10 Off 2

28 Maret, 2006

[pob.04.03] down to Matak. 410jam 5 sore kami sampai di Matak, bertemu dengan pak Arifin Sjukur dan dr. Ary yang sedang menuju landasan untuk jogginng sore itu. Kebetulan helikopter yang kami tumpangi adalah penerbangan terakhir. Kami diminta menempati kamar 410, karena kamar 112 yang pernah kami tempati pada Off 1 lalu sedang ditempati oleh teman-teman yang sedang mengikuti pelatihan oil spill sejak tanggal 1.Kamar 410 memang bukan kamar yang disarankan untuk pekerja pihak pertama maupun pihak kedua. Barak 4 adalah barak untuk pihak ketiga, para subkontraktor. Tetapi yang mengesalkan kami adalah perbedaan pelayanan dalam perawatan kamarnya. Coret-coretan di kayu tempat tidur, bantal yang bau apek. Walaupun dilucuti sarung bantalnya dan spreinya, tetap saja bau. Waaa… malam itu tidur tanpa bantal dan sprei. Hanya selimut dan itupun bau matahari. Hiks…[pob.05.03] main tennis. Tidur siang. Main ke pulau Langu dan berenang bersama pak Arifin dan teman-teman oil spill training.

Pagi itu kami main tennis, berkenalan dengan orang surveyor, dan menjemur bantal! Siang yang panas bikin bantal yang berpulau-pulau itu menguap baunya. Beberapa orang dari peserta pelatihan oil spill adalah teman-teman yang pernah kami jumpai di LGP. Jam 4 ½ kami dijemput pak Arifin dan menuju jetty. Dengan rescue boat kami meluncur ke pulau Langu dan bersenang-senang sampai magrib.

Makan malam kami saat itu spesial, barbeque dari berbagai macam ikan, ayam dan daging sapi. Wow.

[pob.06.03] main ke Terempa. Tidur siang. Jalan cepat di landasan.

Jam 6 ½ pagi kami bergegas menuju dermaga Payalaman, alhamdulillah mendapat tempat duduk di pompong. Perjalanan menuju Terempa lebih lambat daripada perjalanan kami sebelumnya. Sesampainya di Terempa, kami mampir ke kedai Murai, minum secangkir teh atau kopi. Setelah itu kami berjalan menyusuri pantai sebelah barat. Beberapa rumah penduduk berada di daratan, sebagian lain bertopang susunan kayu di atas pantai.

Ada batu yang dibelah menjadi jalan orang lewat. Kami terus berjalan sampai ke vihara yang berada di tebing. Untuk mencapainya harus menaiki undakan. Bangunan vihara ini terlihat menarik ketika kita berada di dalam pompong pada perjalanan dari dan ke Tarempa. Beberapa komunitas keturunan tionghoa hidup di sekitar vihara, bekerja sebagai pedagang, nelayan maupun petani. Pemandangan dari halaman vihara amat indah. Kita dapat memandang perairan teluk dan selat, maupun kota kecil bernama Tarempa yang berada di teluk sebelah utara pulau Siantan.

Dari vihara, kami kunjungi penginapan tanjung Indah yang dibangun menjorok ke teluk untuk mendapat pemandangan teluk Tarempa yang indah. Di depan penginapan, terdapat perajin pompong bernama pak Sabli. Saat kami kunjungi, beliau sedang mengerjakan pesanan pompong dengan panjang 8 meter. Di Tarempa, hanya dia perajin pompong saat ini. Kayu penyusun pompong diusahakan papan solid yang panjangnya sesuai panjang pompong yang diinginkan dan tidak terpotong. Untuk membuat lekukan perahu, papan tersebut dibakar sebelum dilekukkan. Setiap celah antara papan diisikan dengan kulit kayu gelam yang dapat mengembang ketika terkena air. Menyambungkan antara papan sebagian besar dengan pasak kayu dan sebagian lagi dengan paku atau murbaut besi.

Kami lanjutkan perjalanan ke pasar, mencari sandal berpelindung tumit, dan tidak kami dapatkan satupun. Kemudian menuju penjahit untuk menjahit celana pendek kami bertiga yang sobek. Dan makan di kedai pinggir laut yang dekat dermaga dan menghadap ke teluk.

Di kedai kami berkenalan dengan Sabri, seorang petugas dinas kesehatan yang berasal dari Medan. Beliau lulusan Akademi Kimia Analis dan pernah bekerja di Papua sebagai analis laboratorium Freeport. Resah hatinya meninggalkan sanak keluarga membuatnya keluar dari pekerjaannya dan menjadi petugas dinas kesehatan di Terempa. Walaupun penghasilannya tak seberapa dibandingkan dari pekerjaan sebelumnya, ia lebih merasakan ketenangan.

Ada banyak hal yang tidak kita pahami mengapa seseorang berbuat sesuatu yang menurut kacamata materi mengherankan, tetapi justru itulah yang membuat hidup menjadi lebih menarik 🙂Belajar dari pengalaman pertama kami ke Tarempa ([jou.13.02]) kami segera masuk ke pompong walaupun pompong baru akan berangkat setengah jam kemudian. Bersyukur kami tidak perlu duduk di atas atap perahu lagi. Berkenalan dengan pak Bukhari, seorang pekerja community development dari perusahaan partner kami.
Sesampainya kembali ke base, kami tidur siang. Sore itu saya pergi ke landasan untuk berjalan cepat. Beberapa orang saya temui sedang jogging di sore itu. Waktu 45 menit dihabiskan untuk berjalan cepat menjelang magrib.


09 Trip 2-2

26 Maret, 2006

[pob.20.02] morning meeting. Classroom for HSE Programs and Process Design Overview of FPSO.Dalam morning meeting di FPSO ada agenda yang disebut sebagai safety talks. Berhubung masih banyak orang asing yang bekerja di FPSO ini, the communication is conducted in English language especially for meetings. It’s not bad; as we can improve the capability of these workers in speak English as foreign language. Back to safety talks, juga disampaikan dalam bahasa Inggris. Setiap hari pembicaranya berbeda dari para pekerja dan sudah dijadwalkan dengan rapi.Agenda safety talks merupakan salah satu program dari HSE. Di antara program lainnya adalah sosialisasi prosedur, program championship, program weekly safety leader, audit, fire drill, dan safety training & observation program (STOP).

STOP menjadi tolok ukur keberhasilan penerapan HSE pada pekerja. Kegiatan STOP sendiri adalah menghentikan pekerjaan, memulai pemindaian keadaan dan potensi bahaya, melakukan intervensi, dan mencatat dalam kartu STOP. Kriteria pengisian kartu STOP yang baik harus memenuhi sebesar apa kewaspadaaan dan apa yang dilakukan untuk mengatasi potensi bahaya tersebut, baik kepada alat maupun orang. Setiap orang yang mengetahui dituntut untuk membuat kartu STOP.

Permasalahan laten yang harus diwaspadai oleh HSE advisor dan safety leader adalah ketika kartu STOP banyak dibuat oleh para pekerja dapat berarti tingkat kewaspadaan tinggi atau tingkat potensi bahaya tinggi, sedangkan ketika kartu STOP sedikit dibuat dapat berarti tingkat potensi bahaya rendah atau para pekerja sudah mulai lengah. Oleh karena itu, media safety talks dan safety campaign menjadi perhatian untuk terus mengingatkan para pekerja untuk senantiasa bekerja dengan aman.

Setelah pak Agung Djatmiko menyampaikan materi kelas mengenai HSE program, pak Ramli Pakeh sebagai superintendent operasi mengajarkan desain proses pabrik gas di FPSO.

Mengikuti materi yang disampaikan oleh pak Ramli, ingatan saya melayang ke masa kuliah dulu. Sebagai mahasiswa Teknik Gas dan Petrokimia, salah satu mata kuliah wajib adalah Pengolahan Gas. Kembali saya teringat tentang proses pengolahan gas alam sehingga menjadi liquified natural gas (LNG) dan LPG yang keduanya merupakan NGL (natural gas liquid).

LNG adalah Gas Bumi yang terutama terdiri dari metana yang dicairkan pada suhu sangat rendah (sekitar minus 160º C) dan dipertahankan dalam keadaan cair untuk mempermudah transportasi dan penimbunan. Sedangkan LPG adalah gas hidrokarbon yang dicairkan dengan tekanan untuk memudahkan penyimpanan, pengangkutan, dan penanganannya yang pada dasarnya terdiri atas propana, butana, atau campuran keduanya.

Di dalam FPSO proses pengolahan gas alam menjadi NGL mengalami beberapa perlakuan, yaitu:

  • Amine contactor sebagai alat untuk menghilangkan kandungan H2S pada gas alam
  • Mercury guard bed sebagai alat untuk menghilangkan kandungan merkuri
  • Mol sieve dehydration sebagai alat untuk menghilangkan kandungan air
  • Cryogenic Expander plant sebagai alat untuk memperoleh kandungan etana yang tinggi

LNG yang dihasilkan oleh FPSO utamanya untuk ekspor, dan sebagian digunakan sebagai fuel gas dan injeksi sumur. Gas injeksi bertujuan untuk mempertahankan tekanan reservoir. LPG yang dihasilkan oleh LPG plant akan ditampung pada FSO untuk LPG yang sedianya baru dioperasikan akhir tahun ini.Dari hasil perbincangan, diketahui bahwa FPSO masih membutuhkan tenaga kerja insinyur proses untuk dapat menghitung dan menganalisis kesulitan-kesulitan yang dihadapi di FPSO. Tertarik dengan tantangan ini, sempat tergiur juga untuk mencicipi pekerjaan di lepas pantai. Apalagi mendapat sinyalemen dari kantor agar saya belajar apa saja yang dapat mengembangkan kemampuan saya, barangkali dibutuhkan untuk masa depan. Who knows?[pob.21.02] morning meeting. Safety initiatives.

Tak banyak yang dapat diceritakan, sebagian besar pembicaraan mengenai safety sudah diungkap di atas. Saya malah ngeblog dan mulai menulis for dummies seri safety hehehe..

[pob.22.02] morning meeting. Kerja bakti suplai makanan. Management of change presentation.

Ada kerja bakti mengangkut bahan makanan dari container ke gudang dapur. Container terletak di section P2 dan S2 sedangkan gudang dapur berada di section 8 dan di level 2 living quarter. Untuk mencapai level 2, menggunakan tangga 1 level dari deck. Teman-teman yang di bekerja di container, mengeluarkan barang-barang dan menempatkannya ke dalam trolley, ada 3 trolley yang digunakan untuk mengantarkan barang sebanyak 2 container ke dekat gudang. Teman-teman yang di dekat gudang membentuk barisan untuk mengoper barang-barang dari deck ke level 2 diteruskan ke gudang.

Wah, pekerjaan hari itu menyenangkan sekaligus melelahkan.

Presentasi management of change sebagai sosialisasi kepada para leader bahwa setiap pekerjaan yang merubah desain harus dilakukan prosedur MOC.

[pob.23.02] tier-1 audit, housekeeping.

Diajak melakukan audit hosekeeping, dibagi dalam 3 team. Tim pertama ke level 2 gas plant, tim kedua ke level 1 gas plant, dan tim ketiga ke warehouse dan workshop.

[pob.25.02] PTW Review in morning meeting. Power management system with Rahmad Syamsudin.Permit to Work (PTW) merupakan dokumen resmi yang memastikan pekerjaan yang dilakukan sesuai prosedur dan telah mengidentifikasi kaitan dengan unit proses maupun pekerjaan lain serta meminimalisasi potensi bahaya. Prosedur PTW harus dilakukan dengan baik dan dokumen pendukungnya lengkap untuk mempermudah evaluasi.[pob.26.02] electricity touring.

Setelah belajar mengenai power management system pada hari kemarin, kami melanjutkan dengan touring melihat fasilitas pembangkit listrik dan ruang control yang memasok kebutuhan listrik seluruh FPSO. Berbahan bakar gas alam yang sudah diproses di gas plant, menghidupkan generator dan memasok kebutuhan listrik sesuai dengan daya yang dibutuhkan oleh alat-alat di fasilitas. Selain generator gas, FPSO juga memiliki cadangan generator diesel sebagai pendukung saat darurat.

[pob.27.02] Gas export process, operation touring and PTW system at control room with Fujiono.

Pak Ramli sulit ditemui untuk mengajar, beliau disibukkan oleh pekerjaan dan rapat-rapat. Posisinya sebagai superintendent membuat beliau sangat dibutuhkan. Hari itu beliau sangat sibuk, untunglah beliau telah mendelegasikan tugas mengajar kami kepada pak Fujiono.

Bersama dengan beliau kami mendalami proses pengolahan gas ekspor yang dilakukan di FPSO. Setelah cukup memberi pengantar, beliau mengajak kami melihat sosok unit proses secara langsung, menelusuri alur proses dari high pressure separator hingga gas export compressor. Setelah makan siang, kami bertemu kembali untuk mempelajari prosedur dan dokumen PTW.

[pob.28.02] offloading process

hari itu ada tanker yang merapat di single buoy mooring (SBM) untuk membeli minyak dari FPSO. Sebelum proses offloading dimulai, para leader bertemu dan membicarakan pre-job safety. Lamanya offloading proses berlangsung sesuai dengan jumlah barrel yang ditransfer dan kecepatan pompa. Untuk akurasi metering, dilakukan di dua tempat yaitu di tanker penerima dan di tanki pengirim, serta dilakukan running test setiap segmen untuk memastikan kesesuaian jumlah dan komposisi minyak yang dijual.

[pob.01.03] wellhead process with Dody Yuhanes

tidak sempat mengunjungi wellhead platform (WHP) karena kesibukan mentor di FPSO, membuat kami belajar mengenai proses yang terjadi di WHP hanya dari layar monitor di ruang kendali.

[pob.03.03] presentation

sebagaimana trip pertama, di akhir trip kedua ini kami diminta untuk menyampaikan presentasi mengenai hasil observasi dan learning kami mengenai proses operasi produksi, kendala dan usulan untuk FPSO. Kemudian diskusi dilanjutkan mengenai partnership antara perusahaan minyak dengan badan pelaksana kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi serta konsep kontrak kerja sama yang dibangun oleh keduanya.

Kali ini audiens presentasi kami tidak hanya dari para leader, para pekerja dan pihak ketiga yang berminat dipersilakan untuk hadir. Presentasi yang berlangsung selama 2,5 jam itu berjalan seru dan hidup.

[pob.04.03] down to Matak.

Akhirnya selesailah masa trip kedua kami. Peraturan keselamatan dan kesehatan kerja di perusahaan ini, setiap orang diperbolehkan berada di fasilitas produksi maksimal 21 hari dan diberikan masa berlibur minimal 7 hari dalam sebulan. Di awal masa OJT ini kami diberitahu bahwa masa “on” adalah 2 minggu dan masa “off” adalah 1 minggu.

Namun ketentuan perusahaan kami mengenai OJT bahwa peserta OJT tidak diperkenankan kembali ke republik Jakarta (pulau Jawa) selama masa OJT. Sehingga masa “off” kami harus dihabiskan di pulau Matak dan sekitarnya. Banyak hal exciting yang dapat kami alami selama berlibur di pulau Matak, yang tentu saja tidak mudah diperoleh jika kami berlibur di kota.

Teman-teman yang mendapatkan OJT di onshore, memanfaatkan waktu libur di kota propinsi terdekat dengan lokasi OJT. Sedangkan kami, bergumul dengan perahu, air laut, pulau-pulau, hutan dan bukit.

Helikopter yang akan menjemput kami kembali ke Matak, akhirnya datang sore setelah ditunggu sejak siang dan membuat kami sampai di Matak menjelang magrib.


08 Trip 2-1

14 Maret, 2006

Jam 5 ½ pagi, telepon di kamar berdering, membangunkan kami yang masih kelelahan. Suara di seberang telepon meminta kami cek in di bandara untuk keberangkatan jam 6 pagi. Walah!!! Pagi yang sangat sibuk, tak sempat sarapan, setelah mandi dan salat subuh, kami lakukan finishing pada packing barang-barang kami. Kemudian ijin kepada pak asep bahwa kami berangkat pagi itu.Tujuan kami pada trip 2 ini adalah fasilitas floating production, storage & offloading (FPSO) yang berada di Eastern Hub Operation.[pob.18.02] up to FPSO. Orientation.

Di FPSO kami disambut dengan program orientasi yang terjadwal, wah rupanya mereka lebih siap menerima kami. Pagi itu setelah meminta waktu untuk sarapan, kami mulai orientasi di ruang TV yang dijadikan sebagai classroom. Dibuka pengantar oleh pak Ian McCulloch sebagai field manager, dilanjutkan pengenalan FPSO oleh pak Nurzaini Maksum. Siang harinya tour melihat-lihat fasilitas FPSO.

Resiko yang nyata dihadapi para pekerja di FPSO ini selain keberadaannya di tengah laut, adalah kebocoran gas beracun dan merkuri. Gas beracun H2S berasal dari sumur gas sedangkan kandungan merkuri berasal dari sumur minyak. Dengan kondisi ini, setiap pekerja dibekali detector gas beracun portable, dan diharuskan menerapkan standar tinggi untuk kesehatan. FPSO dilengkapi fasilitas alarm yang sensitive terhadap percikan api dan kebocoran gas.

[pob.19.02] morning meeting. Fire drill. Classroom HSE Management System. Bypass Review Meeting. ERP Meeting. Toxic Gas Detect at about 9 pm go to muster station.

**

Morning Meeting

Seperti halnya di fasilitas operasi lainnya, di FPSO ini setiap pagi dilakukan morning meeting yang bertujuan sebagai sarana komunikasi dan informasi dari, oleh dan untuk para pekerja. Hal-hal yang disampaikan dalam morning meeting adalah:

Isu-isu yang berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan kerja dan lindungan lingkungan (HSE).
Isu-isu yang berhubungan dengan kebijakan manajemen, baik dari kantor pusat maupun dari operasi di lapangan.
Permasalahan, kemajuan, pesan dan saran, serta solusi yang berkaitan dengan pekerjaan.

Sebagaimana namanya morning meeting menjadi sarana efektif di awal hari kerja, sehingga para pekerja dapat menjalankan pekerjaannya dengan rasa aman, nyaman, waspada, dan senang.

**

Fire Drill for your reminder

Setiap orang yang baru naik ke fasilitas operasi akan diperkenalkan dengan peraturan yang berlaku di lingkungan kerja, di antaranya adalah pengenalan bunyi alarm dan muster point (tempat berkumpul yang aman), dan diberikan kartu personal yang berisi informasi penting. Tidak cukup hanya mengenal bunyi alarm di awal trip, setiap orang berpotensi untuk melupakannya sehingga dilakukanlah latihan alarm untuk berbagai kondisi seperti alarm kebakaran, alarm deteksi gas beracun, dan alarm meninggalkan platform.

Dengan dilakukan latihan alarm setiap kali trip, diharapkan para pekerja waspada dalam keadaan darurat, berjalan dengan tenang menuju muster point, membalikkan kartu personel (T-Card) milik sendiri, mengenakan life jacket, dan menunggu perintah komandan darurat. Untuk beberapa kondisi, latihan juga dilakukan dengan menjalankan mesin lifeboat dan memasukinya, latihan penanganan orang terjatuh ke laut (men overboard), dan latihan penanganan tumpahan minyak atau bahan-bahan berbahaya.

**

Toxic Gas Detect.. toxic gas detect..

Hari itu, setelah mendapatkan materi kelas mengenai HSE management system yang diaplikasikan di lingkungan perusahaan kontraktor tempat kami melaksanakan OJT, kami diajak berpartisipasi dalam beberapa meeting seperti bypass review dan table top.
Bypass review membahas pekerjaan-pekerjaan yang sudah selesai, ditunda, maupun dialihkan. Karena bersifat review, meeting ini cukup singkat. Detil pembahasan dilakukan oleh masing-masing bidang pekerjaan.Table top adalah meeting yang dihadiri oleh para leader seperti para supervisor, kapten, field manager, dan dokter. Pada hari itu table top dilakukan sebagai pengganti latihan men overboard karena kondisi cuaca yang tidak memungkinkan. Bahasan table top kali ini adalah rencana tanggap darurat (Emergency Response Plan – ERP). Masalah tumpahan api di laut menjadi tema pembahasan ERP. Meeting berjalan dengan cukup baik dan hangat.

Malam harinya, ketika mata mulai mendapatkan posisi ternyaman dalam terpejamnya, terdengar sayup nada dari speaker. Didengarkan lebih saksama ternyata bunyi alarm deteksi kebocoran gas beracun. Kami segera bangkit dari tempat tidur dan meninggalkan kamar 515 untuk menuju muster point di lantai 2. Setelah membalikkan T-Card masing-masing, kami bersama para pekerja lainnya menunggu informasi dari komandan. Beberapa saat kemudian terdengar pemberitahuan komandan bahwa isu alarm dapat dikenali dan hanya berupa false alarm, para pekerja di muster point dipersilakan kembali melakukan aktivitas masing-masing.

Menegangkan, bekerja di fasilitas lepas pantai dengan resiko tinggi seperti ini. Pantas teman-teman pekerja mendapatkan tunjangan resiko yang tinggi disamping tunjangan lain-lain dari perusahaan mereka. Sedangkan kami yang sedang melaksanakan OJT ini, hanya mendapatkan uang saku yang tidak besar.

(mungkin gak ya, kami dapat memperoleh tunjangan resiko dari perusahaan kami jika mereka tahu kondisi seperti ini? :D)

*


07 Jamban

12 Maret, 2006

Setelah bertahun-tahun, secara tidak terduga, saya mendengar kembali istilah “jamban”. Saya biasa menggunakan istilah lain untuk menyatakan tempat buang air itu, seperti “WC”, “toilet”, “kamar kecil”, “lavatory”. Beberapa tempat di Malaysia menggunakan kata “tandas” sebagai padanan kata. Oleh karena itu, ketika saya berkunjung ke rumah pak Safri, saya menggunakan istilah “tandas” – saya mengira bahwa bahasa melayu yang digunakan oleh orang-orang natuna adalah sama dengan bahasa melayu yang digunakan oleh penduduk Malaysia. Akan tetapi, keluarga pak Safri, berikut penduduk desa lainnya, secara maklum menggunakan istilah “jamban”.Saya sedang tidak hendak membahas lebih lanjut istilah “jamban” dalam kaidah bahasa Indonesia maupun bahasa lainnya. Saya akan kembali kepada tempat di mana saya mendengar kembali istilah itu.Di rumah pak Safri, yang disebut jamban adalah sebuah ruangan berukuran 1×1 ½ meter persegi yang terdapat pada kamar mandi berukuran 2×2 ½ meter persegi. Sebuah lampu minyak yang menempel di dinding ruangan menjadi sumber penerangan di waktu malam hari. Yang menakjubkan bagi saya setelah menunaikan hajat di jamban tersebut adalah ketika mendongakkan kepala ke atas mata saya tidak menangkap bentuk atap di sana, melainkan sebuah pemandangan indah yang amat langka.Pengalaman berada di jamban sebuah rumah pedesaan di waktu malam bulan purnama sangat mengesankan. Menatap langit bertabur bintang, cahaya rembulan membawa suasana syahdu, semilir angin menggoyang dahan-dahan pohon kelapa seakan-akan mereka ikut larut dalam tarian beriring musik fauna malam. Jamban berhasil membawa nuansa eksotik yang menyentuh perasaan saya tentang kerinduan damainya desa yang permai.


06 Off 1

11 Maret, 2006

[pob.12.02] turun ke matak (yesterday bad weather). makan ketam di ds Langir, rumah pak Safri.

Sesampainya di Matak, kami bertemu dengan pak Asep Sadikin, yang diserahi tanggung jawab mengelola operasi di Matak sementara pak Arifin Sjukur sedang off duty. Untuk tempat tinggal, kami mendapat kamar 112, menghadap ke taman. Siang itu kami gunakan untuk beristirahat setelah sekilas melihat-lihat fasilitas akomodasi yang terdapat di Matak Base.
Hujan yang mengguyur sepanjang waktu istirahat kami, cukup menyejukkan suasana (kabarnya di Matak jarang hujan). Sekitar jam 4 ½ sore, seseorang mengetuk pintu kamar kami. Ternyata Johan datang.

Johan adalah kenalan kami selama berada di LGP, dia senang berkenalan dengan kami, dia datang sore itu untuk memenuhi janjinya mengajak kami jalan-jalan di pulau Matak. Saya ikut dengannya untuk mengambil sepeda motor sebuah lagi di rumah kakaknya di desa Payaklaman. Kemudian kami berdua kembali ke base untuk menjemput bagus dan bayu.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah teluk Payaklaman, dimana dermaga pompong berada. Pompong adalah nama yang diberikan penduduk untuk sejenis perahu sebagai sarana angkutan air, mungkin nama itu berasal dari kesamaan bunyi mesin perahu: “pom-pom-pom-pom-pong!”

Perjalanan kami lanjutkan ke desa Langir. Sebelum sampai desa Langir, kami mampir di kebun kelapa pak amir dan membeli beberapa buah kelapa muda, kemudian kami minum airnya dan makan daging buahnya menggunakan sudu. Namun kabarnya lebih enak menggunakan sabut kelapa untuk mengoyak daging buahnya daripada menggunakan sudu (“sudu” adalah sebutan orang melayu untuk “sendok”).

Perjalanan ke desa langir melalui hutan dan jalan yang berbukit-bukit, beberapa kali tidak kuat sepeda motorku mendaki, kadang terpeleset pada lumpur, dan harus berhati-hati menjaga laju supaya tidak tertinggal jauh di belakang. Berpacu dengan gelap, akhirnya tibalah kami di desa langir, dan langsung menuju rumah pencari ketam (“ketam” adalah sebutan untuk “kepiting” atau “rajungan”).

Setelah membeli sekantung ketam, kami mampir di masjid yang berada di atas air untuk salat magrib. Selesai menunaikan salat, kami mengunjungi rumah pak Safri. Di rumah beliau, ketam yang kami beli dimasak oleh bu Safri, kemudian kami makan bersama-sama menikmati ketam dan sambal jeruk buatan bu Safri sambil berbincang banyak hal.

Pak Safri adalah seorang petani yang boleh dibilang sukses untuk ukuran desa tersebut, selain mengelola kebun cengkeh, beliau juga mengelola peternakan sapi. Beliau sering berpartisipasi dalam program community development yang diselenggarakan kontraktor di pulau Matak.

Malam itu juga kami kembali ke base.

[pob.13.02] jalan-jalan ke Terempa berbelanja.

[jou.13.02]
morning was out when we decided to go to Terempa. Before 7 am we arrive at jetty. A sailboat called “pompong” brought us to Terempa, a district city. What a pleasure sailing to Terempa took only an hour from Payaklaman bay. At Terempa, we look around the market and took a coffee morning at a coffee shop (kedai). We walked around Terempa city and had a lunch at seashore restaurant with menus: kerang, ikan and telur penyu.
We’re almost left behind when the pompong sailed back to Payaklaman. We can’t sit at the passenger’s seat because there was full with goods, so we took the roof for our seats and showered by the sunray.
We reached the matak base from the jetty for 30 minutes walk.

[pob.14.02] mancing di pulau langu. Dapat ikan kerisi dan kerapu.
[jou.14.02] we planned to go fishing in island. That morning we walked to Johan’s place and prepare some fishing tools. We rented a speed boat to take us to pulau Langu. We run that day with fishing activities, an unforgettable experience. Gamed some fish from 9 am to 2 ½ pm. A pompong was arrived to pick us back to Payaklaman. Our skin was burnt of the sunray. We brought the fishes to the kitchen and ask the cook to have it fried for our dinner.

[pob.15.02]
main tennis. Tukar obat malaria karena allergy obat. Makan kerang di langir.

Sepulang dari Terempa kemarin, kami menemui dr. Ary untuk mendapatkan obat malaria sebagai upaya pencegahan terhadap penyakit malaria, nyamuk hutannya ganas-ganas. Tetapi setelah makan sebutir pil, saya dan bayu malah menderita gatal-gatal, sepertinya alergi terhadap obatnya. Melihat kedua kawannya alergi obat, bagus tidak mengonsumsi obat tersebut.
Rabu itu saya datang menemui dr. Yuri, back-to-backnya dr. Ary, oleh beliau saya diberikan obat yang tidak mengandung antibiotic tertentu yang membuat alergi. Hanya saya yang menukar obat itu, sedangkan bayu dan bagus tidak lagi mengonsumsi obat yang diberikan, mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa pada mereka.

[jou.15.02] this morning we play tennis, I learn to hit the balls correctly. After dusk, johan came to pick us to Langir. In pak Safri’s house we eat some kerang. We collect some rupiahs and give those bucks to bu Safri as our thank you for her kindness providing us the meals.

[pob.16.02]
pagi main tennis, malam ikut yasinan di masjid.

[jou.16.02]
I woke up late this morning. After breakfast we played tennis again. We watched some movies and took a nap that whole day.

[pob.17.02]
main tennis. Salat jumat. bakar sotong dan ikan. Nonton pertandingan bola kaki di Ladan.

Siang itu selepas salat jumat, kami ke tempat johan untuk membakar sotong dan ikan. Kami makan siang (lagi) sampai jam 3 sore. Kemudian kami berangkat ke lapangan bola desa Ladan untuk menonton pertandingan bola kaki antara desa batu ampar melawan desa putik.

Sepulang ke base, kami harus bersiap-siap mengepak barang untuk keberangkatan kami ke trip kedua.


05 Trip 1-2

11 Maret, 2006

[jou.03.02.b] mengasingkan kami selama 3 bulan di lapangan tanpa boleh kembali ke hometown dalam masa itu. Does it make sense? Untuk memberi pengalaman tanpa program yang jelas? Yang jelas kami merasa didamparkan dan disuruh berlibur selama 3 bulan, melakukan apa saja semau kami…

[pob.04.02] morning meeting. Maintenance system with rahmat susanto. Exercise.

Akhirnya sepatu safety untukku datang juga, dikirimkan kepada pak Gandjar. Setelah kukembalikan sepatu pak Joseph kepada mas Bagus Purnomo sesuai pesan beliau, kini saya dapat mulai mengenakan sepatu safety milik sendiri, senangnya!
[jou.04.02] to fill our bellies with meals and drinks. To watch every TV station all over the day. To wait of something does not need to be wait. It’s somelike vacation without destiny. An entertainment without fun. Becoming crazy to stay here… is it stupid to keep shut this comments? Or more crazy to publish it?[pob.05.02] morning meeting. Shutdown 9 am to 3 pm. Catering bidder visit. Exercise.

[pob.06.02] morning meeting. Intan FSO jam 10 pagi. with pak sutikno yudi, western hub field manager.

[pob.07.02] morning meeting. Pindah kamar ke 416 dan 417. no TV no telephone. Buat bahan presentasi.

[jou.07.02] pindah kamar karena yang punya kamar datang. New room without TV and telephone! For only next 5 days. Kalo mo nonton TV di TV room, kalo mo nelpon di telepon umum J ngga masalah tuh! Udah dapat akses internet, akan lebih sering main komputer daripada nonton.

Pak Taufik Saffar, the OIM datang, jadinya kami harus pindah ke lantai 4. berada di kamar 416 dan 417 membuat kami harus bersyukur pernah berada di kamar 303. fasilitasnya jauh berbeda, suasananya pun berbeda. Kami harus tidur sekamar dengan pekerja lainnya yang masuk malam, otomatis siang-siang kami jarang berada di kamar. Benar-benar beda dengan sebelumnya (kami lebih sering di kamar 303 daripada di luar kamar hehehe…)

[pob.08.02] morning meeting, pigging operation dari whpb ke dppa with pak didik karyadi, bagus purnomo.

[jou.08.02] ikutan operasi pigging sampai siang. Ngobrol di control room, sementara bayu dan bagus ke pig receiver di dppa. Ngantuk. Abis lunch, tidur siang sampai sore. Lalu exercise.

[pob.09.02] morning meeting. Ngobrol sama dokter hadi cahyanta.

[pob.10.02] presentasi.

[jou.10.02] this is the last day we stay in LGP. Tomorrow we’ll fly to Matak and stay there for a week. After that we’ll sail to FPSO. These 2 weeks are so pleasant time and stay. But I missed my family.

**

Exercise

Di beberapa catatan di [pob] maupun [jou] ada kata-kata “exercise” bertebaran. Maksudnya apa sih? Di platform terdapat ruang rekreasi yang digunakan sebagai ruang olahraga. Di dalamnya terdapat sebuah meja bilyar, meja pingpong, 2 buah treadmill, sebuah sepeda dan sebuah complete exercise package.

Di ruang inilah kami sering menghabiskan sore dengan bermain bilyar atau berolahraga. Kami sadar bahwa pekerjaan fisik di platform bagi kami amat minim. Bukannya kami ngga mau kerja, tetapi karena hands on tidak diperkenankan, karena kami unpropriate person to do the job. Bisa-bisa malah bikin kacau operasi kalau kami dipekerjakan. Kami cuma dibolehkan menonton orang bekerja. Sementara itu jatah makan 3x sehari dan coffee break 2x sehari cukup membuat perut kami buncit kalau tidak dijaga.

Nah, untuk menjaga kebugaran dan proporsi badan kami tetap ideal, kuncinya adalah melakukan exercise minimal 30 menit setiap hari. Atau kalau sempat… J

**

Religious activity

Menjaga keimanan adalah hal penting untuk membuat jiwa kami tetap sehat. Kalau tidak, kami dapat lebih banyak memproduksi hormon stres dan depresi.

Setiap pagi, bayu membaca saat teduh dan alkitab. Saya dan bagus menikmati waktu salat berjamaah di musala setiap waktu salat. Selama berada di platform, saya usahakan untuk menjaga jamaah ketika salat dan membaca ¼ – ½ juz alquran perhari. Sebelum tidur saya usahakan untuk membaca terjemahan alquran.

**

Presentasi

Presentasi adalah sebuah kewajiban OJT kami setiap menyelesaikan trip, sebagai sebuah komponen penilaian keberhasilan OJT. Walau sampai tulisan ini dibuat (10.03.2006) kami masih belum jelas bagaimana penilaian OJT ini.

Apa saja sih yang dipresentasikan? Paling tidak ada 3 hal yang dipresentasikan, yaitu:

  • review hasil orientasi selama masa trip, misalnya overview proses gas plant, diagram alir proses, temuan dan usulan, serta diskusi mengenai OJT.
  • mengenalkan sosok seperti apa sih perusahaan kami, dan
  • bagaimana posisi para kontraktor perusahaan kami dan apa yang dapat dilakukan oleh para pejuang garis depan untuk bersama-sama menjamin efektifitas dan efisiensi kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi.

Sambutan luar biasa yang kami peroleh dari presentasi ini merupakan hal yang sangat menggembirakan hati kami. Dimulai jam 4 sore dan berakhir jam 10 malam dengan break jam 6-7 ½ sore. Banyak diskusi, masukan dan pertanyaan dari para pekerja di platform, dan banyak lesson learnt yang kami peroleh dari diskusi semacam itu.

**

[pob.11.02] rencana down to matak. Kontak pak arifin sjukur for accomodation.

Due to bad weather, rencana down to matak gagal! Saya tidur (kembali) di 301 dengan ari, ngobrol banyak tentang bagaimana seharusnya on the job training supaya mengenal kecurangan-kecurangan di lapangan. Sebab-sebab mengapa gaji pekerja kasar di industri perminyakan kecil. Dan sebagainya…


04 Trip 1-1

11 Maret, 2006

[jou.28.01] When the alarm woke me up in 3 am this morning, i asked my dear wife to wake up too. We conduct a prayer and have a fun farewell ceremony. I am not sure within our 3 months OJT can step back to Jakarta or not, but we’ll try to work on it. At 4 pm, a taxi came to picked me up to Halim PK Airport. My wife and his brother come along with me to the airport. After fajr prayer, we’re dismissed, because I had to boarded.
And now, here I am with bayu and bagus in lift gas platform for the first trip.

Saya masih sempat menulis dalam trip pertama ini, karena saya membawa buku, tapi buku itu cukup menghabiskan tempat di tas saya, akhirnya untuk trip berikutnya saya hanya menuliskan hal-hal penting saja di pocket book saya.Saya berniat untuk banyak menulis dalam perjalanan 3 bulan ini, dari sekian banyak hal yang akan kami dapati dan alami, mudah-mudahan menjadi catatan yang memberikan hal-hal berharga yang dapat dijadikan pelajaran.Bertolak dari bandara Halim PK Jakarta setengah jam lebih telat karena hujan deras, menempuh perjalanan 2 jam 40 menit menggunakan pesawat fokker 50, sampailah kami di lapangan udara Matak Base. Sesampainya di sana, kami menemui pak Rusli untuk pengenalan penggunaan swing rope dan personnel frog. Kemudian menitipkan tas besar kepada pak Komarudin di training room. Kami hanya membawa backpack untuk ke platform.

Tengah hari kami terbang dengan helikopter menuju lift gas platform (LGP) di western hub operation. Di sekitar LGP terdapat beberapa fasilitas yang akan dikunjungi dalam trip 1 ini. Drilling platform and production alpha (DPPA) menyambung jadi satu dengan LGP. Untuk pergi pulang cukup dengan berjalan kaki saja menyeberangi bridge yang menghubungkan kedua platform ini. Sebelah timur platform terdapat fasilitas floating storage and offloading (FSO), sebuah mantan kapal yang dimodifikasi menjadi tempat penyimpanan dan bongkar crude oil. Tak jauh dari platform alpha terletak wellhead platform bravo (WHPB). 10 mil dari lift gas platform adalah production barge san jacinto (PBSJ), San Jacinto adalah nama barge yang berfungsi untuk menampung minyak dari sumur sebelum dikirim ke FSO. Untuk mencapai FSO, WHPB dan PBSJ, kami harus menggunakan transfer boat dari DPPA. Perjalanan dengan transfer boat adalah perjalanan yang sering membuat perut mual karena diombang oleh gelombang. Selama kecepatan angin tidak lebih dari 15 knot dan tinggi gelombang tidak mencapai 2 meter, penggunaan boat masih diperbolehkan, otherwise you can use helicopter or go nowhere lah.

Rekaman kegiatan selama trip 1 tercatat di pocket book (pob) dan jurnal (jou):

[pob.28.01] take off from HPK Airport. Landing at Matak Base. Titip tas di pak Komarudin. Con’t to LGP. Introduction by pak Ferdinandus Joseph.

[pob.29.01] fire drill after breakfast. Go to Muster Station #1. evaluation and Morning Meeting. Overview maintenance and production operation. Overview HSE. Exercise.

[jou.29.01]
our 1st day of orientation. We arrange ourself of half day orientation and take the rest of time for nap and recreation. Actually I can not involve as what my other 2 friends do until I get my safety shoes delivered from jakarta. It expected to be arrived at Tuesday. For a while I can hold my orientation only inside the living quarter. Outside is not allowed unless wearing ppe.

Ya, bayu dan bagus dapat mengunjungi fasilitas platform di luar living quarter, sementara saya terpaksa hanya di dalam saja karena sepatu safety saya belum datang dari jakarta. Ini karena salah ukuran. L
[pob.30.01] morning meeting. Radio room and despatcher overview.[jou.30.01] not much done! Not many visited. Just chatting and having meals. Do I missed my family? I do really. Love my baby wannabe and his mother. Missed my parents. Missed them so much!

**
Kamar 301 dan 303

Kami tinggal di dua kamar yang berbeda. Masalah tempat aja sih. Namun akhirnya saya harus bercampur di kamar 303 karena hari selasa, kamar 301 bakal penuh. Kalau kami jadi satu kamar akan lebih enak karena mau ngobrol semalaman pun bebas saja. Kamar 303 ternyata adalah kamar OIM (offshore installation manager), artinya kami menginap di kamar bos. Selama beliau belum datang, kami boleh tinggal dan menggunakan fasilitas kamar tersebut.
Akses telepon langsung tanpa password, televisi dengan akses tv kabel. Menjadi hiburan yang menyenangkan, membuat kami betah di kamar berjam-jam.Dengan akses telepon, kami dapat menghubungi keluarga di jakarta begitupun sebaliknya dengan pulsa lokal saja. Bayu sibuk menghubungi keluarganya karena mereka sedang sibuk mempersiapkan pernikahan adiknya bayu tengah tahun ini. ”kadang-kadang” tunangannya bayu juga menelepon, sekedar melepas rindu. Begitupun dengan Bagus, dan juga saya. Menghubungi keluarga di rumah untuk melepas rindu, say hello, dan saling mendoakan.

Tv kabel yang menayangkan saluran HBO, Cinemax, dan sebagainya menawarkan film-film pilihan yang kami tonton ketika tidak ada kegiatan. Seringnya kami berada di kamar pada jam-jam kerja mungkin membuat housekeeping heran terhadap kami. Habis mau bagaimana lagi? Teman-teman di west hub tidak memiliki program kegiatan untuk kami, maka kami sendiri yang menyusun jadwal kegiatan untuk kami. Hehehe…

Berada di kamar 303, adalah pengalaman yang patut kami syukuri selama tinggal di LGP.

**

[pob.31.01] morning meeting. DPPA. LGP. Hospital with dr. joko. Exercise.

Sepatuku ngga jadi datang hari selasa, karena jakarta hari libur nasional. Selama di offshore, ngga ada bedanya hari libur dan hari kerja, karena everyday working day. Akhirnya pak joseph dengan baik hati meminjamkan sepatunya kepadaku sampai sepatuku tiba. Kebetulan selasa itu beliau off duty, sehingga beliau dapat meminjami saya sepatunya.

Pengganti beliau adalah pak Gandjar Iskandar, kami temui beliau selepas makan siang.

[pob.01.02] production barge san jacinto with pak sambudi willem. Transfer oil to tanker. Each 5 days from pbsj to intan fso. Front hull.

[jou.01.02] mabuk laut! 3x ketika berangkat dan 1x ketika pulang. Naik pan marine boat pulang pergi LGP-PBSJ. Melihat proses yang ”sederhana saja” di production barge san jacinto. Minyak di lapangan sembilang tinggal 1700 bopd saja untuk 3 sumur tetapi plateaunya datar, sehingga yang diperkirakan habis tahun 2005 harus diperpanjang hingga 2009. my wife called me by phone, and talked many about her and her baby.
[pob.02.02] WHP Bravo with erie nasibu and pak sulistyono. Exercise.

[pob.03.02]
LGP morning meeting.

[jou.03.02]
baru 1 minggu aku meninggalkan daratan, rasa rindu tak dapat dipendam. I dream of gathering with my family. Saw them in my nightly dreams. Ugh! Can’t imagine how would it be in the next 12 weeks?
Mom missed me so much, as I do missed her. Pop happy receiving my call. My wife asked me to call her every night. My bro didn’t say anything but surely he missed me too.
When someone’s missing, there will be an empty space and we’re wondering what shall fill that blank spot.
I missed my family. Soon I’ll be at home…

Baru seminggu, ceritanya udah kangen-kangenan…. Wah!
*


%d blogger menyukai ini: