13-09-1433H

2 Agustus, 2012

gambar diambil di Depok, tanggal 1 Agu 2012 jam 18.40 (13 Rmd 1433) dengan kamera Panasonic Lumix DMC-FZ8, 18x zoom

12 hari sudah Ramadan tahun ini dilalui, insya Allah masih ada 17 hari lagi sebelum merayakan hari berbuka. Mari koreksi kembali amalan puasa kita. Menahan lapar dan haus sudahlah tentu, apakah mata, lisan, dan hati juga berpuasa? Bahkan orang tidak beriman pun kuat berpuasa, apakah kita berpuasa dengan penuh keimanan dan berharap balasan dari Allah semata [1]? Apakah kita tetap menjaga salat-salat fardu? Bagaimana dengan salat-salat sunah? Sudahkah kita lebih dekat dengan Alquran? Apakah kita memperbanyak sedekah?

Banyak yang bilang bahwa Ramadan terbagi tiga fasa: rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Namun Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengindikasikan bahwa setiap hari di bulan Ramadan adalah rahmat, ampunan [2], dan pembebasan dari api neraka [3]. Maka hendaklah kita tidak berputus asa dari rahmat Allah [4], tetap meminta ampunan dari-Nya atas dosa-dosa kita [5], memohon terbebas dari api neraka yang 70 kali lebih panas dari api dunia, serta mengharap surga sebagai balasan dari Allah karena keikhlasan kita dalam beribadah.

[1],[2] “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadan dengan penuh iman dan ihtisab, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” [HR. Albukhari dan Muslim]

[3] “Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang dibebaskan dari neraka setiap siang dan malam di bulan Ramadan, dan semua orang muslim yang berdoa akan dikabulkan doanya.” [HR Bazzar, Ahmad, Ibnu Majah]

[4] “Sesungguhnya Allah menjadikan rahmat seratus bagian, dipeganglah di sisi-Nya sembilan puluh sembilan bagian dan diturunkan satu bagian untuk seluruh makhluk-Nya. Sekiranya orang-orang kafir mengetahui setiap rahmat yang ada di sisi Allah, niscaya mereka tidak akan berputus asa untuk memperoleh surga. Dan sekiranya orang-orang beriman mengetahui setiap siksa yang ada di sisi Allah, maka ia tidak akan merasa aman dari neraka.” [HR Albukhari]

[5] “Sesungguhnya Jibril alaihissalam datang kepadaku, dia berkata: Barangsiapa yang mendapati bulan Ramadan tapi tidak diampuni dosanya maka akan masuk neraka dan akan Allah jauhkan dia, katakan ‘Amin’, maka akupun mengucapkan Amin…” [HR Ibnu Khuzaimah, Ahmad, Albaihaqi, Muslim]


jangan sia-siakan ramadan

28 Juli, 2012

Waktu adalah sesuatu yang amat berharga, ia datang dan berlalu tanpa pernah kembali. Hanyalah yang pandai memanfaatkannya yang tidak akan merugi, yaitu orang-orang yang beriman dan beramal salih, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Ramadan adalah waktu yang terkumpul di dalamnya berbagai keutamaan. Lalu akankah kita sia-siakan kesempatan ini?

Ramadan adalah bulan puasa. Orang yang berpuasa di bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan mengharap balasan dari Allah, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dalam hadits qudsi, Allah berfirman bahwa puasa seorang hamba adalah untuk Allah dan Allah sendiri yang menentukan balasannya. Penyandaran ibadah kepada diri Allah menunjukkan betapa agung ibadah tersebut. Balasan dari Allah terhadap puasanya seorang hamba tentu tidak ternilai betapa tingginya.

Dalam Ramadan terkumpul dua jihad. Jihad di siang hari dengan menahan lapar dan dahaga. Sedangkan Rasulullah shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam mengatakan bahwa betapa banyak orang yang puasa kecuali hanya memetik lapar dan dahaga. Padahal puasa bukanlah sekadar meninggalkan makan, minum dan syahwatnya melainkan meninggalkan perkara yang sia-sia dan keji. Sebab setan-setan dari kalangan jin dibelenggu sehingga tidak dapat membisikkan was-was dan pintu neraka ditutup sehingga membuka kesempatan yang luas untuk meraih pintu surga. Maka kesia-siaan dan kejahatan yang hadir di bulan Ramadan adalah murni datangnya dari hawa nafsu manusia.

Jihad di malam hari adalah menghidupkan malam-malam Ramadan dengan ibadah salat tarawih. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam bahwa siapa yang menegakkan salat tarawih di malam Ramadan dengan penuh keimanan dan mengharap balasan dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa yang salat bersama imam hingga selesai maka akan dicatat baginya salat semalam suntuk. Tentu saja dalam melaksanakan kedua jihad itu diperlukan kesabaran.

Ramadan adalah bulan Alquran, karena diturunkan di bulan tersebut. Rasulullah shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam bersama malaikat yang mulia Jibril alaihissalam mendaras Alquran setiap bulan Ramadan. Maka berlomba-lombalah manusia tadarus Alquran untuk mendapat keutamaannya. Dan di sepuluh terakhir Ramadan terdapat sebuah malam yang nilainya setara dengan seribu bulan. Para ulama ahlussunnah telah menjelaskan bahwa siapa yang beramal di malam tersebut maka amalannya bernilai seribu bulan. Siapa yang sedekah di dalamnya setara sedekah seribu bulan. Siapa salat di dalamnya setara salat seribu bulan. Siapa tilawah Alquran di dalamnya setara tilawah seribu bulan. Itulah malam yang dikenal sebagai Lailatul Qadr, malam yang penuh keutamaan.

Di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, Rasulullah shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam memerintahkan keluarganya untuk mengencangkan ikat pinggang dan berkonsentrasi untuk meraih malam Al-Qadr dengan memperbanyak istigfar, zikir, salat, membaca Alquran, dan sedekah. Menggalakkan itikaf di masjid jami sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah dan berburu malam Al-Qadr dengan khusyuk beribadah.

Ramadan adalah waktu yang terkumpul di dalamnya berbagai keutamaan. Lalu masihkah ingin kita sia-siakan kesempatan ini?

(disarikan dari tausiyah Ustadz Muhammad Yahya hafizhahullah pada kultum tarawih di Masjid Al-Urwatul Wutsqa, Komplek Taman Ventura Indah, Depok)


kanak-kanak berpuasa

26 Juli, 2012

Karena semangat orang tua untuk menularkan kebaikan seringkali tidak didukung dengan pengetahuan dan pengertian yang cukup. Sehingga mereka memaksakan kanak-kanak mereka berpuasa baik itu pada sebagian hari bahkan sepenuh hari dengan maksud melatih dan membiasakan. Orang tua itu berbangga walaupun kanak-kanak mereka kepayahan dan menderita. Padahal usianya belum lagi sampai tujuh tahun. Sedangkan untuk shalat saja baru diperintahkan pada tujuh tahun.

Shalat adalah pembeda antara muslim dengan kafir, merupakah kewajiban yang paling utama di dalam Islam sehingga tidak diperkenankan meninggalkan shalat bagaimanapun keadaannya. Sedangkan puasa adalah rukun keempat dari rukun Islam, yang wajib dikerjakan oleh orang-orang yang sehat dan tidak safar, dengan demikian, keutamaannya lebih rendah daripada shalat. Maka perintah puasa untuk kanak-kanak adalah kepada yang sudah memasuki usia tujuh tahun atau lebih, bukan kepada yang lebih muda usianya [1].

Hendaklah kanak-kanak itu dicontohkan oleh orang tuanya bagaimana menjalani puasa yang baik dan sesuai sunah. Mintakan pendapatnya tentang puasa. Apabila mereka hendak berpuasa, jangan dilarang dan beri bimbingan [2]. Sebaliknya jika mereka hendak berbuka, orang tua tidak memaksa agar anaknya tetap berpuasa [3]. Mudah-mudahan Allah mengaruniai orang tua yang demikian generasi penerus yang beribadah sesuai pengetahuan dan pemahaman yang benar.

[1] Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perintahkanlah anak kecil untuk shalat ketika ia berumur tujuh tahun, dan jika ia berumur sepuluh tahun maka pukullah (kalau ia meninggalkan shalat).” (riwayat Abu Dawud no.494 dan At-Tirmdziy no.407 dan berkata : “ini adalah hadits yang hasan”).

Berkata Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah tatkala mengomentari hadits ini :

“para ahli fiqih mengatakan : demikian pula puasa, agar hal itu menjadi latihan baginya untuk mengerjakan ibadah, supaya nantinya ia tumbuh dewasa dalam keadaan senantiasa di atas peribadahan dan ketaatan, dan menjauhi kemaksiatan dan meninggalkan kemungkaran, hanya Allah yang memberi  taufik” (tafsir Ibnu Katsir 8/167 tafsir surah At-Tahriim : 6).

[2] http://www.salafy.or.id/fiqih/puasa-bagi-anak-kecil-yang-belum-baligh/

[3] http://almakassari.com/artikel-islam/fiqh/hukum-memerintahkan-anak-kecil-yang-belum-mencapai-15-tahunbaligh-untuk-berpuasa.html


akuarium planet – 3

11 Juli, 2012

Kenangan masa kecil dahulu di ruang pertunjukan Planetarium tidak mampu diwujudkan kembali ketika memasukinya bersama anak-anak pada liburan yang lalu. Naratornya yang dahulu kocak dan mampu menghidupkan suasana sudah berganti dengan narator yang textbook dan sekadarnya saja. Laser pointer menjadi alat bantu yang mengganggu kenyamanan menikmati suasana malam buatan. Kehadiran mantan planet kesembilan dan kemunculan pesawat antariksa USS Enterprise dari episode awal film seri StarTrek menunjukkan bahwa program pertunjukan tidak diperbarui selama lebih dari 20 tahun.

Pembelaan paham heliosentris dan upaya penguburan paham geosentris masih dipertahankan. Padahal hingga saat ini belum terbukti secara empiris bahwa paham heliosentris adalah kebenaran dibandingkan paham geosentris. Kebenaran tersebut masih berupa bukti secara teoretis. Banyak pertanyaan yang belum dapat dipenuhi oleh paham heliosentris dipaksakan untuk diterima secara logika. Di antaranya masalah rotasi (perputaran pada porosnya) bumi yang menyebabkan pergantian malam dan siang, revolusi bumi terhadap matahari yang menyebabkan perjalanan satu tahun, penampakan 13 rasi bintang dalam satu tahun untuk menunjukkan 12 bulan pada kalender matahari.

Bagaimanapun pengetahuan mengenai benda-benda luar angkasa tetap diperlukan sebagai tambahan ilmu yang seharusnya digunakan dalam mendukung kehidupan manusia seperti penunjuk arah, musim bercocok tanam dan terutama penunjang peribadatan kepada Allah (penentuan waktu untuk shalat, puasa dan haji).

Sebagaimana merujuk kepada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Albukhari rahimahullah di dalam kitab Shahih-nya, bahwa Abu Qatadah radiyallahu anhu menyebut ayat Allah yang artinya, “Dan kami hiasi langit yang terdekat dengan pelita-pelita,” lalu menjelaskan, “Bahwa penciptaan bintang-bintang  adalah untuk tiga tujuan, yaitu sebagai penghias langit, sebagai misil untuk melempari setan-setan, dan sebagai petunjuk arah bagi musafir. Maka, barangsiapa yang mencoba mencari-cari penafsiran lain, dia akan tersesat, upayanya sia-sia, dan memberatkan dirinya dengan sesuatu yang berada di luar jangkauan pengetahuannya yang terbatas.”

[selesai]


ramadhan datang

30 Juli, 2011

Setelah membaca khutbatul hajat, khatib di Masjid Muhammadi membaca surat Albaqarah ayat 183-185 dan menerangkan artinya, bahwa kewajiban puasa atas orang-orang yang beriman adalah sebagaimana telah ditetapkan pada umat terdahulu untuk menjadi orang yang bertakwa. Yaitu pada hari-hari yang telah ditentukan, dan diberi keringanan bagi yang sakit atau dalam perjalanan untuk tidak puasa dan menggantinya di waktu yang lain. Bagi yang mampu berpuasa tetapi berat menjalaninya maka cukup dengan memberi makan orang-orang miskin, sedangkan tetap berpuasa maka hal itu adalah lebih baik baginya. Tetapi hari-hari yang ditentukan pada ayat 184 dihapus dengan ayat 185, yaitu dengan puasa pada bulan Ramadhan, apabila telah menyaksikan bulan. Bagi yang sakit atau dalam perjalanan diberi keringanan untuk tidak puasa dan menggantinya di waktu yang lain. Sedangkan Allah menghendaki kemudahan dalam beragama, bukan kesusahan. Dan diwajibkan pula untuk menggenapkan bilangan bulan Ramadhan lalu bertakbir dan mensyukuri Idul Fitri.

Khatib menyampaikan bahwa dalam menjalani Ramadhan harus dengan kesiapan dan kesabaran. Menurut Ibnul Qayyim ada 3 tingkatan sabar: sabar dalam taat kepada Allah, sabar dalam meninggalkan keharaman pada ketaatan, dan sabar dalam meningkatkan kualitas ketaatan. Maka dalam berpuasa pun dituntut 3 kesabaran: sabar atas perintah puasa, sabar dalam meninggalkan hal-hal dapat membatalkan puasa, dan bersabar dalam meningkatkan kualitas berpuasa.

Ada pula 3 macam manusia yang menjalani puasa:

  1. mereka yang berpuasa namun tidak meninggalkan maksiat: berpuasa di siang hari, namun di malam hari tetap mabuk dan berzina. Bahkan diantaranya tetap meninggalkan shalat, padahal siapa yang sengaja meninggalkan shalat akan dihukumi kafir.
  2. mereka yang berpuasa dan berupaya meninggalkan maksiat: inilah kebanyakan manusia, bergelimang dosa di hari-hari sebelumnya, sedangkan di bulan Ramadhan berupaya keras menghapus dosa dan meraup pahala.
  3. mereka yang telah mengisi hari-harinya sebelumnya dengan ketaatan dan amal salih lalu memasuki Ramadhan dengan kesiapan jiwa dan raga serta amal salihnya pun semakin banyak lalu banyak berharap agar amalannya diterima oleh Allah.

Khatib juga menyampaikan beberapa hadits terkait dengan Ramadhan bahwa kegembiraan menyambutnya dengan penuh keimanan akan mendapat pahala dan menghapus dosa-dosa. Dibukanya seluruh pintu surga untuk menyambut orang-orang yang berpuasa. Ditutupnya seluruh pintu neraka sebagai kasih sayang Allah kepada manusia. Serta dibelenggunya setan-setan agar tidak menggoda manusia yang berpuasa. sehingga tidak ada alasan mengambinghitamkan setan apabila didapati masih ada kejahatan di bulan Ramadhan, karena itu murni datang dari hawa nafsu manusia.

Khutbah Jumat 27 Sya’ban 1432H yang disampaikan dalam bahasa Inggris itu diakhiri dengan nasihat agar sebagai orang beriman, kita mengupayakan untuk mengiringi amal salih kita dengan niat, meninggalkan maksiat dengan niat, dan membersihkan niat kita untuk memperoleh keridaan Allah. Semoga Allah memudahkan.

[29-Jul-2011, Houston, TX]


memulai lagi ramadan

21 Agustus, 2009

baru setahun yang lalu berpuasa, walau gak penuh karena harus beritikaf di rumah sakit justru pada hari-hari terakhir. saya mengira saat itu sudah tiba ajal saya sehingga selembar wasiat pun dibuat dalam kondisi yang sangat buruk. alhamdulillah pada bulan puasa itu saya dapat THR 2 kali sementara rekan kerja yang lain hanya 1x,sebab biaya rawat inapnya saja sebesar THR 😀 barangkali Allah terlalu sayang pada saya sehingga membolehkan saya berpuasa ramadhan di luar bulan ramadhan 🙂

sekarang sudah tiba lagi puasa sesuai ketetapan pemerintah sehingga harus membiasakan diri lagi dengan hal-hal yang sudah ditinggalkan:

1. tarawih baik berjamaah di masjid atau di rumah, sebagai tambahan pahala yang sangat sayang ditinggalkan, padahal di luar ramadan gak biasa qiyamulail.

2. berniat puasa di malam hari, padahal di luar ramadan kalau mau puasa tinggal niat saat itu selama belum makan atau minum setelah subuh.

3. bangun lebih pagi untuk bersahur demi mendapatkan keberkahan, padahal di luar ramadan hampir selalu bangun saat iqamat subuh di masjid dikumandangkan

4. rawatib gak boleh lupa, demi menyempurnakan shalat wajib, padahal seringkali malas menambah 2 rakaat sebelum atau sesudah shalat.

5. berbuka puasa bersama-sama, baik di masjid atau di rumah atau di restoran atau memenuhi undangan iftar dari berbagai organisasi maupun tongkrongan, baik yang gratis maupun yang bayar…

6. membaca quran menargetkan satu juz setiap hari, demi khatam di malam takbiran, padahal di luar ramadan quran dipajang di lemari, mending kalau dipajang lha ini lagi nyari-nyari tuh quran ditaruh di mana ya?

7. sedekah setiap hari buat bikin berat timbangan akhirat, dan memberi makan berbuka bagi orang puasa, demi meraih cinta dan kepuasan batin… aduhai indahnya memberi

Masya Allah… padahal Nabi shollallahu alaihi wasalam mengaminkan doa malaikat Jibril yaitu: “celakalah orang yang apabila melalui bulan Ramadhan tidak mendapat keampunan dari Allah”

mudah-mudahan, Allah memberi kemudahan bagi kita semua menjalankan ibadah puasa ramadan dan menjadikan kta pribadi yang taqwa, serta mengampuni segala dosa-dosa kita karena setiap hari selama bulan ini kita berdoa : “Allahumma innaka afuwun tuhibbul afwa fa’fu anniy”


asyura

5 Januari, 2009

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ditanya tentang puasa Asyura, beliau menjawab:
Puasa itu bisa menghapuskan dosa-dosa kecil pada tahun kemarin. (Sahih Muslim 2/818-819)

note: hari Asyura yaitu tanggal 10 Muharram adalah hari ketika Allah menyelamatkan Nabi Musa alaihissalam beserta Bani Israil menyeberang Laut Merah dari kejaran pasukan Firaun, disunnahkan berpuasa juga pada tanggal 9 atau 11 Muharram

Rujukan dari kalender yahudi menunjukkan bahwa hari kesepuluh di bulan Muharram (10th of Tishrei) atau Yom Kippur juga disyariatkan berpuasa.


%d blogger menyukai ini: