bahagia tanpa televisi

10 April, 2008

boleh dibilang televisi ada manfaat dan mudaratnya, tetapi sejauh ini mudaratnya jauh lebih besar daripada manfaatnya. tidak seperti khamar yang pada akhirnya diharamkan oleh Tuhan, televisi adalah sebuah alat yang tergantung dari penggunaannya. penyalahgunaan televisi dapat menyebabkan statusnya berubah dari boleh menjadi haram. seperti halnya pisau, boleh digunakan untuk memotong bahan makanan, tetapi haram digunakan untuk membunuh manusia 🙂

sejak awal kami mencoba meminimalisasi keberadaan televisi di rumah. tetapi orang tua kami terlalu sayang sehingga meminjamkan salah satu televisinya untuk kami, supaya gak ketinggalan zaman, kata mereka. padahal alat mengejar ketinggalan zaman tidak melulu televisi, dapat saja berupa surat kabar, atau internet 🙂 tetapi sebenarnya alasan utamanya adalah untuk menyenangkan hati mereka apabila datang ke rumah kami, karena ada saja sinetron yang sulit dilewatkan oleh mama atau acara yang disenangi oleh papa.

lepas dari kehadiran ortu, kotak televisi itu lebih sering nongkrong membisu di atas bufet jati di ruang keluarga rumah kami. kadangkala kami gunakan televisi untuk memutar dvd atau vcd yang bertema pendidikan usia dini, keluarga atau film aksi yang kami beli dari toko. sebenarnya selama ini keperluan menonton film itu dipenuhi dengan komputer, tetapi sejak raka putra kami yang berusia 2 tahun itu senang menonton film kartun anak-anak, kami merasa perlu menambah perangkat DVD player supaya ia tidak mengganggu ibunya yang sedang menyelesaikan pekerjaan desain rumah pesanan klien.

sempat ketika hari-hari diisi oleh hujan sehingga raka tidak dapat bermain keluar, ia pun disibukkan dengan menonton postman pat, cars, thomas and friends, atau baby genius.

sampai saat ini, kami berhasil memanfaatkan televisi dan mengambil manfaat dari kebisuannya. karena kami dapat lebih sering ngobrol sesama anggota keluarga, atau beraktivitas yang menghangatkan hubungan antara ayah-ibu-anak, serta terhindar dari pengaruh buruk televisi. alhamdulillah.

apalagi jika kedapatan acara yang berisi gosip, kekerasan, atau berita buruk, makin membuat kami berusaha menjauhi televisi. kami merasa bahagia tanpa televisi, kami dapat mengembangkan filter kami lebih rapat lagi dan kami dapat membuat rancangan aktivitas keluarga lebih menyenangkan, sebisa mungkin tanpa keterlibatan televisi.


%d blogger menyukai ini: