mesin waktu

18 Januari, 2015

Berada di sini seperti melalui mesin waktu, kembali ke masa lebih dari 20 tahun yg lalu. Masjid yg begitu bersahaja, tempat MCK yg seadanya. Tempat wudu yg memprihatinkan. Tak mampu kubayangkan bahwa setiap musim haji, tempat ini melayani ribuan jamaah yg bersalat. Semoga saja, di esok hari, ada banyak pembenahan dan perbaikan infrastruktur fasilitas di kawasan asrama haji. – at Masjid Al-Mabrur Asrama Haji Pondok Gede

View on Path


kemanapun pergi

2 Januari, 2015

Kemanapun aku pergi… – at Masjid Soko tunggal

View on Path


Negeri muslim

25 November, 2014

Negeri ini punya banyak menara. Corong kumandang azan. Sahut menyahut. Lima kali sehari.

Negeri ini punya banyak masjid. Ramai jamaah bersalat jumat. Tumpah ruah. Tiap seminggu sekali.

Negeri ini punya banyak majelis zikir. Para wanita dan pria, tua dan muda. Larut dalam wirid.

View on Path


lorong sunyi masjid taqwa

6 Mei, 2014

Masjid Jami Taqwa terletak di lorong satu kota Cepu, dekat pasar, dan dapat dicapai dengan berjalan kaki dari Hotel Cepu Indah. Sebagaimana masjid yang dikelola warga Muhammadiyah, tidak akan kita dengarkan kumandang tarhim menjelang subuh dan nyanyian salawatan sebelum atau setelah azan magrib. Hanya suara azan dan ikamah yang boleh dikumandangkan melalui pengeras suara dari masjid yang arsitekturnya sangat sederhana itu. Walaupun suara dari masjid kadang membantu jamaah tamu yang hendak salat untuk menemukannya ketika terlewati suara azan.

Jamaah yang memakmurkannya berupaya mengamalkan sunah merapatkan saf salat dan berzikir dengan tenang. Kotak amal tersembunyi di sisi lain masjid sehingga hampir saja saya mengira tidak diperkenankan untuk berinfak. Dengan kondisi bangunan yang memprihatinkan, menyandang nama masjid bagai tak sebanding dengan bangunan musala megah yang terletak di lorong dua. Bagaimanapun jalan sunyi itu masih terobati dengan ramainya jamaah salat jumat yang memenuhi masjid.


syiah di masjid nabawi

23 Maret, 2014

azan asar berkumandang, toko-toko dan lapak-lapak ditutup. manusia berbondong-bondong menuju masjid nabawi untuk salat berjamaah. tetapi beberapa orang pergi menjauhi masjid.

perempuannya mengenakan kerudung hitam yang panjang dari kepala hingga kaki, dipegang untuk menutupi pakaiannya yang tidak longgar. laki-lakinya berpakaian biasa saja. sebagian laki-laki yang terpelajar memakai serban dan jubah lebar yang melabuh sampai ke tumit.

di al-rawdah, mereka memenuhi posisi favorit, di bagian belakang dekat kamar fatimah. duduk menghadapnya sambil berdoa. lisannya mewiridkan nama ali, fatimah dan husain.

di waktu salat jumat, sebagian dari mereka keluar membuat jamaah sendiri dan salat empat rakaat. sebagian yang berada di dalam masjid duduk khusyuk menyimak khutbah dan ikut salat dua rakaat di belakang imam. ketika salam mereka langsung bangkit dan melanjutkan dua rakaat lagi.

di lorong antara bab al-salam dan bab al-baqi, kaum laki-laki mereka memberi salam di hadapan kubur rasulullah kemudian lirih mencaci di hadapan kuburan abu bakar dan umar.

di halaman masjid, berkumpul kaum perempuan menghadap kubah hijau. melambaikan tangan menyalami rasulullah, melontarkan cacian bagi kedua sahabat beliau. lalu berdoa ke arah kubah hijau, membelakangi kiblat.

di al-baqi, kaum laki-lakinya ramai berkumpul di hadapan gundukan tanah kuburan yang ditandai susunan batu yang dianggap sebagai kuburan aisyah, ibunda kaum beriman. di hadapan kubur itu mereka mencacimaki istri rasulullah yang dimuliakan. mencacimaki beliau pulalah kaum perempuan mereka yang berada di luar tembok pemakaman.

ketika azan dan ikamah mereka tidak bersegera mendatangi masjid nabawi. bila takbiratulihram ditegakkan mereka berupaya menyisip di sela-sela jemaah. mengingatkan jemaah akan kelakuan salah satu makhluk Allah, sekaligus peringatan untuk merapatkan saf.


هل تتكلم العربيه

12 Maret, 2014

1.

“هل تتكلم العربيه؟”

Seseorang tiba-tiba memberi salam kepada saya yang sedang berjalan di pelataran Masjid Nabawi dan bertanya dengan pertanyaan tersebut. Tergagap, saya pun menjawab, “I am sorry, أنا لا أتكلم العربية”

Orang itu tersenyum kemudian mengucapkan terima kasih dalam bahasa arab dan pergi meninggalkan saya. Saya mengira dia hendak menanyakan sesuatu namun tidak jadi karena saya tidak berbahasa yang sama dengannya.

2.

Lain waktu saya menghadiri majelis tahsin alquran setelah subuh dibimbing seorang syaikh. Setiap hadirin selesai membaca, syaikh mengomentari dan bercakap sebentar dengannya. Pada giliran saya membaca beliau menyimak dengan saksama, kemudian mencukupkan bacaan saya dan bertanya, “جيد ، هل أنت أندونيسي؟”

Terkesima, saya pun menjawab, “نعم، أنا اندونيسي”

Beliau tersenyum dan mendoakan keberkahan lalu beralih kepada giliran berikutnya.

3.

Usai mengikuti pengajian tafsir Juz Amma berbahasa Indonesia di Masjid Nabawi yang dibawakan oleh Ustaz Firanda, seorang pemuda mendatangi saya dan bertanya, “Excuse me, in what language the talk was presented?” Saya pun menjawab pertanyaannya dengan bahasa Inggris dan terjadi percakapan beberapa saat dengannya. Pemuda yang berasal dari suatu daerah di Turki itu tidak terlalu fasih berbahasa Inggris namun kami berusaha saling memahami.

4.

Pada kesempatan saya menghadiri majelis taklim bada magrib di Masjidil Haram, saya berharap dengan beraneka ragamnya peziarah mendapati orang yang saya dapat berkomunikasi dengannya. Saya membuka pertanyaan dengan orang yang duduk di samping saya, “Excuse me, who is the sheikh who was giving a lesson?” Orang itu pun menjawab, “باللغة العربية، من فضلك”

Saya kaget, lalu bertanya dengan terbata-bata, “ما هو اسم الشيخ؟” Orang itu pun menjawab, “أنا لا أعرف؟” Kami pun kembali menyimak pelajaran tanpa berpanjang kalam.

5.

Setiap waktu salat berjamaah yang saya hadiri di Masjidil Haram maupun di Masjid Nabawi, saya merasa bersyukur dapat menjadi salah seorang makmum. Menikmati kesyahduan lantunan qiraah para imam yang  selama ini bacaannya hanya didengar melalui rekaman. Namun untuk menghayatinya sepenuh hati, barulah pada ayat-ayat yang sering saya dengar atau yang saya hafal dan diketahui maknanya.

6.

Suatu ketika saya mengunjungi maktab atau perpustakaan yang berada di sisi barat Masjid Nabawi. Melihat koleksi buku-buku yang terpampang di sana, terbayang betapa banyak pengetahuan yang tersedia dan siap untuk dibaca oleh para penuntut ilmu. Saya memindai setiap rak mencari-cari buku yang dapat saya baca. Hati dan perasaan saya bergolak, tak terasa saya pun menitikkan air mata. Mendapati diri ini tak mampu memetik sedikitpun faidah dari ribuan buku yang ada, hanya karena kemampuan berbahasa yang minim.

7.

-epilog-

Dari Hasan Al-Bashri, beliau pernah ditanya, “Apa pendapat Anda tentang suatu kaum yang belajar bahasa arab?” Maka beliau menjawab, “Mereka adalah orang yang baik, karena mereka mempelajari agama nabi mereka.”


menziarahi al-baqi

11 Maret, 2014

image

Kuburan Al-Baqi terletak di sebelah tenggara Masjid Nabawi. Telah dimakamkan di sana para istri dan bibi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, anak beliau Ibrahim, dan beberapa orang sahabat radiyallahu anhum. Kebanyakan warga Madinah dan peziarah merindu untuk disalatkan di Masjid Nabawi kemudian dikuburkan di Al-Baqi ketika wafat. Selain karena banyaknya yang menyalatkan juga karena adanya anggapan bahwa penghuni Al-Baqi adalah yang pertama kali dibangkitkan di hari kiamat sebelum penghuni kubur lainnya.

Al-Baqi dibuka untuk umum yang hendak menziarahinya hanya pada dua waktu, yaitu pagi hari di waktu duha dan sore hari setelah salat Asar. Selain kedua waktu itu tertutup dan dibuka bagi yang menguburkan mayat saja. Hanya laki-laki saja yang diperkenankan masuk pekuburan, sedangkan para wanita dipersilakan untuk menunggu dan mendoakan dari luar.

Di Al-Baqi, semua kuburan memiliki bentuk yang sama, berbentuk gundukan dan batu penanda sebagai nisan tanpa nama. Hanya kerabat saja yang mengetahui di mana kubur sanaknya berada. Dahulu pernah ada penanda pada kubur para istri Rasulullah dan beberapa sahabat, berupa bangunan yang memayungi dan nisan bernama. Tetapi para pelaku kesyirikan menjadikannya kuburan keramat dan tempat mengalap berkah. Kemudian semua bangunan diratakan dan tanda nama dihilangkan oleh pemerintah kerajaan Saudi, dalam rangka memenuhi wasiat Rasulullah terhadap kuburan.

Berziarah kubur adalah sunah yang tidak hanya ditujukan pada Al-Baqi tetapi juga kepada pekuburan lainnya, yaitu dalam rangka mengingat mati dan orang yang telah mati, mengingat tempat kembalinya bisa surga atau neraka. Disunahkan pula ketika mendatangi pekuburan muslim untuk mendoakan keselamatan dan memintakan ampun kepada Allah bagi penghuni kuburan. Bukan untuk berwasilah apalagi mengalap berkah.


%d blogger menyukai ini: