Allah lebih besar

31 Juli, 2012

Pada mulanya konsep betapa besarnya Allah barangkali merupakan hal yang rumit dipahami anak-anak. Hanya dengan kata-kata bahwa Allah Mahabesar, jauh lebih besar daripada manusia, daripada ultraman (tokoh fiktif jagoan buatan Jepang) dan konsep yang benar mengenai keberadaan-Nya yang di atas langit saja masih membingungkan mereka. Apalagi jika orang tua menyampaikan konsep yang salah tentang Tuhan ada di mana-mana atau ada di dalam diri manusia, tentulah akan menjadi sangat tidak masuk akal bagi mereka.

Namun sekembalinya pulang dari Planetarium, Radya dan Tsuraya membahas kembali dengan babanya mengenai konsep kemahabesaran Allah. “Allah kan lebih besar ya, Baba?” ujar mereka. Baba menjawab, “Bagaimana menurut kalian Allah lebih besar?”. “Iya, kan planet dan matahari itu besar,” kata Tsuraya yang disambut oleh Radya, “Bumi lebih kecil daripada matahari.” Baba penasaran, “Lalu?” Radya melanjutkan, “Manusia kan tinggal di bumi, keciiil sekali!” Tsuraya pun menimpali, “Allah kan ada di atas langit, jadi lebih besar!”

Masya Allah, semoga Allah memberkahi mereka.


akuarium planet – 3

11 Juli, 2012

Kenangan masa kecil dahulu di ruang pertunjukan Planetarium tidak mampu diwujudkan kembali ketika memasukinya bersama anak-anak pada liburan yang lalu. Naratornya yang dahulu kocak dan mampu menghidupkan suasana sudah berganti dengan narator yang textbook dan sekadarnya saja. Laser pointer menjadi alat bantu yang mengganggu kenyamanan menikmati suasana malam buatan. Kehadiran mantan planet kesembilan dan kemunculan pesawat antariksa USS Enterprise dari episode awal film seri StarTrek menunjukkan bahwa program pertunjukan tidak diperbarui selama lebih dari 20 tahun.

Pembelaan paham heliosentris dan upaya penguburan paham geosentris masih dipertahankan. Padahal hingga saat ini belum terbukti secara empiris bahwa paham heliosentris adalah kebenaran dibandingkan paham geosentris. Kebenaran tersebut masih berupa bukti secara teoretis. Banyak pertanyaan yang belum dapat dipenuhi oleh paham heliosentris dipaksakan untuk diterima secara logika. Di antaranya masalah rotasi (perputaran pada porosnya) bumi yang menyebabkan pergantian malam dan siang, revolusi bumi terhadap matahari yang menyebabkan perjalanan satu tahun, penampakan 13 rasi bintang dalam satu tahun untuk menunjukkan 12 bulan pada kalender matahari.

Bagaimanapun pengetahuan mengenai benda-benda luar angkasa tetap diperlukan sebagai tambahan ilmu yang seharusnya digunakan dalam mendukung kehidupan manusia seperti penunjuk arah, musim bercocok tanam dan terutama penunjang peribadatan kepada Allah (penentuan waktu untuk shalat, puasa dan haji).

Sebagaimana merujuk kepada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Albukhari rahimahullah di dalam kitab Shahih-nya, bahwa Abu Qatadah radiyallahu anhu menyebut ayat Allah yang artinya, “Dan kami hiasi langit yang terdekat dengan pelita-pelita,” lalu menjelaskan, “Bahwa penciptaan bintang-bintang  adalah untuk tiga tujuan, yaitu sebagai penghias langit, sebagai misil untuk melempari setan-setan, dan sebagai petunjuk arah bagi musafir. Maka, barangsiapa yang mencoba mencari-cari penafsiran lain, dia akan tersesat, upayanya sia-sia, dan memberatkan dirinya dengan sesuatu yang berada di luar jangkauan pengetahuannya yang terbatas.”

[selesai]


akuarium planet – 2

10 Juli, 2012

(sambungan)

“Pilih mana, kidzania atau planetarium?” Bubu menawarkan kepada anak-anak rencana mengisi hari Rabu itu. “Planetarium aja, Bubu. Kan asyik melihat planet-planet,” jawab Radya. “Asyiiik! Kita ke planet-arium!” Tsuraya menimpali. “Tapi, kita tidak naik kereta lagi,” ujar Baba, “Kita akan naik angkot, busway, ambil mobil di bengkel, lalu menuju Planetarium. Setuju?” tanya Baba. “Setuju!” seru anak-anak.

Berterima kasih kepada supir angkot M20 yang memberi diskon tarif karena tidak punya kembalian pembayaran. Mencoba pintu otomatis halte busway Departemen Pertanian dengan kartu JakCard. Menikmati perjalanan busway sampai halte Mampang Prapatan. Insiden keseleo Radya saat berjalan kaki menuju Plaza Toyota Tendean yang segera ditangani dengan tusukan jari jempol Baba di betis atas kaki yang cedera. Terheran-heran dengan penuhnya Ayam Bakar Fatmawati padahal rasanya kurang menggugah selera. Menikmati waktu bermain saat shalat zuhur dan belepotan cat di Masjid Cut Meutia, Menteng.

Mendapati sisa 20 kursi tersedia untuk ruang pertunjukan Planetarium, karcis seharga Rp7 ribu untuk dewasa dan Rp3,5 ribu untuk anak-anak adalah tarif yang cukup murah untuk merawat fasilitas berharga ini. Admission fee untuk dewasa di Peter Harrison Planetarium di Greenwich saja seharga £6.50 sedangkan di Planetarium Negara di Kuala Lumpur dihargai RM12.00. Tidak perlu turut mengantri panjang karena pengunjung lainnya sudah masuk dan sepertinya berebut kursi di dalam ruang pertunjukan karena karcis tidak ditandai dengan nomor bangku. Kami berlima kerepotan mendapatkan tempat duduk yang berkumpul. Secara spot tersedia satu atau dua bangku kosong. Di barisan depan kami dapati tiga bangku kosong di samping seorang laki-laki dewasa yang nampaknya sendirian.

“Permisi, Pak. Boleh kami bertukar tempat duduk di sini? Kami sekeluarga,” Baba  meminta kesediaan laki-laki itu yang kemudian mempersilakan kami menduduki tiga bangku kosong yang ada. Bubu, Tsuraya dan Radya pun duduk di situ. Baba yang menggendong Athiya, 9 bln, masih berdiri di hadapan laki-laki yang sibuk dengan Blackberry-nya itu dan meminta perkenan dia, “Maaf, Pak. Boleh saya duduk di tempat Bapak, untuk menemani keluarga saya?” Dengan acuh, ia berkata, “Lho, saya duduk di mana?” Baba mempersilakan dia duduk di tempat lain. “Saya juga bersama keluarga,” ucapnya menunjuk istri dan anak-anaknya yang duduk di barisan belakangnya. “Iya, Pak. Justru suami saya duduk di depan, karena tidak dapat bangku,” istrinya menimpali, “kalau ia pindah ke bangku lain, nanti anak-anak saya menangis, tidak ada bapaknya.”

Lho? Bubu terheran dengan alasan si ibu karena anak-anak mereka nampak lebih tua usianya daripada Radya. Tidak produktif jika mendebat, Baba dan Athiya pun mendapati sebuah bangku kosong yang tidak jauh dari Bubu dan duduk di sana. Sepanjang pertunjukan, laki-laki itu tampak tidak menikmati acara, karena terdengar oleh Bubu celotehan anaknya, “Papah ini kok, main hape melulu.”

Mengikuti beberapa remaja peserta olimpiade sains, Baba, Bubu, Radya, Tsuraya dan Athiya yang sudah tertidur sejak awal pertunjukan, turut telentang di lantai depan menikmati proyeksi universarium di langit-langit kubah. Dibandingkan dengan posisi duduk di bangku yang hanya menghadap satu arah, posisi telentang ini cukup nyaman dan memungkinkan untuk melihat ke seluruh penjuru. Melirik ke bangku si bapak yang disibukkan dengan hape tadi , ia nampak menghilang selepas paruh awal pertunjukan, dan tidak satupun anak-anaknya yang menangisi kepergiannya dari ruang pertunjukan. Empat bangku di barisan depan itu pun kembali kosong hingga akhir pertunjukan.

(bersambung)


akuarium planet – 1

10 Juli, 2012

“Baba, kita kan jadi pergi ke planet-akuarium, ya?” tanya Tsuraya, 3 thn 9 bln, di sela jalan kaki antara Stasiun Cikini dan Taman Ismail Marzuki (TIM), jarak yang cukup jauh bagi anak sekecil itu untuk berjalan kaki tanpa digendong dan menikmatinya dengan berbagai dialog. “Bukan planet-akuarium, adek, Planet-arium! Emangnya planet itu ikan ya, Baba?” sanggah dan konfirmasi Radya, si kakak 6 thn 2 bln, yang juga menikmati perjalanan bermotor sejak dari rumah menuju Stasiun Pondok Cina dilanjut ber-KRL Ekonomi. Sesampainya di Planetarium, hanya pintu kantor saja yang buka. Ternyata, setiap hari Senin fasilitas pengunjung ditutup untuk perawatan.

“Is-ma-il-mar-zu-ki,” Radya mengeja tulisan di bawah patung kepala, “itu patung kepala orang ya, Baba?” saat kami keluar dari halaman TIM. “Iya, nak. Dia adalah salah satu penyair Indonesia yang karya-karnyanya menggugah rasa kebangsaan rakyat negeri ini,” jawab Baba. “Ayo, itu Bubu dan adik-adik sudah menunggu di depan.” Naik Kopaja P20 turun di Jalan Pegangsaan Timur, menikmati KFC Kids Meal dan mainan Spiderman Swing, lalu kembali ke Depok dengan KRL Komuter yang perbedaannya dengan KRL Ekonomi hanyalah AC dan pintu gerbong.

(bersambung)


%d blogger menyukai ini: