menilai kembali qurban kita

21 Desember, 2006

kawan, ada yang biasa berqurban setiap tahun untuk setiap anggota keluarga, ada juga yang berqurban satu ekor kambing saja untuk sekeluarga karena ibadah ini sunnah kifayah, ada lagi yang berqurban bila tabungannya sudah cukup atau jika mendapat bonus dari tempatnya bekerja, dan banyak yang sementara hanya berkeinginan saja karena secara kemampuan memang belum termasuk yang wajib berqurban.

kita terharu mendengar kisah-kisah luar biasa dari masyarakat ekonomi rendah yang berusaha berqurban dengan segala kemampuannya, sehingga kita secara tak sadar melupakan kisah orang-orang kaya yang diberikan banyak nikmat oleh Allah dengan qurban mereka yang melimpah setiap tahun. padahal keduanya adalah kebaikan yang tak pantas bagi kita memandang baik di satu sisi dan memandang sebelah mata di sisi lainnya, hanya karena kita menganggap sudah sepatutnya para orang kaya berqurban yang banyak.

justru saat inilah kita memanfaatkan waktu untuk menyelami sejauh mana kita sudah berqurban sebagai ketaatan dan rasa syukur kita atas karunia yang Allah limpahkan.

apakah kita menjadikan qurban sekedar realitas ritual dan rutinitas ibadah? atau karena kesadaran bahwa banyak hal dari diri kita yang perlu kita qurbankan? sudahkah kita menyempurnakan qurban kita dengan keikhlasan? mempersembahkan yang terbaik dari yang kita cintai untuk Tuhan, untuk kemaslahatan umat manusia? sebagaimana Habil putra Adam mempersembahkan qurban yang terbaik walaupun harus dibenci saudaranya?

ref QS 108:1-3
IJS-20

Iklan

agar qurban lebih bermanfaat

15 Desember, 2006

Tidak boleh dilupakan oleh kita bahwa qurban sebagai sebuah bentuk peribadatan umat Islam telah mengalami transformasi sejak jaman Nabi Adam as. hingga sempurna pada masa Nabi Muhammad saw. Dengan berqurban, manusia membuktikan ketaatannya kepada perintah Allah swt. sebagai Sang Pencipta. Dengan begitu, upacara qurban sendiri harus merujuk kepada ketentuan yang Allah dan Rasul-Nya tunjukkan kepada kita.

Selama bertahun-tahun, kita mengalami hari raya qurban yang begitu-begitu saja, datang ke panitia qurban dengan menuntun kambing atau sapi, kemudian disembelih dengan nama Allah dan takbir, dagingnya dibagi-bagikan kepada para tetangga dan orang-orang miskin. Namun sadarkah kita bahwa seiring waktu kondisi di sekitar kita telah membaik, sehingga tanpa kita sadari, hari raya adha kini menjadi pesta bagi orang-orang yang mampu? Sementara itu jauh dari tempat kita berada, di desa, di pelosok, di daerah bencana, di daerah yang kekurangan, makan daging kambing atau sapi sudah seperti menikmati hidangan surga?

Alhamdulillah, sejak hadirnya LSM keislaman yang tepercaya, qurban menjadi lebih bermanfaat dan lebih bermakna. Qurban tidak hanya dinikmati oleh orang-orang mampu, orang-orang kota, tetapi sampai ke desa, ke daerah bencana, ke daerah yang membutuhkan. Sebut saja program Tebar Hewan Kurban dari Dompet Dhuafa, Sebar Qurban Nusantara dari PKPU, dan SuperQurban dari Rumah Zakat Indonesia menawarkan asas kemanfaatan dari qurban kita. Bahkan RZI memberikan kemudahan baru membayar qurban dengan kartu kredit dan memaketkannya dalam bentuk kornet agar manfaat qurban dapat dirasakan lebih panjang.

Kemanapun kita berqurban, ingat selalu NIATKAN SEMATA KARENA ALLAH. Selamat berqurban!


%d blogger menyukai ini: