mendulang 1000 salat

28 Februari, 2014

image

Sebagai salah satu dari tiga masjid yang menjadi tujuan utama para peziarah, Masjid Nabawi di kota Madinah memiliki daya tarik luar biasa yang membuat manusia selalu bersemangat untuk salat di dalamnya. Kapanpun kita mendatanginya, kemanapun kita melepas pandangan mata, akan selalu ada orang yang sedang salat di dalamnya. Para peziarah yang mengunjunginya merasa sayang jika meluputkan satu waktupun untuk tidak salat di sana. Maka kebanyakan agenda city tour pun dilakukan di pagi hari, setelah sarapan dan sebelum zuhur. Hal ini demi mendulang nilai yang lebih baik dari 1000 salat.

Sebagaimana hadits dari Abu Hurairah bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda  : “Satu kali salat di masjidku ini lebih baik dari seribu salat di masjid lain, kecuali Masjidil Haram.” (HR. al-Bukhari dan Muslim). Satu kali salat fardu di Masjid Nabawi lebih baik dari salat fardu yang kita lakukan dalam 200 hari di masjid lainnya. Oleh karenanya, sangat sulit mendapati tempat kosong di dalam masjid ketika salat fardu ditegakkan sehingga banyak jamaah yang menggelar sajadahnya di halaman masjid untuk salat di sana. Bagi yang mau mendapatkan saf-saf terdepan ketika salat berjamaah, hendaknya telah berada di masjid paling tidak 1 jam sebelum azan.

Tempat-tempat favorit untuk salat di Masjid Nabawi adalah Al-Rawdah, aula depan (bangunan lama), dan saf-saf terdepan di bangunan baru, yaitu tempat-tempat yang tidak pernah sepi dari orang yang salat, membaca quran, berzikir dan berdoa. Akan tetapi kita tidak akan mendapati jamaah perempuan di situ, karena ruang salatnya telah ditentukan berada di bagian belakang. Telah ada hadits dari Ummu Humaid yang menyebutkan bahwa salat seorang perempuan di masjid kaumnya lebih baik daripada salat di Masjid Nabawi. Supaya menjadi perhatian bagi perempuan untuk tidak memaksakan diri ke masjid jika kondisinya tidak memungkinkan.

Bagaimanapun, Nabi pernah menasihati kaum pria untuk tidak melarang perempuan yang mendatangi masjid untuk beribadah. Maka dari itu kita berharap kepada Allah agar jamaah perempuan yang melakukan salat di Masjid Nabawi tetap berpeluang mendulang kebaikan 1000 salat.

Referensi:

Abu Muawiah (2010, October 13). Keistimewaan Masjid Al-Haram dan Nabawi | Al-Atsariyyah.Com. Retrieved February 28, 2014, from http://al-atsariyyah.com/keistimewaan-masjid-al-haram-dan-nabawi.html

Al-Khalafi, A. A. (2004, August 19). Menziarahi Kota Madinah Al-Munawwarah – almanhaj.or.id. Retrieved February 28, 2014, from http://almanhaj.or.id/content/995/slash/0/menziarahi-kota-madinah-al-munawwarah61482/

Burhanuddin, A. (2012). Menyorot Shalat Arba’in di Masjid Nabawi | Muslim.Or.Id – Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah. Retrieved February 28, 2014, from http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/menyorot-shalat-arbain-di-masjid-nabawi.html


zakat uang: nisab emas atau perak?

15 Agustus, 2012

Uang adalah alat pembayaran yang sah yang ditetapkan oleh pemerintah suatu otonomi atau negara. Uang yang kita kenal saat ini berupa uang kertas maupun uang logam hanyalah uang yang memiliki nilai jaminan (ekstrinsik) bukan nilai intrinsik. Di zaman dahulu uang memiliki nilai jaminan sekaligus nilai intrinsik, karena dibuat dari logam mulia seperti emas dan perak. Baru pada masa belakangan saja muncul uang dengan nilai yang lebih rendah misalnya dari logam perunggu atau tembaga. Pembahasan mengenai sejarah uang dan nilainya cukup panjang lagipula tidak relevan dengan judul di atas.

Di dalam Islam, uang merupakan harta yang wajib dizakati apabila telah terkumpul dalam jumlah tertentu (nisab) dan tersimpan dalam masa satu tahun (haul). Uang yang dikenal pada saat itu adalah dinar yang terbuat dari emas yang beratnya 1 mitsqal (4,25 gram) dan dirham yang terbuat dari perak yang beratnya 7/10 mitsqal (2,975 gram). Nisab dinar adalah 20 dinar sedangkan nisab dirham adalah 200 dirham. Adapun besaran zakatnya adalah 1/40 (2,5%). Kemudian perhiasan emas dan perak mengikuti perhitungan nisab di atas dalam bentuk bobotnya. Emas yang memiliki bobot sebesar 20 mitsqal (85 gram) dan perak yang memiliki bobot sebesar 200 dirham (595 gram) sudah termasuk kriteria wajib untuk dizakati.

Ketika muncul uang dengan nilai jaminan emas atau perak, maka nisabnya mengikuti emas dan perak sebagaimana perhiasan. Permasalahan mulai timbul ketika diterbitkannya fulus atau uang dengan nilai yang lebih rendah daripada emas dan perak. Apalagi di masa sekarang muncul berbagai mata uang dan kurs menambah pelik persoalan zakat. Untunglah emas dan perak masih dipertahankan sebagai komoditas yang diperjualbelikan, sehingga kita masih bisa menghitung zakat uang berdasarkan harga emas dan perak pada hari ini menurut mata uang yang berlaku.

Melihat angka nisab pada saat syariat zakat ditetapkan, dapat diketahui bahwa nilai 1 keping dinar setara dengan 10 keping dirham. Namun di masa sekarang nilai 1 keping dinar sebanding dengan 25 keping dirham [www.logammulia.com] sehingga sebagian ulama kontemporer dengan mempertimbangkan maslahat yang lebih besar kemudian mengiaskan (qiyas) nilai uang yang wajib dizakati adalah yang sudah memenuhi nisab antara emas dan perak mana yang lebih rendah.

Misalnya harga 1 gram emas saat ini setara Rp500 ribu, maka nisabnya adalah Rp42,5 juta. Apabila harga 1 gram perak adalah Rp10,5 ribu, maka nisabnya adalah Rp6,2 juta. Karena nisab perak lebih rendah daripada nisab emas, maka uang yang melebihi Rp6,2 juta (tidak perlu menunggu terkumpul Rp42,5 juta) dan sudah tersimpan selama 1 tahun wajib untuk dizakati.

Tulisan ini sekaligus memperkaya pengetahuan pada tulisan saya sebelumnya mengenai zakat penghasilan di sini dan di sini.


Rp100.00

18 Maret, 2005

Seratus rupiah sangat menentukan nilai anda di mata orang lain, sebagaimana ia menjadi penentu dari bilangan uang dalam besaran tertentu. Uang satu juta rupiah tidak akan menjadi satu juta rupiah jika kurang seratus rupiah, bukan? Tetapi jika anda berbelanja dengan total nilai Rp20,100.00 sedangkan di dalam dompet anda hanya ada pecahan dua puluh ribuan, apakah anda akan membayar dengan 2 lembar pecahan dua puluh ribuan, atau membayar 1 lembar dan berusaha mencari pinjaman kepada orang yang anda kenal sehingga anda lebih mudah mengembalikannya, atau berkata kepada kasir: “saya akan kembali lagi kemari untuk membayarnya”.

Jika kasir anda adalah orang yang memahami, tentu saja ia tidak akan keberatan dengan pilihan ketiga, atau kedua, mungkin untuk pilihan pertama akan merepotkannya karena harus mengembalikan kepada anda sejumlah Rp19,900.00.

Namun jika seseorang lain yang tidak atau belum anda kenal dan anda masih berada di situ, tiba-tiba mengatakan kepada kasir: “mas ini saya bayarkan untuk bapak itu”, apa yang segera memenuhi kepala anda dengan kejadian itu?

Secara spontan saya akan mengatakan kepadanya: “Terima kasih banyak, sebenarnya anda tidak perlu repot-repot”.

Dan jika anda tahu bahwa jawab orang itu adalah: “ah, tidak apa-apa, justru anda akan repot karena harus naik turun 14 lantai, sedangkan saya hanya satu lantai di atas minimart ini”, tentu anda akan lebih kaget lagi bukan?

Seseorang berbuat baik kepada anda dengan tiba-tiba? Hanya karena anda sering berbuat baik kepada orang lain? Siapa yang tahu? Semuanya adalah rahasia Ilahi.

(“,)


Rp100.00

18 Maret, 2005

Seratus rupiah sangat menentukan nilai anda di mata orang lain, sebagaimana ia menjadi penentu dari bilangan uang dalam besaran tertentu. Uang satu juta rupiah tidak akan menjadi satu juta rupiah jika kurang seratus rupiah, bukan? Tetapi jika anda berbelanja dengan total nilai Rp20,100.00 sedangkan di dalam dompet anda hanya ada pecahan dua puluh ribuan, apakah anda akan membayar dengan 2 lembar pecahan dua puluh ribuan, atau membayar 1 lembar dan berusaha mencari pinjaman kepada orang yang anda kenal sehingga anda lebih mudah mengembalikannya, atau berkata kepada kasir: “saya akan kembali lagi kemari untuk membayarnya”.

Jika kasir anda adalah orang yang memahami, tentu saja ia tidak akan keberatan dengan pilihan ketiga, atau kedua, mungkin untuk pilihan pertama akan merepotkannya karena harus mengembalikan kepada anda sejumlah Rp19,900.00.

Namun jika seseorang lain yang tidak atau belum anda kenal dan anda masih berada di situ, tiba-tiba mengatakan kepada kasir: “mas ini saya bayarkan untuk bapak itu”, apa yang segera memenuhi kepala anda dengan kejadian itu?

Secara spontan saya akan mengatakan kepadanya: “Terima kasih banyak, sebenarnya anda tidak perlu repot-repot”.

Dan jika anda tahu bahwa jawab orang itu adalah: “ah, tidak apa-apa, justru anda akan repot karena harus naik turun 14 lantai, sedangkan saya hanya satu lantai di atas minimart ini”, tentu anda akan lebih kaget lagi bukan?

Seseorang berbuat baik kepada anda dengan tiba-tiba? Hanya karena anda sering berbuat baik kepada orang lain? Siapa yang tahu? Semuanya adalah rahasia Ilahi.

(“,)


%d blogger menyukai ini: