Mesirku malang

4 Februari, 2011

Sebagai sebuah negeri muslim yang telah berada pada peradaban dunia beribu-ribu tahun lamanya, tentulah Mesir memiliki kekayaan khasanah yang mendewasakan masyarakatnya. Namun apa yang terjadi di Mesir beberapa hari belakangan ini tentulah mengiris jiwa. Betapa tidak, darah tertumpah untuk menggulingkan kekuasaan yang dianggap lalim. Ini memang bukan yang pertama kalinya. Mesir sangat berpengalaman dalam hal ini karena tidak hanya di masa demokrasi, juga sering terjadi di masa kesultanan Islam, bahkan di zaman Firaun dan raja-raja Mesir Kuno. Yang sangat disayangkan adalah gejolak ini digerakkan oleh orang-orang yang mengaku muslim dan aktif dalam dakwah.

Apakah mereka lupa dengan Quran dan Hadits yang mereka dakwahkan telah melarang untuk menumpahkan darah sesama muslim? Apakah mereka lupa bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menasihatkan agar setiap muslim tetap mendengar dan taat kepada pemerintah, walaupun ia memukul punggung dan mengambil harta dengan paksa (Ref HR Muslim)? Lalu apa bedanya mereka dengan Bani Israil yang diperingatkan oleh Allah karena telah menumpahkan darah dan mengusir saudara sebangsanya (Ref QS 2:84)? Mereka mengira telah berbuat kebaikan, padahal telah memecah belah dan berbuat kerusakan (Ref. QS 9:107, 2:11).

Semoga Allah memberikan petunjuk kepada mereka, mendamaikan pertikaian di antara mereka dan menganugerahi mereka pemimpin yang bertaqwa.


Resensi: Mekkah Kota Suci, Kekuasaan, dan Teladan Ibrahim

17 April, 2010

Tak sedikit buku yang berbicara tentang Mekkah, yang ditulis berdasarkan naskah-naskah keagamaan, sejarah,  maupun observasi sosial. Di antaranya adalah buku “Mekkah Kota Suci, Kekuasaan, dan Teladan Ibrahim” [1] yang ditulis oleh seorang tokoh muda NU, Zuhairi Misrawi. Buku terbitan Penerbit Buku Kompas yang diberi kata pengantar oleh Prof. DR. Komaruddin Hidayat  ini berupaya menampilkan Mekkah dalam sejarahnya di masa sebelum Islam, di masa Islam dan di masa modern dengan segala pesona atribut yang dinisbatkan kepada kota suci itu, serta pergumulan kekuasaan yang menghiasi guratan sejarahnya, serta keteladanan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan Nabi Ibrahim alaihissalam sebagai peletak pondasi kehidupan Mekkah.

Baca entri selengkapnya »


Resensi: Maria Al-Qibthiyah

2 April, 2010

Karena tertarik dengan booth Mizan di Pasar Festival yang menawarkan harga diskon hingga 50%, membuat saya terdorong untuk memborong beberapa buku. Di antara buku yang saya beli adalah buku yang mengulas tentang kehidupan Maria Al-Qibthiyah, salah seorang istri Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Buku ini merupakan terjemahan dari buku karya Abdullah Hajjaj yaitu Mariyah Al-Qibthiyyah Ummu Ibrahim.[1]

Dari Mukadimah yang ditulis oleh Abdullah Hajjaj, si penulis didapatkan informasi bahwa hal-hal yang dibahas dalam buku tersebut adalah kisah tentang pribadi Maria Al-Qibthiyah dan putranya Ibrahim, kemudian kisah Shafiyyah binti Huyay dan Raihanah. Ketiga istri Nabi tersebut adalah berasal dari kalangan Ahlul Kitab yang masuk Islam setelah menyaksikan sendiri bagaimana orang-orang muslim memperlakukan mereka dengan baik, sehingga masuk Islamnya mereka itu atas dasar pilihan sendiri. Penulis juga menyertakan pembahasan khusus mengenai kemiripan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam dengan Nabi Ibrahim alaihis salam dari sisi millah (agama) dan suluk (akhlak).

Sedangkan pada versi terjemahan ini, mizania melengkapi pembahasan dengan 2 hal yaitu: (1) Informasi mengenai sejarah Kristen Koptik, sebagai tambahan dalam memahami latar belakang Maria Al-Qibthiyah, dan (2) Lampiran yang merupakan tulisan dari Muhammad Rasyid Ridha mengulas tentang teladan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam berinteraksi dengan istri-istrinya.

Baca entri selengkapnya »


%d blogger menyukai ini: