mengapa (tidak) merokok?

29 September, 2014

image

Tsuraya, 6 tahun, sering melihat orang dewasa merokok, tetapi dia tidak pernah melihat Baba melakukannya. Dalam sebuah kesempatan ia pun bertanya, “Baba, mengapa tidak merokok?”

Baba menatap wajah putrinya itu dengan penuh sayang. “Menurut kamu, apa manfaat rokok?” tanya Baba.

“Ee…,” Tsuraya mencoba mengingat-ingat tulisan di iklan, “rokok, membunuhmu.”

“Nah, seorang muslim selalu berupaya meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat,” Baba mencoba menjelaskan, “apalagi jika diketahui hal itu justru mencelakakan dirinya.”

Tsuraya mengangguk paham, kemudian pergi melanjutkan bermain.


arak dan rokok

23 Mei, 2012

Tak pelak, arak dan rokok menjadi teman hidangan dalam perjamuan makan orang Cina. Sekalipun makanan yang dihidangkan adalah halal dan dimasak oleh koki muslim, arak Cina selalu ada di dalam daftar minuman yang disediakan kepada para tamu. Terkadang kadar alkoholnya melebihi 70%, maka bagi yang pernah menyicipinya mengatakan “tidak berasa lagi arak”. Sedangkan beberapa arak dengan kadar alkohol lebih rendah maka dikatakan lebih terasa araknya dan lebih memabukkan.

Begitupun halnya dengan rokok, tuan rumah menyediakan rokok kualitas nomor satu seperti merek Chung Hwa yang diproduksi di Shanghai. Sebungkus rokok berisi 20 batang, memiliki harga tiga hingga lima kalinya dibanding rokok lain. Bagi beberapa perokok, rasa tembakau Chung Hwa dianggap masih lebih ringan daripada rokok Dji Sam Soe.

Dibanding memilih keduanya, sebagian orang memilih arak daripada rokok, sebagiannya memilih rokok daripada arak, dan ada sebagian lagi tidak memilih keduanya. Menurut pemahaman saya yang jahil, risiko hukum terhadap apa yang tertulis jauh lebih besar daripada yang tidak tertulis. Secara tegas, Allah di dalam kitab Alqur’an dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di dalam kitab-kitab Hadits, menyatakan keharaman khamr. Sedangkan pengharaman rokok, “hanya” berdasarkan kesimpulan para ulama dari dalil-dalil yang menguatkan pendapat tersebut.

Duduk satu meja dengan para peminum dan perokok, sudah tentu “kecipratan” dosa dan menunjukkan sedang rendahnya kadar keimanan orang tersebut. Sehingga jika “harus” memilih,  yang risiko dosanya lebih ringan adalah pilihan yang lebih baik. Wallahu a’lam.


merokok, haram?

22 Maret, 2010

Menyimak acara pro-kontra di TVOne mengenai fatwa haram rokok yang dikeluarkan oleh majelis tarjih Muhammadiyah, membuat hati miris. Betapa urusan halal-haram yang merupakan ranah hukum agama diperdebatkan dengan segala kondisi aktual. Sebagian mengatakan bahwa fatwa tersebut adalah ijtihad yang boleh diikuti atau tidak. Sebagian lagi mengatakan bahwa urusan halal-haram bukan sekedar boleh ikut atau tidak tetapi berdampak akhirat. Sebagian meminta agar tetap dimakruhkan saja. Sebagian mempertanyakan kredibilitas yang mengeluarkan fatwa. Sebagian menyayangkan fatwa tersebut dikeluarkan tanpa ada solusi bagi rantai produksi tembakau dan nasib para petaninya. Sebagian memilih supaya rokok diatur melalui peraturan pemerintah sebagaimana miras telah diatur.

Memang urusan agama jika ingin diperdebatkan dan dimasukkan ke dalam logika berpikir manusia, apalagi yang membahasnya adalah orang-orang yang tidak memiliki ilmu agama yang mumpuni, maka akan panjang urusannya. Untunglah, Karni Ilyas sang moderator yang juga perokok berat, menutup perdebatan dengan mengatakan bahwa ranah agama harus dikembalikan kepada Alquran dan Hadits, kemudian mengajak hadirin maupun pemirsa untuk bersama mencari arah solusi positif atas dampak fatwa tersebut.

Rokok memang secara lugas tidak terdapat di dalam Alquran dan Hadits karena ia merupakan hal baru yang tidak ada pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wasalam, sehingga masuk ke dalam perkara syubuhat (samar). Dan ianya menjadi dialog panjang para ulama. Sebagian ulama mengambil hukum makruh (dibenci dan tercela), sedangkan sebagian besar ulama mengambil hukum haram (terlarang dan berdosa) karena rambu-rambu fikih mengarahkan rokok dan merokok lebih cenderung kepada haram.

Jika sesuatu yang samar-samar itu dibenci dan tercela, tentulah lebih baik bagi seorang muslim menjauhi perkara tersebut, supaya tidak terjatuh kepada hal-hal yang dapat menjerumuskannya kepada yang haram, sebagaimana hadits dari sahabat Nu’man bin Basyir radliyallahu anhu bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wasalam bersabda:

“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya ada perkara-perkara samar (syubhat/tidak jelas halal haramnya) yang kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. Maka siapa yang berhati-hati dari perkara samar (syubhat) ini berarti ia telah menjaga agamanya dan kehormatannya. Dan siapa yang jatuh dalam perkara syubhat berarti ia jatuh dalam keharaman, seperti seorang penggembala yang menggembalakan hewan gembalaannya di sekitar daerah larangan, hampir-hampir ia melanggar daerah larangan tersebut. Ketahuilah, setiap raja itu memiliki daerah larangan. Ketahuilah, daerah larangan Allah adalah perkara-perkara yang Allah haramkan. Ketahuilah, sesungguhnya dalam jasad itu ada segumpal darah. Apabila baik segumpal darah itu maka baik pula seluruh jasad. Sebaliknya apabila rusak maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah segumpal darah itu adalah hati”. (Hadits riwayat Bukhari no. 52, 2051 dan Muslim 1599)


potret

11 Mei, 2009

laki-laki berpeci sekitar paruh baya, duduk di pembatas jalan antara jalur cepat dan jalur lambat, menikmati bakpaonya. bersandar di sisinya tongkat penyangga. kaki kanannya lebih kecil daripada kaki kirinya yang lebih pas. kupikir tongkat itu buat menyangga badan kanannya supaya dapat berjalan seimbang. sehabis bakpaonya, direngkuhnya sebotol air minum dingin dengan tangan kiri. ditenggaknya beberapa teguk buat mendorong bakpao yang menyangkut di kerongkongan. dipanggilnya pedagang rokok keliling, sebatang telah berpindah ke tangannya setelah mengulur beberapa keping uang lima ratusan. meminta api dan dihembuskan asap. berapalah yang diperolehnya dari menengadahkan tangan ke setiap jendela mobil dan wajah pejalan kaki. yang penting baginya saat itu adalah menikmati sebatang rokok di antara lalu lalang kendaraan.


%d blogger menyukai ini: