para pengemis

26 Mei, 2010

Ketika sedang melihat-lihat lapak-lapak di Old Spitalfelds Market, London yang menjajakan berbagai macam barang, mulai dari pernak-pernik hingga pakaian, bahu saya dicolek oleh seseorang. Saya menoleh mencari tahu siapa yang mencolek saya. Saya melihat keramaian dan tampaknya tak satupun di antara mereka yang saya kenal.

Sayapun bergerak menjauhi tempat itu. Kemudian nampaklah di mata saya sesosok patung dalam posisi berdiri di dekat tiang penyangga. Wajahnya tertunduk dan kedua tangannya saling berkait. Di dekat kakinya terdapat pot berisi recehan. Aha! Patung yang ternyata orang bersalut cat warna perunggu itu mencolek setiap orang yang lewat di dekatnya.

Pada saat lampu lalu lintas di perempatan jalan Buah Batu – BKR, Bandung berwarna merah, beberapa pemuda yang mengecat tubuhnya dengan warna perak bergerak melakukan pantomime ke arah pengendara mobil dan motor yang sedang berhenti, sambil menengadahkan topi atau pot mengharap recehan dimasukkan ke dalamnya.

Hampir saja saya menabrak seorang wanita tua yang berdiri di tengah keramaian di Middlesex Street, London ketika sedang melihat-lihat pasar kaget yang digelar setiap hari minggu itu. Ia memberikan setangkai bunga plastik berwarna merah, sambil berkata: “Bunga ini saya berikan kepadamu, jangan menolak pemberian seorang gipsi, saya doakan kamu selalu beruntung. Kamu dapat memberikan saya recehan sekadarnya untuk makan, berapapun. Kamu orang yang sangat baik. Kalau bisa tambahkan lagi recehannya. Terima kasih banyak.”

Ketika bertemu lagi dengan wanita itu pada arah sebaliknya, ia menawarkan pembacaan garis tangan saya. Namun saya menolaknya dengan halus dan pergi menjauhinya dengan senyuman.

Selesai membayar tagihan di warung tempat makan siang saya di kaki lima wilayah Bendungan Hilir, Jakarta, seorang wanita tua menghampiri dan berharap belas kasihan dari saya. Dan hanya kata “Amin” yang saya ucapkan membalas doanya setelah mendapatkan beberapa lembar seribuan dari saya: “Terima kasih banyak anak muda yang baik, semoga Allah membalas kebaikan anak dengan rizki yang berlipat ganda.”

Di stasiun Notting Hill Gate, ketika menunggu kereta jalur District yang akan mengantar saya kembali ke Hammersmith, London, seorang wanita muda berkata kepada setiap orang yang sedang berdiri menunggu kereta: “Dompet saya terjatuh dan hilang, siapakah yang mau memberikan saya uang, barang satu dua pound untuk ongkos pulang?”

Di perempatan Kuningan Timur, Jakarta, seseorang pemuda berwajah dusun menghentikan langkah saya yang sedang menuju halte busway. Menurut pengakuannya berasal dari Cibinong, dan ia kehabisan ongkos pulang setelah upayanya tidak berhasil dalam mencari kerja sebagai koeli. Kemudian pada waktu yang berbeda di tempat yang berdekatan, saya bertemu dengannya lagi dengan pengakuan yang sama.

Iklan

simcard only

18 Mei, 2010

Di Amerika Serikat tidak sebarang orang boleh memiliki kartu sim tanpa membeli handphone. Harga hape terbilang murah karena diikat kontrak dengan kartu sim. Sehingga untuk membawa hape keluar untuk menggunakan kartu sim lain, hape harus di-unlock terlebih dahulu. Sedangkan di Inggris, kondisi mirip di Indonesia, di mana diberi kebebasan bagi konsumen memilih apakah membeli hape yang berkontrak dengan penyedia kartu sim, atau cukup membeli sim saja dengan pulsa isi ulang.

Begitu banyak penyedia layanan GSM yang menawarkan kemudahan bagi para pengunjung berupa telepon murah ke tujuan internasional. Dan kartu sim itu juga menyediakan layanan gartis panggilan dan sms sesama pengguna kartu sim yang sama. Mirip-mirip lah dengan di Indonesia 🙂

Untuk melakukan panggilan ke telepon rumah atau CDMA di Indonesia, saya hanya dipotong 10p (0.1 poundsterling) per menitnya. Sayangnya saya juga harus membayar harga yang sama untuk 1 buah sms yang saya kirimkan 😦

Menggunakan kartu sim lokal, jika tersedia, merupakan pilihan bagi saya mengingat roaming internasional dengan menggunakan kartu sim Indonesia cukup mahal, baik memanggil apalagi menerima. Lagipula walaupun sim saya disediakan oleh perusahaan dan mendapat jatah sekitar Rp350 ribu sebulan, biaya komunikasi selama di luar negeri tidaklah ditanggung oleh perusahaan, alias potong gaji jika berlebih dari jatah. Yah, sedikit runaway dulu dari urusan kantor lah :p


bersepeda di london

18 Mei, 2010

Sepeda adalah kendaraan yang lumrah ditemui di kota London. Jalur bersepeda, lampu lalu lintas untuk penyeberang bersepeda, marka jalan untuk pesepeda, dan tempat parkir sepeda adalah fasilitas yang diberikan untuk kenyamanan bersepeda. Seingat saya ketika berkunjung ke kota London 3 tahun yang lalu, hanya sedikit pesepeda yang terlihat berlalu lalang. Namun pada kunjungan kali ini, sepeda sepertinya sudah membudaya di kalangan muda. Kebanyakan dari sepeda yang digunakan adalah jenis city bike.

Bersepeda di kota London memang terbebas dari kemacetan, karena jalur bersepeda hampir tidak pernah diambil oleh kendaraan lain bahkan ketika macet sekalipun. Pemandangan yang berbeda di kota Jakarta, sampai-sampai jalur pejalan kaki pun diambil oleh pengendara sepeda motor. Padahal jalanan di kota London, kecuali highway, kebanyakan adalah jalan dengan ukuran standar. Satu badan terdiri 2 arah dan masing-masing arah terdapat 2 jalur. Di beberapa tempat, lebar jalur pejalan kaki hampir sama besarnya dengan lebar jalan. Jalur sepeda mengambil lebar hanya 1 meter dari trotoar.

Yang membuat pesepeda makin nyaman adalah banyaknya toko alat-alat dan bengkel sepeda yang mudah dijangkau. Sampai-sampai toko Poundland yang menjual barang-barang dengan harga 1 poundsterling, juga menjual alat-alat sepeda. Toko dan bengkel sepeda di kota London, barangkali seperti kios Polygon di Jakarta, pelayanannya ramah dan bersahabat, serta bersih dan nyaman untuk dikunjungi oleh para peminat sepeda, tua dan muda. Untuk menarik minat bahkan ada toko yang menyediakan sepeda gratis bagi orang yang mau bekerja di toko tersebut.

Tempat parkir sepeda sudah banyak disediakan baik di tempat umum maupun di kantor-kantor, namun sering penuh sehingga sering dijumpai satu palang terdapat 2 sepeda yang terkunci di sana. Bahkan ada juga sepeda yang dikunci di tiang lampu atau tiang marka jalan, padahal sudah ada peringatan terpampang yang arti bunyinya kira-kira: TERLARANG, Sepeda yang diikat ditiang ini akan dibuang atau ditindak tanpa pemberitahuan lebih lanjut.


fasilitas

17 Mei, 2010

Selalu ada kompensasi: atas fasilitas berlebih yang diterima tentu ada fasilitas yang dikurangi

Saya telah meminta pihak sponsor untuk membiayai hotel saya selama berada di London dengan pertimbangan acara yang saya hadiri diselenggarakan di ruang konferensi di hotel Novotel London West yang sekarang saya tempati, akibatnya saya mengalami pemotongan uang saku dari kantor sebesar 35% per hari. Namun saya tidak merasa rugi karena harga sewa per hari kamar saya ternyata lebih besar daripada potongan uang saku saya. Walaupun sebenarnya saya bisa mendapatkan harga jauh lebih hemat sekitar GBP55 saja jika mengambil hotel di sekitarnya, atau GBP17 saja jika menginap di Wisma Siswa Merdeka, namun hal itu membuat saya harus berangkat lebih pagi, berjalan lebih jauh, menggunakan Tube dan pulang lebih larut.

Dan kebanyakan hotel ternama kelas dunia tidak menyediakan Wi-Fi akses secara gratis, sedangkan hotel-hotel kelas dua atau B&B menyediakannya. Begitupula dengan hotel ini, saya harus menyamankan diri mengantri untuk menggunakan fasilitas internet gratis di komputer umum yang tersedia di lobby hotel secara bergantian dengan tamu lain. Dengan demikian tidak bisa selalu update status dan posting 🙂


tower bridge trip

17 Mei, 2010

Berkenalan dengan orang baru adalah hal biasa di London, namun masih saja mengenal kewilayahan asal. Biasanya orang eropa lebih sering berkenalan dengan orang eropa, begitupun orang afrika, timur tengah, bahkan asia timur. Barangkali penyebabnya adalah kemiripan budaya dan keserupaan pola pikir. Entahlah, mungkin perlu studi sosiologi lebih lanjut untuk mengetahuinya.

Kenalan baru saya adalah seorang pria senior, keturunan Cina, berkebangsaan Malaysia, sedikit berbahasa Melayu namun lancar berbahasa Inggris, mantan perancang grafis, sedang berlibur di London, dan seorang yang soliter. Saya tidak mendapat info yang cukup mengenai keluarganya. Kami habiskan waktu bersama dari Stasiun Liverpool Street, berkeliling Tower Bridge, mengambil beberapa gambar, naik-turun dan mengejar bus, menyeruput capuccino di Starbucks setelah putus asa mencari Cafe Nero, berjalan dalam gerimis, menikmati gedung teater kerajaan yang unik karena liftnya dapat bernyanyi, menonton badut di Covent Garden, akhirnya kami pun berpisah di stasiun Leicester Square. Dengan pengetahuan yang cukup banyak tentang London karena begitu seringnya ke sana, ia menjadi pemandu wisata saya selama beberapa jam itu.


sunday market

17 Mei, 2010

Hari minggu adalah hari berlibur, begitupula yang terjadi di London. Hampir semua kantor dan tempat usaha tutup, hanya pertokoan dan restoran di tempat keramaian saja yang tetap buka. Banyak orang memilih berlibur, atau menikmati jalan-jalan dan belanja di hari libur. Tidak hanya di Indonesia, kita dapati juga pasar tumpah di London. Sunday Up Market yang mengambil tempat di bangunan kosong bekas gudang, Bishopgate Market di lobby pertokoan, atau Middlesex Street di jalan kecil, adalah di antaranya. Tempat-tempat itu dapat diraih dengan jalan kaki dari stasiun Liverpool Street.

Barang-barang baru hingga bekas berkualitas dijual dengan harga murah mulai dari 50p (setara Rp7 ribu). Kebanyakan menjual garmen ataupun cinderamata. Alternatif yang menarik dan ekonomis. Beberapa lapak menjual tas dan koper. Memudahkan pengunjung yang belanja untuk langsung memasukkan belanjaannya ke dalam koper baru mereka. Di beberapa sudut ada penjual makanan dan minuman kaki lima dengan harga sangat murah, memudahkan pengunjung yang haus maupun sekedar mengganjal perut sambil berbelanja. Namun begitu kebersihan sangat dijaga, jarang sekali dijumpai sampah di sepanjang pasar tumpah. Jadi kangen pasar tumpah di Kukusan UI.


travel for london

17 Mei, 2010

Terdapat banyak cara menikmati transportasi umum di London: bus, Tube, tram, DLR, London Overground, kereta, taxi, kapal. Kecuali taxi dan kapal, membayar tiket perjalanan dapat dilakukan dengan kartu perjalanan yang disebut kartu Oyster. Semacam kartu tap yang berisi deposit uang yang dapat digunakan berkali-kali serta dapat diisi ulang. Mirip kartu toll bank mandiri, tap bca, atau “busway tap” bank dki. Kartu Oyster ditap pada: setiap pintu masuk dan pintu keluar stasiun Tube, DLR, Overground dan kereta; setiap masuk bus dan tram. Kartu Oyster juga dapat digunakan untuk mendapat diskon kapal sungai, atau tempat-tempat wisata dengan program yang berganti-ganti.

Sangat diakui, moda transportasi umum di London sangat mahal, untuk jarak tempuh 30 km dengan Tube (angkutan paling ekonomis) harus dibayar 4.50 sterling (setara dengan Rp75 ribu). Dan kondisi stasiun akan sangat ramai pada jam-jam berangkat dan pulang kerja. Bahkan sering dijumpai kemacetan apabila menumpang bus atau taxi.


%d blogger menyukai ini: