Sedekah

8 Mei, 2016

image

Ada orang yang bersedekah karena ingin mendapat nama, dipuji, dan disebut dermawan. Ada orang yang bersedekah karena ia risau melihat pengemis, ingin menjaga diri dan hartanya, dan mencari keridaan Tuhannya.

Orang yang pertama memiliki niat yang tidak bernilai untuk akhiratnya. Jika ia memperoleh apa yang ia ingini, maka itu cukup baginya. Jika ia tidak memperolehnya, maka ia pun kecewa. Adapun orang yang kedua memiliki niat yang bermanfaat bagi dunia dan akhiratnya.

@ndi, 30071437


motivation theory

3 November, 2012

Setiap orang memiliki motif atas segala hal yang dilakukannya, baik untuk keperluan pribadi maupun kepentingan pekerjaannya.  Menurut teori motivasi setidaknya ada 3 macam motif yang mendasari perilaku manusia: Motif Pencapaian, Motif Afiliasi, dan Motif Kekuasaan. Motif Pencapaian dapat berarti bahwa seseorang dalam mengerjakan sesuatu bermaksud untuk mencapai apa yang diinginkannya: ingin lebih baik, ingin menjadi yang paling baik, ingin menguji batas kemampuannya. Orang-orang dengan motif ini sepertinya tidak pernah merasa puas dengan apa yang sudah ada dan yang sudah dicapainya selama ini. Mereka progresif dan cenderung ambisius.

Motif Afiliasi dimiliki oleh orang-orang yang senang membangun dan merawat hubungan pertemanan dengan siapapun, baik kepada bawahan dan rekan kerja, bahkan kepada atasan. Orang-orang ini sangat tidak ingin mengecewakan teman-temannya, baik dalam urusan pribadi maupun urusan pekerjaan. Baginya seorang teman terlalu sedikit dan seorang musuh terlalu banyak. Orang-orang ini jarang peduli dengan pencapaian selama ia bisa bersama-sama dengan teman-temannya. kebanyakan orang dengan motif ini pandai merawat hubungan baik. Walaupun seringkali ia memerlukan kata “tidak” yang hampir hilang dari kamusnya.

Motif Kekuasaan lebih kepada pengakuan orang lain terhadap dirinya. Dengan motif ini seseorang mampu mencapai keinginan dan membangun afiliasi yang dibutuhkan untuk mengukuhkan pengakuan tersebut. Tidak melulu motif kekuasaan dimiliki oleh para pemimpin atau penguasa. Orang-orang biasa yang terpuaskan oleh pengakuan pun dapat memupuk motif ini untuk mempertahankan eksistensi mereka. Dengan motif ini misalnya, seorang penulis dapat menyebarkan pemikirannya dan memengaruhi orang lain, atau seorang ayah atau suami mengelola keluarga dan rumah tangganya, sehingga mereka dihargai, diakui, dan dihormati.

Di dalam ajaran islam, motif merupakan penggerak awal dari perbuatan. Nabi menyampaikan bahwa setiap perbuatan tergantung dari niat-niatnya dan setiap orang hanya akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya. Dikenal sebagai niat, motif terbagi 2: Motivasi Duniawi dan Motivasi Ukhrawi (akhirat).

Nabi pun memperingatkan bahwa orang yang dalam perbuatannya dilandasi oleh motivasi duniawi akan Allah cerai beraikan urusannya, dijadikan kefakiran di pelupuk matanya (sehingga ia selalu dahaga akan dunia), dan dipenuhi dunianya sesuai dengan apa yang telah dituliskan takdir untuknya. Sedangkan orang yang dalam perbuatannya dilandasi oleh motivasi akhirat akan Allah mudahkan urusannya, dijadikan kekayaan di lubuk hatinya (sehingga ia selalu merasa cukup dengan apa yang ada), dan dunia akan datang kepadanya dengan menghinakan diri.

Sangat manusiawi apabila setiap orang melandasi perbuatannya dengan motivasi duniawi. Sehingga Allah sang pencipta pun membuat iming-iming akhirat sebagai balasan setiap amal perbuatan ke dalam bahasa duniawi yang mudah dipahami manusia. Apapun motif Anda dalam beramal, supaya selamat dunia akhirat, mudah-mudahan selalu diniatkan ikhlas karena Allah saja.


memurnikan niat dalam ibadah

21 Juli, 2012

Dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah di dalam kitab Shahih-nya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam bersabda yang artinya bahwa yang pertama kali diadili di pengadilan Allah Yang Mahaadil adalah tiga orang. Orang pertama adalah yang berjihad dengan penuh keberanian dan mati di jalan Allah. Kemudian dihadapkan kepadanya segala nikmat yang Allah berikan kepadanya dan ditanyakan kepada orang tersebut mengapa ia beramal sedemikian itu. Orang itu menjawab bahwa amalan jihadnya adalah karena Allah semata. Namun Allah mendustakannya dan menguakkan bahwa ia berjuang sepenuh tenaga dan keberanian hanya untuk dikatakan oleh orang sebagai pemberani dan pahlawan yang mati syahid. Kemudian orang tersebut di seret dengan muka telungkup dan dilemparkan ke dalam neraka.

Adapun orang yang kedua adalah orang yang belajar agama dengan sungguh-sungguh, mempelajari Alquran dan mengajarkannya. Ketika ditanyakan mengapa ia beramal demikian, dijawabnya karena Allah semata. Namun Allah mendustakannya dan menampakkan bahwa ia ingin dikatakan oleh manusia sebagai orang yang berilmu. Kemudian orang tersebut di seret dengan muka telungkup dan dilemparkan ke dalam neraka.

Orang yang ketiga adalah orang yang diberi nikmat kelebihan harta yang ia belanjakan hartanya di jalan Allah. Ketika ditanyakan mengapa ia beramal demikian, dijawabnya karena Allah semata. Namun Allah mendustakannya dan menunjukkan bahwa orang itu ingin disebut-sebut manusia sebagai orang yang dermawan. Kemudian orang tersebut di seret dengan muka telungkup dan dilemparkan ke dalam neraka.

Kita mengetahui bahwa amalan yang dilakukan oleh ketiga orang tersebut adalah amal yang utama, paling tinggi dan mulia: berjihad di jalan Allah, mempelajari dan mengajarkan Alquran, dan mendermakan harta di jalan Allah. Namun justru karena amalan tersebut menyebabkan ketiganya masuk neraka. Inilah yang dinamakan dengan riya’, sebuah bentuk kesyirikan dalam beramal hanya untuk mendapat pujian dan penghargaan manusia. Padahal kita disuruh untuk memurnikan ketaatan dalam ibadah kita kepada Allah semata.

Allah menyegerakan harapan-harapan duniawi seorang hamba jika ia menginginkannya dan Allah tidak mengurangi sedikitpun apa yang diharapkannya. Tetapi hendaklah ia waspada karena bisa jadi sama sekali  tidak ada baginya bagian di akhirat. Oleh karenanya, mumpung masih di awal Ramadan, bulan yang penuh berkah, rahmat dan ampunan Allah, bulan yang dilipatgandakan balasan setiap amal kebajikan, alangkah baiknya jika kita melepaskannya dari segala bentuk riya’ dan memurnikan niat dalam ibadah kita hanya untuk Allah semata. Semoga Allah memberkahi dan menerima amal ibadah Ramadan kita.

[disarikan dari taujihat Ustadz Ayub Abu Ayub hafizhahullah pada kultum tarawih Masjid Al’Urwatul Wutsqa, Komplek Taman Ventura Indah, Depok]


ramadhan datang

30 Juli, 2011

Setelah membaca khutbatul hajat, khatib di Masjid Muhammadi membaca surat Albaqarah ayat 183-185 dan menerangkan artinya, bahwa kewajiban puasa atas orang-orang yang beriman adalah sebagaimana telah ditetapkan pada umat terdahulu untuk menjadi orang yang bertakwa. Yaitu pada hari-hari yang telah ditentukan, dan diberi keringanan bagi yang sakit atau dalam perjalanan untuk tidak puasa dan menggantinya di waktu yang lain. Bagi yang mampu berpuasa tetapi berat menjalaninya maka cukup dengan memberi makan orang-orang miskin, sedangkan tetap berpuasa maka hal itu adalah lebih baik baginya. Tetapi hari-hari yang ditentukan pada ayat 184 dihapus dengan ayat 185, yaitu dengan puasa pada bulan Ramadhan, apabila telah menyaksikan bulan. Bagi yang sakit atau dalam perjalanan diberi keringanan untuk tidak puasa dan menggantinya di waktu yang lain. Sedangkan Allah menghendaki kemudahan dalam beragama, bukan kesusahan. Dan diwajibkan pula untuk menggenapkan bilangan bulan Ramadhan lalu bertakbir dan mensyukuri Idul Fitri.

Khatib menyampaikan bahwa dalam menjalani Ramadhan harus dengan kesiapan dan kesabaran. Menurut Ibnul Qayyim ada 3 tingkatan sabar: sabar dalam taat kepada Allah, sabar dalam meninggalkan keharaman pada ketaatan, dan sabar dalam meningkatkan kualitas ketaatan. Maka dalam berpuasa pun dituntut 3 kesabaran: sabar atas perintah puasa, sabar dalam meninggalkan hal-hal dapat membatalkan puasa, dan bersabar dalam meningkatkan kualitas berpuasa.

Ada pula 3 macam manusia yang menjalani puasa:

  1. mereka yang berpuasa namun tidak meninggalkan maksiat: berpuasa di siang hari, namun di malam hari tetap mabuk dan berzina. Bahkan diantaranya tetap meninggalkan shalat, padahal siapa yang sengaja meninggalkan shalat akan dihukumi kafir.
  2. mereka yang berpuasa dan berupaya meninggalkan maksiat: inilah kebanyakan manusia, bergelimang dosa di hari-hari sebelumnya, sedangkan di bulan Ramadhan berupaya keras menghapus dosa dan meraup pahala.
  3. mereka yang telah mengisi hari-harinya sebelumnya dengan ketaatan dan amal salih lalu memasuki Ramadhan dengan kesiapan jiwa dan raga serta amal salihnya pun semakin banyak lalu banyak berharap agar amalannya diterima oleh Allah.

Khatib juga menyampaikan beberapa hadits terkait dengan Ramadhan bahwa kegembiraan menyambutnya dengan penuh keimanan akan mendapat pahala dan menghapus dosa-dosa. Dibukanya seluruh pintu surga untuk menyambut orang-orang yang berpuasa. Ditutupnya seluruh pintu neraka sebagai kasih sayang Allah kepada manusia. Serta dibelenggunya setan-setan agar tidak menggoda manusia yang berpuasa. sehingga tidak ada alasan mengambinghitamkan setan apabila didapati masih ada kejahatan di bulan Ramadhan, karena itu murni datang dari hawa nafsu manusia.

Khutbah Jumat 27 Sya’ban 1432H yang disampaikan dalam bahasa Inggris itu diakhiri dengan nasihat agar sebagai orang beriman, kita mengupayakan untuk mengiringi amal salih kita dengan niat, meninggalkan maksiat dengan niat, dan membersihkan niat kita untuk memperoleh keridaan Allah. Semoga Allah memudahkan.

[29-Jul-2011, Houston, TX]


resolusi niat

21 Januari, 2007

niat

Dari Amirul Mukminin Abi Hafs Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu: Aku mendengar Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang mndapatkan sesuai apa yang diniatkan, barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa hijrahnya karena dunia yang akan didapatkan atau wanita yang akan dinikahi maka hijrahnya sesuai dengan apa yang dia niatkan. (HR. Bukhori Muslim)***catatan kali ini tidak bermaksud untuk men-syarah hadits tersebut, dimana sudah banyak para ahli hadits dan ulama yang membahasnya. namun memasuki tahun hijriah 1428 ini, kami sekeluarga mengucapkan:

SELAMAT TAHUN BARU HIJRIYAH 1428!

Semoga semangat berhijrah senantiasa menghiasi hari-hari kita. Menjadikan setiap kesulitan sebagai jalan mendekati Allah, dan menjadikan segala kemudahan sebagai sarana syukur atas nikmat dan karunia-Nya.

 


%d blogger menyukai ini: