100 hari lagi

17 Februari, 2017

Mari bersiap-siap menyambut sang tamu agung!


Belum berakhir 

3 Juli, 2016

 العبرة بحسن الخاتمة

Yang menjadi ukuran adalah akhir yang baik.

العبرة بكمال النهايات لا بنقص البدايات

Yang menjadi ukuran adalah kesempurnaan penutupnya. Bukan kekurangan yang terjadi di permulaannya.

Ramadhan belum habis, kawan.

@ndi, 28091437


ramadan is coming

9 Mei, 2016

image

Sebulan lagi Ramadan, apakah hal ini mengagetkan atau biasa-biasa saja? Di dalam kitab Lathaiful Maarif disebutkan bahwa sebagian ulama salaf berkata bahwa para sahabat sudah berdoa selama enam bulan sebelumnya agar mereka dipertemukan dengan bulan Ramadan, lalu bagaimana dengan kita?

Mungkin di antara kita sudah berpikir tentang masakan yang akan dihidangkan selama bulan Ramadan, bagaimana menjalani pekerjaan selama berpuasa, bagaimana menghadapi ujian dengan perut kosong? Persiapan yang lebih penting adalah bagaimana menjadi muslim yang lebih kuat daripada sekarang. Barangkali ada sebagian kita yang sudah berpikir untuk mengkhatamkan Quran, menghidupkan malam dengan ibadah, atau menyediakan makanan berbuka setiap hari.

Bagaimana jika kita mulai mengisi Ramadan dengan 3 ide yang sederhana:

1. Quran. Tujuannya untuk menguatkan hubungan kita dengan kalimat-kalimat Allah. Bisa jadi dengan memperbaiki bacaan, menghapalkan sebagian ayat, atau mendalami tafsir surat tertentu. Apapun itu, tetapkan target yang agak tinggi dan berdoalah untuk dimudahkan selama Ramadan.

2. Doa. Ramadan adalah bulan yang utama untuk berdoa. Ambillah waktu-waktu ijabah untuk menyampaikan doa terbaik di dalam hidup kita. Bisa jadi dengan doa yang kita panjatkan pada setiap malam, atau doa-doa yang kita panjatkan pada waktu-waktu ijabah di setiap harinya.

3. Sedekah. Setelah berbulan-bulan makan, kita berpuasa. Siapkan aksi kecil untuk memberi derma dan membagikannya sepanjang bulan Ramadan. Lebih baik konsisten dengan amalan yang ringan selama 30 hari daripada memberatkan diri dengan sedekah yang besar sekaligus.

Jika Anda punya ide kreatif lainnya, silakan berbagi.

@ndi, 01081437


habis ramadan

14 Juli, 2015

Setiap habis ramadan, aku tak tahu apakah harus merindu, sedangkan aku tak memadatinya dengan ibadah?

Setiap habis ramadan, aku tak tahu apakah patut takut kalau tak sampai ke tahun depan, bahkan aku tak pernah tahu akankah sampai ke waktu berbuka?

Setiap habis ramadan, aku tak tahu apakah perlu membuat resolusi diri, padahal masih banyak resolusi sebelumnya yang masih angan-angan?

Setiap habis ramadan, aku hanya tahu satu hal, aku punya harapan agar Allah mau memaafkan dan menerima amal-amal ku. Harapan yang sama jua untukmu.

(@nd, 27091436)


air mata perpisahan

27 Juli, 2014

image

dapatkah aku
menerima kepergianmu,
apabila saat yang berlalu
aku sia-siakan?

haruskah aku
menangis kehilanganmu,
untuk berat hati
menyambut raya?

andai aku dapat
mengulang kembali,
atau hanya berharap
bertemu lagi.

(depok, 29-9-1435/27-7-2014, 8:37 wib/gmt+7)

image


amalan sunnah penyempurna amalan wajib

22 Agustus, 2012

Beberapa keutamaan penting dari puasa enam hari di bulan Syawal adalah untuk memperbaiki setiap kesalahan dari puasa wajib di bulan Ramadan, karena tidak satupun orang yang bebas dari dosa dan kesalahan yang membuat nilai puasanya berkurang. Pada hari kiamat, beberapa amalan nafilnya digunakan untuk menambal kekurangan pada amalan wajib, sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Hal yang pertama dihisab dari seorang hamba di hari kiamat adalah salat, Tuhan kita subhanahu wata’ala akan berkata kepada malaikat-Nya – walaupun Dia Maha mengetahui – ‘Lihat amalan salat hamba-Ku, apakah sempurna atau tidak.’ jika sempurna maka akan dicatat sempurna, jika didapatkan ada kekurangan maka Dia berkata, ‘Lihat dan carilah apakah hamba-Ku mengerjakan salat sunah?’ jika ia mengerjakan salat sunah maka dikatakan, ‘Sempurnakan salat wajib hamba-Ku dengan salat sunah yang ia kerjakan.’ Maka semua amal ibadahnya akan dipertimbangkan dengan cara yang serupa.” (H.R. Abu Dawud).


refleksi lailatul qadar

14 Agustus, 2012

“barangkali tadi malam, bukan dua malam yg lalu.”
“mengapa tidak 2 atau 4 malam berikutnya?”
“tanda-tandanya nyata dan aku hanya mengikuti nash yang menyebutkannya.”
“lalu, kamu berhenti karena menurutmu sudah berlalu?”

Lailatul qadar adalah malam yang amat dinanti-nantikan oleh orang-orang yang mengimaninya karena telah tertulis di dalam Alquran bahwa malam tersebut dijanjikan lebih baik daripada seribu bulan. Tanda-tandanya amat jelas dapat dilihat secara hakiki, namun demikian tidak diketahui kapan waktunya. Oleh karenanya Nabi shallallahu alaihi wasallam memotivasi umatnya untuk giat beribadah pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Agar para pemburu malam itu tidak merasa cukup dengan mengistimewakan suatu malam dengan beribadah dan meninggalkan ibadah pada malam-malam lainnya. Tetap semangat!!!


mari kita berdoa

10 Agustus, 2012

2:186

Pada senarai ayat-ayat-Nya tentang puasa, tentulah bukan tanpa maksud Allah menyelipkan ayat tentang doa. Firman-Nya: “Dan apabila bertanya kepadamu, hamba-hambaku, mengenai Aku, maka ketahuilah bahwa Aku dekat. Aku menjawab doa para pendoa apabila mereka berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka menjawab seruan-Ku dan beriman kepada-Ku, mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk.” (QS Albaqarah, 2: 186).

Berdoa adalah perbuatan hamba yang sangat disenangi oleh Allah, bahkan Allah marah kepada hamba-Nya yang tidak berdoa kepada-Nya. Mengabulkan doa para hamba-Nya tidak akan membuat Allah kekurangan sedikitpun, karena Allah Mahakaya dan di sisi-Nya lah segala sesuatu.

Puasa merupakan salah satu kondisi dikabulkannya doa seorang hamba, sedangkan waktu berbuka puasa adalah waktu yang paling utama untuk berdoa. Sebagaimana di hari-hari lain Allah telah menyediakan waktu-waktu terkabulnya doa yang sangat sayang untuk dilewatkan. Selain itu terdapat waktu khusus yang hanya dapat ditemui di bulan Ramadan, yaitu pada malam Lailatul Qadar.

Setiap hamba tentu memiliki hajat masing-masing, namun hendaklah kita mengutamakan untuk meminta kepada Allah apa-apa yang sangat diperlukan oleh seorang hamba. Di antara doa-doa tersebut adalah memohon hidayah, memohon ampunan atas segala dosa dan kesalahan, memohon diterimanya amal ibadah, memohon surga dan dijauhkan dari neraka, dan memohon keselamatan hidup di dunia dan akhirat.

Marilah kita berdoa dengan menjaga adab-adab berdoa, serta secara cerdas memanfaatkan waktu dan kondisi dikabulkannya doa, mudah-mudahan Allah memberikan petunjuk-Nya kepada kita.


menjaga Allah

4 Agustus, 2012

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam pernah memberi nasehat kepada sahabat mulia Abdullah bin Abbas radiyallahu anhuma, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi rahimahullah, “Wahai Anak! Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.”

Sesungguhnya Allah telah menjadikan manusia cinta kepada 3 hal: cinta kepada wanita, anak-anak, dan harta duniawi [1]. Namun Allah juga telah menjadikan orang yang mati karena berjuang membela kehormatan diri, keluarga dan hartanya, dianggap sebagai syahid di sisi Allah [2].

Allah mengisahkan di dalam surat Al-Kahfi (QS 18: 60 – 82) tentang Nabi Khidir alaihissalam yang menjadi rujukan bagi Nabi Musa alaihissalam dengan berguru kepadanya. Ketika Nabi Khidir melubangi perahu yang dinaiki sehingga dapat menenggelamkan penumpangnya, adalah sebagai penjagaan Allah kepada orang-orang miskin yang bertakwa, supaya perahu mereka tidak dirampas oleh raja yang lalim.

Ketika Nabi Khidir membunuh seorang anak yang dikhawatirkan dewasanya kelak akan mengajak kedua orang tuanya yang beriman kepada kesesatan kekufuran adalah sebagai bentuk penjagaan Allah kepada orang tua yang beriman itu, supaya Allah memberi ganti bagi mereka dengan anak yang lebih baik dan lebih menyayangi orang tuanya.

Ketika Nabi Khidir menegakkan kembali dinding sebuah rumah di kota yang tidak mau menjamu mereka, sebagai penjagaan Allah bagi dua anak yatim yang ayahnya soleh. Karena di bawah rumah tersebut terdapat harta simpanan yang dapat mereka pergunakan apabila dewasa nanti.

Itulah di antara bentuk penjagaan Allah bagi orang-orang yang menjaga hak-hak Allah. Hak untuk diimani dan diibadahi tanpa menyekutukan Dia dengan sesuatupun. Semoga Allah memperbaiki dan menerima amal ibadah kita di bulan Ramadan.

(disarikan dari tausiyah Ustadz Syamsul Albuthoniy hafizhahullah pada kultum ifthar di Masjid Al-Urwatul Wutsqa, Komplek Taman Ventura Indah, Depok)

[1] “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” [QS Ali Imran, 3: 14]

[2] “Siapa yang terbunuh karena membela agamanya, maka ia dianggap mati syahid, dan siapa yang terbunuh karena membela darahnya, maka ia dianggap mati syahid, dan siapa yang terbunuh karena membela hartanya, maka ia dianggap mati syahid, dan siapa yang terbunuh karena membela keluarganya, maka ia dianggap mati syahid.” [HR Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah]


malam dan siang

3 Agustus, 2012

gambar diambil di Depok, tanggal 3 Agu 2012 jam 05.19 (14 Rmd 1433) dengan kamera Panasonic Lumix DMC-FZ8, 18x zoom

Jika memperhatikan keterangan gambar bulan pada tulisan ini dibandingkan pada tulisan sebelumnya mungkin ada yang bertanya-tanya. Gambar yang diambil bada magrib pada 1 Agustus ditandai 13 Ramadan sedangkan gambar yang diambil bada subuh pagi ini 3 Agustus ditandai 14 Ramadan, mengapa bukan 15 Ramadan?

Di masa sekarang ini pengaruh kalender gregorian begitu luasnya, kalender yang disandarkan kepada siklus matahari selama setahun dan hari baru dimulai pada jam 00:00 dan diakhiri pada jam 23:59. Istilah bulan pada kalender gregorian pun rancu karena terdiri dari 30-31 hari dalam setiap bulan bahkan ada satu bulan yang hanya 28 atau 29 hari. Padahal siklus bulan sendiri hanya 29 atau 30 hari. Padahal juga sejak peradaban manusia dimulai, istilah hari adalah untuk menunjukkan waktu antara matahari terbit hingga terbenam, dan istilah malam adalah waktu antara matahari terbenam hingga terbit. Bahkan ada beberapa pendapat yang dianggap kontroversial menyatakan bahwa penanggalan yang tertera pada lukisan gua berumur 15.000 tahun dan torehan pada tulang berumur 27.000 tahun menggunakan sistem kalender bulan.

Di dalam Islam, agama yang diyakini oleh umatnya sebagai agama universal, Tuhan membagi satu tahun dalam 12 bulan [1] yang terdiri dari 29 atau 30 hari pada setiap bulannya sesuai dengan siklus bulan [2]. Dan sebuah tanggal dimulai sejak matahari terbenam (malam) kemudian terbit  hingga terbenam kembali (siang) [3]. Jika ini dipahami dengan baik, sesuai hasil sidang itsbat 1 Ramadan 1433 bertepatan dengan 21 Juli 2012 artinya bahwa 1 Ramadan 1433 sudah dimulai sejak magrib pada 20 Juli dan berakhir pada 21 Juli saat magrib. Maka keterangan gambar bulan dapat dengan mudah dipahami bahwa 13 Ramadan adalah sejak magrib 1 Juli hingga magrib 2 Juli dan 14 Ramadan adalah sejak magrib 2 Juli hingga magrib 3 Juli, sehingga potret bulan yang diambil bada subuh 3 Juli masih berada pada tanggal 14 Ramadan.

[1] “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus.” [QS At-taubah, 9: 36]

[2] “Sesungguhnya kami adalah kaum yang ummi. Kami tidak menulis dan tidak menghitung. (Hitungan) bulan itu sekian dan sekian“; maksudnya 29 hari atau 30 hari. [HR Albukhari dan Muslim, dari Abdullah bin Umar radiyallahu anhuma]

[3] “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” [QS Ali Imran, 3: 190]

Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” [QS Al Anbiyaa, 21: 33]

Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.” [QS Al Furqaan, 25: 62]


%d blogger menyukai ini: