si pelit

23 Januari, 2013

Pernah ada seorang kaya yang sangat pelit, terhadap tetangganya yang miskin pun ia tidak pernah mau berbagi. Sehingga si miskin tetangganya mengumpulkan uang sedemikian rupa untuk menjamu si kaya dengan hidangan yang cukup mewah sambil berharap agar si kaya mau berubah menjadi dermawan. Si kaya pun memenuhi undangan makan si miskin. Terhidang di hadapannnya berbagai makanan yang enak-enak. Si kaya sangsi bagaimana mungkin si miskin ini dapat menyediakan jamuan yang mewah. Mengetahui bahwasanya cuma-cuma, ia pun menikmati seluruh hidangan dengan lahap sampai kenyang. Ketika si kaya bersendawa karena kekenyangan, seketika itu pula ia muntah dan menangis tersedu-sedu. Si miskin memerhatikan hal ini dan mengira bahwa si kaya sudah sadar akan kepelitannya selama ini. Si miskin memberanikan diri bertanya, “Apa gerangan yang menyebabkanmu menangis begini, wahai Fulan?”

Si kaya mengusap air matanya, menatap wajah si miskin kemudian berkata, “Saya menangis karena sedih dan merasa sayang harus memuntahkan makanan enak yang saya makan dengan cuma-cuma ini.”


fungsional dan praktis

17 Februari, 2010

Demi bergaya, seseorang membeli Honda CBR yang baru turun dari kapal, kemudian bergabung dengan klub, melakukan turing, membuat setiap mata yang dilaluinya memandang takjub dan terpana. Perawatan motor itu hanya pada bengkel tertentu saja, mungkin hanya ada beberapa di negeri ini. Suatu saat ia terjatuh sehingga patah spionnya, harus indent untuk mendapat penggantinya. Ketika harus mengganti suku cadang karena sudah waktunya pun harus indent, menunggu kiriman dari kapal karena tidak terdapat di toko suku cadang biasa. Tibalah waktunya si pemiliki motor sport bergaya itu melepas masa lajangnya, ia sadar dirinya tidak berharta lebih, dilego pula CBR kesayangannya pada angka 25 juta.

Baca entri selengkapnya »


%d blogger menyukai ini: