13 Trip 3-1

16 April, 2006

[pob.11.03] berangkat ke MOGPU. Orientasi dan plant tour. Presentasi.Keberangkatan kami ke MOGPU cukup santai, kami masih bisa sarapan dan berbincang di kantor Matak. Helikopter kami berangkat jam 9 ½ pagi. Sesampainya di MOGPU, hard hat Bagus tertinggal di bagasi helikopter sehingga ia harus meminjam hard hat untuk visitor.MOGPU (Mobile Offshore Gas Processing Unit) adalah fasilitas unit pemrosesan gas yang dapat berpindah. Di sini selain memroses gas dari lapangan sekitar, ia juga menjadi muara dari lapangan-lapangan lain sekaligus pintu gerbang ekspor gas menuju ke Singapura maupun ke Malaysia.

Fasilitas MOGPU adalah fasilitas bintang lima, begitu kawan-kawan pekerja menyebutnya. Setiap koridor dilapisi karpet merah, di setiap kamar terdapat televisi, komputer dan akses internet, serta pesawat telepon. Fasilitas ini tidak didapatkan di anjungan lepas pantai lain yang telah kami kunjungi. Di ruang rekreasi terdapat PS2 serta alat karaoke. Makanan yang dihidangkan berselera nusantara lagi lezat.

Benar-benar kenyamanan bintang lima. Belum lagi karena fasilitasnya yang cukup kecil dan hanya mampu menampung maksimum ideal 35 orang, suasana kekeluargaan yang kental terasa di sini. Bagus ditempatkan di kamar 316, sedangkan saya dan Bayu ditempatkan di kamar 304.

Orientasi proses dipandu oleh pak Ery Kisnanto, plant tour dipandu oleh Ruwandy dan Kamarullah. Proses yang terdapat di MOGPU cukup sederhana, hal ini dikarenakan gas yang dihasilkan oleh sumur-sumur sekitar adalah dry gas sehingga perlakuan untuk gas export hanya untuk memisahkan gas dari air saja.

Sore hari kami diminta mempresentasikan tentang kegiatan usaha hulu migas di ruang rekreasi. Presentasi dan diskusi berlangsung selama 2 jam.

Di kamar, karena terdapat akses internet, kumanfaatkan sebaik-baiknya untuk menulis dan mengaplod data. Tidurpun menjadi lebih larut.

[pob.12.03] morning meeting, alarm drill. Internet. Diskusi dengan pak Abdillah. Presentasi.

Pagi itu morning meeting diisi tentang pencapaian kinerja HSE selama bulan januari dan februari dan pembagian reward kepada pekerja yang memenuhi kriteria kinerja.
Seperti sebelum-sebelumnya, di MOGPU kami juga mengalami alarm drill. Kali ini bertema abandon fasility, sehingga setelah dihitung personel on board sesuai dengan kartu-T, kami dipersilakan masuk ke dalam lifecapsule yang muat untuk 25 orang. Terbayang jika harus menyelamatkan diri dengan kapsul tersebut, persediaan pangan yang minim, terombang-ambing di tengah samudera, akses udara yang minim. Wah!

Bertemu dengan pak Abdillah dimanfaatkan dengan berdiskusi mengenai mentalitas orang Indonesia. Kebanyakan hanya mengeluh dan menyayangkan tanpa mau bergerak membuat perubahan mendasar pada dirinya dan sekitarnya. Kebanyakan hanya mencari kambing hitam tanpa berpikir bagaimana menyiasati nasi yang sudah menjadi bubur. Kebanyakan mau membeli tanpa mau merawat peralatan yang telah dibeli. Kebanyakan pasrah kepada zona nyaman tanpa mau mengembangkan diri yang berisiko meninggalkan zona nyaman mereka untuk lebih maju.

Sore itu dilanjutkan dengan presentasi mengenai konsep kerja sama migas yang dibangun oleh pemerintah dan kontraktor migas, berlangsung 2 jam juga.

[pob.13.03] exercise. Control room. Refrigeration System. Karaoke.

Pagi itu setelah morning meeting, kumanfaatkan waktu dengan exercise di fitness room. Lumayan untuk mencari keringat, membakar lemak dan kalori, serta mempelajari teknik baru flatting abdomen untuk mendapat sixpack dengan baik. Wah, butuh effort lebih nih ..

Kuhampiri control room untuk belajar membaca panel dan menanyakan trending system. Sore hari belajar refrigeration system pada sesi knowledge sharing, serta permasalahan yang dihadapi di refrigeration system (eg. Hydrate). Malamnya diisi dengan karaoke di ruang rekreasi.

[pob.14.03] morning meeting. Bayu pindah. Tidur siang.

Pak Abdillah turun hari itu, beliau memberi kami kenang-kenangan berupa topi. Pada hari crew change ngga banyak yang bisa dilakukan, karena semua orang disibukkan dengan kegiatan handover. Bayu pindah ke kamar 316 karena teman sekamar Bagus pulang sedangkan seseorang yang biasa di kamar 304 datang.

Saya biasa melakukan paperwork di kamar, sehingga yg dipindah adalah bayu. Bayu punya computer station di fireroom (ruang untuk fotokopi) dan bagus punya computer station di ruang rekreasi.

[pob.15.03] morning meeting. Control room. Maintenance.

Morning meeting pagi itu dipimpin oleh pak Agus Marletin, seseorang yang memiliki gaya berbeda dengan pak Abdillah. Pak Abdillah lebih suka memimpin dengan menerapkan prinsip-prinsip peraturan yang berlaku dan terkesan agak kaku walaupun sebenarnya bertujuan mempopulerkan peraturan. Sedangkan pak Agus jauh lebih cair dan tidak terlalu menggubris aturan. Ah, setiap orang punya gaya berbeda, mengapa harus dipermasalahkan?

Setelah berdiskusi dengan pak Ery, kami menuju ruang kendali, di situ saya berdiskusi dengan Kamarullah, sedangkan bayu dan bagus menuju ruang warehouse. Sore harinya berdiskusi dengan pak Mulyatno mengenai kegiatan maintenance di MOGPU.

[pob.16.03] HSE. Kitchen. Presentasi. Bagus pindah. Cari bahan drilling.

Di MOGPU tidak terdapat dokter sebagai kampiun HSE, hanya seorang mantri kesehatan yang bekerja rangkap sebagai radio operator dan HLO. Pak Mulyadi namanya, menjelaskan kepada kami dengan sangat baik semua lingkup pekerjaannya. Kemudian kami menuju kitchen dan berdiskusi dengan campboss pak Eko, membincangkan tentang sistem dan kendala yang dihadapi oleh campboss. Terutama mengenai behavior pekerja catering.

Hari itu manajer lapangan Western Hub mengunjungi MOGPU, sehingga Bagus dipindah ke 325 bersama pak Ery. Mereka dapat melanjutkan diskusi mengenai proper dan HSE lebih jauh. Pak Eko Putro sang manajer tinggal sekamar dengan Bayu di 316.

Sore harinya, kami melakukan presentasi mengenai hasil orientasi kami selama di MOGPU. Atas permintaan pak Mulyatno, saya diminta membagi pengetahuan tentang kegiatan eksplorasi dan produksi. Jadilah malam itu saya mengejar bahan di internet.

[pob.17.03] bertapa di kamar. Knowledge sharing. Diskusi dengan pak Ery.

Sepagian saya habiskan di kamar membuat bahan presentasi untuk sesi knowledge sharing sore harinya. Presentasi mengenai kegiatan eksplorasi dan produksi perminyakan sukses, para hadirin puas dengan presentasi saya. Alhamdulillah, ngga sia-sia mengurangi jatah tidur, lagipula saya jadi belajar lagi mengenai eksplorasi dan pemboran .

Malam itu di kamar pak Ery, bersama Bagus saya berdiskusi hingga larut malam, mengenai banyak hal.

[pob.18.03] bangun kesiangan. Diskusi dengan FM. Bermalam di Intan FSO.

Akibat tidur larut malam, pagi itu saya bangun kesiangan. Setelah sarapan, berkumpul di ruang rekreasi dan berdiskusi dengan pak Eko Putro. Kemudian menyambangi ruang kendali dan mengambil gambar bersama teman-teman pekerja. Siang itu kami berencana ke LGP, tetapi karena ada tamu dari Jakarta, sedangkan ruang tinggalnya terbatas, kami terpaksa menginap di Intan FSO.

Tempat bermalam kami adalah kontainer yang didesain menjadi kamar tidur 4 bed. Wah, drastis sekali perubahan kenyamanan yang kami terima di MOGPU dan Intan FSO. Ya sudah, kami harus menikmati semalam di terminal tersebut sebelum ke LGP.

Intan FSO merupakan kapal tanker yang menjadi terminal internasional, karena di Intan FSO-lah bertambat berbagai kapal tanker dari dalam dan luar negeri untuk membeli minyak. Saat kami tiba, sedang tambat sebuah tanker melakukan pengisian minyak, dan telah menunggu beberapa tanker di sekitarnya.


11 Trip M-1

1 April, 2006

[pob.07.03] main tennis. Ke kantor. Tidur siang. Jalan di landasan.[pob.08.03] main tennis. Ke warehouse meet pak Ronald Mambu. Tidur siang. Jalan di landasan bersama dr Ary dkk.[pob.09.03] main tennis. Ke warehouse. Jalan-jalan ke Matak Kecil. Meet pak Erwan, pemilik rumah oranye.

[pob.10.03] ke warehouse dan jetty port. Jumatan. Istirahat.
Berlibur atau tidak, berada di Matak sama saja, kegiatan kami lebih banyak untuk berolahraga dan beristirahat. Sebenarnya kami punya jatah on duty di Matak pada akhir program, tetapi kami sepakat untuk menggunakan sebagian waktu libur kami untuk mempelajari kegiatan di Matak Base.Setelah kami temui pak Arifin, base superintendant, menyampaikan maksud kami tersebut, mulailah program di Matak Base. Di kantor, kami bertemu dengan pengurus community development, pak Akmal Ruzzaman. Beliau sedang menyiapkan laporan kegiatan dalam bentuk dokumen dan presentasi. Kami diminta mengajarkan beliau beberapa keys untuk penyiapan laporan.

Kami dikenalkan dengan pak Ronald Mambu, supervisor warehouse. Hari pertama digunakan untuk warehouse touring, melihat-lihat penyimpanan barang-barang di yard dan warehouse, dan sistem inventory. Di yard kami temukan barang-barang tubular dan stok asesoris untuk keperluan pemboran, dan juga stok sisa proyek. Sistem inventory memudahkan penyimpanan dan pencarian barang-barang di warehouse.

Hari kedua kami mempelajari sistem receiving dan issuing. Receiving adalah sistem penerimaan barang yang datang dari Jakarta maupun vendor. Barang-barang yang diterima dapat merupakan barang yang dipesan (order) maupun barang untuk memenuhi stok minimum. Issuing adalah sistem pengeluaran barang dari warehouse kepada pengguna. Untuk barang-barang yang dipesan oleh fasilitas offshore, Matak warehouse hanya sebagai transit saja sehingga tidak masuk dalam catatan receiving dan issuing.

Hari ketiga kami mempelajari order, return, dan mengunjungi port. Order adalah sistem pemesanan barang berdasarkan permintaan pengguna maupun memenuhi stok minimum. Return adalah sistem pengembalian barang-barang yang spesifikasinya tidak sesuai dengan permintaan. Untuk pengembalian barang tersebut dilengkapi dengan non-conformable report. Sedangkan untuk jumlah yang tidak sesuai, hanya dilakukan notifikasi saja. Port melayani offloading dari yard atau warehouse ke kapal untuk dikirim ke fasilitas offshore maupun dari/ke vendor/Jakarta dan yard.

Jika di pagi hari kami manfaatkan waktu dengan bermain tennis, sore hari kami gunakan untuk berjalan-jalan, baik itu di landasan ketika sudah tidak ada lagi jadwal penerbangan (kira-kira jam 5 sore) maupun jalan-jalan ke kampung di luar Matak Base.


10 Off 2

28 Maret, 2006

[pob.04.03] down to Matak. 410jam 5 sore kami sampai di Matak, bertemu dengan pak Arifin Sjukur dan dr. Ary yang sedang menuju landasan untuk jogginng sore itu. Kebetulan helikopter yang kami tumpangi adalah penerbangan terakhir. Kami diminta menempati kamar 410, karena kamar 112 yang pernah kami tempati pada Off 1 lalu sedang ditempati oleh teman-teman yang sedang mengikuti pelatihan oil spill sejak tanggal 1.Kamar 410 memang bukan kamar yang disarankan untuk pekerja pihak pertama maupun pihak kedua. Barak 4 adalah barak untuk pihak ketiga, para subkontraktor. Tetapi yang mengesalkan kami adalah perbedaan pelayanan dalam perawatan kamarnya. Coret-coretan di kayu tempat tidur, bantal yang bau apek. Walaupun dilucuti sarung bantalnya dan spreinya, tetap saja bau. Waaa… malam itu tidur tanpa bantal dan sprei. Hanya selimut dan itupun bau matahari. Hiks…[pob.05.03] main tennis. Tidur siang. Main ke pulau Langu dan berenang bersama pak Arifin dan teman-teman oil spill training.

Pagi itu kami main tennis, berkenalan dengan orang surveyor, dan menjemur bantal! Siang yang panas bikin bantal yang berpulau-pulau itu menguap baunya. Beberapa orang dari peserta pelatihan oil spill adalah teman-teman yang pernah kami jumpai di LGP. Jam 4 ½ kami dijemput pak Arifin dan menuju jetty. Dengan rescue boat kami meluncur ke pulau Langu dan bersenang-senang sampai magrib.

Makan malam kami saat itu spesial, barbeque dari berbagai macam ikan, ayam dan daging sapi. Wow.

[pob.06.03] main ke Terempa. Tidur siang. Jalan cepat di landasan.

Jam 6 ½ pagi kami bergegas menuju dermaga Payalaman, alhamdulillah mendapat tempat duduk di pompong. Perjalanan menuju Terempa lebih lambat daripada perjalanan kami sebelumnya. Sesampainya di Terempa, kami mampir ke kedai Murai, minum secangkir teh atau kopi. Setelah itu kami berjalan menyusuri pantai sebelah barat. Beberapa rumah penduduk berada di daratan, sebagian lain bertopang susunan kayu di atas pantai.

Ada batu yang dibelah menjadi jalan orang lewat. Kami terus berjalan sampai ke vihara yang berada di tebing. Untuk mencapainya harus menaiki undakan. Bangunan vihara ini terlihat menarik ketika kita berada di dalam pompong pada perjalanan dari dan ke Tarempa. Beberapa komunitas keturunan tionghoa hidup di sekitar vihara, bekerja sebagai pedagang, nelayan maupun petani. Pemandangan dari halaman vihara amat indah. Kita dapat memandang perairan teluk dan selat, maupun kota kecil bernama Tarempa yang berada di teluk sebelah utara pulau Siantan.

Dari vihara, kami kunjungi penginapan tanjung Indah yang dibangun menjorok ke teluk untuk mendapat pemandangan teluk Tarempa yang indah. Di depan penginapan, terdapat perajin pompong bernama pak Sabli. Saat kami kunjungi, beliau sedang mengerjakan pesanan pompong dengan panjang 8 meter. Di Tarempa, hanya dia perajin pompong saat ini. Kayu penyusun pompong diusahakan papan solid yang panjangnya sesuai panjang pompong yang diinginkan dan tidak terpotong. Untuk membuat lekukan perahu, papan tersebut dibakar sebelum dilekukkan. Setiap celah antara papan diisikan dengan kulit kayu gelam yang dapat mengembang ketika terkena air. Menyambungkan antara papan sebagian besar dengan pasak kayu dan sebagian lagi dengan paku atau murbaut besi.

Kami lanjutkan perjalanan ke pasar, mencari sandal berpelindung tumit, dan tidak kami dapatkan satupun. Kemudian menuju penjahit untuk menjahit celana pendek kami bertiga yang sobek. Dan makan di kedai pinggir laut yang dekat dermaga dan menghadap ke teluk.

Di kedai kami berkenalan dengan Sabri, seorang petugas dinas kesehatan yang berasal dari Medan. Beliau lulusan Akademi Kimia Analis dan pernah bekerja di Papua sebagai analis laboratorium Freeport. Resah hatinya meninggalkan sanak keluarga membuatnya keluar dari pekerjaannya dan menjadi petugas dinas kesehatan di Terempa. Walaupun penghasilannya tak seberapa dibandingkan dari pekerjaan sebelumnya, ia lebih merasakan ketenangan.

Ada banyak hal yang tidak kita pahami mengapa seseorang berbuat sesuatu yang menurut kacamata materi mengherankan, tetapi justru itulah yang membuat hidup menjadi lebih menarik 🙂Belajar dari pengalaman pertama kami ke Tarempa ([jou.13.02]) kami segera masuk ke pompong walaupun pompong baru akan berangkat setengah jam kemudian. Bersyukur kami tidak perlu duduk di atas atap perahu lagi. Berkenalan dengan pak Bukhari, seorang pekerja community development dari perusahaan partner kami.
Sesampainya kembali ke base, kami tidur siang. Sore itu saya pergi ke landasan untuk berjalan cepat. Beberapa orang saya temui sedang jogging di sore itu. Waktu 45 menit dihabiskan untuk berjalan cepat menjelang magrib.


04 Trip 1-1

11 Maret, 2006

[jou.28.01] When the alarm woke me up in 3 am this morning, i asked my dear wife to wake up too. We conduct a prayer and have a fun farewell ceremony. I am not sure within our 3 months OJT can step back to Jakarta or not, but we’ll try to work on it. At 4 pm, a taxi came to picked me up to Halim PK Airport. My wife and his brother come along with me to the airport. After fajr prayer, we’re dismissed, because I had to boarded.
And now, here I am with bayu and bagus in lift gas platform for the first trip.

Saya masih sempat menulis dalam trip pertama ini, karena saya membawa buku, tapi buku itu cukup menghabiskan tempat di tas saya, akhirnya untuk trip berikutnya saya hanya menuliskan hal-hal penting saja di pocket book saya.Saya berniat untuk banyak menulis dalam perjalanan 3 bulan ini, dari sekian banyak hal yang akan kami dapati dan alami, mudah-mudahan menjadi catatan yang memberikan hal-hal berharga yang dapat dijadikan pelajaran.Bertolak dari bandara Halim PK Jakarta setengah jam lebih telat karena hujan deras, menempuh perjalanan 2 jam 40 menit menggunakan pesawat fokker 50, sampailah kami di lapangan udara Matak Base. Sesampainya di sana, kami menemui pak Rusli untuk pengenalan penggunaan swing rope dan personnel frog. Kemudian menitipkan tas besar kepada pak Komarudin di training room. Kami hanya membawa backpack untuk ke platform.

Tengah hari kami terbang dengan helikopter menuju lift gas platform (LGP) di western hub operation. Di sekitar LGP terdapat beberapa fasilitas yang akan dikunjungi dalam trip 1 ini. Drilling platform and production alpha (DPPA) menyambung jadi satu dengan LGP. Untuk pergi pulang cukup dengan berjalan kaki saja menyeberangi bridge yang menghubungkan kedua platform ini. Sebelah timur platform terdapat fasilitas floating storage and offloading (FSO), sebuah mantan kapal yang dimodifikasi menjadi tempat penyimpanan dan bongkar crude oil. Tak jauh dari platform alpha terletak wellhead platform bravo (WHPB). 10 mil dari lift gas platform adalah production barge san jacinto (PBSJ), San Jacinto adalah nama barge yang berfungsi untuk menampung minyak dari sumur sebelum dikirim ke FSO. Untuk mencapai FSO, WHPB dan PBSJ, kami harus menggunakan transfer boat dari DPPA. Perjalanan dengan transfer boat adalah perjalanan yang sering membuat perut mual karena diombang oleh gelombang. Selama kecepatan angin tidak lebih dari 15 knot dan tinggi gelombang tidak mencapai 2 meter, penggunaan boat masih diperbolehkan, otherwise you can use helicopter or go nowhere lah.

Rekaman kegiatan selama trip 1 tercatat di pocket book (pob) dan jurnal (jou):

[pob.28.01] take off from HPK Airport. Landing at Matak Base. Titip tas di pak Komarudin. Con’t to LGP. Introduction by pak Ferdinandus Joseph.

[pob.29.01] fire drill after breakfast. Go to Muster Station #1. evaluation and Morning Meeting. Overview maintenance and production operation. Overview HSE. Exercise.

[jou.29.01]
our 1st day of orientation. We arrange ourself of half day orientation and take the rest of time for nap and recreation. Actually I can not involve as what my other 2 friends do until I get my safety shoes delivered from jakarta. It expected to be arrived at Tuesday. For a while I can hold my orientation only inside the living quarter. Outside is not allowed unless wearing ppe.

Ya, bayu dan bagus dapat mengunjungi fasilitas platform di luar living quarter, sementara saya terpaksa hanya di dalam saja karena sepatu safety saya belum datang dari jakarta. Ini karena salah ukuran. L
[pob.30.01] morning meeting. Radio room and despatcher overview.[jou.30.01] not much done! Not many visited. Just chatting and having meals. Do I missed my family? I do really. Love my baby wannabe and his mother. Missed my parents. Missed them so much!

**
Kamar 301 dan 303

Kami tinggal di dua kamar yang berbeda. Masalah tempat aja sih. Namun akhirnya saya harus bercampur di kamar 303 karena hari selasa, kamar 301 bakal penuh. Kalau kami jadi satu kamar akan lebih enak karena mau ngobrol semalaman pun bebas saja. Kamar 303 ternyata adalah kamar OIM (offshore installation manager), artinya kami menginap di kamar bos. Selama beliau belum datang, kami boleh tinggal dan menggunakan fasilitas kamar tersebut.
Akses telepon langsung tanpa password, televisi dengan akses tv kabel. Menjadi hiburan yang menyenangkan, membuat kami betah di kamar berjam-jam.Dengan akses telepon, kami dapat menghubungi keluarga di jakarta begitupun sebaliknya dengan pulsa lokal saja. Bayu sibuk menghubungi keluarganya karena mereka sedang sibuk mempersiapkan pernikahan adiknya bayu tengah tahun ini. ”kadang-kadang” tunangannya bayu juga menelepon, sekedar melepas rindu. Begitupun dengan Bagus, dan juga saya. Menghubungi keluarga di rumah untuk melepas rindu, say hello, dan saling mendoakan.

Tv kabel yang menayangkan saluran HBO, Cinemax, dan sebagainya menawarkan film-film pilihan yang kami tonton ketika tidak ada kegiatan. Seringnya kami berada di kamar pada jam-jam kerja mungkin membuat housekeeping heran terhadap kami. Habis mau bagaimana lagi? Teman-teman di west hub tidak memiliki program kegiatan untuk kami, maka kami sendiri yang menyusun jadwal kegiatan untuk kami. Hehehe…

Berada di kamar 303, adalah pengalaman yang patut kami syukuri selama tinggal di LGP.

**

[pob.31.01] morning meeting. DPPA. LGP. Hospital with dr. joko. Exercise.

Sepatuku ngga jadi datang hari selasa, karena jakarta hari libur nasional. Selama di offshore, ngga ada bedanya hari libur dan hari kerja, karena everyday working day. Akhirnya pak joseph dengan baik hati meminjamkan sepatunya kepadaku sampai sepatuku tiba. Kebetulan selasa itu beliau off duty, sehingga beliau dapat meminjami saya sepatunya.

Pengganti beliau adalah pak Gandjar Iskandar, kami temui beliau selepas makan siang.

[pob.01.02] production barge san jacinto with pak sambudi willem. Transfer oil to tanker. Each 5 days from pbsj to intan fso. Front hull.

[jou.01.02] mabuk laut! 3x ketika berangkat dan 1x ketika pulang. Naik pan marine boat pulang pergi LGP-PBSJ. Melihat proses yang ”sederhana saja” di production barge san jacinto. Minyak di lapangan sembilang tinggal 1700 bopd saja untuk 3 sumur tetapi plateaunya datar, sehingga yang diperkirakan habis tahun 2005 harus diperpanjang hingga 2009. my wife called me by phone, and talked many about her and her baby.
[pob.02.02] WHP Bravo with erie nasibu and pak sulistyono. Exercise.

[pob.03.02]
LGP morning meeting.

[jou.03.02]
baru 1 minggu aku meninggalkan daratan, rasa rindu tak dapat dipendam. I dream of gathering with my family. Saw them in my nightly dreams. Ugh! Can’t imagine how would it be in the next 12 weeks?
Mom missed me so much, as I do missed her. Pop happy receiving my call. My wife asked me to call her every night. My bro didn’t say anything but surely he missed me too.
When someone’s missing, there will be an empty space and we’re wondering what shall fill that blank spot.
I missed my family. Soon I’ll be at home…

Baru seminggu, ceritanya udah kangen-kangenan…. Wah!
*


%d blogger menyukai ini: