taman-taman surga di masjid nabawi

4 Maret, 2014

Didasari oleh hadits riwayat Al-Bukhari & Muslim yang menyebutkan, “tempat antara mimbarku dan rumahku adalah satu taman dari taman-taman surga”, kebanyakan peziarah di Masjid Nabawi begitu bersemangat untuk mendapati Al-Rawdah. Tak peduli waktu dan kondisinya, sampai harus mengantri berdesak-desakan, menunggu waktu buka tirai, berebutan, bahkan sampai menginjak jamaah lain yang terjatuh, demi mendapatkan salah satu taman surga. Banyak di antara mereka yang karena semangat untuk salat di Al-Rawdah malah meninggalkan keutamaan salat di saf pertama. Padahal di Masjid Nabawi, taman surga tidak hanya di Al-Rawdah.

Setiap bada salat Subuh, bada salat Asr, dan bada salat Magrib, akan mudah bagi yang mau untuk mendapati beberapa taman surga di Masjid Nabawi. Taman-taman yang lebih sejuk, damai dan orang-orang yang duduk di dalamnya tidak berdesak-desakan. Majelis yang dinaungi oleh sakinah, rahmat dan dikelilingi para malaikat. Yang apabila orang-orang yang mendatanginya menyebut nama Allah, akan Allah sebut nama mereka di majelis yang lebih mulia di sisi-Nya. Di taman-taman itu ada yang membacakan Alquran dan mempelajarinya, baik dari tahsin (memperbagus bacaan), tafsir (pemahaman), dan hukum-hukum tentang halal dan haram. Ada pula yang mempelajari hadits Nabi.

Bagaimana bisa perkumpulan orang-orang yang membaca kitabullah dan mempelajarinya disebut sebagai taman surga? Bukankah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam– bersabda: “‘Jika kalian melewati taman surga maka berhentilah.’ Mereka bertanya, ‘Apakah taman surga itu?’ Beliau menjawab, ‘Halaqah dzikir (majelis ilmu).'” (HR At-Tirmidzi). Selain itu, mendatangi majelis ilmu di Masjid Nabawi, selain bermanfaat bagi kehidupan juga dijanjikan pahala yang setara dengan pahala jihad. Dari Abu Hurairah beliau berkata, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Barang siapa mendatangi masjidku ini, tidak datang kecuali untuk kebaikan yang ingin dia pelajari atau dia ajarkan, maka kedudukannya seperti mujahid di jalan Allah. Dan barang siapa datang untuk selain itu, maka ia laksana orang yang hanya memandang barang orang lain.” (HR. Ibnu Majah)

Duhai, seandainya para peziarah itu tahu keutamaan majelis ilmu di Masjid Nabawi, tentu mereka tidak hanya berebut Al-Rawdah, tetapi juga memperebutkan taman-taman surga lainnya.

Referensi :

Abu Muawiah (2010, October 13). Keistimewaan Masjid Al-Haram dan Nabawi | Al-Atsariyyah.Com. Retrieved February 28, 2014, from http://al-atsariyyah.com/keistimewaan-masjid-al-haram-dan-nabawi.html

Al-Khalafi, A. A. (2004, August 19). Menziarahi Kota Madinah Al-Munawwarah – almanhaj.or.id. Retrieved February 28, 2014, from http://almanhaj.or.id/content/995/slash/0/menziarahi-kota-madinah-al-munawwarah61482/

Syamhudi, K. (2002). Adab majelis ilmu. retrieved February 28, 2014, from http://majalah-assunnah.com/index.php/kajian/hadits/253-adab-majelis-ilmu


al-rawdah si taman surga

3 Maret, 2014

Tempat paling favorit yang diperebutkan oleh para peziarah untuk salat di Masjid Nabawi adalah Al-Rawdah. Selain karena bernilai lebih baik dari 1000 salat di masjid lainnya, salat di tempat itu seperti salat di taman surga. Telah disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda  : “Tempat antara mimbarku dan rumahku adalah satu taman dari taman-taman surga. Dan mimbarku berada di atas telagaku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Sebagai konsekuensi dari perluasan masjid, rumah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- yang juga sebagai kuburan beliau dan kedua sahabat mulia, Abu Bakar as-Shiddiq dan Umar ibn al-Khatthab -radhiyallahu anhuma- masuk di dalam Masjid Nabawi. Saat ini ruang yang disebut sebagai Al-Rawdah ditandai dengan karpet bercorak dengan warna dominan hijau, sedangkan karpet di ruangan selainnya dengan warna dominan merah.

Batas bagian depan Al-Rawdah adalah mihrab Nabi, batas sebelah kanan adalah mimbar Nabi. Adapun batas sebelah kiri adalah dinding ruang kubur Nabi dan kedua sahabat beliau. Antara batas kanan dengan kiri adalah 5 tiang masjid dan antara batas depan dengan batas belakang adalah 5 tiang.

Apa yang telah dilakukan oleh sahabat yang mulia, Abdullah ibn Umar -radhiyallahu anhuma- ketika mendatangi Masjid Nabawi adalah melakukan salat tahiyatul masjid dua rakaat di Al-Rawdah kemudian pergi ke kuburan Nabi dan dua sahabat beliau lalu mengucapkan salam kepada mereka, setelah itu pergi tanpa berdiri lama di situ.

Sebagai tempat favorit, tak sedikit korban dari perjuangan para peziarah yang berebut Al-Rawdah. Maka dari itu dibuatlah tirai dan jadwal kunjungan bagi jamaah perempuan sebagai solusi terhadap ikhtilat, yaitu pada waktu duha dan setelah salat isya. Sedangkan bagi jamaah laki-laki diberlakukan sistem buka tutup tirai sejak selesai salat fajar dengan rentang waktu antara 30 – 60 menit antar bukaan. Adapun di waktu lewat tengah malam hingga masuk waktu salat fajar, sepenuhnya dibuka bagi jamaah laki-laki.

Ketika mendapati Al-Rawdah, para jamaah memanfaatkan kesempatan langka itu dengan memperbanyak rakaat salat dan memperlama zikir. Ada juga yang memperpanjang doa di sana dengan anggapan sebagai tempat yang mustajab atau terkabulnya doa. Namun, alih-alih menghadap kiblat ketika berdoa, celakanya tak sedikit jamaah yang malah berdoa menghadap ke kubur Nabi. Bahkan ada yang memanggil-manggil nama beliau, tentu saja amalan ini tidak dibenarkan.

Semoga Allah memberikan al-afiyat.

Referensi :

Abu Muawiah (2010, October 13). Keistimewaan Masjid Al-Haram dan Nabawi | Al-Atsariyyah.Com. Retrieved February 28, 2014, from http://al-atsariyyah.com/keistimewaan-masjid-al-haram-dan-nabawi.html

Al-Khalafi, A. A. (2004, August 19). Menziarahi Kota Madinah Al-Munawwarah – almanhaj.or.id. Retrieved February 28, 2014, from http://almanhaj.or.id/content/995/slash/0/menziarahi-kota-madinah-al-munawwarah61482/

Berdoa di Raudhah – salamdakwah.com. (2014, January 27). Retrieved February 28, 2014, from http://salamdakwah.com/baca-pertanyaan/salah-satu-tempat-mustajab-dikabulkan-doa–raudoh-di-masjid-nabawi.html


%d blogger menyukai ini: