dilema fatwa dan kenyataan

26 Agustus, 2012

Menjelang pilkada Gubernur DKI putaran kedua, media massa melambungkan berita mengenai fatwa yang dikeluarkan oleh salah satu cabang dari lembaga keulamaan di Indonesia. Dan sebagaimana pada umumnya berlaku fasik, media massa mengemas berita sebegitu rupa sehingga fatwa tersebut seolah-olah berpotensi menguntungkan salah satu kandidat dan mengganjal kandidat yang lain. Padahal yang namanya fatwa tidak sembarangan dikeluarkan tanpa adanya permintaan dari umat dan tentu saja dengan mempertimbangkan pemahaman keagaamaan dan kondisi kekinian.

Di masa krisis moralitas seperti sekarang, kebanyakan umat berada dalam dilema antara mengikuti fatwa dan menilai kenyataan. Bagi mereka mungkin adalah pilihan yang sama-sama buruk, sehingga memerlukan fatwa untuk menguatkan mana yang lebih sedikit mudaratnya. Sayangnya ketika fatwa yang dikeluarkan tidak sesuai dengan “hati nurani” (atau mungkin “hawa nafsu”) maka menjadilah sebagian besar dari mereka keringat dingin dan mencari-cari justifikasi yang dapat disesuaikan dengan kepentingan masing-masing.

Lagipula, agama adalah nasehat. Fatwa sebagai salah satu sarana nasehat dari pemuka agama kepada umatnya, seharusnya disikapi dengan adil dan tidak perlu dipolitisasi. Karena ekslusivitasnya pun sebaiknya yang tidak berkompeten dan tidak mumpuni menjaga lisan dan hatinya untuk mengomentari. Oleh karenanya orang-orang dari luar komunitas umat yang dituju oleh fatwa itu sendiri sebaiknya juga menahan diri untuk berkomentar.

Wallahu waliyut taufiq.

http://nasihatonline.wordpress.com/2012/08/08/memilih-pemimpin-karena-agama-masih-pantaskah/


menelusuri takaran zakat fitrah

23 Agustus, 2010

Menjadi panitia zakat fitrah di kampung membuat saya harus mencari ukuran yang pas untuk menakar beras sebagai bahan makanan pokok yang akan dizakatkan. Namun ukuran zakat yang disebut dalam hadits sahih tidak dalam ukuran yang kita kenal sekarang.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلَاةِ

“Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam telah mewajibkan zakat fithri sebanyak satu shaa’ kurma atau satu shaa’ gandum. Kewajiban itu dikenakan kepada budak, orang merdeka, lelaki wanita, anak kecil, dan orang tua dari kalangan umat Islam. Dan beliau memerintahkan agar zakat fithri itu ditunaikan sebelum keluarnya orang-orang menuju shalat (‘Id)” [HR Al-Bukhari & Muslim].

Ukuran yang disebut adalah shaa’  dan ukuran sha’ yang berlaku adalah sha’ penduduk Madinah zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Satu sha’ adalah empat mud. Satu mud adalah sepenuh dua telapak tangan laki-laki berperawakan sedang.

“Timbangan yang teranggap adalah timbangannya Ahlu Mekah, dan sukatan yang teranggap adalah sukatan-nya orang Madinah” [HR Abu Dawud, Nasa’i, Al-Baihaqi dari Ibnu Umar dengan sanad Shahih]

Dalam bahasa melayu, shaa’ sama dengan gantang. Namun ukuran gantang saat ini tinggallah kenangan. Walaupun segantang kira-kira 2.8 kg, namun untuk menakar padi segantang kira-kira 5 1/3 lb atau 2.42 kg. Barangkali inilah yang menjadikan ukuran 2.5 kg sebagai kadar zakat fitrah di Indonesia.  Dengan menggunakan kaleng literan Betawi (0.8 kg) diperoleh angka 3.5 liter beras. Tetapi dengan menggunakan takaran liter air, saya dapatkan bahwa 1 liter setara dengan 1 kg. Sedangkan menurut kamus bahasa Indonesia 1 gantang sama dengan 3.125 kg.

Hasil penelusuran menghampirkan saya pada halaman adink yang pernah menelusuri kadar zakat fitrah ini. Dewan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia pernah mengeluarkan fatwa bahwa 1 shaa’ adalah 3 kg. Baru-baru ini MUI Jatim menghimbau masyarakat untuk menakarnya sebesar 3 kg beras.  Himbauan MUI Jatim boleh merupakan jalan terbaik untuk kehati-hatian dan keluar dari perbedaan hitung. Mudah-mudahan angka 3 kg beras untuk zakat fitrah dapat mulai digunakan untuk menggantikan angka 2.5 kg.


Fatwa MUI tentang Zakat Penghasilan

2 September, 2008

Assalamualaikum,
Buat teman-teman yang masih bingung tentang zakat penghasilan, sebenarnya gak perlu bingung-bingung, Majelis Ulama Indonesia pada tahun 2003 sudah menetapkan Fatwa tentang Zakat penghasilan, sebagaimana saya kutip seluruhnya di bawah email ini. Kita tinggal mengikuti fatwa MUI itu saja, insya Allah tenteram.

Intinya:
zakat itu harus memenuhi syarat nishab dan haul, kadar zakat 2,5%.

Karena penghasilan itu bentuknya harta, maka sebagaimana harta lainnya nishabnya adalah 20 Dinar Emas atau 85 gram emas (standar 1 Dinar = 4,25 gram emas 22 carat), dan haulnya adalah 1 tahun.

Ilustrasi:
kalau pada saat ini harga 1 Dinar = Rp1,125,000 (www.geraidinar.com) maka nishab adalah 20 Dinar = Rp22,500,000 sehingga zakatnya 2,5% = Rp562,500.

Ini berarti, walau sepintas lalu penghasilan kita yang di atas Rp22,5 juta bulan sudah masuk nisab apabila kita gunakan sebagai living cost dan pengeluaran lain hingga tersisa misal Rp5 juta per bulan, maka tidak wajib zakat. Namun Rp5juta per bulan kita simpan sehingga setahun terkumpul Rp60 juta, barulah kita hitung ulang nisabnya.

setelah satu tahun ternyata harga 1 Dinar = Rp3,5 juta (karena fluktuasi harga emas thd rupiah), nisab menjadi Rp70 juta, maka tabungan kita yang Rp60 juta tidak wajib zakat.

Tetapi apabila dari Rp5 juta per bulan kita belikan 4 Dinar sehingga setahun terkumpul misal 30 Dinar (karena fluktuasi harga emas thd rupiah), maka wajib zakat sebesar 0,75 Dinar. Apabila mau di rupiahkan pada harga 1 Dinar = Rp3,5 juta maka zakatnya = 0,75 X Rp3,5 juta = Rp2,625 juta

Kesimpulan:
Nah, jika penghasilan maupun tabungan harta belum mencapai nisab 20 Dinar emas dan haul 1 tahun, maka kita tidak wajib berzakat.

Lalu kapan kita berzakat? Yaitu apabila harta yang tersimpan atau yang diinvestasikan sudah mencapai nisab dan haul, dong.

Lalu bagaimana dengan perintah untuk menafkahkan sebagian hasil usaha (QS2:267)? Perintah menafkahkan itu luas, tidak hanya zakat (sedekah wajib), infaq dan sedekah sunnah lainnya dapat menjadi penyalurannya. Dengan demikian kita masih boleh, lho, menyisihkan sebagian harta sebagai infaq, sedekah sunnah, wakaf, atau sumbangan.

Semoga bermanfaat!


andi

http://www.mui.or.id/mui_in/fatwa.php?id=129

KEPUTUSAN FATWA
MAJELIS ULAMA INDONESIA
Nomor 3 Tahun 2003
Tentang
ZAKAT PENGHASILAN

Majelis Ulama Indonesia, setelah :
MENIMBANG :

a.bahwa kedudukan hukum zakat penghasilan, baik penghasilan rutin seperti gaji pegawai/karyawan atau penghasilan pejabat negara, maupun penghasilan tidak rutin seperti dokter, pengacara, konsultan, penceramah, dan sejenisnya, serta penghasilan yang diperoleh dari pekerjaan bebas lainnya, masih sering ditannyakan oleh umat islam Indonesia.

b.bahwa oleh karena itu, MUI memandang perlu menetapkan fatwa tentang status hukum zakat penghasilan tersebut untuk dijadikan pedoman oleh umat islam dan pihak-pihak yang memerlukan.

MENGINGAT :
1.Firman Allah SWT tentang zakat ; antara lain :
“hai orang yang beriman !nafkahkanlah sebagian dari usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu… “(QS. Al-Baqarah [2]:267)

“…Dan mereka bertanya kepada apa yang mereka nafkahkan katakanlah : ” Yang lebih dari keperluan “…”(QS. Al-Baqarah (2) :219)
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka dengan zakat itu, kamu membersihkan dan mensucikan mereka…” (QS. At-Taubah (9): 103)

2.Hadits-haits Nabi SAW, antara lain :
“Diriwayatkan secara marfu’ hadits Ibnu Umar, dari Nabi SAW beliau bersabda “Tidak ada zakat pada harta sampai berputar satu tahun” (HR.)
“Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah SAW bersabda : tidak ada zakat atas orang muslim terhadap hamba sahaya dan kudanya'(HR.Muslim.). Imam Nawawi berkata : “hadist ini adalah dalil bahwa harta qinyah (harta yang digunakan untuk keperluan pemakaian, bukan untuk di kembangkan) tidak dikenankan Zakat.”

“Dari hakim Bin Hizam r.a, dari Nabi SAW beliau bersabda: ‘tangan atas lebih baik dari pada tangan bawah. Mulailah (dalam membelanjakan harta) dengan orang yang menjadi tanggung jawabmu. Sedekah paling baik adalah yang dikeluarkan dari kelebihan kebutuhan. Barang siapa berusaha menjaga diri (dari keburukan), Allah akan menjaganya. Barang siapa berusaha mencukupi diri,Allah akan memberikan kecukupan”(HR. Bukhari)

“Dari Abu Hurairah r.a.,Rasulullah SAW bersabda : ‘Sedekah hannyalah dikeluarkan dari kelebihan/kebutuhan. Tangan atas lebih baik dari pada tangan bawah.Mulailah (dalam membelanjakan harta) dengan orang yang menjadi tanggung jawabmu”(H.R. Ahmad).

MEMPERHATIKAN :
a.Pendapat Dr. Yusuf Al Qardhawi:
b.Pertanyaan dari masyarakat tentang zakat profesi, baik melalui lisan maupun surat: antara lain Baznas.
c.Rapat-rapat komisi fatwa, terakhir rapat pada sabtu,8 Rabi’ul Awwal 1424/10 Mei 2003 dan sabtu 7 Juni 2003/6 Rabi’ul akhir 1424.

Dengan bertawakkal kepada Allah SWT
MEMUTUSKAN

MENETAPKAN : FATWA TENTANG ZAKAT PENGHASILAN

Pertama : Ketentuan Umum
Dalam Fatwa ini, yang dimaksud dengan “penghasilan” adalah setiap pendapatan seperti gaji, honorarium, upah, jasa, dan lain-lain yang diperoleh dengan cara halal, baik rutin seperti pejabat negara, pegawai atau karyawan, maupun tidak rutin seperti dokter, pengacara,konsultan, dan sejenisnya, serta pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan bebas lainnya.

Kedua : Hukum
Semua bentuk penghasilan halal wajib di keluarkan zakatnya dengan syarat telah mencapai nishab dalam satu tahun, yakni senilai emas 85 gram.

Ketiga : Waktu Pengeluaran Zakat.
1.Zakat penghasilan dapat dikeluarkan pada saat menerima jika sudah cukup nishab.
2.Jika tidak mencapai nishab, maka semua penghasilan dikumpulkan selama setu tahun; kemudian zakat dikeluarkan jika penghasilan bersihnya sudah cukup nishab.
Keempat : Kadar Zakat
Kadar zakat penghasilan adalah 2,5%.

Ditetapkan di : Jakarta
Pada tanggal : 06 R.Akhir 1424 H.
07 Juni 2003 M

MAJELIS ULAMA INDONESIA
KOMISI FATWA

Ketua, Sekretaris,

K.H. MA’RUF AMIN HASANUDIN

CATATAN: Halaman ini di buat sebagaimana mestinya dalam bentuk yang bisa di sajikan di halaman situs dengan isi yang sama dengan dokumen asli. Untuk mendapatkan copy document aslinya dalam bentuk PDF, silahkan masuk ke halaman DOWNLOAD


%d blogger menyukai ini: