akuarium planet – 2

10 Juli, 2012

(sambungan)

“Pilih mana, kidzania atau planetarium?” Bubu menawarkan kepada anak-anak rencana mengisi hari Rabu itu. “Planetarium aja, Bubu. Kan asyik melihat planet-planet,” jawab Radya. “Asyiiik! Kita ke planet-arium!” Tsuraya menimpali. “Tapi, kita tidak naik kereta lagi,” ujar Baba, “Kita akan naik angkot, busway, ambil mobil di bengkel, lalu menuju Planetarium. Setuju?” tanya Baba. “Setuju!” seru anak-anak.

Berterima kasih kepada supir angkot M20 yang memberi diskon tarif karena tidak punya kembalian pembayaran. Mencoba pintu otomatis halte busway Departemen Pertanian dengan kartu JakCard. Menikmati perjalanan busway sampai halte Mampang Prapatan. Insiden keseleo Radya saat berjalan kaki menuju Plaza Toyota Tendean yang segera ditangani dengan tusukan jari jempol Baba di betis atas kaki yang cedera. Terheran-heran dengan penuhnya Ayam Bakar Fatmawati padahal rasanya kurang menggugah selera. Menikmati waktu bermain saat shalat zuhur dan belepotan cat di Masjid Cut Meutia, Menteng.

Mendapati sisa 20 kursi tersedia untuk ruang pertunjukan Planetarium, karcis seharga Rp7 ribu untuk dewasa dan Rp3,5 ribu untuk anak-anak adalah tarif yang cukup murah untuk merawat fasilitas berharga ini. Admission fee untuk dewasa di Peter Harrison Planetarium di Greenwich saja seharga £6.50 sedangkan di Planetarium Negara di Kuala Lumpur dihargai RM12.00. Tidak perlu turut mengantri panjang karena pengunjung lainnya sudah masuk dan sepertinya berebut kursi di dalam ruang pertunjukan karena karcis tidak ditandai dengan nomor bangku. Kami berlima kerepotan mendapatkan tempat duduk yang berkumpul. Secara spot tersedia satu atau dua bangku kosong. Di barisan depan kami dapati tiga bangku kosong di samping seorang laki-laki dewasa yang nampaknya sendirian.

“Permisi, Pak. Boleh kami bertukar tempat duduk di sini? Kami sekeluarga,” Baba  meminta kesediaan laki-laki itu yang kemudian mempersilakan kami menduduki tiga bangku kosong yang ada. Bubu, Tsuraya dan Radya pun duduk di situ. Baba yang menggendong Athiya, 9 bln, masih berdiri di hadapan laki-laki yang sibuk dengan Blackberry-nya itu dan meminta perkenan dia, “Maaf, Pak. Boleh saya duduk di tempat Bapak, untuk menemani keluarga saya?” Dengan acuh, ia berkata, “Lho, saya duduk di mana?” Baba mempersilakan dia duduk di tempat lain. “Saya juga bersama keluarga,” ucapnya menunjuk istri dan anak-anaknya yang duduk di barisan belakangnya. “Iya, Pak. Justru suami saya duduk di depan, karena tidak dapat bangku,” istrinya menimpali, “kalau ia pindah ke bangku lain, nanti anak-anak saya menangis, tidak ada bapaknya.”

Lho? Bubu terheran dengan alasan si ibu karena anak-anak mereka nampak lebih tua usianya daripada Radya. Tidak produktif jika mendebat, Baba dan Athiya pun mendapati sebuah bangku kosong yang tidak jauh dari Bubu dan duduk di sana. Sepanjang pertunjukan, laki-laki itu tampak tidak menikmati acara, karena terdengar oleh Bubu celotehan anaknya, “Papah ini kok, main hape melulu.”

Mengikuti beberapa remaja peserta olimpiade sains, Baba, Bubu, Radya, Tsuraya dan Athiya yang sudah tertidur sejak awal pertunjukan, turut telentang di lantai depan menikmati proyeksi universarium di langit-langit kubah. Dibandingkan dengan posisi duduk di bangku yang hanya menghadap satu arah, posisi telentang ini cukup nyaman dan memungkinkan untuk melihat ke seluruh penjuru. Melirik ke bangku si bapak yang disibukkan dengan hape tadi , ia nampak menghilang selepas paruh awal pertunjukan, dan tidak satupun anak-anaknya yang menangisi kepergiannya dari ruang pertunjukan. Empat bangku di barisan depan itu pun kembali kosong hingga akhir pertunjukan.

(bersambung)


Pancasila: dasar negara muslim terbesar

16 April, 2010

Beberapa syubuhat dihembuskan oleh beberapa kalangan yang terpengaruh oleh pemikiran haruri, yaitu kufurnya muslim yang hidup di negara yang tidak berhukum kepada hukum Allah secara seratus persen. Indonesia adalah negara muslim terbesar di dunia, namun dasar negara ini adalah Pancasila. Apakah hal ini membuat muslim yang tinggal di dalamnya menjadi kafir? Dengan mengurai satu per satu sila dalam Pancasila, tentulah akan meneguhkan identitas diri sebagai muslim Indonesia.

1. Ketuhanan Yang Maha Esa
Siapakah yang paling mengakui bahwa Tuhan itu Maha Esa? Merujuk kepada QS Al-Ikhlaas, 112:1 menunjukkan bahwa Islam adalah landasan sila pertama.

Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.

2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
Siapakah yang paling menghargai hak-hak asasi manusia? Merujuk kepada QS An-Nisaa, 4:85 menunjukkan bahwa Islam menjadi landasan sila kedua ini.

Barangsiapa yang memberikan syafa’at yang baik (yang ditujukan untuk melindungi hak seorang muslim atau menghindarkannya dari sesuatu kemudharatan), niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya. Dan barangsiapa memberi syafa’at yang buruk, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari padanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

3. Persatuan Indonesia
Siapakah yang paling menganjurkan persatuan dan menjauhi bercerai berai? Merujuk kepada QS Aal Imraan, 3:103 menunjukkan bahwa Islam menjadi inspirasi bagi sila ketiga.

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
Siapakah yang paling menganjurkan bersikap hikmah, bijak dan bermusyawarah? Merujuk kepada QS Aal Imraan, 3:159 menunjukkan bahwa Islam adalah pondasi sila keempat.

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

5. Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Siapakah yang paling diwajibkan untuk bersikap adil? Merujuk kepada QS An-Nisaa’, 4:135 menunjukkan bahwa Islam adalah landasan sila kelima.

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.

Jika mau membuka sejarah, kita dapati bahwa Pancasila pertama kali terdapat dalam Mukadimah UUD 1945, sedangkan mukadimah itu berasal dari Piagam Jakarta, dimana sebagian dari penyusun Piagam Jakarta adalah ulama-ulama muslim Indonesia pada saat itu. Jadi, bagaimana mungkin Negara Pancasila ini tidak terinspirasi dari agama Islam?

sebagai tambahan ilmu


%d blogger menyukai ini: