to live, is being a great adventure

26 Februari, 2006

the title above is taken from the last saying of Peter Pan to Wendy after he delivered her and her brother and the lost boys back from Neverland to the real world. i also put that title in front of page novelku because most of stories i wrote in that blog are daily stories which i get from everywhere, as the result of listening, reading, watching and feeling activities.

memang nggak muluk-muluk ketika Peter Pan mengatakan kalimat itu kepada Wendy after experiencing wonderful adventures in Neverland. hidup di Neverland adalah petualangan kanak-kanak yang selamanya terasa amat menyenangkan, just like a dream but real. dalam kisah Peter Pan, walaupun ia memilih untuk tetap tinggal di Neverland sebagai kanak-kanak, tetapi ia menjadi amat dewasa ketika mengucapkan kalimat perpisahan itu.

Peter Pan realise that live in this world and growing adult will be a great adventure everyone will face, no matter how they are. and i’m sure that live will be fulfilled by adventures.
we never know what will we face tomorrow, we just make predictions and link between causes, oh it will be more challenging. where we must breaking the ice of the problem, solve everything we run in this life. wherever we go, life will always challenging. setiap hari akan ada saja cerita baru dan pengalaman baru. rutinitas jadi relatif, karena sebenarnya hal-hal yang selalu kita kerjakan juga memberi tantangan baru kepada kita.

mungkin ada yang pernah nonton 50 First Date, Vanilla Sky, atau bahkan Matrix – Trilogy? setiap hari selalu saja menjadi petualangan baru.

are you ready to live?


tigabelas

26 Februari, 2006

ngga ada yang tahu sebenarnya gue ngga bisa nulis, gue paling bodoh jika harus mengungkapkan apa yang ada di dalam hati ini. kalau saja orang-orang yang selalu memuji gue itu tahu bahwa dari sekian banyak catatan di diari gue, lebih sering berisi catatan ringkas yang paling banyak hanya 3-4 baris saja. tapi anehnya mereka sering nganggap gue orang yang bijaksana, mereka selalu punya alasan bahwa tulisan-tulisan gue memberi inspirasi.

“gue bangga sama loe, semakin dewasa. tulisan-tulisan loe itu humble.”
“walau gue ga punya banyak komentar atas tulisan loe, tetapi gue sering nyadar sering gue terpengaruh sama tulisan loe.”
“loe tuh, kalo nyampein sesuatu, ngga pernah terasa menyakitkan, walupun sebenarnya itu sindiran.”
“loe punya tulisan, mengalir dan enak dibacanya, ngga ngebosenin.”
“loe punya gaya tulisan yang asyik, ga semua orang mampu ngungkapin seperti itu.”
“tulisan-tulisan loe bagus, kepikiran ngga untuk mengumpulkannya jadi buku dan diterbitkan?”

dan masih banyak lagi komentar lagi tentang tulisan gue. waduh!
selama ini gue cuma menulis apa yang gue lihat, dengar, rasa, baca, dan terima. gue ngga pernah kepikiran untuk mempengaruhi orang lain, apalagi sampai membuat mereka jatuh cinta sama gaya tulisan gue. itu bikin gue sakit hati!

gue ngga pernah bisa nulis apapun, gue akuin itu.
yang gue tulis juga bukan orisinil, tapi gue juga ngga nyeplak abis apa yang gue dapat. it’s just like a mix many formulas to be a new formula. ngga lebih dari itu, dan gue ngerasa ngga patut dapat penghargaan apapun dari pembaca.

sering ketika gue terima komentar yang isinya cuma pujian, gue ngelus dada, masak sih ga ada yang kasih cacian sama gue? terus terang, gue ngga bisa nulis, dan kalopun gue terus nulis, karena gue ngga tahu harus ngomong sama siapa apa yang ada dalam kepala dan hati gue.

dan sekarang, ketika gue tahu banyak orang yang baca tulisan gue, gue makin ngerasa bodoh dalam menulis, karena gue ngga bisa kasih mereka hal terbaik, mereka cuma baca apa yang jadi keluhan gue, mereka cuma baca apa yang jadi gerundelan hati gue. tapi gue ngga bisa ngasih sesuatu yang lebih baik dari itu.

gue pengen dapat cacian, agar gue berhenti menulis, agar gue berhenti berpikir, agar gue berhenti merasa, juga melihat, mendengar dan membaca. agar gue ngga lagi mempengaruhi orang lain dengan “inspirasi” yang mereka dapatkan dari tulisan-tulisan gue.

gue sendiri, merasa bosan dengan tulisan-tulisan gue, masak orang lain terus memaksa gue untuk menulis?


duabelas

26 Februari, 2006

senja selalu punya banyak cerita tentang hidup, dan selalu menawarkan mimpi-mimpi yang dapat dipilih untuk malamnya. senja juga mengiringi perasaan hati setiap insan yang merindu. adakalanya ia membawa kepedihan, namun hilang dicabut angin yang membelai petang. kadang ia menggambarkan kebahagiaan, namun patah diinjak langkah yang mengusung malam.“mas, terima kasih dah bawa de ke tempat yang indah ini,”
wajahnya tampak bahagia, memandang senja di tepi samudera hindia, ia kembali bertanya kepadaku,
“mas, apa yang kaulihat pada diriku sebenarnya?”
aku memandangnya dengan penuh senyum, rasa sayangku beradu dengan rasa benciku kepadanya. ia memang bukan perempuan istimewa, tetapi ia bukanlah perempuan biasa. itu yang kutahu tentang dia, ia punya potensi energi yang luar biasa, namun tak banyak yang dapat ia lakukan untuk melejitkan potensi tersebut.

dengan lancang, sebelumnya aku telah meminta Allah, untuk menjadi orang yang membantunya menemukan diri. senja itu, kami duduk berdua di bawah gubuk beratap pelepah daun kelapa, mencoba menyelami hati masing-masing, menikmati perjalanan pernikahan kami yang baru seumur jagung.

“mas, de sempat ngga percaya bahwa ini takdir kita, bahwa ternyata kita menikah.”
kupeluk dirinya dalam rangkulan, mencoba mendekati perasaannya yang mudah kecamuk.
“de, mungkin bukan orang yang tepat buat mas. de, tidak terbiasa dengan pola yang ada pada keluargamu, mas. semuanya di mata mereka, de ngga sempurna. dan mas, adalah harapan mereka. de, sering ngga bisa nerima kebiasaan mereka yang menurut de.. menyakitkan.”

ah, dia sedang mengeluhkan dirinya sendiri yang sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan keluargaku. perempuan sering sekali membesarkan hal-hal yang berbau perasaan. ia memang masih muda, kami masih muda, orang-orang bilang bahwa kami masih anak-anak. ia baru saja lepas dari bangku sekolah, dan aku pun masih baru belajar mencicipi hidup dengan pekerjaan.

selepas pernikahan kami yang sederhana, ia kuboyong ke rumah orangtuaku, kami tinggal di rumah orangtuaku bukannya tanpa alasan. di antaranya karena masalah tempat, di rumah mertuaku tidak ada tempat yang memadai untuk kami sebagai pengantin baru, kemudian lokasi rumah mertua lebih jauh dan lebih macet untuk ke kantor. dan aku ingin dia dekat dengan ibuku. seorang istri, bagiku akan terhormat posisinya ketika ia memuliakan ibu dari suaminya.

konflik antara ibu mertua dan menantu bukanlah fiksi yang hanya ditemui di novel-novel, hal itu menyata dalam kehidupan kami. kadang hanya masalah kecil, perbedaan meramu masakan, perbedaan kebiasaan dalam menangani pekerjaan rumah tangga, bisa memicu konflik. ibuku sering menangis ketika beliau merasa tidak dihormati oleh istriku, sebaliknya istriku sering ngambek ketika ia merasa pekerjaannya tidak dihargai oleh ibuku.

“semua butuh proses, mas. seseorang yang keluar dari zona nyamannya, butuh proses untuk beradaptasi, dan sepertinya semua usahaku tidak dihargai.”
sambil terisak ia terus mengadu,
“jika sering aku kembali ke rumah mama, seringkali karena aku ingin lari dari rumah orangtuamu, selain karena aku kangen sama mamaku. tetapi lagi, tak akan bertahan lama, karena kau tak berada di sisiku, mas. tak merasakah kau bahwa aku sangat merindumu?”

“mas, belum pernah aku jatuh cinta seperti ini. sebelumnya hanya nestapa dan angan-angan belaka. dan kau datang kepadaku membawa begitu banyak harapan, hmm… walau sebenarnya sebanyak itu adalah harapanku sendiri tentang dirimu, mas.”
ia benar, aku tak pernah menawarkan harapan apapun kepadanya. aku hanya mengajaknya untuk mengisi keping-keping puzzle pada hidupku, dan melangkah dalam pernikahan yang hanya didasari rasa cinta kepada Allah saja.

“dan, kau sering terlihat masabodoh dengan semua itu, mas. mengapa kau seperti tak mempermasalahkan apapun? kamu selalu punya cara membuat masalah tidak menjadi hal yang besar, dan kamu juga selalu punya cara untuk tidak menghiraukan hal-hal yang menurutmu ga penting.”

“mas, kenapa sih diam saja?”
ia melepaskan diri dari pelukanku, kemudian menatapku penuh rasa ingin tahu apa yang ada di benakku. kualihkan pandanganku darinya kepada wajah senja yang memerah.

“de, mas bersyukur kepada Allah, karena ia menganugerahi mas, seorang istri yang terbuka kepada suaminya,” kucoba membuka pintu hatinya menerima kata-kataku.

“mungkin de, hanya melihat mas selalu nampak bahagia. namun tak dapat mas pungkiri, setiap masalah yang membuatmu bersedih, turut membuatku bingung dan sering stres. karena de tak setiap saat mau mengungkapkan apa yang kau pendam di dalam dendammu. mas masih perlu diajarkan bagaimana memahamimu.”
kulihat matanya berbinar dan sudut bibirnya menyunggingkan senyum yang masih putik.

“sempat terpikir, bila tak sanggup lagi aku menjinakkanmu, apa kah lebih baik untuk menceraikanmu saja,” ia terbelalak mendengar kata ini, “tapi itu ngga mendatangkan manfaat apapun, ga banyak yang bisa dipelajari dari perceraian, kecuali kecewa.”
kulihat ia menampakkan antusiasme,
“akan banyak kecewa pada diriku, dirimu, keluarga kita dan juga orang-orang di sekitar kita. dan juga pada Allah, yang telah mengijinkan kita menikah.”

“ketika, aku memintamu menikah bersamaku karena Dia, tentulah akan sangat membangkitkan amarah-Nya, jika akhirnya kita harus berpisah hanya karena masalah-masalah yang sama sekali tidak krusial bagi-Nya,” matahari kulihat sudah siap tenggelam di balik cakrawala, debur ombak semakin menggebu menyambut malam, “bagiku, menikahimu adalah belajar, tak peduli berapa kali kita harus jatuh bangun menganyam kisah indah dalam perjalanan kita nanti, semuanya adalah pembelajaran dalam meraih ridha Allah saja. mas sangat yakin, semua masalah akan selalu ada Allah yang membantu kita.”

ia memelukku erat, erat sekali, hampir saja kami jatuh dari bangku bambu di gubuk itu. kemudian kami berkejaran menyusuri pantai menuju sepeda motor yang setia menunggu di bawah pohon kelapa. sepanjang perjalanan pulang, telah terukir dalam hati, bahwa Allah senantiasa mengawasi dan membuka jalan, bagi siapapun yang mencari Dia dengan ikhlas.


sebelas

24 Februari, 2006

seharusnya rembulan menyapa malam ini
masih purnama, adakah kau jumpai ia?
bagaimana rupanya?
katakan kepadanya bila kau melihat dia
bahwa ada seseorang yang
merindu kekasihnya
laki-laki itu membisikkan desahnya pada angin malam. ia tatap langit yang berselimut awan, bulan saat itu terhalang mendung, namun di sela-sela masih nampak beberapa bintang bercengkerama dengan indah.

“you’ve got a message!”

telepon genggamnya membunyikan nada. dibuka dan dibacanya pesan yang ia terima dari seseorang yang sangat dirinduinya pada malam itu. seorang perempuan yang telah menyerahkan pembinaan diri pada laki-laki itu, yang mengulurkan tangannya untuk diajak melangkah bersama menuju surga.

bila senja menjelang kuterdiam
sepi menyergap
di bawah purnama kubisikkan tanya,
“Tuhan, masihkah ada cinta tersimpan untukku?
masihkah ada rindu tertuju kepadaku?”

“dinda, dikau merapal mantra,” gumam laki-laki itu, sambil dipijitnya tombol-tombol di telepon genggamnya membalas pesan cinta dari perempuan yang telah dinikahinya delapan belas bulan yang lalu. perempuan itu kini sedang merawat cikal cinta mereka, sementara laki-laki itu harus pergi mencari nafkah untuk beberapa minggu.

“message sent”

di tiap desah angin
terdengar desahmu mengadu
dalam riak riam
tertangkap isakmu gemericik
untuk senyap malam
terbayang wajah muram terdiam
katakan, “aku mendengar-Mu
Tuhan, ia bicara tentang rindu dan sayang”

ribuan mil di balik gelombang samudera dan konstruksi beton yang membangun metropolitan, di sebuah gubuk, seorang perempuan tersenyum menerima pesan cinta dari suaminya. “baba, mengirim pesan untuk kita, sayang,” bisiknya kepada bakal bayi yang tengah dikandungnya dua puluh tujuh pekan. “mari kita doakan baba, agar Allah senantiasa menjaganya, sebagaimana Dia menjaga mama dan kamu,” ujarnya tersenyum merasakan reaksi bakal bayi di dalam rahimnya.

dalam balutan malam penuh bintang
penuhi rasa syukurku, Tuhan
masih dapat kurasa kelembutan hidup
di antara kerasnya,
masih ada ketegaran hati dalam pedihnya,
masih terdengar doa dalam bingarnya,
masih tersedia asa dalam patahnya,
masih kudapati bahagia dalam sendunya,
yang mengajarku
untuk senyum pada kegetiran,
membekali aku dengan iman
dan kepasrahan…


sepuluh

11 Februari, 2006

dia baru saja bergabung dengan team ini, tak banyak kuketahui latar belakangnya kecuali dia adalah komikus. dari bincang-bincangku padanya, ia orang baik, at least he try to be a good person. aku terkesan dengan caranya berkomunikasi, nggak pernah tampil terlalu baik atau bicara terlalu bijak. walaupun tak banyak yang ia ungkapkan dalam obrolan, aku bisa belajar banyak sekali hal penting dari dia.dia sebelumnya yang kutahu hanyalah seorang komikus, namun dia yang sekarang punya nyali untuk lebih dari sekedar komikus. jalan hidupnya yang warna warni, memperkaya ilmu hidupnya yang tak pernah dapat kukuak misterinya. selalu saja ada tabir yang tak memperbolehkan aku melongok lebih dalam sisi lain dari dirinya. dan aku tak ingin ketinggalan sedikitpun pelajaran hidup yang kuperoleh darinya.

pelangi itu
yang sesaat getarkan kalbu
karena cantiknya

ingatkanku pada

hidup

yang kuingin selamanya
berwarna indah!

seperti pelangi, itulah yang dapat kukatakan tentang dia. sebagai seorang cowok, dia tidak termasuk the most wanted, anehnya aku merasa dia cocok sekali dengan karakterku.
ah, aku tak mau membuat jumping conclusion sebenarnya, tapi … selalu bisa kurasakan aura baiknya.

entahlah mengapa aku amat tertarik dengan sosok dan karakternya. ah,
andai saja aku dapat selalu bersamanya, mungkinkah hidup yang kuingin selamanya berwarna indah dapat tercapai?


sembilan

11 Februari, 2006

sore yang teduh, gerimis baru saja menunaikan hajatnya memberi kesegaran kepada tanah yang berdebu.
ia duduk dalam kerinduan akan kampungnya yang ditinggalkannya sementara untuk bertugas di belantara rawa kalimantan. tenggelam ia dalam kenangannya tentang seseorang yang ia cinta –tanpa sadar bahwa ia benar-benar mencintainya– bertahun-tahun. kekasihnya itu kini sudah dipetik oleh laki-laki baik yang lelah mencari pendamping hidup.

kekasih yang tak pernah diakui namun menyata dalam detak hidupnya. bahkan di antara mereka sudah berjalan cukup jauh permainan rasa yang menyiksa. namun dengan perginya kekasih kepada pelukan laki-laki baik itu, ia merasa banci tak mampu mempertahankan episod kasihnya yang ditulisnya dengan payah.

angin membisik telinganya kabar pernikahan seorang perempuan baik. perempuan baik yang baru dikenalnya yang mampu mengusir sedikit kesedihannya dari kehilangan kekasih. kembali ia ke dalam sepi.

ia menatap wajah langit yang mencoba menghibur hatinya. menawarkan harapan tentang hidup yang lebih baik, tentang cinta kasih, tentang harapan itu sendiri. melukis pelangi di atas bentangan hutan nilam, tempat bekerjanya, menyibukkan ia dari angan-angan kosong…

pernahkah kau lihat pelangi
hadir bila gerimis reda
bawa kisah di tiap warna

sejenak ia menyapa
hingga mentari senyum kembali
jangan patah asamu padanya
Tuhan kuasa jumpakan lagi

***


delapan

9 Februari, 2006

“nikahi aku!”
jejaka itu terdiam mendengar permintaan si gadis, ia pandangi sosok di hadapannya dan juga berkas yang dipegangnya tanpa kata-kata.
si gadis tetap mendesak agar si jejaka mau menikahinya segera
ia sudah memiliki begitu banyak impian yang direncanakan untuk diwujudkan bersama jejaka itu
ia ingin bahagia dengan dinikahi oleh si jejaka

sedangkan si jejaka
tak memiliki keberanian untuk melanjutkan perkenalan dengan si gadis
“tak ada apapun yang terjadi di antara kita, aku benar-benar tulus memintamu menikahi aku”
si gadis tetap mendesak

memang, tidak ada hal istimewa yang terjadi di antara mereka, tak ada istilah “accident” dalam hubungan mereka. kenalan pun baru beberapa minggu, si gadis merasa cocok saja dengan si jejaka, ia hanya ingin segera menghilangkan nestapa yang dideritanya dengan kehadiran jejaka dan meminta si jejaka untuk membantunya meraih impian mereka.
dari setiap perbincangan yang terjadi di antara mereka, si gadis melihat sisi misterius dari jejaka, yang membuatnya bergairah untuk menyelidik lebih jauh. dan si jejaka pun mencoba menabiri dirinya dengan sedikit bicara.

si jejaka tahu bahwa dirinya menyukai si gadis, tetapi sebatas teman bicara, ia membutuhkan seseorang yang mampu membantu dirinya memahami dirinya sendiri dan mengajarkannya hidup dengan baik. ia tidak melihat kemampuan tersebut ada pada si gadis, yang hanya memiliki impiannya dan merasa dengan menikah dengan si jejaka segalanya akan menjadi beres.

“aku tak sanggup melanjutkan proses ini”
akhirnya si jejaka membuka lisannya, “aku bukanlah orang yang pantas mengiringi langkahmu dan menjadi penyejuk bagimu.”

gantian si gadis terbungkam, wajahnya merah padam, rasa malunya tak terhingga ditolak oleh jejaka harapannya. impiannya punah sudah, rasa hati bergejolak menghancurkan asa. ia pun membalikkan badannya dan lari dari si jejaka tanpa kata pamit.

tumpahlah segala rasa yang memenuhi dadanya, derai air mata tak henti mengalir, dialaminya kembali penolakan oleh orang yang diharapkannya akan memimpin dirinya kepada surga.

dalam patah, ia bisikkan sebaris tanya
“Tuhan, sampai kapan Engkau mencobai aku dan menghilangkan nestapa ini dari diriku?”


tujuh

9 Maret, 2005

“time for what? be careful on what you thinking!”
“nope, it’s just like a message flip on my inbox says: NOW is the TIME!”
–silent–

” ya, aku hanya merasakan, jika saat inilah yang tepat untuk mengatakan kepadanya untuk yang kedua kali bahwa aku akan melamarnya!”
“hati-hati… sebab tidak semua orang siap untuk dilamar, apalagi jika caramu melamarnya pertama kali itu mengejutkannya.”
“lho, bukankah sebenarnya dia sendiri yang minta agar aku serius”

“semua mengalir begitu saja, seperti ada sesuatu yang menggerakkannya: pertemuan kami, email-email itu, tanda-tanda tentang dia yang kutemui dimana-mana, semuanya! dan kini ortunya sudah membuka pintu bagiku untuk masuk ke dalam kehidupannya dan mengijinkan aku menjadi pendamping hidupnya.”
“itu belum berarti selesai, ada hal-hal yang harus kau persiapkan juga.”
“misalnya…?”
“apakah dorongan yang membuatmu ingin menikahinya itu memang tulus untuk dakwah, atau dorongan hawa nafsumu saja?”
“astaghfirullah!”
“…”
“tetapi, bukankah jika disalurkan pada yang halal, hawa nafsu pun berpahala?”
“hati-hati… hal itu memang dapat dibenarkan, namun kau harus memiliki motif yang jauh lebih kuat daripada sekedar hawa nafsu.”
“jelas aku hendak membangun keluarga yang barokah, tentram bahagia dan penuh kasih sayang.”
“ok, sekarang semua kembalikan kepada Tuhan, biar Dia yang menulis jodohmu.”
“dan biarkan mengalir?”
“ya, ikutin saja aliran airnya, bisa berenang kan?”


enam

5 November, 2004

Morning doesn’t mean getting up n working again.. it rather means Allah loves u so much to let u live n see another day.. Good Morning, hav a wonderful day! 😀Lho? tumben-tumbennya dia ngirimin aku mesej, biasanya aku duluan yang ngirim ke dia. Terus terang deh, hubungan yang terjalin di antara aku dan dia aneh, sama sekali tidak disengaja.

awalnya, aduh… awalnya gimana ya? siapa yang ngawali ya?
begini aja, aku biasa bermain internet dan memajang bisnisku di sana, barangkali banyak orang yang mencari tahu tentang suatu bisnis yang mungkin saja bisnisku match dengan bisnis yang dicari.

suatu hari aku melihat nama, alamat emailnya di guestbook, lalu aku respon aja dengan ucapan: “thanks for coming and signing my guestbook.” ternyata dia respon balik, dan dia memang pada waktu mampir ke homepage-ku gara-gara nyari suatu bisnis di internet. akhirnya imel-imelan deh. dan terus bergulir, dilanjut dengan kirim-balas sms, dan kupikir dia punya perhatian gitu kepadaku, tapi… memang siapa sih yang bakal mengira, hubungan internet jadi hubungan di dunia nyata?

walaupun itu banyak terjadi, tapi banyak juga yang masih menyangsikan.


lima

1 November, 2004

“Ternyata siang masih panjang,” desah hatiku bersuara.

Kucoba lemparkan pandangan ke sekeliling, masih ada beberapa orang di dalam ruang sembahyang, ada yang sedang membaca alquran, sementara ada juga yang mengais pahala dengan salat-salat sunnah, ada juga yang berbaring menikmati sejuknya masjid.Aku beranjak dari duduk zikirku menuju ke pelataran. Di sana kudapati pedagang buku-buku agama dan penjual peci berkutat menarik perhatian jamaah yang sedang melihat-lihat jualan. Beberapa peminat bercakap-cakap di hadapan barang dagangan yang terhidang di atas tikar.

“Kemarin aku ikut pengajian Ustazah ini lho.”

“Ustazah yang mana maksudmu?”

“Ini yang mantan biarawati.” sambil menunjukkan sebuah VCD dialog

“Oh, bagus pengajiannya?”

“Dia memaparkan secara gamblang tentang kondisi sebenarnya.”

“Maksudnya?”

“Iya, dia seorang perempuan yang cerdas dan luar biasa, ia memberitahu tentang sikap kehati-hatian dan toleransi yang seharusnya dimiliki seorang muslim.”

“Kok kamu bisa ikutan pengajiannya sih?”

“Kebetulan aku diajak teman, ternyata pengajiannya sebulan sekali.”

“Di mana?”

“Dekat kantorku di daerah Setiabudi.”

Di samping aku duduk, ada beberapa pemijat dari Madura. Mereka menawarkan ramuan Madura sebagai solusi kesehatan dengan harga dua puluh ribu rupiah saja. Kelengkapan yang mereka bawa adalah kain, minyak pijat, beberapa kliping koran yang dilaminating. Kliping koran itu bercerita tentang kiprah mereka.

Seorang pemuda berbicara dengan mereka.

“Mari dik, saya pijat.”

“Ah tidak usah pak.”

“Tak apa gratis, sambil saya deteksi.”

Tangan pemijit itu pun langsung menarik lengan si pemuda dan mulai memijat.

“Sudah punya anak, dik?”

“Belum pak.”

“Sepertinya adik sering masuk angin dan pusing kepala ya?”

“Benar, darimana Bapak tahu?”

“Jarang olahraga ya?”

“Wah, juga sering kesemutan nih kakinya.”

“Ya, kalau duduk sila, tidak lama cepat kesemutan.”

“Itu gejala asam urat, coba saya deteksi kakinya.”

Si pemuda membuka kaus kakinya lalu mengulurkan salah satu kakinya untuk dipijat.

“Bismillah..” si pemijat merapal doa.

“Dik, ini gejalanya sudah saya dapat, jangan makan jeroan dan air kelapa selama seminggu ya.”

“Baik pak, lalu?”

“Wah, adik belum kawin?”

“Hehehe… belum.” semburat malu terlihat di wajah pemuda itu.

“Wah, gak tahan lama.”

“Gak tahan lama bagaimana pak?”

“Mudah ejakulasi dini.”

“?”

“Walau belum nikah, ketahuan kok, nanti kalau kawin kamu gak tahan lama.”

“?”

“Ingat ya, dik jangan makan jeroan dan air kelapa selama seminggu.”

“Ya.”

“Mau sembuh?”

“Ya jelas mau dong.”

“Ini obatnya dua butir diolesin sekarang, cuma dua puluh ribu saja.”

“Gak bisa dibawa pulang?”

“Gak bisa, selama pengobatan jangan makan jeroan dan air kelapa seminggu lamanya.”

“Oh begitu.”

“Minggu depan datang lagi untuk pengobatan lanjutan.”

“Lho?”

“Hanya memastikan bahwa pengobatannya berhasil. Kesembuhan hanya dari Allah, dik.”

“Terima kasih pak, tapi saat ini saya tidak dulu ya, pak.”

“Adik ingin sembuh?”

“Insya Allah, pak. Terima kasih, mari.”

Pemuda itu pun berlalu setelah menjabat terima kasih tangan si pemijat.

Kualihkan pandangan ke anak-anak usia SD-SMP yang tekun mengusap dan menyemir sepatu jamaah. Terlihat sepatu-sepatu yang telah tersemir, mengkilap tersusun rapi menunggu pemiliknya.

Seorang jamaah memanggil salah seorang anak penyemir sepatu dan memberikan kupon bernomor. Anak itupun sigap mengambilkan sepatu orang tersebut.

“Terima kasih, dik,” sambil mengulurkan selembar uang lima ribuan.

“Kembalinya pak,” anak itu menyerahkan tiga lembar uang seribuan.

“Tak usah, ambillah untukmu,” orang itu berlalu.

“Terima kasih, pak.”

“Dik!” seorang jamaah lain memanggil anak penyemir sepatu.

“Ini pak sepatunya.”

“Ini, terima kasih,” orang itu memberikan selembar uang seribu.

“Maaf pak, dua ribu rupiah.”

“Lho, biasanya juga segitu.”

“Iya kalau bapak hanya menitipkan, kalau sekaligus semir jadi dua ribu.”

“Huh, ini uangnya,” sambil bersungut-sungut orang itu berlalu.

“Ada kalanya kita tak mampu menghargai jerih payah orang lain,” gumamku sambil menyungging senyum sendiri.

Kulihat jarum jam di dinding masjid menunjukkan angka dua, aku pun memasang kaus kaki dan memasukkan kedua kakiku itu ke dalam sepatu. Kusapa penjaga masjid yang sedang duduk berwirid di belakang meja. Kulangkahkan kaki kembali menuju ruang kerjaku di gedung berlantai tiga puluh yang menjulang di depan masjid ini.

“Ternyata siang masih panjang,” desah hatiku bersuara.

***

[29.6.04] percakapan di pelataran masjid


%d blogger menyukai ini: