هل تتكلم العربيه

12 Maret, 2014

1.

“هل تتكلم العربيه؟”

Seseorang tiba-tiba memberi salam kepada saya yang sedang berjalan di pelataran Masjid Nabawi dan bertanya dengan pertanyaan tersebut. Tergagap, saya pun menjawab, “I am sorry, أنا لا أتكلم العربية”

Orang itu tersenyum kemudian mengucapkan terima kasih dalam bahasa arab dan pergi meninggalkan saya. Saya mengira dia hendak menanyakan sesuatu namun tidak jadi karena saya tidak berbahasa yang sama dengannya.

2.

Lain waktu saya menghadiri majelis tahsin alquran setelah subuh dibimbing seorang syaikh. Setiap hadirin selesai membaca, syaikh mengomentari dan bercakap sebentar dengannya. Pada giliran saya membaca beliau menyimak dengan saksama, kemudian mencukupkan bacaan saya dan bertanya, “جيد ، هل أنت أندونيسي؟”

Terkesima, saya pun menjawab, “نعم، أنا اندونيسي”

Beliau tersenyum dan mendoakan keberkahan lalu beralih kepada giliran berikutnya.

3.

Usai mengikuti pengajian tafsir Juz Amma berbahasa Indonesia di Masjid Nabawi yang dibawakan oleh Ustaz Firanda, seorang pemuda mendatangi saya dan bertanya, “Excuse me, in what language the talk was presented?” Saya pun menjawab pertanyaannya dengan bahasa Inggris dan terjadi percakapan beberapa saat dengannya. Pemuda yang berasal dari suatu daerah di Turki itu tidak terlalu fasih berbahasa Inggris namun kami berusaha saling memahami.

4.

Pada kesempatan saya menghadiri majelis taklim bada magrib di Masjidil Haram, saya berharap dengan beraneka ragamnya peziarah mendapati orang yang saya dapat berkomunikasi dengannya. Saya membuka pertanyaan dengan orang yang duduk di samping saya, “Excuse me, who is the sheikh who was giving a lesson?” Orang itu pun menjawab, “باللغة العربية، من فضلك”

Saya kaget, lalu bertanya dengan terbata-bata, “ما هو اسم الشيخ؟” Orang itu pun menjawab, “أنا لا أعرف؟” Kami pun kembali menyimak pelajaran tanpa berpanjang kalam.

5.

Setiap waktu salat berjamaah yang saya hadiri di Masjidil Haram maupun di Masjid Nabawi, saya merasa bersyukur dapat menjadi salah seorang makmum. Menikmati kesyahduan lantunan qiraah para imam yang  selama ini bacaannya hanya didengar melalui rekaman. Namun untuk menghayatinya sepenuh hati, barulah pada ayat-ayat yang sering saya dengar atau yang saya hafal dan diketahui maknanya.

6.

Suatu ketika saya mengunjungi maktab atau perpustakaan yang berada di sisi barat Masjid Nabawi. Melihat koleksi buku-buku yang terpampang di sana, terbayang betapa banyak pengetahuan yang tersedia dan siap untuk dibaca oleh para penuntut ilmu. Saya memindai setiap rak mencari-cari buku yang dapat saya baca. Hati dan perasaan saya bergolak, tak terasa saya pun menitikkan air mata. Mendapati diri ini tak mampu memetik sedikitpun faidah dari ribuan buku yang ada, hanya karena kemampuan berbahasa yang minim.

7.

-epilog-

Dari Hasan Al-Bashri, beliau pernah ditanya, “Apa pendapat Anda tentang suatu kaum yang belajar bahasa arab?” Maka beliau menjawab, “Mereka adalah orang yang baik, karena mereka mempelajari agama nabi mereka.”


Jendela Pengetahuan Jendela Peluang

16 Desember, 2004

Menurut Anda, mana yang benar :

A. Sebuah Negara Maju, mayoritas rakyatnya hidup sejahtera sehingga kemudian masyarakatnya menjadi gemar membaca.

B. Masyarakatnya gemar membaca, sehingga kemudian membuat negara tersebut maju, berkembang pesat meninggalkan negara lain, dan akhirnya mayoritas rakyat negara itu hidup sejahtera.

Menurut Anda mana yang benar? A atau B?

Begitu erat kaitan antara masyarakat gemar membaca dengan kemajuan sebuah negara, dan pertanyaan di atas sebenarnya dapat kita jawab dengan mudah bahwa kebiasaan membaca yang tercipta di masyarakat berdampak langsung kepada kemajuan dan kesejahteraan suatu negara.

Bagaimana dengan diri kita sendiri? Apakah kebiasaan membaca memiliki pengaruh pada perjalanan karir dan kesuksesan yang kita raih? Bagaimana posisi dan hasil yang Anda capai dibandingkan dengan teman Anda yang kuliah di Perguruan Tinggi yang sama? Apakah buku memiliki peran dalam tingkat kesuksesan yang dicapai oleh seseorang?

Jutaan orang menyadari bahwa buku sangat berperan dalam pencapaian sukses seseorang, itulah sebabnya mengapa kita melihat banyak orang berupaya membuat anak-anaknya mempunyai kebiasaan membaca, dipupuk sejak masih kecil agar kebiasaan itu terbentuk dan berkembang.

Anak-anak dibentuk kebiasaan membacanya dengan cara yang sangat sederhana, diawali dari cerita yang dibacakan oleh Sang Ibu sebelum tidur sambil menanamkan budi pekerti, kejujuran, mengenal baik dan jahat …

Ketika dia belum dapat membaca, kita perkenalkan buku mewarnai, buku mengenal angka, buku mengenal huruf, buku mengenal bentuk agar anak kita dapat berinteraksi langsung, meraba, memegang, mencoret-coret buku tersebut.

Ketika Anak sudah mampu membaca sendiri, kita berikan komik atau cerita bergambar untuk menanamkan sikap kepahlawanan, persahabatan, mengenal alam, mengenal kota, mengenal mesin, mengembangkan imajinasi dan kreatifitas …

Ketika mencapai usia remaja, kita dorong agar dia mulai membaca novel remaja dan karya sastera ringan agar daya imajinasinya semakin berkembang, bahkan kisah petualangan, cerita silat atau buku cerita super hero seperti batman atau superman kita berikan untuk mereka baca karena kita tahu bahwa hidup bukan sekedar putih atau hitam, banyak area abu-abu yang perlu mereka ketahui sejak dini.

Kemampuan anak kita asah terus dengan bacaan yang lebih berbobot seiring dengan usianya yang beranjak dewasa, bukan sekedar novel untuk pengembangan kemampuan nalar dan imajinasi, bukan sekedar mengasah keterampilan memahami budaya dan latar belakang sejarah yang ada dalam novel, tetapi juga kita dorong dengan buku pengetahuan teknis seperti buku komputer, buku fisika populer, buku keterampilan ..

Semua itu kita lakukan demi masa depan anak kita. Tetapi bagaimana dengan diri kita sendiri? Bagaimana dengan Anda? Apakah buku hanya dibaca ketika masih sekolah dan kuliah? Selepas itu buku hanya tinggal kenangan?

Apakah pengembangan diri kita masih terus berlangsung selepas dari Perguruan Tinggi? Apa upaya kita agar tetap dapat terus mengembangkan diri kita dalam dan luar?

Masih segar dalam ingatan kita bagaimana para tokoh politik nasional saling berebut simpatik dari jutaan pemirsa televisi, mengenai bagaimana rencana mereka untuk menunjang dunia pendidikan. Hampir semua membuat rencana untuk menyisihkan 20% anggaran pemerintah bagi dunia pendidikan agar HARAPAN masa depan Bangsa dan Negara dapat dicapai, yaitu menjadi Bangsa yang makmur dan sejahtera.

Bagaimana dengan Anda? Apakah menyisihkan 20% dari penghasilan untuk pendidikan anak dan pengembangan diri Anda sendiri? Kalau tidak 20%, apakah Anda menyisihkan 5% dan 3-5 jam seminggu untuk terus mengembangkan diri dengan mengikuti berbagai kursus dan seminar?

Buku adalah sarana untuk pengembangan diri yang paling fleskibel dan murah, Anda dapat melakukannya sesuai dengan pola waktu yang Anda miliki, dapat dilakukan ketika duduk menunggu seseorang, sebelum tidur, setelah sembahyang pagi, sambil menunggu bis…

Pengalaman dan Pengetahuan seorang ahli yang melakukan riset, pengamatan, perenungan selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun yang kemudian dia tuangkan dalam sebuah buku, dapat Anda baca dan copy ke dalam jiwa atau ingatan Anda hanya dengan lima puluh ribu rupiah, bahkan kurang.

Bearbookstore toko buku indonesia dengan bonus viral marketing

BearBookstore adalah toko buku online, sebuah toko buku alternatif untuk Anda dalam memilih dan membeli ilmu pengetahuan, sarana pengembangan diri di sela-sela kesibukan Anda.

Anda dapat memesan buku melalui website, email, phone, atau fax. Buku akan tiba ke tempat sesuai dengan perintah yang Anda berikan ketika melakukan pemesanan buku.

Melalui BearBookstore, Anda dapat turut berperan dalam mendorong kebiasaan membaca teman dan kerabat Anda, dan secara tidak langsung berperan dalam memajukan Bangsa dan Negara.

Manfaatkan Tell Your Friends Reward Program, baca keterangannya di halaman BONUS. Ini adalah sebuah program viral marketing yang memungkinkan seseorang meraih bonus dalam jumlah yang luar biasa.

Anda hanya perlu membeli dan membaca buku secara rutin, Anda hanya perlu menganjurkan teman dan kerabat Anda membeli dan membaca buku. Harga buku lebih murah, bebas ongkos kirim*, tidak ada biaya keanggotaan atau iuran apapun.

Mungkin Anda tidak tertarik dengan bonus yang akan diperoleh, tetapi gunakan sarana ini untuk menciptakan kebiasaan membaca, semakin besar bonus yang Anda terima berarti semakin besar peran Anda dalam mendorong kebiasaan membaca, dan apabila Anda tidak menginginkan uang reward-nya, Anda masih dapat menyumbangkan uang tersebut kepada Perpustakaan terdekat.


%d blogger menyukai ini: