mengubah nasib

21 Agustus, 2015

image

“Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali mereka sendiri yang mengubahnya”. Kalimat ini seringkali dijadikan oleh para motivator usaha dalam membakar semangat peserta pelatihan.

Kemudian para peserta itupun banting tulang siang dan malam demi mengejar impian mereka untuk mengubah nasib menjadi lebih baik.

Eh, tunggu dulu. Nasib?

Kalau dibaca ayat yang dijadikan dalil tentang perubahan nasib ini, yaitu QS 13:11 (quran.com/13/11) justru tidak bicara tentang nasib. Ah, masa?

Ayat itu bicara tentang kondisi atau keadaan. Secara default Allah telah membuat manusia dalam kondisi yang paling baik dan berkelengkapan.

Coba tengok QS 95:4-5 (quran.com/95/4-5). Kemudian manusia menyalahgunakan kelengkapan itu, sehingga dikembalikan ke tempat yang paling rendah.

Kita harus merekonstruksi pemahaman ayat QS 13:11 menjadi:

Allah tidak akan mengubah kondisi yang ada pada suatu kaum kecuali mereka sendiri yang mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka (memperburuk keadaannya).

Buruknya keadaan disebabkan oleh perbuatan dosa dan kerusakan yang dilakukan oleh manusia, menjadikan kebaikan yang telah Allah berikan pun hilang.

Kok bisa begitu? Waduh.
Selama ini kita salah kaprah dalam memaknai ayat itu, dong?

Lalu, bicara tentang nasib, bagaimana caranya mengubahnya menjadi lebih baik?

Bukankah Allah telah menjanjikan kepada orang yang bersyukur atas nikmat yang diberikan dengan tambahan karunia, sebagaimana Dia mengancam orang yang mengingkari nikmat dengan azab yang pedih?

Iya?

Nah, kalau kita mau mengubah nasib,  maka langkah awal adalah dengan bersyukur.

Alhamdulillah, begitu?

Bersyukur itu progresif bukan pasif.

Kondisi default adalah modal awal. Bagaimanapun mesti disyukuri. Inilah yang disebut dengan, “bersyukur dengan apa yang ada”.

Langkah berikutnya adalah mengoptimalkan modal awal tersebut, potensi dan asetnya, serta kelengkapan yang telah Allah berikan.

Dengan demikian bersyukur akan mendatangkan sebab sehingga Allah menambahkan nikmat kepadanya.

Langkah selanjutnya, tetaplah bersyukur. Yaitu mengakui bahwa kemampuan kita dalam mempergunakan nikmat Allah sejatinya adalah kehendak Allah juga.

Kalau tidak, ingatlah akan azab Allah yang pedih. Silakan lihat kisah pemilik dua kebun yang disebut pada QS 18:32-44 (quran.com/18/42-44).

Maka untuk mengubah nasib, kita mesti banyak bersyukur. Sebaik-baik ungkapan syukur adalah menjaga hak-hak Allah untuk diibadahi tanpa mempersekutukan Dia dengan sesuatu apapun.

Iklan

Rekonstruksi visi

11 Januari, 2013

Pernah dengar cerita tentang 3 orang tukang batu? Ketika mereka sedang menyusun batu dan ditanyakan kepada mereka apa yang sedang mereka perbuat? Tukang pertama menjawab sedang menyusun batu, tukang kedua menjawab sedang membangun rumah, tukang ketiga menjawab sedang membangun istana. Dapat dikatakan bahwa visi ketiga tukang batu itu berbeda-beda. Dan perbedaan tersebut menjadikan nasib mereka pun pada akhirnya berbeda pula.

Apatisme terhadap masa depan seringkali membatasi visibilitas kita sehingga dengan terpaksa kita menerima nasib saat ini tanpa berupaya mengubah nasib kita menjadi lebih baik. Sebaliknya ada juga di antara kita yang seringkali terlalu percaya diri dengan visi dan mati-matian memperjuangkan nasib sehingga kita melupakan takdir. Dengan demikian ketika takdir menentukan kita belum saatnya mencapai visi, pada saat itu pula kita meratap dan tidak mampu percaya.

Visi adalah sesuatu yang mampu dilihat dan dicapai. Penglihatan kita tergantung pada kemampuan dan potensi yang kita miliki. Visi yang besar tidak akan sanggup diraih tanpa membesarkan potensi. Sedangkan visi yang kecil belum tentu sama dengan potensi yang kecil. Perbedaannya terletak pada kemauan.

Hidup di dunia hanyalah sarana mencapai kebahagiaan akhirat. Jangan sampai bercita-cita tinggi dan menghabiskan energi untuk meraih visi duniawi namun melupakan visi akhirat. Bahkan Tuhan telah mengarahkan kita untuk mengejar akhirat tanpa melupakan dunia. Apabila kita mengerahkan segenap daya untuk meraih visi akhirat, mudah-mudahan kecukupan duniawi adalah hadiah yang niscaya.


between head and tail

25 Desember, 2012

Ada yang bilang karakter seseorang dapat dilihat dari caranya makan ikan. Biasanya hidangan ikan terbagi ke dalam 3 bagian: kepala, badan, dan ekor. Untuk ikan yang lebih kecil cukup 2 bagian saja: kepala dan ekor. Pemilihan bagian ikan yang akan dimakan ditentukan oleh alam bawah sadar. Sikap tersebut biasanya dapat menjelaskan sikap lahiriah lainnya.

Seseorang yang memilih bagian ekor biasanya mendapatkan bagian yang sedikit yaitu sirip ekor dan sebagian daging di sekitar ekor. Sedangkan yang memilih bagian badan biasanya mendapatkan bagian yang banyak berupa daging ikan. Jika seseorang memilih bagian kepala ia mendapatkan bagian yang sedikit dan tersulit karena harus menghadapi tulang-tulang kepala ikan, apalagi jika berjuang untuk mendapatkan otak ikan tentu lebih sulit lagi.

Berdasarkan pembacaan karakter, kebanyakan orang memilih badan ikan: tidak sulit dan mendapat bagian yang banyak. Orang-orang ini menjadi orang kebanyakan dan menjadi kelas rata-rata. Mereka menikmati hidupnya dan memperoleh sebatas yang ia usahakan. Sedangkan orang-orang yang memilih ekor ikan jauh lebih banyak lagi: sangat mudah namun mendapat bagian yang sedikit. Orang-orang ini memperoleh sisa-sisa dari apa yang sudah dihabiskan oleh orang-orang pertama. Sekeras apapun usahanya, mereka telah dicukupkan dengan apa yang sudah ditentukan: bagian yang sedikit.

Mari kita tanyakan kepada penggemar ikan kakap, gulai terenak untuk ikan kakap bukanlah bagian badan maupun ekornya, melainkan kepalanya. Tanyakan pula mengapa mereka rela merepotkan diri menyantap gulai kepala kakap. Kebanyakan mereka menyukai tantangan, eksotisme pengalaman, dan menikmati proses pencapaian kepuasan. Mereka tidak peduli berapa besar mereka peroleh sebagai hasil kerja. Mereka sangat menikmati perolehan-perolehan yang luar biasa, tidak banyak memang, namun berkualitas.

Sepertinya pilihan kita di dalam hidup akan menentukan tingkat kenyamanan hidup kita sendiri. Di antara dua sisi ketidaknyamanan, perbedaan sikaplah yang membuat kita mampu menikmatinya: dengan biasa-biasa saja, rata-rata, atau berkualitas. Sebaiknya hindari memilih hidup yang tidak berkualitas: sudah rugi di dunia, rugi pula di akhirat. Semoga Allah memperbaiki sikap dan kualitas hidup kita.


when the drumbeat changes

13 November, 2012

Ada perkataan bahwa tidak satupun yang ada di dunia ini yang tidak mengalami perubahan, kecuali perubahan itu sendiri.  Kita biasanya lebih mudah menerima perubahan apabila menjadikan hidup lebih nyaman dan lebih mudah. Namun sulit menerima apabila perubahan itu mengganggu kenyamanan atau bahkan membuat hidup lebih sulit. Banyak di antara kita yang menolak untuk berubah, hanya karena sudah nyaman dengan keadaan saat ini. Padahal untuk mencapai keadaan saat ini, perubahan demi perubahan telah dilalui sejak saat lalu.

Sebagian orang malah mampu menikmati perubahan demi perubahan tanpa harus kehilangan kenyamanan. Mereka mengambil kesempatan yang ada untuk mereguk apa yang tidak dilihat oleh orang lain. Tanpa kehilangan semangat untuk berkarya, orang-orang ini menciptakan kenyamanan hidup mereka sendiri di atas perubahan. Nampaknya hanya yang mampu dan mau saja yang dapat menarikan gerak berbeda ketika ketukan gendang berubah.


motivation theory

3 November, 2012

Setiap orang memiliki motif atas segala hal yang dilakukannya, baik untuk keperluan pribadi maupun kepentingan pekerjaannya.  Menurut teori motivasi setidaknya ada 3 macam motif yang mendasari perilaku manusia: Motif Pencapaian, Motif Afiliasi, dan Motif Kekuasaan. Motif Pencapaian dapat berarti bahwa seseorang dalam mengerjakan sesuatu bermaksud untuk mencapai apa yang diinginkannya: ingin lebih baik, ingin menjadi yang paling baik, ingin menguji batas kemampuannya. Orang-orang dengan motif ini sepertinya tidak pernah merasa puas dengan apa yang sudah ada dan yang sudah dicapainya selama ini. Mereka progresif dan cenderung ambisius.

Motif Afiliasi dimiliki oleh orang-orang yang senang membangun dan merawat hubungan pertemanan dengan siapapun, baik kepada bawahan dan rekan kerja, bahkan kepada atasan. Orang-orang ini sangat tidak ingin mengecewakan teman-temannya, baik dalam urusan pribadi maupun urusan pekerjaan. Baginya seorang teman terlalu sedikit dan seorang musuh terlalu banyak. Orang-orang ini jarang peduli dengan pencapaian selama ia bisa bersama-sama dengan teman-temannya. kebanyakan orang dengan motif ini pandai merawat hubungan baik. Walaupun seringkali ia memerlukan kata “tidak” yang hampir hilang dari kamusnya.

Motif Kekuasaan lebih kepada pengakuan orang lain terhadap dirinya. Dengan motif ini seseorang mampu mencapai keinginan dan membangun afiliasi yang dibutuhkan untuk mengukuhkan pengakuan tersebut. Tidak melulu motif kekuasaan dimiliki oleh para pemimpin atau penguasa. Orang-orang biasa yang terpuaskan oleh pengakuan pun dapat memupuk motif ini untuk mempertahankan eksistensi mereka. Dengan motif ini misalnya, seorang penulis dapat menyebarkan pemikirannya dan memengaruhi orang lain, atau seorang ayah atau suami mengelola keluarga dan rumah tangganya, sehingga mereka dihargai, diakui, dan dihormati.

Di dalam ajaran islam, motif merupakan penggerak awal dari perbuatan. Nabi menyampaikan bahwa setiap perbuatan tergantung dari niat-niatnya dan setiap orang hanya akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya. Dikenal sebagai niat, motif terbagi 2: Motivasi Duniawi dan Motivasi Ukhrawi (akhirat).

Nabi pun memperingatkan bahwa orang yang dalam perbuatannya dilandasi oleh motivasi duniawi akan Allah cerai beraikan urusannya, dijadikan kefakiran di pelupuk matanya (sehingga ia selalu dahaga akan dunia), dan dipenuhi dunianya sesuai dengan apa yang telah dituliskan takdir untuknya. Sedangkan orang yang dalam perbuatannya dilandasi oleh motivasi akhirat akan Allah mudahkan urusannya, dijadikan kekayaan di lubuk hatinya (sehingga ia selalu merasa cukup dengan apa yang ada), dan dunia akan datang kepadanya dengan menghinakan diri.

Sangat manusiawi apabila setiap orang melandasi perbuatannya dengan motivasi duniawi. Sehingga Allah sang pencipta pun membuat iming-iming akhirat sebagai balasan setiap amal perbuatan ke dalam bahasa duniawi yang mudah dipahami manusia. Apapun motif Anda dalam beramal, supaya selamat dunia akhirat, mudah-mudahan selalu diniatkan ikhlas karena Allah saja.


get yourself proud of your country

8 Desember, 2007

embarrassing, if you find your country is so corrupt, poor, bad managed, no hope, not champion, and so on. you may not be proud of it, and cover your face wherever you go. you may be so ashamed to be your country’s citizen. and hopeful to go to the moon as you can’t find any place in this world good enough to fulfill your expectation.

wow, if you find yourself are in the middle of nowhere like above, what would you do?

i suggest you not to think much about it, it wouldn’t help you out of those condition. the best you can do to get out of those are wake up and do anything good you can do for your country, at least for yourself. stop wishing and dreaming, the time is running out while you’re sleeping.

don’t ever think what your country can offer you, but do whatever you can do for your country, at least for yourself.


resolusi niat

21 Januari, 2007

niat

Dari Amirul Mukminin Abi Hafs Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu: Aku mendengar Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang mndapatkan sesuai apa yang diniatkan, barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa hijrahnya karena dunia yang akan didapatkan atau wanita yang akan dinikahi maka hijrahnya sesuai dengan apa yang dia niatkan. (HR. Bukhori Muslim)***catatan kali ini tidak bermaksud untuk men-syarah hadits tersebut, dimana sudah banyak para ahli hadits dan ulama yang membahasnya. namun memasuki tahun hijriah 1428 ini, kami sekeluarga mengucapkan:

SELAMAT TAHUN BARU HIJRIYAH 1428!

Semoga semangat berhijrah senantiasa menghiasi hari-hari kita. Menjadikan setiap kesulitan sebagai jalan mendekati Allah, dan menjadikan segala kemudahan sebagai sarana syukur atas nikmat dan karunia-Nya.

 


%d blogger menyukai ini: