gigi anak bermasalah, salah orang tua

5 Mei, 2013

gigiDua kali bertemu dengan drg. Sjahril Noerdin, Sp.KGA di poliklinik gigi RS. Puri Cinere untuk keperluan perawatan gigi susu mas Radya yang berlubang, memberikan nuansa yang berbeda daripada pertemuan dengan dokter gigi lainnya. Selain sabar dan tekun dalam menangani masalah gigi mas Radya, sebagai dokter senior beliau dengan sukarela berbagi ilmu pengetahuan dengan pasiennya. Dan satu quote yang penting dan mak njleb, karena selalu diulang-ulang, adalah: “jika gigi anak bermasalah, itu adalah kesalahan orang tuanya”.

Kebanyakan orang tua terkagum-kagum dengan perilaku balitanya yang menunjukkan kemandirian, kemudian membiarkan anak-anaknya untuk menyikat gigi sendiri. Namun mereka tidak menyadari bahwa kemampuan motorik balita belum berkembang dengan baik untuk memegang sikat gigi dan menggerak-gerakkannya di dalam mulut agar giginya bersih dari kuman. Padahal kesehatan gigi dan mulut orang dewasa bermula dari baiknya perawatan terhadap gigi susu dan mulut pada masa kanak-kanak. Sebaiknya, sebelum usia 10 tahun, anak-anak perlu disikat giginya oleh orang tua dengan cara yang benar, minimal 2 kali sehari (di waktu pagi dan malam hari). Pengalaman disikat gigi oleh orang tua akan membekas kepada kebiasaan anak-anak ketika sudah mampu menggosok gigi sendiri dan ketika dewasa kelak. Penolakan di awal pengalaman menyikat gigi anak justru menjadi tantangan bagi orang tua untuk bersabar dalam menjalani keorangtuaannya (parenthood).

Perawatan gigi dan mulut tidak hanya menggosoknya dengan pasta gigi dan cara yang benar, tetapi juga memperhatikan apa saja yang dimasukkan ke dalam mulut. Sebagai gerbang pertama proses pencernaan makanan, gigi memainkan peranan penting agar makanan dapat dicerna oleh tubuh. Makanan sebaiknya tidak terlalu panas atau terlalu dingin, tidak terlalu asam atau terlalu basa, tidak juga terlalu keras atau terlalu lembut. Asupan gizi seimbang memberikan manfaat bagi kesehatan tubuh berikut bagi gigi.

Gigi juga memainkan peranan bagi pembentukan rahang yang sehat dan kuat. Kelemahan orang moderen dibandingkan orang primitif adalah hanya 10 macam gigi saja dari 32 gigi yang difungsikan oleh orang moderen. Dari berbagai jenis makanan moderen pada saat ini yang kebanyakan bersifat lembut, beberapa di antaranya hanya berupa jus nutrisi, mengurangi kekuatan fungsi gigi sebagaimana mestinya. Selain itu tata cara makan yang dianggap sopan santun (table manner) membatasi pengoptimalan seluruh fungsi gigi. Pelajaran mengenai fungsi gigi bahwa gigi seri sebagai pemotong, gigi taring sebagai pengoyak/pencabik, dan gigi geraham sebagai penggerus, tinggal kenangan masa lalu saja tanpa banyak diperoleh kenyataannya di masa kini.

drg. Sjahril mengingatkan bahwa biaya yang dikeluarkan oleh pasien untuk dokter gigi tidak murah bahkan lebih mahal daripada biaya dokter umum untuk penyakit lainnya. Sebisa mungkin dihindari untuk sering-sering pergi ke dokter gigi, apalagi untuk menambal gigi berlubang. Kalaupun ke dokter gigi sebaiknya cukup untuk konsultasi dan pemeriksaan setiap 6 bulan sekali. Oleh karenanya, orang tua harus belajar merawat gigi anak-anaknya untuk tetap sehat dan kuat. Memastikan setiap makanan yang masuk ke mulut anak-anaknya adalah makanan yang menyehatkan dan menguatkan, baik untuk tubuh maupun untuk gigi geliginya.


tentang dai

16 November, 2011

Bismillah,
Miris memang membaca kenyataan tentang audisi dai di televisi, bahkan ada artikel yang mempertanyakan mengapa tidak ada audisi untuk pendeta, pertanyaan itu terjawab dengan sebuah tertawaan: “Menjadi pendeta ada sekolahnya, Bung. Di seminari, bukan di televisi.”

Melihat betapa orang Islam yang mengikuti audisi dai di televisi, kebanyakan di antara mereka miskin ilmu, hanya bermodalkan buku agama, menghapalnya lalu menyampaikannya kepada khalayak. Sebaliknya ada juga para santri yang menekuni ilmu agama sejak kecil, mengenyam bangku pesantren, sampai duduk di majelis para ulama timur tengah namun sekembalinya mereka ke tanah air, kekayaan ilmu yang telah diperolehnya tidak disampaikan kepada umat, atau justru ikut-ikutan audisi dai dan tenggelam dalam industrialisasi hiburan di televisi. Menggenapi nubuat Rasulullah tentang banyaknya para pengkhutbah di akhir zaman dan hilangnya ilmu di tengah-tengah umat.

Ada juga pemuda-pemuda yang dengan semangat bergabung dalam kelompok dakwah, tidak membekali diri dengan keilmuan agama, bahkan mengabaikan hal-hal yang pokok, padahal terdapat kaidah: “barangsiapa yang tidak menguasai pokok-pokok ilmu maka ia tidak akan mampu menguasai ilmu.” Akhirnya mereka hanya ikut-ikutan pendahulunya, lebih mengutamakan amal jama’i daripada amal bil ilmi. Bahkan ada sebagian kelompok yang karena kebodohan mereka sampai mengafirkan umat Islam dan melakukan teror. Sehingga apabila kelompoknya bubar (dengan sendirinya ataupun dibubarkan oleh pemerintah), mereka kelimpungan tak tahu arah kemana melangkahkan kaki. Alih-alih insyaf dari kesalahannya, menutup mata dari majelis taklim, maka kembali kepada keadaannya semula yang jahil dari ilmu, kembali memuaskan hawa nafsu. Naudzu billahi min dzalik.

Ada lagi pemuda-pemuda yang dididik oleh pendidikan moderen, melihat dakwah dengan cara moderen, mengernyitkan mata dari kajian kitab-kitab salaf, lebih menjunjung metode berpikir khalaf, kemudian membuat-buat bidah baru atau merekonstruksi bidah-bidah lama dengan pijakan yang salah tentang hadits “man sanna sunnatan”. Maka ketika dakwah mereka mengawang-awang dan tidak lagi berpijak, mereka pun kehilangan pegangan, menerima semua konsep dan membenarkannya lalu hidup dalam kebingungan. Alih-alih insyaf dari kesalahannya, menutup mata dari majelis taklim, maka mereka mempersalahkan yang tidak dapat menerima pemikiran mereka, kembali memenuhi anggapan hawa nafsu. Naudzu billahi min dzalik.

Namun ada di antara umat yang tetap konsisten dan konsekuen terhadap jalan yang dirintis oleh 3 generasi terbaik umat Islam, berpijak pada pokok-pokok yang benar, tegas dan tidak bimbang, berdakwah dengan hikmah, ikhlas dalam beramal, tanpa pamrih maupun bergeming pada godaan kursi, berakhlak mulia dalam pergaulan.  Mereka duduk memenuhi majelis taklim, mengaji kitab-kitab salaf, menghadiri jamuan ilmu para ulama, terbimbing dalam berdakwah, berhujah dengan dalil dan pemahaman yang sahih saja. Mereka menghidupkan sunnah dan mematikan bidah dalam setiap gerak ibadah maupun kesehariannya, menjadi asing di tengah dunia, dan tidak dilirik oleh siapapun kecuali oleh orang-orang yang berhati jernih.

Allah-ul-musta’an


nomad

1 Agustus, 2011

no·mad 1 n kelompok orang yg tidak mempunyai tempat tinggal tetap, berkelana dr satu tempat ke tempat lain, biasanya pindah pd musim tertentu ke tempat tertentu sesuai dng keperluan kelompok itu; 2 v cak (hidup) berkelana, tidak menetap [KBBI]

Aktivitas nomad tidak hanya dilakukan oleh nenek moyang kita, namun sampai hari ini kita masih dapat menjumpainya, walau mungkin tidak dalam bentuk komunal tetapi lebih bersifat individual. Pada sebagian komunitas, nomad sudah mulai ditinggalkan karena tidak nyaman, merepotkan, harus berpindah-pindah, dan tidak efisien. Sementara bagi pelaku nomad sendiri bisa jadi merasakan kenyamanan, kebebasan, dan efektivitas yang luar biasa dalam hidup mereka.

Ketika manusia mulai meninggalkan cara hidup nomad, ia akan mulai dengan menemukan ladang yang memberinya penghidupan dengan cukup layak, kemudian membangun pondasi rumahnya dengan kuat, membina dinding permanen, atap yang kokoh lalu mengisinya dengan berbagai perabotan, tidak hanya yang primer atau sekunder tetapi juga yang tersier. Manusia mulai merasa nyaman dengan rumahnya menumpuk kekayaan di dalam gudangnya, melahirkan dan membesarkan anak-anak dan keturunan mereka di sana, merasa berat meninggalkannya karena kecintaannya yang mendalam pada itu semua.

Sikap-sikap seperti itu tidak didapat pada pelaku nomad, karena bagi mereka ladang yang baik ada di mana-mana, jika suatu ladang sudah tidak produktif akan ada ladang lain yang siap digarap. Rumah mereka pun sederhana, mulai dari gua-gua, kayu yang disusun dengan beratap daun, atau sebatang tiang dan selembar kain tenda sebagai kemah. Kekayaan yang mereka bawa adalah kekayaan yang produktif: hewan ternak atau hewan kendaraan dan uang secukupnya untuk berbelanja kebutuhan pokok. Mereka melahirkan dan membesarkan anaknya dalam tempaan alam yang berbeda antara satu tempat dengan tempat yang lain, mereka tidak berat meninggalkan tempat tinggalnya karena yang mereka cintai hanyalah diri mereka sendiri.

Di dunia moderen seperti sekarang ini, barangkali masih dijumpai pelaku nomad demikian. Namun tidak tertutup pula sikap-sikap nomad pada manusia moderen. Mereka adalah orang-orang yang percaya bahwa Tuhan telah membekali dirinya dengan keterampilan dan kemampuan yang dapat membuatnya bertahan hidup dan berkembang biak. Mereka bukanlah orang-orang yang mengejar jabatan dan duduk tenang di atas singgasana. Mereka juga bukan orang-orang yang mengumpulkan harta untuk meningkatkan strata sosialnya, melainkan secukupnya harta untuk dapat dikelola sebaik-baiknya dan disedekahkan kepada yang lebih membutuhkan.

Orang-orang nomad moderen ini tinggal di apartemen, rumah sewa, atau bahkan di manapun yang cukup untuk meluruskan badan, memejamkan mata dan membersihkan tubuh. Mereka bukanlah gelandangan yang meminta-minta atau diberi rizki yang sedikit dari Tuhannya. Mereka justru orang-orang yang menjual kemampuannya dengan profesional, di mana ada pekerjaan mereka mengambilnya, sekedar mencukupi kebutuhan dan cita-cita. Mereka tidak perlu meminta-minta jabatan karena justru berbagai jabatan dan tawaran pekerjaan yang menghampiri mereka. Mereka tidak tahan lama duduk atau terlalu banyak bicara karenanya mereka lebih suka bertindak dan mendengar.

Dan syair yang dipetik dari kitab Diwan Asy-Syafi’i berikut cukuplah kiranya menggambarkan keadaan para nomad ini:

Berdiam diri dan bersantai-santai di rumah saja bukanlah sifat dari seorang yang cerdik nan pandai.

Tinggalkan dan pergilah jauh-jauh dari negerimu. Berkelanalah niscaya akan engkau temui pengganti dari orang-orang yang engkau tinggalkan.

Curahkanlah tenaga dan pikiranmu, sebab kenikmatan hidup yang sejati ada pada kerja kerasmu.

Sungguh aku melihat air yang diam itu merusak dirinya. Bila ia mengalir niscaya akan menjadi baik dan bila ia diam niscaya akan menjadi buruk.

Seandainya matahari berhenti di ufuk selamanya. Manusia baik dia orang ajam ataupun orang Arab pasti merasa bosan dengannya.

Bijih emas bagaikan tanah yang dicampakkan di tempat dimana ia dicari. Demikian juga sebuah ranting pohon, ia hanyalah sebuah kayu bakar di atas muka bumi.

[31-07-2011, Hou,TX]

* untuk teman-temanku para nomad, tetap semangat dan marilah kita saling mendoakan untuk kebaikan bersama.


%d blogger menyukai ini: