menjaga Allah

4 Agustus, 2012

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam pernah memberi nasehat kepada sahabat mulia Abdullah bin Abbas radiyallahu anhuma, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi rahimahullah, “Wahai Anak! Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.”

Sesungguhnya Allah telah menjadikan manusia cinta kepada 3 hal: cinta kepada wanita, anak-anak, dan harta duniawi [1]. Namun Allah juga telah menjadikan orang yang mati karena berjuang membela kehormatan diri, keluarga dan hartanya, dianggap sebagai syahid di sisi Allah [2].

Allah mengisahkan di dalam surat Al-Kahfi (QS 18: 60 – 82) tentang Nabi Khidir alaihissalam yang menjadi rujukan bagi Nabi Musa alaihissalam dengan berguru kepadanya. Ketika Nabi Khidir melubangi perahu yang dinaiki sehingga dapat menenggelamkan penumpangnya, adalah sebagai penjagaan Allah kepada orang-orang miskin yang bertakwa, supaya perahu mereka tidak dirampas oleh raja yang lalim.

Ketika Nabi Khidir membunuh seorang anak yang dikhawatirkan dewasanya kelak akan mengajak kedua orang tuanya yang beriman kepada kesesatan kekufuran adalah sebagai bentuk penjagaan Allah kepada orang tua yang beriman itu, supaya Allah memberi ganti bagi mereka dengan anak yang lebih baik dan lebih menyayangi orang tuanya.

Ketika Nabi Khidir menegakkan kembali dinding sebuah rumah di kota yang tidak mau menjamu mereka, sebagai penjagaan Allah bagi dua anak yatim yang ayahnya soleh. Karena di bawah rumah tersebut terdapat harta simpanan yang dapat mereka pergunakan apabila dewasa nanti.

Itulah di antara bentuk penjagaan Allah bagi orang-orang yang menjaga hak-hak Allah. Hak untuk diimani dan diibadahi tanpa menyekutukan Dia dengan sesuatupun. Semoga Allah memperbaiki dan menerima amal ibadah kita di bulan Ramadan.

(disarikan dari tausiyah Ustadz Syamsul Albuthoniy hafizhahullah pada kultum ifthar di Masjid Al-Urwatul Wutsqa, Komplek Taman Ventura Indah, Depok)

[1] “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” [QS Ali Imran, 3: 14]

[2] “Siapa yang terbunuh karena membela agamanya, maka ia dianggap mati syahid, dan siapa yang terbunuh karena membela darahnya, maka ia dianggap mati syahid, dan siapa yang terbunuh karena membela hartanya, maka ia dianggap mati syahid, dan siapa yang terbunuh karena membela keluarganya, maka ia dianggap mati syahid.” [HR Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah]


susahnya memulai

18 Maret, 2010

Bagi beberapa orang, memulai adalah pekerjaan yang paling sulit daripada meneruskan. Walaupun mengakhiri juga bukan pekerjaan yang mudah, mengakhiri jauh lebih gampang daripada memulainya kembali. Karena di sana ada risiko dan keberanian mengambil keputusan. Di sana pula dibutuhkan komitmen dalam menjalaninya. Memulai sesuatu yang baik lebih sering membutuhkan keberanian daripada sekedar memperhitungkan. Apabila sesuatu hal diyakini baik, tentulah tidak akan ada keraguan di dalamnya. Entah mengapa selalu ada saja kesusahan dalam memulainya.

Teringat akan kisah Nabi Musa alaihis salam yang diperintahkan oleh Allah untuk mendatangi Firaun dan mengingatkan ‘bapak angkat’-nya itu supaya mengakui Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang patut diibadahi dan supaya Firaun tidak menyombongkan diri. Dirasakan berat di dadanya menanggung amanah kerasulan, untuk memulai sesuatu yang baik, bahkan sangat mulia karena mengemban titah dari Yang Mahakuasa. Oleh karenanya beliau berdoa kepada Allah:

Berkata Musa: “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikankanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau, dan banyak mengingat Engkau. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami.” [QS Thaahaa, 20: 25-35]

Mudah-mudahan dengan membaca doa yang serupa dan semakna dengan doa Nabi Musa alaihis salam tersebut, Allah juga dengan serta merta menjawabnya dengan:

Allah berfirman: “Sesungguhnya telah diperkenankan permintaanmu, hai Musa.” [QS Thaahaa, 20:36]

sehingga tidak ada lagi kata “susahnya memulai” karena telah dimudahkan prosesnya oleh Allah.


asyura

5 Januari, 2009

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ditanya tentang puasa Asyura, beliau menjawab:
Puasa itu bisa menghapuskan dosa-dosa kecil pada tahun kemarin. (Sahih Muslim 2/818-819)

note: hari Asyura yaitu tanggal 10 Muharram adalah hari ketika Allah menyelamatkan Nabi Musa alaihissalam beserta Bani Israil menyeberang Laut Merah dari kejaran pasukan Firaun, disunnahkan berpuasa juga pada tanggal 9 atau 11 Muharram

Rujukan dari kalender yahudi menunjukkan bahwa hari kesepuluh di bulan Muharram (10th of Tishrei) atau Yom Kippur juga disyariatkan berpuasa.


%d blogger menyukai ini: