patriot dan loyalis

10 September, 2012

di masa revolusi, menjadi loyalis sama dengan setia kepada penguasa kolonial, sama dengan memperbudak diri kepada raja demi kelangsungan hidup yang sejahtera, sama dengan menjadi musuh bagi bangsa sendiri.

sedangkan menjadi patriot, sama dengan menjadi pembangkang kepada pemerintah, sama dengan membebaskan diri dari penjajahan untuk hidup berdikari, sama dengan menjadi pahlawan bangsa.

menjadi loyalis maupun patriot adalah keputusan yang sama-sama sulit. di antara keduanya ada kaum moderat yang bersikap pertengahan, mencoba untuk loyal dengan tetap berjiwa patriot. sebagian orang mengatakan bahwa para moderat ini tidak memiliki sikap yang tegas dan hanya mencari keuntungan bagi dirinya sendiri.

di masa kemerdekaan, para moderat mengambil peran yang besar untuk mengatasi perbedaan yang ada dan melelehkannya dalam kesatuan (konsep the melting pot). sebagian loyalis berpindah kewarganegaraan demi mempertahankan kualitas dan gaya hidupnya. sebagian lagi menerima kemerdekaan, bergabung dengan para moderat dan mewarnainya dengan loyalitas baru.

sedangkan para patriot, ada yang bergabung dengan para moderat untuk kemudian menjadi loyalis kepada pemerintahan merdeka. ada pula yang tetap berjuang untuk mempertahankan idealisme dan kemerdekaan sejati, tanpa khawatir akan ketidakpastian maupun kesejahteraan hidupnya.


ulasan film: Mulan

16 Mei, 2010

Pada penerbangan jarak jauh disediakan fasilitas hiburan di setiap bangku berupa layar televisi dan headphone untuk menonton film maupun berita, mendengar musik, bermain game, melihat rekaman penerbangan, belajar bahasa maupun membaca ringkasan buku.

Hanya 3 buah film yang sempat saya tonton (sebenarnya 2,5 saja karena film terakhir tidak selesai ditonton) yaitu: Mulan, Invictus, dan Bodyguards & Assassins. Ketiganya diangkat dari kisah nyata.

Mulan berkisah tentang perempuan dari kerajaan Wei yang menjadi tentara karena menggantikan ayahnya yang sakit-sakitan. Selama lebih dari 12 tahun terlibat dalam peperangan melawan pemberontak Rouran, Mulan telah mencapai prestasi yang gemilang sebagai jenderal perang yang luar biasa. Namun fitrah keperempuanannya tidak dipungkiri sangat memengaruhi gaya kepemimpinannya.

Ia harus mengorbankan rasa cinta terpendamnya kepada Wentai yang selama ini berjuang membela dan menyemangatinya dalam peperangan, bahkan merawatnya dengan darah dan air mata ketika krisis obat-obatan. Wentai yang ternyata seorang pangeran Wei ditawan setelah menukarkan dirinya dengan obat-obatan dan suplai logistik untuk memulihkan kondisi tentara Wei.

Demi mendambakan berhentinya perang dan dimulainya perdamaian, Mulan berkongsi dengan putri Rouran yang berniat menjadi ratu Wei, membunuh Danyu (pemimpin) Rouran yang ambisius, menyelamatkan Wentai dan merelakannya menjadi suami sang putri.

Mulan menolak jabatan tertinggi sebagai Commander-in-Chief tentara Wei dan memilih kembali ke kampungnya menjadi penenun kain dan merawat ayahnya yang semakin tua.

Film buatan China ini lebih menampilkan sisi moral daripada mengumbar kisah cinta. Perang mengikat persaudaraan di antara para tentara, mengobarkan semangat perjuangan dan pantang menyerah, tidak takut mati demi membela prinsip yang diyakini, strategi maupun pengkhianatan, serta cinta tanah air dan rela berkorban, termasuk berkorban perasaan. Tidak ada adegan dewasa, sehingga aman ditonton oleh anak-anak tentu tetap dengan bimbingan orangtua.


%d blogger menyukai ini: