cerita paspor: kantor imigrasi satu

23 Januari, 2014

Lanjutan dari cerita sebelumnya, hari jumat pagi-pagi sekali sudah mempersiapkan segalanya sebelum berangkat ke kantor imigrasi depok. Berangkat jam 6.30 pagi, di antara rinai hujan dan menembus keramaian lalu lintas, tibalah di kanim depok jam 8 pagi. Terperanjat oleh sudah penuhnya ruang tunggu, kami menuju ke petugas penerima tamu.

baba: permisi pak, kami sudah daftar online, sebaiknya menuju ke loket mana ya?
petugas: bapak, sudah isi formulir pernyataan?
baba: formulir yang mana pak?
petugas: bapak silakan ke koperasi, minta formulir, GRATIS, lalu isi baru kemudian ke loket pengambilan nomor.
baba: oh gitu, saya kira kalau sudah daftar online, bisa langsung ambil nomor antrian.
petugas: iya pak, begitulah prosedurnya di sini.

kami pun menuju ke koperasi meminta formulir dimaksud.
baba: pak, mau minta formulir
petugas: dewasa atau anak? berapa orang?
baba: dewasa pak, dua.
bubu: satu aja, kan formulir bubu yg lama masih bisa dipakai?
baba: eh, satu aja pak.

petugas koperasi menyerahkan formulir lalu kami mencari tempat untuk mengisinya. tidak kami dapati tempat kecuali di meja penerima tamu.
baba: permisi pak, boleh mengisi di sini?
petugas: silakan pak

kami pun mengisi formulir tersebut dengan pulpen bertinta biru.
baba: sudah daftar online kok masih harus mengisi lagi?
bubu: memangnya isiannya sama dengan yang di online?
baba: tuh lihat aja, sama persis. kecuali lembar pernyataan ini.
petugas: pak, isi formulirnya dengan tinta hitam.
baba&bubu: jiaahhh…

baba: waduh, ga bawa pulpen hitam. eh, pak boleh pinjam pulpennya?
petugas: silakan pak.
baba: (dalam hati) duh, baiknya pak petugas nih…

bubu: lembar pernyataan mesti tanda tangan di atas meterai nih.
baba: eh, kayanya baba punya satu di dompet.
bubu: alhamdulillah, bubu juga punya satu di dompet.

selesai mengisi, mengembalikan pulpen kepada petugas penerima tamu.
baba: sudah diisi semua, ke mana lagi pak?
petugas: itu di dalam sebelah kiri, bapak dan ibu serahkan mapnya untuk mendapat nomor antrian.

di meja nomor antrian yang ramai oleh pemohon. ada petugas yang memeriksa dokumen, ada yang memanggil nama pemilik dokumen, ada juga yang menempelkan nomor antrian di map dokumen. beberapa dokumen ditaruh di atas meja. baba satukan dokumen kami berdua lalu bertanya ke petugas.
baba: pak, mendaftar online, taruh di sisi mana?
petugas: taruh sini saja pak.
menunjuk tempat yang dimaksud, kemudian kami menunggu dipanggil.

setelah dipanggil dan mendapat nomor antrian,
petugas: bapak tunggu di depan loket 3 ya, tunggu nomornya dipanggil.
baba: terima kasih pak

tempat duduk di ruang tunggu penuh oleh orang mengantri. kami berdiri di sisi belakang yang terdapat meja untuk menulis.
bubu: kok cuma dapat satu nomor antrian ba?
baba: ah, gapapa… kan barengan.
bubu: ih, mana ada. tuh lihat, setiap orang pegang satu nomor antrian.
baba: ya sudah sana minta lagi.
bubu membawa pergi map yang belum ditempeli ke meja nomor antrian lalu kembali tidak berapa lama.

baba: bagaimana?
bubu: untung, bubu minta nomor antrian, ba. dapat map GRATIS nih. kalau tidak repot lagi nanti kita.
baba: coba lihat nomornya, eh kok berurutan, 109 dan 110.
bubu: untung, berarti belum ada yang nyelak. tapi kok nomor 100-an ya?
baba: iya, ya? tapi kalo lihat sisa antriannya sih cuma 8. lalu kemana orang-orang yang lain ya?
bubu: oh, barangkali dipisahkan nomor antriannya antara yang datang langsung dengan yang sudah daftar online.
baba: (tengok nomor sebelah) sepertinya begitu, tuh sebelah yang nomornya kecil tapi sisa antriannya banyak.
bubu: beda loket juga ba.

tunggu punya tunggu, mulailah panggilan nomor antrian. pemohon yang daftar langsung dipanggil berbeda loket dengan yang mendaftar online. satu per satu hingga tiba giliran kami. kami menyerahkan dokumen kepada petugas di loket 3 untuk diperiksa dan dibandingkan antara salinan dengan aslinya.

petugas: pak, ini bukti bayar bank, bapak sudah punya copy-nya kan?
baba: eh, sudah saya scan sih, bagaimana sebaiknya bu?
petugas: enggak, barangkali bapak butuh untuk diganti oleh kantor.
baba: enggak kok, bu. biaya pribadi.
petugas: pak, ini paspor lama bapak masih berlaku.
baba: iya, bu tapi tinggal 9 bulan.
petugas: kan, batasnya 6 bulan, pak?
baba: maksud saya sekalian saja ganti biar bareng urusannya dengan paspor istri saya.
petugas: memangnya rencana pergi kapan?
baba: awal februari, bu.
petugas: masih cukup sih pak, nanti bapak bisa urus lagi.
baba: tapi saya juga ada rencana keluar lagi pada bulan mei atau juni. jadi sekalian saja saya urus ganti paspor sekarang.
petugas: oh gitu, sebentar ya, saya tanya dulu ke atasan saya.

si petugas pergi meninggalkan kami lalu kembali beberapa saat kemudian.
baba: jadi bagaimana bu?
petugas: yah sebenarnya sih sayang pak, tapi karena sudah bayar, ya akan kami proses.

petugas: ibu, ini masih pake formulir lama ya?
bubu: iya, bu. dulu pernah ambil dan belum dipakai.
petugas: gak bisa bu, sekarang sudah beda ketentuannya.
bubu: lalu bagaimana, bu?
petugas: ya sudah sekarang minta aja ke koperasi formulir yang baru lalu isi dan kembali lagi ke sini. ga perlu ambil nomor antrian lagi. oya, sekalian ini fotokopi ktp jangan digunting apalagi bolak-balik, mesti dalam bentuk A4.

kami keluar untuk mengambil formulir baru.
baba: jiahh… daftar online ga guna dong nih
bubu: yah… 15ribu yang dulu (buat beli formulir, map dan meterai) juga gak bermanfaat deh…
baba: bermanfaat lah… buat pemulung kertas, hehehe
bubu: dan meterainya mesti beli baru dong?
baba: ah iya ya…

di koperasi.
baba: pak, minta formulir, dewasa, satu
petugas: sudah pernah ambil bukan?
baba: belum pak, hehehe
petugas koperasi menyerahkan formulir.
baba: beli meterai dimana pak?
petugas: di sebelah, di tempat fotokopi.

di tempat fotokopi.
baba: fotokopi ktp, beli meterai 1 dan pulpen hitam 1.

setelah mengisi ulang formulir kami kembali ke loket 3. menunggu pemohon lain yang sedang dilayani petugas. mendengar percakapan mereka.
pemohon: lho, jadi hari ini saya hanya menyerahkan dokumen saja?
petugas: iya, pak. nanti kami berikan tanda terima berkas, di situ tertera kapan bapak mesti kembali untuk foto dan wawancara.
pemohon: wah, apa gunanya saya mendaftar online?
petugas: mohon maaf pak, tetapi demikain prosedur di kantor kami.
pemohon: lalu, bukannya ada layanan satu hari untuk perpanjangan?
(barangkali maksudnya penggantian paspor yang habis masa berlakunya)
petugas: benar pak, hanya saja layanan tersebut baru ada di jakarta pusat. adapun di depok sebagaimana prosedur pengajuan baru, dalam 3 kali kedatangan, paling cepat 5 hari kerja.
pemohon: percuma dong, rugi saya. daftar online biar cepat, dan berharap hari ini juga selesai.
petugas: demikian pak, prosedur di kantor kami.

setelah mendapat tanda terima, pemohon itu pun keluar dengan menggerutu karena kesal.

kami masuk ke meja petugas dan menyerahkan formulir yang baru bersama dokumen lainnya.

baba: jadi, foto dan wawancaranya ga bisa hari ini juga ya bu?
petugas: iya, pak. prosedur di sini demikian. supaya tidak penuh dan kami dapat melayani pemohon dengan baik.
bubu: oh, begitu bu. jadi kapan harus datang lagi?
petugas: kalau hari biasa dapat datang keesokan harinya. karena hari ini jumat, maka bapak dan ibu dapat datang kembali hari senin pagi. oya, pak. bapak bekerja di instansi pemerintah atau bumn?
baba: iya, ada apa bu?
petugas: mesti ada surat rekomendasi kantor ya.
baba: lho, kan ini buat pribadi, bayar sendiri pula.
petugas: aturannya demikian pak, nanti serahkan saja pada waktu wawancara.

petugas itu menyerahkan tanda terima berkas permohonan spri yang menyebutkan hal-hal yang perlu kami bawa pada saat kembali untuk wawancara dan foto. kami keluar dari kantor imigrasi depok pada jam 10.00 pagi. meninggalkan begitu banyak pemohon lainnya yang masih menunggu antrian, kebanyakan dari mereka datang langsung tanpa mendaftar online di http://www.imigrasi.go.id sebelumnya.

[bersambung]

Iklan

cerita paspor: pendaftaran online

20 Januari, 2014

ceritanya bubu lagi butuh untuk bikin paspor, dan kebetulan paspor baba juga 3 bulan ke depan ga bisa dipakai lagi untuk keluar negeri karena habis masa berlakunya.

1.
bubu: ba, bagaimana sih cara membuat paspor?
baba: datang langsung ke kantor imigrasi bisa, daftar online juga bisa
bubu: kantor imigrasi mana saja?
baba: di mana saja sama, yg terdekat saja.
bubu: apa kelebihannya daftar online?
baba: katanya sih kalau daftar online lebih cepat, cukup 2 kali datang. isi formulir online, bayar di bni, lalu datang pertama untuk verifikasi, foto dan wawancara. datang kedua untuk ambil paspor.
bubu: apa bedanya dgn datang langsung?
baba: datang langsung mesti 3 kali kedatangan. belum lagi harus datang lebih pagi supaya dapat nomor antrian yg lebih kecil. lalu mengisi formulir tulis tangan. setelah itu bayar di bni. datang kedua untuk foto dan wawancara. datang ketiga untuk ambil paspor.
bubu: wah, lebih asyik daftar online dong?
babab: iya lah… ga repot.
bubu: alamatnya mana?
baba: coba klik http://www.imigrasi.go.id di situ ada link nya.

2.
bubu: waduh, kok ga bisa aplod ya?
baba: coba cek lagi ukuran filenya
bubu: ga bisa juga tuh… bagaimana nih?
baba: mungkin lagi sibuk jaringannya

3.
bubu: ba, tolongin dong, dari kemarin ga bisa2 daftar online? repot deh…
baba: oke deh kucoba ya…

baba: asyik nih… bisa keaplod semua dokumen yg diperlukan
bubu: oya… asyik
baba: mau daftar di kantor imigrasi mana? depok atau jakarta?
bubu: depok aja ah… sesuai domisili
baba: ada nih unit jakarta yg dekat di bona indah
bubu: macet kali ke sananya kalau pagi2… bareng orang berangkat kantor
baba: ya udah, depok aja.

baba: waduh…!
bubu: ada apa?
baba: kok ga bisa pilih tanggal kedatangan ya?
bubu: kenapa nih?
baba: katanya tidak terkoneksi, mungkin karena hari ini hari libur nasional ya?

4.
bubu: plis deh…
baba: ada apa?
bubu: hari ini malah sama sekali ga bisa diakses aplikasi online nya… fuh
baba: coba dari komputer yg lain

bubu: sama aja… masih mending kemarin bisa terbuka… sekarang syusyahnyaaaa…
baba: coba pake koneksi internet yg berbeda

bubu: idem
baba: ya sudah kalau begitu mesti datang langsung ke kanim deh…

5.
terbangun jam 4 pagi, penasaran dengan aplikasi online imigrasi…
bubu: eh… bisa nih..
baba: apanya yg bisa?
bubu: aku baca dari blog kalau mau akses online musti malam hari… karena siang syusyahnya minta ampyun
baba: antri kali ya? infrastruktur TI-nya imigrasi belum mendukung untuk diakses jutaan aplikasi dalam waktu bersamaan
bubu: kalau belum kuat, kenapa aplikasi online-nya sudah di-launching?
baba: yah, namanya juga pelayanan publik, pengadaan barang dan jasa untuk instansi pemerintah mungkin terbatas anggarannya 🙂
bubu: ba, tanggal kedatangannya paling cepat hari jumat, ga bisa hari ini juga
baba: ok gapapa, hari ini berarti bayar di loket bni ajah
bubu: eh hebat sekarang sudah ada biayanya. 2 tahun lalu bukti pendaftaran online belum disebut besar biaya yg harus dibayar.
baba: bagus lah, ada kemajuan hehehe… eh aku sekalian daftar juga ga ya?
bubu: sekalian aja, mumpung masih bisa diakses nih… lagipula nanti kalau habisnya kan barengan bisa ngurus bareng lagi
baba: tanggung masih ada 3 bulan lagi sih…
bubu: ya nanti jadi bolak-balik ijin kantor dong
baba: ya sudah sekalian aja, proses di kanim depok juga kan?

hari itu, melunasi pembayaran pengurusan paspor per aplikasinya sebesar Rp255 ribu plus Rp5 ribu (biaya bank BNI46). penuh harap keesokan harinya bisa langsung foto dan wawancara sesuai yang dijanjikan di website http://www.imigrasi.go.id

[bersambung]


Informasi publik

16 Mei, 2010

Informasi publik adalah hal yang saya hargai dari kota London, sejak mendarat di Heathrow, papan penunjuk arah, petugas yang informatif, hingga fasilitas website yang selalu diperbarui, membuat tamu merasa nyaman tanpa perlu khawatir tersesat.

Dari informasi petugas di stasiun underground Heathrow didapatkan bahwa Piccadily Line yang seharusnya mengantar saya dari Heathrow ke Hammersmith non-stop pada tanggal 15/16 Mei sedang dalam perbaikan teknis. Sehingga saya harus turun di Osterley kemudian naik bus pengganti kereta dari Osterley ke Hammersmith. Tanpa perlu tambahan biaya.

Ketika turun di Osterley saya dapatkan di papan informasi bagi pengguna yang ingin langsung ke Central London, supaya turun di satu stasiun berikutnya yaitu Boston Manor, karena layanan bus pengganti kereta di Osterley hanya sampai Hammersmith, sedangkan layanan bus pengganti kereta di Boston Manor mengantar ke Central London.

Ketika turun dari Double Decker (bus tingkat) di pemberhentian terakhir bus pengganti kereta di Hammersmith, saya bertanya kepada petugas darat arah menuju jalan Shortlands, ia mengajak saya ke papan informasi di halte bus dan menunjukkan saya arah tujuan saya.

Saya berharap Jakarta dapat memberikan informasi publik lebih transparan suatu saat nanti, apalagi setelah undang-undang informasi publik diberlakukan.


%d blogger menyukai ini: