Dokter dan pasien

28 April, 2016

image

Dari Ibnu Abbas radiyallahu anhuma berkata: Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda, ”Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu karenanya, yaitu nikmat sehat dan kesempatan.” (HR. Al-Bukhari)

Dokter juga manusia, yang menganggap perlu konfirmasi, yang skeptis terhadap perubahan tren, yang senang melihat pasiennya sembuh dengan baik.

Maka itu sebagai manusia, pasien harus bersabar dengan sakitnya, tidak berbuat curang dalam pengobatan, serta percaya dengan keilmuan yang dimiliki oleh dokter.

@ndi, 20071437

Iklan

perempuan kebaikan

21 April, 2015

Perempuanlah, kaum ibu, yang pertama-tama meletakkan bibit kebaikan maupun keburukan ke dalam hati sanubari manusia, yang biasanya tetap terkenang sepanjang hidupnya.

https://pondokecil.com/2010/04/22/untuk-inilah-kami-minta/

View on Path


tentang sia-sia

26 Desember, 2014

Menagih simpati dari manusia, hanyalah kesia-siaan belaka.

View on Path


yesus hamba Allah

25 Desember, 2014

Yesus tidaklah merasa enggan untuk mengakui dirinya sebagai anak manusia, sebagai hamba Allah, yang berkata kepada manusia:

“Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.”

View on Path


air mengalir membersihkan

20 Maret, 2013

PureWaterAir yang menggenang akan mudah menjadi keruh dan kotor. Untuk menjernihkannya hingga laik untuk dipergunakan memerlukan upaya yang tidak mudah. Beberapa di antaranya dengan solusi teknologi penyaringan dan pemurnian yang tidak murah biayanya. Sedangkan air yang mengalir akan selalu bersih. Walaupun ia keruh dan kotor, akan terganti oleh air yang baru, maka kadar keruh atau kotornya akan bergantung kepada sumber aliran airnya. Segelas air yang keruh dan kotor, jika dituangi dengan air kotor maka air yang berada di dalam gelas akan tetap keruh dan kotor. Tetapi jika dituangi air yang bersih dan jernih maka sedikit demi sedikit kekeruhan dan kekotoran yang ada di dalam gelas keluar dan tergantikan sehingga gelas terisi dengan air yang jernih.

Hati (qalbu) manusia adalah raja yang memimpin perilaku seluruh anggota badan sebagai tentaranya. Hati yang keruh dan kotor, membuat amalan anggota tubuh buruk dan tidak pantas. Kebalikannya hati yang bersih dan jernih, membuat amalan anggota tubuh baik dan menyenangkan. Keruh jernihnya hati dan kotor bersihnya, berasal dari sifat asupannya. Ibarat gelas yang bersih, jika diisi dengan materi-materi yang keruh dan kotor maka hati pun akan menjadi keruh dan kotor. Untuk membersihkannya perlu upaya yang susah payah. Apalagi kalau pemiliknya (manusia) masih senang berada dalam lingkungan yang keruh dan kotor, akan makin susah payah lagi. Namun perilaku hati tak ubahnya seperti gelas tadi, jika ia disirami dan dituangi materi-materi yang jernih dan bersih, lama kelamaan kotoran yang menempel padanya terkikis habis dan hati pun menjadi bersih lagi jernih.

Tanpa perlu berpayah-payah memilah dan memilih asupan hati. Membiasakan hati dengan hal-hal yang baik dan bermanfaat dan berada di lingkungan yang positif dan bersemangat, secara alamiah mengalir terus menerus. Pada suatu saat nanti, jika sedikit kotoran saja mampir di hati maka akan terasa sakitnya. Dengan kembali kepada kebaikan, hati akan pulih dan dengan sendirinya kotoran itu terempas keluar.


Allah lebih besar

31 Juli, 2012

Pada mulanya konsep betapa besarnya Allah barangkali merupakan hal yang rumit dipahami anak-anak. Hanya dengan kata-kata bahwa Allah Mahabesar, jauh lebih besar daripada manusia, daripada ultraman (tokoh fiktif jagoan buatan Jepang) dan konsep yang benar mengenai keberadaan-Nya yang di atas langit saja masih membingungkan mereka. Apalagi jika orang tua menyampaikan konsep yang salah tentang Tuhan ada di mana-mana atau ada di dalam diri manusia, tentulah akan menjadi sangat tidak masuk akal bagi mereka.

Namun sekembalinya pulang dari Planetarium, Radya dan Tsuraya membahas kembali dengan babanya mengenai konsep kemahabesaran Allah. “Allah kan lebih besar ya, Baba?” ujar mereka. Baba menjawab, “Bagaimana menurut kalian Allah lebih besar?”. “Iya, kan planet dan matahari itu besar,” kata Tsuraya yang disambut oleh Radya, “Bumi lebih kecil daripada matahari.” Baba penasaran, “Lalu?” Radya melanjutkan, “Manusia kan tinggal di bumi, keciiil sekali!” Tsuraya pun menimpali, “Allah kan ada di atas langit, jadi lebih besar!”

Masya Allah, semoga Allah memberkahi mereka.


mudah lupa

18 Oktober, 2010

karakter dasar manusia adalah lemah dan mudah lupa, sehingga sebagai manusia kita memiliki tuntutan moral untuk saling mengingatkan dan saling memaafkan.

apalagi kalau yang lupa itu adalah orang yang pernah memimpin kita, perlu pemakluman yang lebih besar dari sekedar tepa selira lagi sebagai rasa mikul dhuwur mendhem jero.


%d blogger menyukai ini: