cermin

26 Agustus, 2016

​sikap terbaik orang yg dinasihati adalah menjadikan nasihat cukup sebagai cermin bagi dirinya, bukan membalik cermin kepada yg menasihati. karena tentu saja, orang yg diberi hikmah selalu bercermin terlebih dahulu sebelum berjumpa manusia.
@ndi, 24111437


Nasihat pantas sandang

9 April, 2015

Nak, kalau kamu belum mampu menanggungnya, jangan paksakan untuk memilikinya.

Kalau kamu masih meributkan mahalnya bahan bakar, jangan paksa dirimu memiliki kendaraan bermotor.

Kalau kamu masih meributkan uang recehan, jangan paksa dirimu menjadi penderma.

Kalau kamu masih meributkan mahalnya bersekolah, jangan paksa dirimu menjadi siswa di tempat itu.

Kalau kamu masih meributkan sukarnya pendidikan, jangan paksa dirimu menjadi orang berilmu.

Kalau kamu masih meributkan kesuksesan orang lain, jangan paksa dirimu untuk berprestasi.

Kalau kamu masih meributkan orang yang mengikutimu, jangan paksa dirimu memimpin mereka.

Kalau kamu masih merisaukan kehilangan apa yang kamu cintai, jangan paksa dirimu melekat kepadanya.

Cukuplah bagimu, Nak. Berbekal yang cukup untuk keperluanmu. Berbuat benar dan baik dalam hidupmu.

Mudah-mudahan, kelak kamu menyandangnya, kamu sanggup menanggungnya.

(@nd, 19061436)

View on Path


Nasihat pantas berkendara

8 April, 2015

Nak, kalaulah kau belum mampu bersepeda, jangan paksakan. Siapkan dulu mental dan tata krama mu.

Karena di luar sana dapat kau lihat:

Teman-temanmu yang sudah bersepeda, tidak memperhatikan kepentingan pengguna jalan lainnya, menyeberang asal menyeberang, melaju asal melaju.

Nak, kalaulah kau belum mampu bersepeda motor, jangan paksakan. Siapkan dulu mental dan tata krama mu.

Karena di luar sana dapat kau lihat:

Para pengendara motor, tidak memperhatikan kepentingan pengguna jalan lainnya, melaju asal melaju, rambu-rambu tak dihiraukannya.

Nak, kalaulah kau belum mampu berkendara mobil, jangan paksakan. Siapkan dulu mental dan tata krama mu.

Karena di luar sana dapat kau lihat:

Para pengendara mobil, tidak memperhatikan kepentingan pengguna jalan lainnya, melaju asal melaju, lupa makna rambu-rambu, salah menggunakan lampu-lampu, serapah lisannya tidak dipandu.

Nak, kalaulah kau belum mampu berkendara, jangan paksakan. Siapkan dulu mental dan tata krama mu. Budi dan bahasa mesti dipandu.

Karena berkendara bukanlah asal mampu, apalagi asal mau.

(@nd, 18061436)

View on Path


jangan meremehkan perkara kecil

8 Maret, 2014

(Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (QS 31:16)

Adalah kita seringkali menganggap perkara-perkara kecil adalah hal yang biasa diremehkan. Karena tidak signifikan maupun tidak fantastis sehingga patut diabaikan. Tidak peduli bahwa yang kecil-kecil itu tetaplah terhitung di catatan amal.

Padahal terlambat walaupun sebentar tetaplah terlambat. Berdusta walaupun kecil dan membuat tawa tetaplah berdusta. Membuang sampah sembarangan walaupun sepotong kulit kacang tetaplah sembarangan. Mencuri walaupun sebatang pensil pun tetaplah mencuri.

Sedangkan senyuman yang tulus walaupun sesungging tetaplah senyuman. Sedekah walaupun sesen pun tetaplah sedekah. Menepati janji walaupun kepada anak kecil pun tetaplah disebut tepat janji. Berbuat baik walaupun sekadar menyingkirkan duri di jalanan tetaplah sebagai wujud keimanan.

Oleh karenanya, patutlah bagi kita mulai memperhatikan hal-hal kecil dan tidak meremehkannya. Bukan untuk mempersoalkan, melainkan untuk berbuat lebih baik. Agar balasan dari Allah yang kita harapkan adalah balasan yang baik pula.


7 bentuk durhaka kepada orang tua

24 Februari, 2014

(disampaikan oleh Ust. Zainal Abidin di pertemuan orang tua murid Rumah Belajar Ibnu Abbas, 22-04-1435)

Berbuat baik atau berbakti kepada orang tua adalah perkara penting setelah menauhidkan Allah. Telah disebutkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa tidak ada dosa yang disegerakan balasannya di dunia kecuali 2 dosa: berzina dan durhaka kepada orang tua. Oleh karenanya penting pula untuk mengenal bentuk-bentuk kedurhakaan kepada orang tua, di antaranya:

1. Berkata dengan kasar dan meninggikan suara di hadapan orang tua. (QS 17:23)

2. Membantah ucapan orang tua. Membantah adalah putik-putik kesombongan.

3. Tidak segera memenuhi panggilan orang tua. Telah masyhur kisah tentang Juraij di dalam kitab Riyadus Salihin, si ahli ibadah yang mendapat celaka akibat tidak segera memenuhi panggilan orang tuanya.

4. Mencela, mencerca dan menghina orang tua. Menghina orang tua orang lain sehingga orang lain tersebut menghina orang tua kita, begitu pula mempermalukan orang tua di hadapan orang lain adalah bentuk dari celaan, cercaan dan hinaan kepada orang tua.

5. Membohongi atau berdusta kepada orang tua. Menyembunyikan sesuatu di hadapan orang tua atau bermain belakang (backstreet) dan memanfaatkan ketidaktahuan orang tua untuk kepentingan dirinya.

Pelajaran dari kisah anak-anak Nabi Yaqub alaihissalam yang disebut di dalam surat Yusuf ketika mereka menyadari kesalahannya mereka memohon kepada ayahnya untuk memintakan ampun kepada Allah atas dosa-dosa mereka, hal ini adalah bentuk memohon rida orang tua dengan harapan Allah meridainya. (QS 12:97-98)

6. Membebani dan memperbudak orang tua. Menjadikan orang tua sebagai pelayan (memperbudak) dan memanfaatkan tenaga orang tua untuk melayani kepentingan dirinya. Inilah salah satu pertanda akhir zaman yang diriwayatkan dalam hadits Jibril: “ketika sahaya perempuan melahirkan majikannya.”

7. Tidak berterima kasih dan tidak merasa cukup dengan pemberian orang tua. Membanding-bandingkan kondisi orang tuanya dengan orang tua lain yang dikaruniai kelebihan. Menuntut orang tuanya dengan permintaan yang tidak mampu dipenuhi. Tidak menghargai jerih payah orang tua dalam menghidupi dan menafkahinya.

Anak-anak yang mengetahui dan terlibat dalam kesulitan yang dihadapi orang tua akan menjadi anak-anak yang bersyukur kepada Allah dan lebih berterima kasih kepada orang tua. (QS 31:14)


memilih menjadi terang

22 Mei, 2013

PELITAkita sering terharu dengan pengorbanan lilin, yang sedia menerangi sekitarnya namun ia sendiri habis terbakar hingga tak bersisa terang bagi sekitar, bahkan bagi dirinya sendiri.

dalam hadits yang sahih dikisahkan bahwa dalam perjalanan isra miraj, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diperlihatkan di antara penghuni neraka ada orang yang lidahnya panjang dan dipotong dengan gunting yang terbuat dari api neraka. dikabarkan bahwa orang itu adalah para pengkhutbah. semasa di dunia berkhutbah agar orang lain berbuat kebaikan namun ia tidak menjadikan khutbah itu bermanfaat bagi dirinya sendiri.[1]

ia menjadi terang bagi sekitar dan melupakan dirinya sendiri hingga ia habis terbakar. demikianlah keadaan lilin.

sungguh ada perumpamaan dian atau pelita yang juga menjadi terang bagi sekitar bahkan juga bagi dirinya tanpa harus habis terbakar. bahkan dian boleh tak kunjung padam karena minyaknya terus diisi dan diperbarui.

demikianlah hendaknya orang-orang yang memberi nasihat, agar ia tidak melupakan untuk mengamalkan nasihatnya sebelum ia menyampaikan kepada orang lain. dan ia terus membekali dirinya dengan ilmu yang terus diisi dan diperbarui kemudian mengamalkan ilmunya sehingga kehadirannya memberi terang bukan hanya bagi sekitarnya tetapi juga bagi dirinya sendiri.

jika anda memilih menjadi terang, jangan memilih menjadi terangnya lilin, pilihlah menjadi terangnya pelita.

[1] Dari sahabat Anas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam bersabda, “Ketika malam Isra’, aku melewati suatu kaum yang lidahnya dipotong dengan gunting dari api. Aku (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam) bertanya, ‘Kenapa mereka dihukum seperti itu?’ (Malaikat) berkata, ‘Mereka adalah umatmu di dunia, mereka memerintahkan kebaikan kepada orang-orang namun melupakan diri mereka sendiri padahal mereka membaca Al-Qur’an. Mengapakah mereka tidak menggunakan akal sehatnya?!’.” (HR. Ahmad no. 12391)


25 tahun dalam hidupmu

23 April, 2005


Posted by Hello

Nambah umur ya? Semoga selalu mendapat ridho Allah, keluarga sakinah mawaddah wa rahmah, karier yg dinamis, bermanfaat slalu bagi lingkungan. Amiin
*dhila&merril* 23042005 @ 07:28:26am

benarkah hari ini aku bertambah usia? menurut catatan kelahiranku sih begitu… tapi bagaimana menurut catatan Tuhan? semakin dekat aku kepada perjumpaan dengannya, apakah berjumpa dalam bahagia atau dalam resah, ya? jadi takut…

Seingatku, baru kali inilah aku lupa ultahku, tadi pagi tiba-tiba bapak memelukku dan mengucapkan selamat ultah sambil mendoakan keberkahan bagi hidupku, terkejut, aku ternyata lupa bahwa hari ini adalah hari kelahiranku 25 tahun yang lalu.

Heppi birsday ye… moga bahagia trus dgn keluarga
*adhame* 23042005 @ 08:28:54am

berduyun-duyun sms dan telpon serta peluk cium dari orang-orang tercinta (incl. my lovely and loyally wife) mendoakan aku agar selalu dalam keberkahan hidup.

Met ultah ya ndhie, moga ditunjukkan kebahagiaan hidup sejati
*ko2* 23042005 @ 08:44:30am

kebahagiaan hidup sejati? seperti apa sih kesejatian itu? masih mencari maknanya nih, where to find it ya?

Setiap kalian akan memasuki pagi dan petang dalam takaran usia yang tersembunyi dari pengetahuan kalian. Bila kau bisa tidak melewatkan setiap jenak usia itu dengan amal kebajikan, maka lakukanlah. Tetapi kalian tidak akan bisa melakukannya tanpa pertolongan Allah. Maka bergegaslah menyusuri rentang-rentang yang diberikan jatah usia itu, sebelum ia datang memupus segala pekerjaan…
Selamat merenungi hari lahir. Wish you all the best
*nita* 23042005 @ 01:58:32pm

hmm… nasihat yang dalam…


%d blogger menyukai ini: