ihwal marah

5 Maret, 2015

Hal yang paling mudah dilakukan ketika mendapati sesuatu tidak sesuai keinginan kita adalah marah atau kesal. Padahal marah tidak akan pernah membuat sesuatu itu lebih baik, malah bisa lebih buruk.

Hal yang paling mudah dilakukan ketika mendapati sesuatu tidak berjalan sesuai rencana adalah marah atau kesal. Padahal marah tidak akan pernah membuat sesuatu itu kembali sesuai, malah bisa berantakan.

Hal yang paling mudah dilakukan ketika mendapati ketinggalan atau keterlambatan adalah marah atau kesal. Padahal marah tidak akan pernah mengubah keadaan, malah bisa makin ketinggalan.

Hal yang paling mudah dilakukan ketika pikiran jenuh dan hati sempit adalah marah atau kesal. Padahal marah tidak akan pernah membuat pikiran kembali jernih dan hati menjadi lapang.

Niscaya benarlah hadits jangan marah maka bagimu surga. Karena tanpa marah kita boleh dapatkan kedamaian, kebaikan, kesesuaian, ketepatan, kejernihan dan kelapangan. Tentu karena di antara ciri surga yang damai adalah hal-hal yang demikian.

View on Path


kita harus berbagi

10 Mei, 2013

Radya (7), Fikri (6), dan Zaydan (3) sedang bermain balok-balokan “City Blocks” membuat karya arsitektural mereka untuk difoto dan dipamerkan di facebook ortunya. Ketika Zaydan merebut balok Fikri dan membuat kakaknya marah, mereka pun bertengkar. Radya berupaya menengahi, “Fikri sama Zaydan jangan berebutan, ini balok-balokan bisa dimainin berdua, kita kan harus berbagi, ya!” Meredalah pertengkaran itu walau masih nampak sungut di wajah keduanya. Tiba-tiba, Athiya (1.5) menghampiri mereka dan menendang karya Radya yang kemudian tak mampu berkata-kata melihat karyanya yang hancur berantakan dan belum sempat difoto. Zaydan pun tertawa melihat hal itu, Fikri tertawa, Athiya tertawa dan Radya ikut tertawa. 😀


bulan tersenyum

28 Mei, 2012

“Baba, lihat bulannya tersenyum,” kata Tsuraya, 3,5 tahun, kepada babanya ketika melihat bulan sabit di malam awal bulan Rajab. “Indah sekali, bukan?” jawab baba. “Iya, Baba. Bulannya tidak sedih tidak marah,” kata Tsuraya. “Begitu pula dirimu, Nak. Jika engkau tersenyum, tiada gundah gulana, tiada amarah di wajahmu, semua akan nampak indah,” ujar baba memikat hati Tsuraya yang sering temper tantrum jika keinginannya tidak kesampaian.

“Baba, lihat! Bulannya mengikuti kita,” seru Tsuraya. “Demikianlah, Nak, keberadaannya di langit yang tinggi tidak menafikan kebersamaannya dengan kita. Apalagi Allah sang pencipta, Yang Mahatinggi, senantiasa bersama kita kapanpun di manapun. Semua masalahmu ada jawabannya, mintalah kepada Allah saja.” ucap baba, sebagai introspeksi diri sendiri.


maafkanlah ia setiap hari tujuhpuluh kali

30 Juni, 2011

Begitu menyedihkan kisah Ruyati, dan para perempuan dan laki-laki yang bekerja sebagai pembantu, baik di negeri orang maupun di negeri sendiri. Dan yang lebih menyayat hati, tuan-tuan mereka adalah orang-orang yang mengaku beragama Islam. Sehingga tentu saja dari kejadian demi kejadian akan menyebabkan tersalahkannya umat Islam, sampai-sampai orang-orang yang sudah rusak akalnya pun menuduh agama Islam lah yang mengajarkan kejahatan-kejahatan itu. Naudzubillahi min dzaalik. Padahal panutan utama umat ini adalah Nabiyullah Muhammad salallahu alaihi wasalam, yang sangat jauh perangainya dari itu semua, bahkan beliau adalah manusia yang paling pemurah dan penyayang kepada sesama manusia.

Dikisahkan oleh Ibnu Umar bahwa Nabi datang dengan 2 orang budak, kemudian menghibahkan salah seorang kepada Ali bin Abi Thalib lalu berkata: “Jangan engkau pukul dia karena aku dilarang memukul orang yang salat dan sejak awal aku telah melihatnya mendirikan salat.” (HR Albukhari)

Faidah dari hadits ini adalah seorang muslim dilarang memukul budak maka apalagi kepada pembantu yang adalah orang merdeka? Pembantu adalah orang merdeka yang bekerja kepada orang lain sebagai pembantu untuk mengurusi sebagian urusan-urusannya. Sedangkan budak adalah orang yang bekerja membantu tuannya. Di mana budak dapat diperoleh dengan 2 cara: tawanan perang, dan jual beli manusia (human traficking). Dalam hadits ini juga menyatakan kedudukan salat dan keutamaan orang yang salat. Budak yang salat itu telah memenuhi hak peribadatan kepada Allah, tuannya yang sejati, sehingga ia tidak perlu lagi dipukul untuk mendidiknya karena apabila ia telah baik salatnya maka pasti apa yang dikerjakan olehnya tercegah dari perbuatan keji dan mungkar.

Dikisahkan oleh Abu Umamah bahwa Nabi memberi kepada Abu Dzar Alghifari seorang budak dan berkata: “Perlakukanlah budak ini baik-baik.” Maka Abu Dzar membebaskannya. Ketika Nabi menanyakan, “Bagaimana kabar budak itu?” Abu Dzar menjawab: “Engkau telah menyuruhku untuk berbuat baik kepadanya, maka saya telah memerdekakannya.” (HR Albukhari)

Faidah hadits ini adalah betapa besar kecintaan para sahabat untuk melaksanakan perintah Rasulullah, sehingga ketika disuruh untuk berbuat baik kepada budak maka Abu Dzar membebaskannya sebagai manifestasi perbuatan baik yang terbaik kepada budak, yaitu memerdekakannya.

Dari kedua hadtis di atas saja menunjukkan betapa mulia akhlak Rasulullah dan para sahabatnya dalam bermuamalah dengan budak dan pembantunya, maka bagaimana mungkin orang yang mengaku-aku muslim berbuat hal yang melampaui batas kepada budak dan pembantunya kecuali hawa nafsu telah mengiringinya.

Barangkali para budak atau pembantu membuat masalah di rumah tuannya sehingga mengusik perasaan dan membuat kesal? Maka hal ini sudah ditanyakan oleh seseorang kepada Nabi,

Abdullah Ibnu Umar menceritakan bahwa seseorang datang kepada Nabi dan berkata: “Wahai Rasulullah, berapa kali semestinya kami memaafkan budak atau pembantu?” Rasulullah terdiam hingga ditanyakan lagi, hingga Rasulullah diam dan ditanyakan hal serupa. Setelah tiga kali maka Rasulullah mendekatinya dan berkata: “Berikan maaf kepadanya setiap hari sebanyak tujuhpuluh kali.” (HR Albukhari)

Bahkan untuk memarahi pembantu saja seorang muslim dituntun untuk menunggu hingga memaafkan tujuhpuluh kesalahan. Maka sudah patutlah bagi seorang muslim yang berakal untuk menetapi jalan Nabi dalam berbuat baik kepada pembantu di rumah tangganya.

rujukan: Kitab Al-Adabul Mufrad, karya Imam Albukhari


%d blogger menyukai ini: