bubur daging

20 Oktober, 2016

​biasanya untuk penerbangan luar negeri dengan maskapai asing, saya akan memesan “moslem meal” untuk hidangan makan. kebetulan saat itu saya lupa memesan, jadilah saya disuguhi bubur oleh pramugari cathay untuk sarapan saya. ketika sedang mengunyah bubur, ada dagingnya, lalu saya panggil pramugari dan bertanya, “ini daging apa ya?” pramugari itu meminta waktu untuk melihat menu dulu kemudian dia kembali dan mengonfirmasi bahwa itu daging babi. 

saya katakan kepadanya bahwa saya tidak bisa makan daging babi, apakah ada menu untuk muslim. Dia minta maaf, pemesanan menu khusus sebaiknya dilakukan di darat. tetapi dia memberikan solusi untuk menu vegetarian yg stoknya ada lebih. di menu itu ada daging buatan dari tahu. jadilah selama penerbangan itu saya sebagai vegetarian. 

#toleransi

Iklan

Jalan-jalan naik bus

16 Januari, 2015

Tsuraya: Kemarin enak lho Bu, jalan2 sama Eyang naik bus
Bubu: Enakan juga naik pesawat Ay, ngga cape
Tsuraya: Enakan bus, ada tivinya
Bubu: Ooh jadi Aya seneng sama tivinya, bukan sama busnya?
Tsuraya: Seneng juga sama busnya, soalnya gedeee banget.. Eh, coba Bubu anaknya 10 ya, nanti Baba bisa beli bus
Bubu: Aamiin.. etapi kalo cuma mau naik bus mah ngga usah nunggu Bubu anaknya 10 Ay, tinggal ke terminal aja grin emoticon
Tsuraya: Hehehe.. iya ya

*bocah, mikirnya suka ajaib grin emoticon


mengelilingi bumi

16 Mei, 2010

Dalam perjalanan 13 jam di udara, saya harus mengikuti travel path di layar, untuk menentukan waktu shalat selama mengudara. Karena terbang di siang hari saya dapat melihat posisi pesawat, posisi matahari, dan bagian siang malam pada bumi yang bulat (maupun yang dinampakkan terbentang). Berangkat sebelum waktu Zuhur yaitu jam 12.45 dari Singapore saya tambahkan waktu 2 jam untuk melakukan shalat zuhur. Kira-kira jam 16 waktu Singapore, saya lihat layar, ternyata posisi belum memasuki waktu Ashar. Saya baru melakukan shalat Ashar ketika posisi pesawat di atas benua Eropa yaitu 4 jam berikutnya. Bahkan ketika saya mendarat di London pada jam 19.10, saya mengira masih berada di waktu Ashar karena hari masih terang dan posisi matahari sudah condong ke barat. Saya baru mendapati waktu Maghrib pada jam 20.50, ketika saya sudah berada di hotel tempat saya menginap. Karena pada bulan Maret hingga Oktober posisi matahari berada di belahan utara bumi, maka waktu siang menjadi lebih lama (16 jam) daripada waktu malam (8 jam).

Selama terbang, pesawat ini mengejar posisi zawal (posisi tepat tengah hari) matahari dan tidak mampu mendahuluinya. Padahal teori sains mengatakan bahwa bumi berputar ke arah timur dan kembali ke posisinya dalam waktu 24 jam. Padahal jika bumi ini berputar pada porosnya sambil mengelilingi matahari maka pesawat hanya perlu mengunci posisinya terhadap matahari supaya sampai di tempat tujuan dalam waktu yang berdekatan seperti ketika berangkat. Namun kenyataannya pesawat mendarat di waktu Ashar, bahkan posisi zawal matahari jauh mendahului pesawat. Hal ini mungkin dimaklumi karena arah terbang berlawanan dengan arah putar bumi pada porosnya, sehingga memerlukan upaya yang lebih besar agar dapat terbang mengunci terhadap posisi matahari 🙂


%d blogger menyukai ini: