17 Trip 4

18 April, 2006


[pob.01.04] up to FPSO, room 517. Classroom maintenance. Exercise.

Jam 6 ½ kami terbang dengan helikopter ke FPSO, perjalanan kedua kami ke fasilitas mengapung terbesar di Indonesia itu. Kami ditempatkan di kamar 517. mengingat pengalaman kunjungan sebelumnya, kami meminta kepada koordinator kegiatan offshore agar materi yang disampaikan kepada kami dipadatkan dalam waktu satu pekan saja. Siang itu kami belajar sistem maintenance bersama pak Taufik Hidayat.
[pob.02.04] morning meeting. HSE weekly meeting. Touring maintenace. Pindah kamar 416 & 411.

Setelah morning meeting, disampaikanlah laporan mingguan HSE dan memberi penghargaan untuk pekerja yang aware terhadap HSE. Pak Michael Louis menyampaikan cara penggunaan breathing apparatus untuk penyelamatan diri.
Pagi itu ditemani pak Taufik dan pak Yusuf, kami melakukan touring untuk peralatan yang menjadi objek maintenance.Melalui telepon, kami diberitahu untuk berpindah kamar tidur, saya dan bagus ke 416, sedangkan bayu ke 411. Kami bersyukur atas perpindahan kamar ini, karena di kamar baru ada pesawat telepon, yang memudahkan kami melakukan komunikasi dengan keluarga lebih dekat.

[pob.03.04] morning meeting. Alarm drill. Classroom maintenance planner. PROPER Preparation report. Classroom System overview. Sickbay.

After morning meeting, alarm drill was broken, we gathered in our muster station and waiting for commander’s instructions. And dismissed when its over. Today our classroom subject is about maintenance planner with pak Madi Hakim and pak Agus Supriyanto.

In the afternoon, we follow the PROPER Preparation Report meeting. The Preparation Team had been conducted inspection to meet PROPER requirements since Saturday to Monday and asked to give report of their foundings and suggestions to the champions of FPSO.

After coffeebreak, we continue our classroom with System Maintenance team, lead by pak M Yusuf, followed by pak Bagus Wibowo, pak Deden and also pak Yasid from Honeywell.

When the class over, I came to the sickbay to have consultation with dr Ketut Karnala about the allergic indications.

[pob.04.04] morning meeting. Business audit opening.

Today, the unit business team come to conduct a Tier-2 Audit for FPSO. Not much we can do, because everyone is busy, so we just keep ourselves in business.

[pob.05.04] morning meeting. Classroom POB management.

Let’s have a tidy workplace!
The slogan was campaigned by the manager, to remind the workers to keep the cleanliness and tidiness of FPSO.

Pak Luki Tjahjadi gave us POB Management System as our classroom subject.

[pob.06.04] morning meeting. Warehouse touring. Marine and services overview. Classroom maintenance mechanic. Exercise.

After morning meeting, we met pak Tony Jujur to give us warehouse touring. Then we came to pak Peter Pattihahua and Capt. Dwiyono for Marine and services overview. In the afternoon, pak Wardoyo give us a lesson for mechanic maintenance.

In FPSO, almost everyday for more than one hour, we use the gym for exercise. To maintain our body mass and keep healthy.

[pob.07.04] mentoring program. Presentasi.

In the forenoon, we met Troy Jenkins and pak Tresna Lesmana to have discussion about mentoring program. And we have some suggestions for the program, as our commitment to develop national workers competencies.

n Mentoring program from expatriates
• Mentoring mandate information
• Guidance of implementation, curriculum & achievement target of mentoring
• Assessment of the program successfulness & reporting supported by documentation & certification
• Commitment from mentor & mentee for mentoring program under Manajemen (FM or DFM) supervision.
• Intensify open communication & feedback between mentor and mentee

n Recruitment program
• Provide equal opportunity for fresh graduate and expertized personnel with proporsional precentage to ensure continuous knowledge transfer.

At about 7 ½ pm, we were asked to give presentation for what we’ve get and take from the FPSO and also we were asked to give ideas and knowledges about the concept of oil and gas production sharing contract.

**

Iklan

16 Trip M-3

18 April, 2006


[pob.26.03] sunrise at Payalaman. Diskusi di messhall. Main tennis.
Sebagaimana hari sebelumnya setelah salat subuh, kami berangkat ke dermaga payalaman mengejar suasana matahari terbit di dermaga. Tak lupa membeli jajanan ketika melewati kedai penjaja makanan tradisional untuk kami makan di dermaga.Siang yang terik, di dalam messhall berlangsung diskusi seru antara kami dengan pak Arifin dan dr Juri. Sore yang sumuk digunakan untuk menguras keringat dengan bermain tennis.

[pob.27.03] Matak ERP Review meeting at training room

Sementara bayu dan bagus bermain tennis, saya mengikuti pertemuan di ruang training. Pertemuan tersebut membahas perencanaan tanggapan keadaan darurat untuk Matak Base. Pembahasan yang dilakukan hanya melakukan review berdasarkan template yang sudah dibuat oleh perusahaan disesuaikan dengan kondisi Matak Base. Pembahasan yang memakan waktu 3 jam itu dihadiri oleh setiap champion.

Berbeda dengan kemarin, siang itu Matak diguyur hujan dan terus berlangsung sampai malam hari.

hujan mengguyur pulauku..
sejenak teduhkan suasana,
dada yang terbakar kangen,
kepada kasihnya
yang menatap gerimis
dari balik jendela
”tenanglah,” bisik bulan sabit
yang mengintip di balik terang mega,
”detik mengejar masa tinggal sekejap,
tak perlu kau risau,
dia dalam pengawasan-Nya”
mentari pasti kembali bersinar,
hembus angin mengusir mendung hati
yang terusik dan kembangkan senyum
untuk kekasih yang sabar menanti

iluvu

[pob.28.03] makan seafood di Payalaman.

Sore itu bagus pergi bersama Johan ke ds Langir untuk membeli ketam dan kerang, sedangkan bayu bersama wiwin makan jambu air di rumah pak bukhari di ds. Gunung Cak. Saya masih asyik dengan internet di kantor Matak Base.

Malam itu kami berlima bersama Era, insinyur sipil untuk perawatan base, berangkat ke rumah pak Herman, kakaknya Johan, di ds Payalaman untuk makan malam, menyikat habis ketam dan kerang yang direbus, dan dihidangkan dengan sambal Bugis.

[pob.29.03] presentasi proses pengadaan. Airport & Traffic activities. Jalan ke Langir.

Ketika saya dan bagus bermain tennis, bayu diminta melakukan presentasi mengenai proses pengadaan di ruang pertemuan pada morning meeting. Menjelang siang, kami mengunjungi pak Fredy Yuniansyah sebagai Airport Supervisor untuk mendapatkan penjelasan mengenai pekerjaan yang berkaitan dengan airport.

Tugas utama airport Matak Base adalah mengoordinasikan penerbangan fixwing dan rotating wing berdasarkan permintaan pengguna jasa penerbangan. Kami juga mengunjungi airport dan melihat aktivitas despatcher, di hanggar kami menemui para pilot helikopter, dan juga ke menara melihat aktivitas radio operator.

Sore hari kami pergi ke ds. Langir, tak lupa mampir ke rumah pak Amir untuk makan kelapa muda. Sampai di desa Langir kami terus menuju dermaga Langir dan menikmati senja, serombongan bangau pulang ke sarang, sedangkan kelelawar keluar mencari makan.

Setelah menunaikan salat magrib di masjid, kami menuju rumah pak Safri, di sana hidangan seafood telah menanti. Kami segera kembali ke base sebelum jam 9 malam.

[pob.30.03] mengunjungi lokasi tangki dan incinerator. Melihat sumber air bersih. Clinic. Jalan sore. Menikmati bintang di ujung runway.

Berencana pagi itu kami ke Terempa, sesampainya di dermaga Payalaman, kami dapati ramai orang sudah memenuhi pompong reguler, berikut juga pompong tambahan. Rupanya itu hari libur nasional, ditambah para pelajar akan melakukan perjusami keesokan harinya, sehingga ramai orang pergi berbelanja ke Terempa. Kami tidak jadi berangkat dan akhirnya kembali ke base setelah sarapan di kedai dekat dermaga.

Sesampai di base, setelah berbenah, kami menemui pak Arifin yang hari itu mengajak kami menengok rencana lokasi tangki dan incinerator. Dari lokasi tersebut kami menengok sumber air bersih yang menjadi reservoir bagi kebutuhan air di base. Lokasi mata air terlindung dengan baik dan tumbuh di sekitarnya tanaman pandan yang membuat harum suasana.

Kami menuju klinik untuk memberi ucapan selamat kepada dr Ary yang diangkat menjadi chief medical support. Setelah lebih dari 8 tahun mengabdikan profesinya di Matak, dan setelah tiada lagi orang yang memenuhi persyaratan menjadi chief medical, dr Ary diberikan amanah tersebut.

Sore itu, dengan sepeda motor kami pergi menyusuri pantai pulau Matak. Dari Matak Base kami ke Masjid Raya Payalaman, mengambil jalan ke Batu Ampar, dilanjutkan ke arah Putik, Ladan, Tebang, menyeberangi jembatan kayu ke Candi, Teluk Gali, Piabung dan terakhir ke dermaga Kampung Baru. Setelah mengambil gambar dan menikmati senja, menjelang magrib kami kembali ke base.

Saya dan bagus berhenti di Masjid Raya untuk menunaikan salat magrib. Keluar masjid, kami bertemu dengan dr. Ary. Kami bertiga kembali ke base dengan mobil. Di messhall, diskusi mengenai Gie dan idealisme bersama dr Ary berlangsung selama makan malam.

Malam itu, dr Ary membawa berkat dari acara pengajian di masjid, setelah mampir di rumah Rais di payalaman, saya mengajak bayu dan wiwin ikut bersama dr Ary ke ujung runway. Bagus sudah nyenyak di kamar. Ngemil kue berkat dan berbual-bual di atas selimut yang dihampar di atas aspal, menikmati bintang-bintang di langit ditemani musik oldies yang mengalun dari tape mobil dr Ary.

Bercerita tentang iqbal, anak asuh dr Ary, berbual tentang humor jenaka, berkisah tentang negeri segantang lada, dan terlelap dalam asuhan malam. Sekitar jam 1 ½ pagi, langit menitikkan gerimis, kami segera bangkit dan masuk ke mobil, melanjutkan tidur di kamar.

[pob.31.03] main tennis. Presentasi. Ke Terempa. Syukuran di TK Anoa.

Bermain tennis lagi, nonton film Gie yang dipinjamkan oleh dr Ary. Setelah salat jumat dan makan siang, kami diminta menyampaikan presentasi di training room. Selesai pada waktu ashar, kami diminta bersiap-siap untuk jalan ke Terempa. Dengan speed boat seharga mercedes, kami bertiga, pak Arifin, dr Ary, Era dan Wiwin serta pak Yusuf meluncur ke Terempa. Menikmati senja di ibukota kecamatan Siantan. Kegiatan sore hari penduduk kota itu di antaranya bernyanyi karaoke, berolahraga di antaranya bermain tennis, bola kaki dan sepak takraw, ada juga yang berjoging.

Menjelang petang, kami makan mie di kedai dekat dermaga. Pulang dari Terempa, kami mengalami petualangan melaut, berpapasan dengan kelelawar yang terbang melintasi speedboat kami, dan berayun dahsyat di akar bergayut. Di sebut begitu karena ombak mengayun boat kami dengan luar biasa, selain itu lokasi akar bergayut berada di atas palung laut. Alhamdulillah, kami sampai di base dengan selamat.

Malam itu kami diundang untuk mengikuti acara syukuran di TK Anoa, mensyukuri dimulainya beroperasi salah sebuah anjungan produksi lepas pantai di lapangan Anoa.

**


15 Trip M-2

16 April, 2006

[pob.23.03] Down to Matak. CD Program.

Pagi itu kami turun ke Matak bersama rombongan pak Johanes. Jam 9 kami diajak berkeliling fasilitas di Matak Base. Kami mengunjungi Warehouse, Harbour, Jetty, Hanggar, Explosive House, Airport, mendengar dari pak Johane tentang sejarah Matak dan perkembangan yang dialami. Kemudian melihat jalan ke Teluk Sunting, tetapi tidak berhasil terus karena mobil yang kami tumpangi tidak sanggup mendaki bukit, akhirnya kami kembali ke Matak Base.
Setelah makan siang, kami melanjutkan kegiatan mengunjungi Pulau Beleba, melihat terumbu karang yang dibiakkan di sana. Untuk ke Pulau Beleba, dari Matak Base kami menuju Desa Ladan, dilanjutkan perjalanan pompong. Di Pulau Beleba kami habiskan waktu sampai sore. Kemudian kami kembali dan menuju landasan menikmati senja.

Malam hari kami makan malam di rumah pak Hasnan, despatcher Airport, hidangan khas laut yaitu ketam bumbu dan pepes ikan, serta abon ikan. Sepulangnya kami mampir melihat mobile hospital di Payalaman, kemudian menuju landasan untuk menikmati bintang-bintang.

[pob.24.03] ke BLK Antang di Teluk Buluh. Ke Air Terjun di Temburun. Makan siang di Tanjung Tebu. Menikmati sunset di Pulau Langu.

Dengan boat, kami bersama rombongan pak Johanes menuju Teluk Buluh di Pulau Siantan. Setelah mampir di rumah seorang pegawai, kami berjalan ke BLK Antang. Sebuah balai latihan kerja yang dibangun oleh perusahaan sebagai program pengembangan masyarakat. Setelah setahu dibina, BLK ini diserahkan pengelolaannya oleh perusahaan kepada Depnaker. Tetapi sejak itu pula BLK ini tinggal bangunan saja. Peralatan di dalamnya tidak terawat dengan baik karena tidak ada dana untuk perawatan. Selain itu sudah jarang orang yang menggunakan BLK sebagai pelatihan. Menyedihkan..

Dari BLK kami berjalan melalui pabrik es batu. Kemudian dengan boat kami menuju Temburun. Temburun terkenal dengan objek wisata air terjun. Menuju ke lokasi air terjun dilakukan dengan mendaki bukit. Sesampainya di air terjun, pemandangan ke atas dan ke bawah sama indahnya. Memandang air terjun, mendengar percik dan riak air sangat syahdu. Memandang ke selat, pulau-pulau sangat damai. Subhanallah…

Kami sempatkan mandi di danau dan merasakan pijatan air terjun di punggung kami. Sangat segar dan menyenangkan.

Kami makan siang di Tanjung Tebu, sebuah rumah makan dan penginapan yang melakukan konservasi terhadap terumbu karang dan penyu. Kemudian kami pulang ke Matak Base dengan hati senang.

Sore hari kami dijemput untuk ke pulau Langu. Di sana kami menikmati senja dengan berenang. Ketika sedang menikmati pemandangan bawah laut, saya merasa tidak enak, kaki sulit bergerak, dan saya menelan banyak air laut, oh no… i was drowning! Untunglah beberapa orang segera menolong, walau pada mulanya tak yakin apakah saya bermain-main atau serius. Sesampainya di pantai, saya minum banyak air dan batuk.

Penasaran dengan pemandangan bawah laut yang indah, saya hendak kembali snorkling, kali ini mengenakan life vest. Dengan life vest saya merasa lebih nyaman, karena jika lelah, saya tinggal diam dan tak perlu tenggelam. Life vest membuat tubuh senantiasa mengambang. Puas menikmati keindangan terumbu karang, saya kembali ke pantai.

Sunset, kami kembali ke Base.

Makan malam dilakukan di saung barak 5, di sana telah menunggu pak Johanes dan teman-teman pekerja yang tergabung dalam Junior Focus Group. Focus Group merupakan team yang dibentuk oleh pak Johanes sebagai sarana pengembangan diri dan juga menjadi corong objektif dalam menanggapi isu yang berkembang di kalangan pekerja.

Kami diminta menjadi pembicara dalam pertemuan itu, menyampaikan kegiatan usaha hulu migas dan konsep kerja sama yang dibangun pemerintah dengan kontraktor migas.

[pob.25.03] sunrise at Payalaman. Senior Focus Group meeting. Hujan.

Pagi-pagi kami menuju dermaga Payalaman, menanti matahari terbit. Menikmati suasana pagi yang sejuk dan damai. Jam 8 ½ ditunggu di training room untuk bertemu dengan Senior Focus Group dan menyampaikan hal serupa yang disampaikan kepada Junior Focus Group. Ada perbedaan nilai dan metode penyampaian, supaya lebih mudah ditangkap maksudnya. Diskusi pun berlangsung dengan seru.

Pak Johanes dan rombongan kembali ke Jakarta pagi itu. Kami tetap berada di Matak sampai sabtu depan. Siang itu hujan mengguyur Matak.


14 Trip 3-2

16 April, 2006

[pob.19.03] jam 5 ke LGP. Morning meeting. Alarm drill. Tidur. Diskusi di messhall. Masuk kamar 303.

Pagi-pagi sekali kami harus berangkat ke LGP karena Pan Marine boat yang akan mengantar personel ke lokasi platform dan PBSJ menjemput kami lebih dahulu. Tanpa mandi dahulu, kami menuju crane untuk personel transfer dari Intan FSO ke boat.
Pemandangan subuh sangat indah, memandang Intan FSO, tanker yang sedang tambat, LGP-DPPA, WHPB, dan lokasi platform yang jauh dalam balutan cahaya lampu.Personel transfer dari boat ke DPPA tidak dilakukan dengan crane karena sedang diperbaiki, sehingga kami berpindah menggunakan jump rope. Kami diberitahu HLO agar kami menaruh barang di ruang rekreasi terlebih dahulu dan menuju muster station di DPPA jika terjadi alarm. Kamar untuk kami baru dipersiapkan setelah jam 10 karena tamu dari Jakarta baru akan pergi meninggalkan LGP pada jam itu.

Setelah menaruh bawaan di ruang rekreasi, saya dan bagus salat subuh di musala, kemudian menyusul bayu di messhall untuk sarapan. Setelah sarapan, kami mengalami alarm drill lagi. Kali ini hanya bersandal dan tanpa hard hat kami langsung saja menuju muster station kami di DPPA. Setelah itu dilanjutkan dengan morning meeting mengevaluasi alarm drill dan persiapan operasi hari itu.

Pagi itu kami beristirahat di musala, setelah coffee break kami diskusi dengan pak Joseph dan pak Didik di messhall mengenai pengalaman kami selama berkeliling lokasi serta rencana presentasi kami di LGP.

Siang hari kami masuk ke kamar 303 untuk beristirahat.

[pob.20.03] morning meeting. Paperwork.

Hari itu kami isi dengan paperwork saja.

[pob.21.03] presentasi 19.40 – 21.40

diskusi berlangsung seru!

[pob.22.03] ada ahli gizi. Rencana turun besok.

Indocater melakukan survei gizi para pekerja, sang ahli gizi bernama Rita Ulia mengejar para responden dengan pertanyaan makanan apa saja yang diasup oleh mereka pada waktu makan, coffe break dan saat bekerja. Dari data tersebut, Rita mengevaluasi pola makan responden berdasarkan ilmu gizi dan memberikan saran perbaikan pola makan dan jenis makanan yang diasup.

Pak Johanes Karundeng, bersama team Ethics datang memberikan presentasi di hadapan para pekerja. Beliau mengajak kami turun ke Matak untuk melihat-lihat program pengembangan masyarakat di Matak dan sekitarnya.


13 Trip 3-1

16 April, 2006

[pob.11.03] berangkat ke MOGPU. Orientasi dan plant tour. Presentasi.Keberangkatan kami ke MOGPU cukup santai, kami masih bisa sarapan dan berbincang di kantor Matak. Helikopter kami berangkat jam 9 ½ pagi. Sesampainya di MOGPU, hard hat Bagus tertinggal di bagasi helikopter sehingga ia harus meminjam hard hat untuk visitor.MOGPU (Mobile Offshore Gas Processing Unit) adalah fasilitas unit pemrosesan gas yang dapat berpindah. Di sini selain memroses gas dari lapangan sekitar, ia juga menjadi muara dari lapangan-lapangan lain sekaligus pintu gerbang ekspor gas menuju ke Singapura maupun ke Malaysia.

Fasilitas MOGPU adalah fasilitas bintang lima, begitu kawan-kawan pekerja menyebutnya. Setiap koridor dilapisi karpet merah, di setiap kamar terdapat televisi, komputer dan akses internet, serta pesawat telepon. Fasilitas ini tidak didapatkan di anjungan lepas pantai lain yang telah kami kunjungi. Di ruang rekreasi terdapat PS2 serta alat karaoke. Makanan yang dihidangkan berselera nusantara lagi lezat.

Benar-benar kenyamanan bintang lima. Belum lagi karena fasilitasnya yang cukup kecil dan hanya mampu menampung maksimum ideal 35 orang, suasana kekeluargaan yang kental terasa di sini. Bagus ditempatkan di kamar 316, sedangkan saya dan Bayu ditempatkan di kamar 304.

Orientasi proses dipandu oleh pak Ery Kisnanto, plant tour dipandu oleh Ruwandy dan Kamarullah. Proses yang terdapat di MOGPU cukup sederhana, hal ini dikarenakan gas yang dihasilkan oleh sumur-sumur sekitar adalah dry gas sehingga perlakuan untuk gas export hanya untuk memisahkan gas dari air saja.

Sore hari kami diminta mempresentasikan tentang kegiatan usaha hulu migas di ruang rekreasi. Presentasi dan diskusi berlangsung selama 2 jam.

Di kamar, karena terdapat akses internet, kumanfaatkan sebaik-baiknya untuk menulis dan mengaplod data. Tidurpun menjadi lebih larut.

[pob.12.03] morning meeting, alarm drill. Internet. Diskusi dengan pak Abdillah. Presentasi.

Pagi itu morning meeting diisi tentang pencapaian kinerja HSE selama bulan januari dan februari dan pembagian reward kepada pekerja yang memenuhi kriteria kinerja.
Seperti sebelum-sebelumnya, di MOGPU kami juga mengalami alarm drill. Kali ini bertema abandon fasility, sehingga setelah dihitung personel on board sesuai dengan kartu-T, kami dipersilakan masuk ke dalam lifecapsule yang muat untuk 25 orang. Terbayang jika harus menyelamatkan diri dengan kapsul tersebut, persediaan pangan yang minim, terombang-ambing di tengah samudera, akses udara yang minim. Wah!

Bertemu dengan pak Abdillah dimanfaatkan dengan berdiskusi mengenai mentalitas orang Indonesia. Kebanyakan hanya mengeluh dan menyayangkan tanpa mau bergerak membuat perubahan mendasar pada dirinya dan sekitarnya. Kebanyakan hanya mencari kambing hitam tanpa berpikir bagaimana menyiasati nasi yang sudah menjadi bubur. Kebanyakan mau membeli tanpa mau merawat peralatan yang telah dibeli. Kebanyakan pasrah kepada zona nyaman tanpa mau mengembangkan diri yang berisiko meninggalkan zona nyaman mereka untuk lebih maju.

Sore itu dilanjutkan dengan presentasi mengenai konsep kerja sama migas yang dibangun oleh pemerintah dan kontraktor migas, berlangsung 2 jam juga.

[pob.13.03] exercise. Control room. Refrigeration System. Karaoke.

Pagi itu setelah morning meeting, kumanfaatkan waktu dengan exercise di fitness room. Lumayan untuk mencari keringat, membakar lemak dan kalori, serta mempelajari teknik baru flatting abdomen untuk mendapat sixpack dengan baik. Wah, butuh effort lebih nih ..

Kuhampiri control room untuk belajar membaca panel dan menanyakan trending system. Sore hari belajar refrigeration system pada sesi knowledge sharing, serta permasalahan yang dihadapi di refrigeration system (eg. Hydrate). Malamnya diisi dengan karaoke di ruang rekreasi.

[pob.14.03] morning meeting. Bayu pindah. Tidur siang.

Pak Abdillah turun hari itu, beliau memberi kami kenang-kenangan berupa topi. Pada hari crew change ngga banyak yang bisa dilakukan, karena semua orang disibukkan dengan kegiatan handover. Bayu pindah ke kamar 316 karena teman sekamar Bagus pulang sedangkan seseorang yang biasa di kamar 304 datang.

Saya biasa melakukan paperwork di kamar, sehingga yg dipindah adalah bayu. Bayu punya computer station di fireroom (ruang untuk fotokopi) dan bagus punya computer station di ruang rekreasi.

[pob.15.03] morning meeting. Control room. Maintenance.

Morning meeting pagi itu dipimpin oleh pak Agus Marletin, seseorang yang memiliki gaya berbeda dengan pak Abdillah. Pak Abdillah lebih suka memimpin dengan menerapkan prinsip-prinsip peraturan yang berlaku dan terkesan agak kaku walaupun sebenarnya bertujuan mempopulerkan peraturan. Sedangkan pak Agus jauh lebih cair dan tidak terlalu menggubris aturan. Ah, setiap orang punya gaya berbeda, mengapa harus dipermasalahkan?

Setelah berdiskusi dengan pak Ery, kami menuju ruang kendali, di situ saya berdiskusi dengan Kamarullah, sedangkan bayu dan bagus menuju ruang warehouse. Sore harinya berdiskusi dengan pak Mulyatno mengenai kegiatan maintenance di MOGPU.

[pob.16.03] HSE. Kitchen. Presentasi. Bagus pindah. Cari bahan drilling.

Di MOGPU tidak terdapat dokter sebagai kampiun HSE, hanya seorang mantri kesehatan yang bekerja rangkap sebagai radio operator dan HLO. Pak Mulyadi namanya, menjelaskan kepada kami dengan sangat baik semua lingkup pekerjaannya. Kemudian kami menuju kitchen dan berdiskusi dengan campboss pak Eko, membincangkan tentang sistem dan kendala yang dihadapi oleh campboss. Terutama mengenai behavior pekerja catering.

Hari itu manajer lapangan Western Hub mengunjungi MOGPU, sehingga Bagus dipindah ke 325 bersama pak Ery. Mereka dapat melanjutkan diskusi mengenai proper dan HSE lebih jauh. Pak Eko Putro sang manajer tinggal sekamar dengan Bayu di 316.

Sore harinya, kami melakukan presentasi mengenai hasil orientasi kami selama di MOGPU. Atas permintaan pak Mulyatno, saya diminta membagi pengetahuan tentang kegiatan eksplorasi dan produksi. Jadilah malam itu saya mengejar bahan di internet.

[pob.17.03] bertapa di kamar. Knowledge sharing. Diskusi dengan pak Ery.

Sepagian saya habiskan di kamar membuat bahan presentasi untuk sesi knowledge sharing sore harinya. Presentasi mengenai kegiatan eksplorasi dan produksi perminyakan sukses, para hadirin puas dengan presentasi saya. Alhamdulillah, ngga sia-sia mengurangi jatah tidur, lagipula saya jadi belajar lagi mengenai eksplorasi dan pemboran .

Malam itu di kamar pak Ery, bersama Bagus saya berdiskusi hingga larut malam, mengenai banyak hal.

[pob.18.03] bangun kesiangan. Diskusi dengan FM. Bermalam di Intan FSO.

Akibat tidur larut malam, pagi itu saya bangun kesiangan. Setelah sarapan, berkumpul di ruang rekreasi dan berdiskusi dengan pak Eko Putro. Kemudian menyambangi ruang kendali dan mengambil gambar bersama teman-teman pekerja. Siang itu kami berencana ke LGP, tetapi karena ada tamu dari Jakarta, sedangkan ruang tinggalnya terbatas, kami terpaksa menginap di Intan FSO.

Tempat bermalam kami adalah kontainer yang didesain menjadi kamar tidur 4 bed. Wah, drastis sekali perubahan kenyamanan yang kami terima di MOGPU dan Intan FSO. Ya sudah, kami harus menikmati semalam di terminal tersebut sebelum ke LGP.

Intan FSO merupakan kapal tanker yang menjadi terminal internasional, karena di Intan FSO-lah bertambat berbagai kapal tanker dari dalam dan luar negeri untuk membeli minyak. Saat kami tiba, sedang tambat sebuah tanker melakukan pengisian minyak, dan telah menunggu beberapa tanker di sekitarnya.


12 Sepercik Semangat dari Matak Kecil

6 April, 2006

Kampung terdekat Matak Base adalah Gunung Cak, Payamaram dan Payalaman. Di seberang jetty terdapat kampung Batuampar. Sedangkan yang agak jauh adalah Putik, Ladan, Tebang, Candi, Teluk Gali, Piabung dan Kampung Baru. Pada jalan yang lain adalah Langir. Dari Gunung Cak ada jalan menuju Matak Kecil. Dari Payamaram terdapat jalan menuju Teluk Sunting. Semua kampung tersebut terletak di pulau Matak. Kebanyakan kampung berada di pesisir pantai.Pulau Matak adalah salah satu pulau di kepulauan Anambas yang berada di Laut Natuna Selatan. Batuan vulkanik merupakan pondasi pulau-pulau di Anambas. Sebagian besar pantainya bercadas, hanya sebagian kecil yang berupa pasir putih.

Hutan-hutan di pulau Matak digunakan sebagai ladang karet, durian, singkong, kelapa dan cengkeh. Hewan-hewan penghuninya diantaranya adalah kancil, ular, anjing, bangau, biawak, elang dan kalong. Hewan ternak yang dipelihara penduduk antara lain: ayam, itik, kerbau, dan sapi.

Sore yang cerah, kami memutuskan untuk berjalan menuju Matak Kecil. Keluar dari pos penjagaan Matak Base ke arah kanan melalui kampung Gunung Cak, kemudian berbelok ke kiri menyusuri jalanan tanah yang mendaki. Pendakian landai namun melelahkan karena treknya panjang sekali. Sesampainya di dataran pada sebuah tempat yang dapat disebut puncak kami bertemu dengan seorang petani karet yang sedang beristirahat. Karet ia ambil dari hutan di atas bukit, kemudian dengan gerobak dan pikulan ia bawa karet tersebut menuju Matak Kecil. Terbayang betapa besar usaha yang dilakukannya untuk mencari nafkah. Dari Matak Kecil, ia harus menyusuri selat menuju Tarempa dengan menggunakan pompong. Di Terempa-lah karet-karet itu akan dijual.

Perjalanan kami lanjutkan dengan menuruni bukit, sebagian telah dikongkrit dengan peluran semen dan pasir. Namun jalan menurun ini sangat curam dan licin oleh pasir tanah. Hingga sampailah kami di dekat dermaga PT. PAN. Di sisi bukit kami temui dua orang sedang membakar batu. Batu tersebut sudah dibakar selama 3 jam, dan terus dibakar hingga cukup rapuh untuk dipecah. Pecahan batu akan digunakan sebagai pondasi rumah penduduk.

Kami berkenalan dengan salah seorang dari pembakar batu itu, namanya Erwan. Ia mengajak kami mampir di rumahnya. Rumahnya langsung dapat dikenali dari jauh, karena warna cat yang berbeda dengan rumah sekitar. Erwan pernah bekerja sebagai pegawai catering di Matak Base, namun ia berhenti karena mendengar PT. PAN membutuhkan pekerja. Akan tetapi sampai saat itu ia masih belum bekerja di PT. PAN.

Di rumahnya, Erwan mengusahakan warung kebutuhan sehari-hari. Ia menyuguhi kami dengan botol air mineral dan sebungkus kacang kulit. Sambil menikmati udara pantai di sore hari, kami ngobrol banyak hal. Dari obrolan itu kami ketahui bahwa Erwan yang kelahiran Matak pernah merantau ke Ranai ketika ia menginjak kelas 2 SD. Orang tuanya tidak mampu menyekolahkan beliau hingga tamat. Dengan bekal semangat ia pergi meninggalkan kampung halamannya menuju Ranai di kepulauan Natuna Besar. Di perantauan, ia tinggal bersama orang yang mau menampungnya. Ia rela disuruh mengerjakan segala pekerjaan asalkan ia tetap dapat sekolah. Ketika menginjak SLTA, ada seorang pejabat lokal yang bekerja di PLN mengangkatnya sebagai asuhan. Erwan dibiayai sekolahnya hingga selesai. Namun, orang baik itu harus bertugas di Padang, ia menyarankan kepada Erwan agar meminta ijin orang tua jika hendak mengikut beliau ke Padang.

Pulanglah Erwan ke Matak Kecil dan menyampaikan maksudnya kepada orang tuanya, tetapi orang tuanya mencegah kepergian Erwan. Tidak berapa lama, sang ayah meninggal dunia, menyusul pula sang ibu beberapa waktu kemudian. Erwan dititipi amanah menjaga adik-adiknya perempuan. Karena khawatir akan pengurusan adik-adiknya, Erwan menikah dengan seorang gadis di kampungnya dengan maksud istrinya mampu menjadi kakak sekaligus ibu bagi adik-adiknya.

Sampai kini Erwan memiliki semangat untuk tetap berjuang menghidupi diri dan keluarganya. Ia juga masih punya harapan untuk hidup lebih baik.

Senja pun tiba, setelah membayar minuman dan snack, kami berpamitan dan berlomba dengan malam untuk mencapai Matak Base sebelum gelap.


11 Trip M-1

1 April, 2006

[pob.07.03] main tennis. Ke kantor. Tidur siang. Jalan di landasan.[pob.08.03] main tennis. Ke warehouse meet pak Ronald Mambu. Tidur siang. Jalan di landasan bersama dr Ary dkk.[pob.09.03] main tennis. Ke warehouse. Jalan-jalan ke Matak Kecil. Meet pak Erwan, pemilik rumah oranye.

[pob.10.03] ke warehouse dan jetty port. Jumatan. Istirahat.
Berlibur atau tidak, berada di Matak sama saja, kegiatan kami lebih banyak untuk berolahraga dan beristirahat. Sebenarnya kami punya jatah on duty di Matak pada akhir program, tetapi kami sepakat untuk menggunakan sebagian waktu libur kami untuk mempelajari kegiatan di Matak Base.Setelah kami temui pak Arifin, base superintendant, menyampaikan maksud kami tersebut, mulailah program di Matak Base. Di kantor, kami bertemu dengan pengurus community development, pak Akmal Ruzzaman. Beliau sedang menyiapkan laporan kegiatan dalam bentuk dokumen dan presentasi. Kami diminta mengajarkan beliau beberapa keys untuk penyiapan laporan.

Kami dikenalkan dengan pak Ronald Mambu, supervisor warehouse. Hari pertama digunakan untuk warehouse touring, melihat-lihat penyimpanan barang-barang di yard dan warehouse, dan sistem inventory. Di yard kami temukan barang-barang tubular dan stok asesoris untuk keperluan pemboran, dan juga stok sisa proyek. Sistem inventory memudahkan penyimpanan dan pencarian barang-barang di warehouse.

Hari kedua kami mempelajari sistem receiving dan issuing. Receiving adalah sistem penerimaan barang yang datang dari Jakarta maupun vendor. Barang-barang yang diterima dapat merupakan barang yang dipesan (order) maupun barang untuk memenuhi stok minimum. Issuing adalah sistem pengeluaran barang dari warehouse kepada pengguna. Untuk barang-barang yang dipesan oleh fasilitas offshore, Matak warehouse hanya sebagai transit saja sehingga tidak masuk dalam catatan receiving dan issuing.

Hari ketiga kami mempelajari order, return, dan mengunjungi port. Order adalah sistem pemesanan barang berdasarkan permintaan pengguna maupun memenuhi stok minimum. Return adalah sistem pengembalian barang-barang yang spesifikasinya tidak sesuai dengan permintaan. Untuk pengembalian barang tersebut dilengkapi dengan non-conformable report. Sedangkan untuk jumlah yang tidak sesuai, hanya dilakukan notifikasi saja. Port melayani offloading dari yard atau warehouse ke kapal untuk dikirim ke fasilitas offshore maupun dari/ke vendor/Jakarta dan yard.

Jika di pagi hari kami manfaatkan waktu dengan bermain tennis, sore hari kami gunakan untuk berjalan-jalan, baik itu di landasan ketika sudah tidak ada lagi jadwal penerbangan (kira-kira jam 5 sore) maupun jalan-jalan ke kampung di luar Matak Base.


%d blogger menyukai ini: