dengan seorang gadis di kampungnya dengan maksud istrinya mampu menjadi kakak sekaligus ibu bagi adik-adiknya.

Sampai kini Erwan memiliki semangat untuk tetap berjuang menghidupi diri dan keluarganya. Ia juga masih punya harapan untuk hidup lebih baik.

Senja pun tiba, setelah membayar minuman dan snack, kami berpamitan dan berlomba dengan malam untuk mencapai Matak Base sebelum gelap.


10 Off 2

28 Maret, 2006

[pob.04.03] down to Matak. 410jam 5 sore kami sampai di Matak, bertemu dengan pak Arifin Sjukur dan dr. Ary yang sedang menuju landasan untuk jogginng sore itu. Kebetulan helikopter yang kami tumpangi adalah penerbangan terakhir. Kami diminta menempati kamar 410, karena kamar 112 yang pernah kami tempati pada Off 1 lalu sedang ditempati oleh teman-teman yang sedang mengikuti pelatihan oil spill sejak tanggal 1.Kamar 410 memang bukan kamar yang disarankan untuk pekerja pihak pertama maupun pihak kedua. Barak 4 adalah barak untuk pihak ketiga, para subkontraktor. Tetapi yang mengesalkan kami adalah perbedaan pelayanan dalam perawatan kamarnya. Coret-coretan di kayu tempat tidur, bantal yang bau apek. Walaupun dilucuti sarung bantalnya dan spreinya, tetap saja bau. Waaa… malam itu tidur tanpa bantal dan sprei. Hanya selimut dan itupun bau matahari. Hiks…[pob.05.03] main tennis. Tidur siang. Main ke pulau Langu dan berenang bersama pak Arifin dan teman-teman oil spill training.

Pagi itu kami main tennis, berkenalan dengan orang surveyor, dan menjemur bantal! Siang yang panas bikin bantal yang berpulau-pulau itu menguap baunya. Beberapa orang dari peserta pelatihan oil spill adalah teman-teman yang pernah kami jumpai di LGP. Jam 4 ½ kami dijemput pak Arifin dan menuju jetty. Dengan rescue boat kami meluncur ke pulau Langu dan bersenang-senang sampai magrib.

Makan malam kami saat itu spesial, barbeque dari berbagai macam ikan, ayam dan daging sapi. Wow.

[pob.06.03] main ke Terempa. Tidur siang. Jalan cepat di landasan.

Jam 6 ½ pagi kami bergegas menuju dermaga Payalaman, alhamdulillah mendapat tempat duduk di pompong. Perjalanan menuju Terempa lebih lambat daripada perjalanan kami sebelumnya. Sesampainya di Terempa, kami mampir ke kedai Murai, minum secangkir teh atau kopi. Setelah itu kami berjalan menyusuri pantai sebelah barat. Beberapa rumah penduduk berada di daratan, sebagian lain bertopang susunan kayu di atas pantai.

Ada batu yang dibelah menjadi jalan orang lewat. Kami terus berjalan sampai ke vihara yang berada di tebing. Untuk mencapainya harus menaiki undakan. Bangunan vihara ini terlihat menarik ketika kita berada di dalam pompong pada perjalanan dari dan ke Tarempa. Beberapa komunitas keturunan tionghoa hidup di sekitar vihara, bekerja sebagai pedagang, nelayan maupun petani. Pemandangan dari halaman vihara amat indah. Kita dapat memandang perairan teluk dan selat, maupun kota kecil bernama Tarempa yang berada di teluk sebelah utara pulau Siantan.

Dari vihara, kami kunjungi penginapan tanjung Indah yang dibangun menjorok ke teluk untuk mendapat pemandangan teluk Tarempa yang indah. Di depan penginapan, terdapat perajin pompong bernama pak Sabli. Saat kami kunjungi, beliau sedang mengerjakan pesanan pompong dengan panjang 8 meter. Di Tarempa, hanya dia perajin pompong saat ini. Kayu penyusun pompong diusahakan papan solid yang panjangnya sesuai panjang pompong yang diinginkan dan tidak terpotong. Untuk membuat lekukan perahu, papan tersebut dibakar sebelum dilekukkan. Setiap celah antara papan diisikan dengan kulit kayu gelam yang dapat mengembang ketika terkena air. Menyambungkan antara papan sebagian besar dengan pasak kayu dan sebagian lagi dengan paku atau murbaut besi.

Kami lanjutkan perjalanan ke pasar, mencari sandal berpelindung tumit, dan tidak kami dapatkan satupun. Kemudian menuju penjahit untuk menjahit celana pendek kami bertiga yang sobek. Dan makan di kedai pinggir laut yang dekat dermaga dan menghadap ke teluk.

Di kedai kami berkenalan dengan Sabri, seorang petugas dinas kesehatan yang berasal dari Medan. Beliau lulusan Akademi Kimia Analis dan pernah bekerja di Papua sebagai analis laboratorium Freeport. Resah hatinya meninggalkan sanak keluarga membuatnya keluar dari pekerjaannya dan menjadi petugas dinas kesehatan di Terempa. Walaupun penghasilannya tak seberapa dibandingkan dari pekerjaan sebelumnya, ia lebih merasakan ketenangan.

Ada banyak hal yang tidak kita pahami mengapa seseorang berbuat sesuatu yang menurut kacamata materi mengherankan, tetapi justru itulah yang membuat hidup menjadi lebih menarik 🙂Belajar dari pengalaman pertama kami ke Tarempa ([jou.13.02]) kami segera masuk ke pompong walaupun pompong baru akan berangkat setengah jam kemudian. Bersyukur kami tidak perlu duduk di atas atap perahu lagi. Berkenalan dengan pak Bukhari, seorang pekerja community development dari perusahaan partner kami.
Sesampainya kembali ke base, kami tidur siang. Sore itu saya pergi ke landasan untuk berjalan cepat. Beberapa orang saya temui sedang jogging di sore itu. Waktu 45 menit dihabiskan untuk berjalan cepat menjelang magrib.


%d blogger menyukai ini: