menziarahi masjid sunan ampel

5 Agustus, 2010

Waktu Isya sudah lewat satu jam ketika mobil yang kami tumpangi parkir di Jl. Nyamplungan, Surabaya. Kami berhenti di depan gerbang menuju Masjid Sunan Ampel. Sepanjang lorong dijual macam-macam pernik yang mencirikan keislaman, seperti peci, kopiah, tasbih, kitab, kaset ceramah, qiraat dan qasidah, serta kurma dan air zam-zam. Bagi saya ini kali kedua mengunjungi masjid yang didirikan oleh Sunan Ampel, salah seorang tokoh penyebar agama Islam di Jawa Timur, pada tahun 1400-an masehi. Sedangkan bagi teman saya ini kali pertamanya.

Setelah menunaikan shalat Isya, kami menengok lokasi pemakaman yang berada di sebelah barat masjid. Antara lokasi makam dengan masjid selain dibatasi oleh tembok masjid juga dibatasi oleh tembok makam yang terdapat lorong di antara keduanya. Papan peringatan yang terpampang menjadi panduan bagi pengunjung supaya berlaku sopan, tidak shalat di area pemakaman, dan berdoa hanya kepada Allah. Di area pemakaman juga sangat dianjurkan untuk melepas sepatu atau sandal, serta dilarangnya pengunjung berada di area pemakaman pada setiap waktu shalat berjamaah.

Baca entri selengkapnya »


Resensi: Mekkah Kota Suci, Kekuasaan, dan Teladan Ibrahim

17 April, 2010

Tak sedikit buku yang berbicara tentang Mekkah, yang ditulis berdasarkan naskah-naskah keagamaan, sejarah,  maupun observasi sosial. Di antaranya adalah buku “Mekkah Kota Suci, Kekuasaan, dan Teladan Ibrahim” [1] yang ditulis oleh seorang tokoh muda NU, Zuhairi Misrawi. Buku terbitan Penerbit Buku Kompas yang diberi kata pengantar oleh Prof. DR. Komaruddin Hidayat  ini berupaya menampilkan Mekkah dalam sejarahnya di masa sebelum Islam, di masa Islam dan di masa modern dengan segala pesona atribut yang dinisbatkan kepada kota suci itu, serta pergumulan kekuasaan yang menghiasi guratan sejarahnya, serta keteladanan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan Nabi Ibrahim alaihissalam sebagai peletak pondasi kehidupan Mekkah.

Baca entri selengkapnya »


Demokratisasi NU

26 Maret, 2010

Nahdhatul Ulama (NU) sebagai salah satu organisasi sosial keagamaan muslim terbesar di Indonesia sedang mengadakan muktamar untuk memilih Ketua Umum Tanfidziyah. Perhelatan akbar lima tahunan di tubuh organisasi itu selama ini melakukan musyawarah untuk mufakat (aklamasi) dalam memilih ketua umumnya. Karena prinsip aswaja (ahlus sunnah wal jama’ah) yang mereka yakini menuntut sikap mengikuti kaidah klasik dalam keislaman, termasuk dalam hal memilih pemimpin.

Namun cara baru yang dilakukan pada event kali ini yaitu memilih pemimpin dengan suara terbanyak (voting, demokrasi) dianggap sebagian warga NU sebagai ancaman terhadap prinsip-prinsip kebaikan yang telah menjadi tradisi. Demokrasi dianggap akan memecah persatuan warga NU, dan membuat kubu yang saling bertentangan untuk memenangkan dukungannya.

Walaupun demokratisasi ini dilakukan secara dialogis dan disesuaikan secara hati-hati dengan prinsip-prinsip musyawarah, masih saja dianggap ancaman, sebagaimana gembala yang menggiring ternak ke pinggir jurang hampir-hampir terperosok ke dalamnya. Begitulah analogi demokrasi sebagai sistem yang dianggap bathil dalam Islam.

Semoga Allah membimbing para muktamirin, memilih pemimpin organisasi yang shiddiq (jujur), amanah (tepercaya), fathonah (cerdas) dan tabligh (mencerdaskan), sehingga mampu berkontribusi secara positif untuk kehidupan sosial dan keagamaan di Indonesia. Dan terhadap siapapun yang terpilih, walaupun “agak bathil” caranya, tetap mempersatukan warga NU. Semoga Allah membimbing warga NU untuk tetap kembali kepada prinsip ahlus sunnah wal jamaah.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya barang siapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti maka ia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku, dan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin yang terbimbing, berpeganglah erat-erat dengannya dan gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham…

(Shahih, HR Abu Dawud, At Tirmidzi, Ad Darimi, Ibnu Majah dan lainnya dari sahabat Al ‘Irbadh bin Sariyah. Lihat Irwa’ul Ghalil, hadits no. 2455)


%d blogger menyukai ini: