teriak zalim

25 Februari, 2016

Barangkali, mereka yang tidak sabar, berteriak pemerintahan zalim, berteriak khilafah, juga akan tidak sabar, juga akan berteriak zalim, kepada khalifah yang suatu saat nanti memimpin.

Bukankah khalifah Abu Bakar ash-Shidiq pernah disebut zalim karena menumpas nabi-nabi palsu dan menghukum orang-orang yang tidak mau membayar zakat?

Bukankah khalifah Umar bin al-Khattab pernah disebut zalim karena penegakan hukum yang keras?

Bukankah khalifah Utsman bin Affan pernah disebut zalim karena mengangkat para pejabat profesional dari kerabatnya?

Bukankah khalifah Ali bin Abi Thalib pernah disebut zalim karena memberantas kaum khawarij?

Bukankah khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan pernah disebut zalim karena mengangkat putranya, Yazid, sebagai khalifah?

Dan seterusnya, hingga setiap raja-raja dan khalifah muslim, pernah disebut zalim oleh lawan-lawan politiknya.

*catatan: nama-nama khalifah di atas – semoga Allah meridai mereka – adalah para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, yang memimpin dengan adil dan mendapat petunjuk dari Allah.


menziarahi al-baqi

11 Maret, 2014

image

Kuburan Al-Baqi terletak di sebelah tenggara Masjid Nabawi. Telah dimakamkan di sana para istri dan bibi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, anak beliau Ibrahim, dan beberapa orang sahabat radiyallahu anhum. Kebanyakan warga Madinah dan peziarah merindu untuk disalatkan di Masjid Nabawi kemudian dikuburkan di Al-Baqi ketika wafat. Selain karena banyaknya yang menyalatkan juga karena adanya anggapan bahwa penghuni Al-Baqi adalah yang pertama kali dibangkitkan di hari kiamat sebelum penghuni kubur lainnya.

Al-Baqi dibuka untuk umum yang hendak menziarahinya hanya pada dua waktu, yaitu pagi hari di waktu duha dan sore hari setelah salat Asar. Selain kedua waktu itu tertutup dan dibuka bagi yang menguburkan mayat saja. Hanya laki-laki saja yang diperkenankan masuk pekuburan, sedangkan para wanita dipersilakan untuk menunggu dan mendoakan dari luar.

Di Al-Baqi, semua kuburan memiliki bentuk yang sama, berbentuk gundukan dan batu penanda sebagai nisan tanpa nama. Hanya kerabat saja yang mengetahui di mana kubur sanaknya berada. Dahulu pernah ada penanda pada kubur para istri Rasulullah dan beberapa sahabat, berupa bangunan yang memayungi dan nisan bernama. Tetapi para pelaku kesyirikan menjadikannya kuburan keramat dan tempat mengalap berkah. Kemudian semua bangunan diratakan dan tanda nama dihilangkan oleh pemerintah kerajaan Saudi, dalam rangka memenuhi wasiat Rasulullah terhadap kuburan.

Berziarah kubur adalah sunah yang tidak hanya ditujukan pada Al-Baqi tetapi juga kepada pekuburan lainnya, yaitu dalam rangka mengingat mati dan orang yang telah mati, mengingat tempat kembalinya bisa surga atau neraka. Disunahkan pula ketika mendatangi pekuburan muslim untuk mendoakan keselamatan dan memintakan ampun kepada Allah bagi penghuni kuburan. Bukan untuk berwasilah apalagi mengalap berkah.


bola kaca dan bola karet

25 Februari, 2013

image

Pada acara wisuda di suatu universitas, Brian Dyson, CEO Coca-Cola Enterprises, pernah berbicara mengenai hubungan antara pekerjaan dengan komitmen-komitmen lainnya yang kita miliki:

“Bayangkan bahwa hidup seperti bermain sulap dengan lima bola di udara. Anda dapat menamai bola-bola itu – pekerjaan, keluarga, kesehatan, sahabat dan jiwa – dan Anda menjaga kelimanya supaya tidak jatuh. Anda akan segera mengerti bahwa pekerjaan seperti bola karet. Jika Anda menjatuhkannya, ia akan memantul.

Tetapi keempat bola lainnya – keluarga, kesehatan, sahabat dan jiwa – terbuat dari kaca. Jika Anda menjatuhkan salah satunya, bola-bola itu lecet, retak, gompal, rusak, atau bahkan hancur. Walaupun dengan susah payah diperbaiki, tidak akan seperti semula keadaannya.”

Bola kaca yang mudah pecah tidak sama dengan bola karet yang elastis, bahkan bola kaca lebih berharga. Namun mengapa banyak di antara kita yang terus menerus menjaga bola karet dan mengabaikan bola-bola lainnya yang terbuat dari kaca?

Demi pekerjaan kita rela mengorbankan dan menghancurkan keempat hal tersebut? Keluarga terbengkalai, sakit-sakitan, sahabat dan rekan kerja disikut, bahkan jiwa ikut terganggu gara-gara mementingkan karir dan pekerjaan.

Mari kita perbaiki prioritas kita. Tentu saja mementingkan keluarga, kesehatan, persahabatan, dan kejiwaan bukanlah sikap egois. Melainkan sikap untuk mempertahankan agar kita dapat menjaga kesemuanya.

(refleksi)


keutamaan para sahabat Rasulullah

10 November, 2011

Di antara dasar-dasar ahlussunnah wal jamaah adalah selamatnya hati dan lisan mereka dalam menyikapi para sahabat Rasulullah sallallahu alaihi wasalam. Mereka mengakui dan meyakini kabar keutamaan empat sahabat yang terbaik yaitu Abu Bakar, Umar ibnul Khatthab, Utsman ibn Affan dan Ali ibn Abi Thalib. Mereka mencintai dan loyal kepada keluarga Rasulullah. Mereka loyal kepada istri-istri Rasulullah sebagai ummul mukminin. Mereka tidak membenci para sahabat seperti Syiah Rafidhah, dan mereka tidak menyakiti ahlul bait seperi golongan Nawashib. Mereka juga tidak meyakini bahwa para sahabat bebas dari dosa, melainkan para sahabat juga melakukan kesalahan tetapi mereka memiliki kebaikan yang banyak. Dan ahlussunnah wal jamaah meneladani keutamaan-keutamaan para sahabat Rasulullah radiyallahu anhum.

http://www.ziddu.com/download/17413841/hWasithiyah_UstMuhYahya_KeutamaanSahabatRasulullah.mp3.html


berartinya kawan

29 Februari, 2008

Apalah artinya kawan… mungkin tak banyak di antara kita yang merasakan betapa berartinya kawan. Banyak macam kawan yang dapat kita jalin dalam kehidupan kita, namun berapa banyak kawan berkualitas yang dapat langgeng sampai akhir hayat? Ah terlalu jauh… tetapi ada pelajaran yang dapat kupetik tentang makna kawan dalam perjalananku kali ini.

“hei, gw di surabaya nih, dinner yuk! Ajak keluargamu sekalian ya!” begitu pesan smsku. Berhubung ada beberapa kawan, kuset tiap malam dinner dengan kawan yang berbeda, supaya bisa ngobrol lebih intens sekaligus melepas kangen dengan cara yang berbeda pula.

Tak dinyana, mereka respon luar biasa. Dinner pertama dengan budi-mega, mereka datang di saat gerimis dengan sepeda motor. Surabaya di waktu sore beberapa hari ini selalu disiram hujan. Mereka mengajakku makan “penyet-penyetan” bu Kris yang terkenal dengan sambalnya yang aduhai pedasnya. Mengantarku beli rujak cingur pesanan teman kantor di plasa surabaya. Ngobrol beberapa hal dan kembali ke hotel. Kuajak ngobrol lanjutan di kafe hotel, tetapi sayangnya mereka punya keperluan lain.

Dinner kedua dengan yudis-citra, di saat gerimis juga, tapi kami janjian di tunjungan plaza, pesan hotplate, sambil ngobrol banyak hal, seperti dulu di kantin teknik yang bisa habis semalaman buat ngobrol. Sadar meja-meja foodcourt mulai dibereskan, kami pun menyingkir dan melanjutkan obrolan sampai ke dalam taxi. Sayang juga esok hari kerja, sehingga menghalangi kami mengobrol lebih jauh.

Tak ada yang kurang dari pertemuan dengan mereka, apalagi dinner gratis  maunya sih aku yang mbayari tapi mereka bersikeras. Hal yang serupa kudapatkan ketika aku ke balikpapan dan dinner bareng hosna-rani makan di pinggir pantai. Berangkat gelap-gelapan karena rumah kontrakan mereka mati lampu. Sampai malam menikmati roti cannai dan desiran angin pantai. Atau di saat liburan kuliah dulu main ke bandung mengganggu doni yang masih berkutat dengan ujian semester, tetapi sempat ngajak main dan makan keluar sarangnya di asrama masjid salman. Atau dengan mas agung yang rela jemput tengah malam karena baru pulang dari gresik untuk mengajakku makan rawon setan dan keliling surabaya dengan sedannya. Atau dengan asim yang menjamu dan mengenalkanku kehidupan londoners ketika mampir di london, begitupun dengan jacky yang membantuku mengenali calgary.

Kesemua kawanku itu menjamuku begitu istimewa dengan cara mereka masing-masing. Bukan jamuan bisnis yang penuh pamrih, tetapi jamuan persaudaraan yang penuh cinta. Tak satupun yang mau menerima balasanku secara spontan saat itu. Tak hanya dinner gratis yang kudapat, diskusi, wacana, hikmah dan charging atas jiwa juga kudapat dari mereka. Kurasakan betapa berartinya mereka dalam sekilas kehidupanku.

Sejenak menerawang kepada perlakuanku kepada janji-janji pertemuan dengan kawan-kawan di jakarta. Semua hal bisa jadi apologiku untuk tidak datang: hujan gerimis, kemacetan, urusan kantor, dsb. Aku jadi malu dengan diriku sendiri. Perlakuan kawan-kawan terhadapku telah menampar pipiku keras sekali hingga membelalakkan mata bahwa kawan sejati bukan hanya ada di saat kita senang, justru di saat kita membutuhkan, dan mereka tidak berharap pamrih atas apa yang mereka berikan.

Terima kasih kawan-kawanku, i love you all! Juga kepada kawan hidupku yang mendampingi dan mencintaiku sepenuh cinta yang diajarkan Tuhan kepadanya, may Allah always love you more than your love to me 

[nd, 28022008]


%d blogger menyukai ini: