malas salat

26 Maret, 2015

71407281

Pernah dengar ucapan “Shollu fii buyutikum” atau “Alaa shollu fii rihaal” di dalam rangkaian azan?

Ucapan itu dilafalkan di dalam azan ketika kondisi hujan deras yang menyulitkan orang untuk salat berjamaah di masjid.

Arti dari ucapan itu adalah “salat lah kalian di rumah kalian”.

Lihatlah betapa pemurah, Allah kepada hamba-Nya. Dia memberikan keringanan ketika hujan menyulitkan untuk tidak menghadiri salat berjamaah.

Padahal kita juga melihat betapa banyak manusia berjuang menembus pekatnya hujan. Demi hadir di tempat kerja, memenuhi janji sesama makhluk, mengejar target pendapatan, mencari nafkah duniawi.

Bahkan walaupun tanpa keringanan, tetap dilakukan tanpa berat hati.

Sudah begitu jelas demikian, apakah kemudian kita masih malas untuk salat? – at Wisma Mulia

View on Path


penyebab terbelakangnya umat

7 Januari, 2015

Pantas saja jika umat ini terbelakang, karena untuk urusan salat saja seringkali mengakhirkannya 😥

View on Path


kemanapun pergi

2 Januari, 2015

Kemanapun aku pergi… – at Masjid Soko tunggal

View on Path


Negeri muslim

25 November, 2014

Negeri ini punya banyak menara. Corong kumandang azan. Sahut menyahut. Lima kali sehari.

Negeri ini punya banyak masjid. Ramai jamaah bersalat jumat. Tumpah ruah. Tiap seminggu sekali.

Negeri ini punya banyak majelis zikir. Para wanita dan pria, tua dan muda. Larut dalam wirid.

View on Path


memilih wafat

30 Oktober, 2014

jika boleh memilih, dalam kondisi apakah anda wafat kelak? siapakah yang akan menyalati jenazah anda? bagaimana anda mengupayakannya?

seorang muslim tentu merindukan akhir hayat yang baik. merindukan disalatkan jenazahnya oleh ahlu tauhid. seorang hamba yang beramal, Allah pula yang memudahkannya.

sebagaimana seorang hamba yang wafat pada hari ini, Allah telah memudahkannya untuk disalati oleh ahlu tauhid.

semoga Allah mengampuni dan merahmatinya.

http://m.tribunnews.com/nasional/2014/10/30/presiden-jokowi-salatkan-jenazah-soegeng-sarjadi-di-masjid-amwa-cinere

View on Path


di dalam salat ada kesibukan

21 Oktober, 2014

Imam Al-Ghazali -semoga Allah mengasihinya- pernah menceritakan sebuah kisah anekdot di dalam Ihya Ulumiddin. Kisah itu tentang seseorang yang lupa akan suatu barang kemudian orang tersebut melakukan salat. Di dalam salatnya ia berhasil mengingat kembali barang yang hilang atau urusan-urusan yang terlupakan di luar salat.

Barangkali ini kisah yang juga sering kita alami, di mana salat dijadikan sarana untuk memikirkan hal-hal. Entah itu tentang pekerjaan, tentang keluarga, tentang utang-piutang, atau tentang lain-lain. Salat kita menjadi terganggu dan tidak khusyuk. Pikiran yang membuat kita terlupa akan bacaan dan gerakan salat, bahkan lupa rakaat salat.

Padahal Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

إن في الصلاة لشغلا

“Sesungguhnya dalam salat itu sudah banyak kesibukan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Di dalam salat ada kesibukan untuk merenungi bacaan-bacaan dan gerakan-gerakan salat. Dimulai dari takbiratul ihram, membaca doa istiftah, berkomunikasi dengan Allah melalui surat Alfatihah, membaca beberapa ayat dari Alquran.

Dilanjutkan dengan rukuk pengakuan, bangkit dari rukuk, kemudian sujud penghambaan. Duduk di antara dua sujud, hingga tahiyat penghormatan dan salawat. Diakhiri dengan doa dan salam. Masing-masing gerakan dan bacaan salat memerlukan konsentrasi makna dan sikap menghadap kepada Ilahi.

Apabila orang yang salat sibuk dengan memaknai salatnya, maka ia tidak akan sempat memikirkan hal-hal di luar salat. Sebelum salat ia akan menghilangkan semua sebab yang akan membuat salatnya terganggu. Ia akan fokus dalam salatnya, khusyuk dan bersemangat.

Dan apabila orang yang salat selesai dengan salatnya, ia pun dapat memfokuskan diri untuk mengerjakan yang lain, bekerja dan meraih karunia dari Allah.


puasa itu ringan, salat itu berat

17 Agustus, 2014

T: “ndi, menurut kamu puasa daud itu asyik ga?”

A: “mas, mau puasa daud?”

T: “iya nih, ndi. daripada gue ga pernah makan siang. mending diniatin sekalian aja puasa daud. bagaimana?”

A: “alhamdulillah. bener tuh mas, banyak keutamaannya tuh.”

T: “oh ya? katanya bagus buat penempaan jiwa juga ya?”

A: “bener banget, mas.”

T: “cocok, kan?”

A: “cocok dong. puasa apapun sebenarnya ringan. apalagi buat orang seperti mas yang ga pernah makan siang. justru yang berat, itu salat.”

T: “ah, lu nyindir gue, ndi?”

A: “eh, maksud saya gak begitu, mas. begini, salat itu memang berat bahkan buat yang rajin salat pun. contohnya ketika sedang kerja atau rapat kemudian waktu salat tiba. alih-alih menghentikan aktivitas untuk salat barang 5-10 menit saja, malah meneruskan pekerjaan bahkan hingga waktu salat habis.”

T: “gue akuin, ndi. gue sih, kepingin salat bukan sekadar kewajiban, tapi kebutuhan. mesti datang dari dalam hati agar salat gak asal-asalan.”

A: “iya, mas. Allah bilang bahwa salat itu berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. yaitu mereka yang yakin akan menemui Tuhan nya dan dikembalikan kepada-Nya.”

T: “gue udah mulai mencoba salat lagi, paling tidak ketika di rumah. sebelum tidur salat isya dulu, dan sebelum berangkat kantor salat subuh dulu. tapi ya itu untuk salat yang lain belum.”

A: “bagus tuh, mas. lanjutkan dengan salat lainnya. semoga Allah memudahkan.”

T: “ajarin gue, ya, ndi.”

A: “insya Allah, mas. barakallahufikum.”


al-rawdah si taman surga

3 Maret, 2014

Tempat paling favorit yang diperebutkan oleh para peziarah untuk salat di Masjid Nabawi adalah Al-Rawdah. Selain karena bernilai lebih baik dari 1000 salat di masjid lainnya, salat di tempat itu seperti salat di taman surga. Telah disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda  : “Tempat antara mimbarku dan rumahku adalah satu taman dari taman-taman surga. Dan mimbarku berada di atas telagaku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Sebagai konsekuensi dari perluasan masjid, rumah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- yang juga sebagai kuburan beliau dan kedua sahabat mulia, Abu Bakar as-Shiddiq dan Umar ibn al-Khatthab -radhiyallahu anhuma- masuk di dalam Masjid Nabawi. Saat ini ruang yang disebut sebagai Al-Rawdah ditandai dengan karpet bercorak dengan warna dominan hijau, sedangkan karpet di ruangan selainnya dengan warna dominan merah.

Batas bagian depan Al-Rawdah adalah mihrab Nabi, batas sebelah kanan adalah mimbar Nabi. Adapun batas sebelah kiri adalah dinding ruang kubur Nabi dan kedua sahabat beliau. Antara batas kanan dengan kiri adalah 5 tiang masjid dan antara batas depan dengan batas belakang adalah 5 tiang.

Apa yang telah dilakukan oleh sahabat yang mulia, Abdullah ibn Umar -radhiyallahu anhuma- ketika mendatangi Masjid Nabawi adalah melakukan salat tahiyatul masjid dua rakaat di Al-Rawdah kemudian pergi ke kuburan Nabi dan dua sahabat beliau lalu mengucapkan salam kepada mereka, setelah itu pergi tanpa berdiri lama di situ.

Sebagai tempat favorit, tak sedikit korban dari perjuangan para peziarah yang berebut Al-Rawdah. Maka dari itu dibuatlah tirai dan jadwal kunjungan bagi jamaah perempuan sebagai solusi terhadap ikhtilat, yaitu pada waktu duha dan setelah salat isya. Sedangkan bagi jamaah laki-laki diberlakukan sistem buka tutup tirai sejak selesai salat fajar dengan rentang waktu antara 30 – 60 menit antar bukaan. Adapun di waktu lewat tengah malam hingga masuk waktu salat fajar, sepenuhnya dibuka bagi jamaah laki-laki.

Ketika mendapati Al-Rawdah, para jamaah memanfaatkan kesempatan langka itu dengan memperbanyak rakaat salat dan memperlama zikir. Ada juga yang memperpanjang doa di sana dengan anggapan sebagai tempat yang mustajab atau terkabulnya doa. Namun, alih-alih menghadap kiblat ketika berdoa, celakanya tak sedikit jamaah yang malah berdoa menghadap ke kubur Nabi. Bahkan ada yang memanggil-manggil nama beliau, tentu saja amalan ini tidak dibenarkan.

Semoga Allah memberikan al-afiyat.

Referensi :

Abu Muawiah (2010, October 13). Keistimewaan Masjid Al-Haram dan Nabawi | Al-Atsariyyah.Com. Retrieved February 28, 2014, from http://al-atsariyyah.com/keistimewaan-masjid-al-haram-dan-nabawi.html

Al-Khalafi, A. A. (2004, August 19). Menziarahi Kota Madinah Al-Munawwarah – almanhaj.or.id. Retrieved February 28, 2014, from http://almanhaj.or.id/content/995/slash/0/menziarahi-kota-madinah-al-munawwarah61482/

Berdoa di Raudhah – salamdakwah.com. (2014, January 27). Retrieved February 28, 2014, from http://salamdakwah.com/baca-pertanyaan/salah-satu-tempat-mustajab-dikabulkan-doa–raudoh-di-masjid-nabawi.html


mendulang 1000 salat

28 Februari, 2014

image

Sebagai salah satu dari tiga masjid yang menjadi tujuan utama para peziarah, Masjid Nabawi di kota Madinah memiliki daya tarik luar biasa yang membuat manusia selalu bersemangat untuk salat di dalamnya. Kapanpun kita mendatanginya, kemanapun kita melepas pandangan mata, akan selalu ada orang yang sedang salat di dalamnya. Para peziarah yang mengunjunginya merasa sayang jika meluputkan satu waktupun untuk tidak salat di sana. Maka kebanyakan agenda city tour pun dilakukan di pagi hari, setelah sarapan dan sebelum zuhur. Hal ini demi mendulang nilai yang lebih baik dari 1000 salat.

Sebagaimana hadits dari Abu Hurairah bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda  : “Satu kali salat di masjidku ini lebih baik dari seribu salat di masjid lain, kecuali Masjidil Haram.” (HR. al-Bukhari dan Muslim). Satu kali salat fardu di Masjid Nabawi lebih baik dari salat fardu yang kita lakukan dalam 200 hari di masjid lainnya. Oleh karenanya, sangat sulit mendapati tempat kosong di dalam masjid ketika salat fardu ditegakkan sehingga banyak jamaah yang menggelar sajadahnya di halaman masjid untuk salat di sana. Bagi yang mau mendapatkan saf-saf terdepan ketika salat berjamaah, hendaknya telah berada di masjid paling tidak 1 jam sebelum azan.

Tempat-tempat favorit untuk salat di Masjid Nabawi adalah Al-Rawdah, aula depan (bangunan lama), dan saf-saf terdepan di bangunan baru, yaitu tempat-tempat yang tidak pernah sepi dari orang yang salat, membaca quran, berzikir dan berdoa. Akan tetapi kita tidak akan mendapati jamaah perempuan di situ, karena ruang salatnya telah ditentukan berada di bagian belakang. Telah ada hadits dari Ummu Humaid yang menyebutkan bahwa salat seorang perempuan di masjid kaumnya lebih baik daripada salat di Masjid Nabawi. Supaya menjadi perhatian bagi perempuan untuk tidak memaksakan diri ke masjid jika kondisinya tidak memungkinkan.

Bagaimanapun, Nabi pernah menasihati kaum pria untuk tidak melarang perempuan yang mendatangi masjid untuk beribadah. Maka dari itu kita berharap kepada Allah agar jamaah perempuan yang melakukan salat di Masjid Nabawi tetap berpeluang mendulang kebaikan 1000 salat.

Referensi:

Abu Muawiah (2010, October 13). Keistimewaan Masjid Al-Haram dan Nabawi | Al-Atsariyyah.Com. Retrieved February 28, 2014, from http://al-atsariyyah.com/keistimewaan-masjid-al-haram-dan-nabawi.html

Al-Khalafi, A. A. (2004, August 19). Menziarahi Kota Madinah Al-Munawwarah – almanhaj.or.id. Retrieved February 28, 2014, from http://almanhaj.or.id/content/995/slash/0/menziarahi-kota-madinah-al-munawwarah61482/

Burhanuddin, A. (2012). Menyorot Shalat Arba’in di Masjid Nabawi | Muslim.Or.Id – Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah. Retrieved February 28, 2014, from http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/menyorot-shalat-arbain-di-masjid-nabawi.html


investasi huruf ba

10 Oktober, 2013

Bagi para pengusaha, return of investment (ROI) adalah tolok ukur pencapaian investasi yang diharapkan. Apabila sebuah investasi telah mencapai ROI pada saat itulah disebut breakeven point (BEP) atau balik modal. Ketika ROI sudah melampaui BEP, pengusaha tinggal menikmati keuntungan sampai habis usia produktivitas modal tersebut. Semakin tinggi BEP atau semakin lama balik modal maka risiko kerugian pun semakin besar. Sebaliknya, semakin rendah BEP atau semakin cepat pengembalian modalnya maka semakin kecil risiko kerugian. Oleh karena itu pemilihan investasi biasanya didasarkan kepada rendahnya BEP.

Kebanyakan pengusaha menginginkan untuk mendapatkan investasi dengan ROI setinggi-tingginya dan BEP (sekaligus risiko) serendah-rendahnya. Untuk mendapatkan hal tersebut hanya dengan cara-cara berikut: berinvestasi pada hal yang sudah pasti dan nyata hasilnya, menaikkan harga jual, atau menurunkan bahkan menghilangkan biaya tetap. Kenyataannya sangat sulit memperoleh kondisi ideal yang diinginkan.

Dalam ajaran Islam, setiap pemeluknya sangat dianjurkan menjadi umat yang cerdas, baik dalam urusan ibadah maupun urusan penghidupan. Sangat tidak diharapkan apabila seorang pemeluk Islam bekerja keras dalam kedua urusan tersebut namun tidak memperoleh pembayaran yang layak dan wajar apalagi merugi dunia dan akhirat. Oleh karenanya banyak sekali jenis perniagaan dan investasi yang ditawarkan oleh Allah bagi umat Islam yang menjanjikan ROI sangat tinggi dengan BEP dan risiko yang boleh dikatakan rendah. Risiko tersebut menjadi rendah hanya dengan 2 syarat: ikhlas karena Allah, dan mengikuti (ittiba) sunnah Rasulullah (sesuai pemahaman salafus salih).

Di antara jenis investasi yang ditawarkan adalah “investasi huruf ba”. Bagi kebanyakan orang huruf ba dianggap huruf biasa yang terdapat di dalam abjad arab. Namun hanya sebagian kecil yang menganggapnya luar biasa, apalagi memiliki ROI yang sangat luar biasa. Di dalam aktivitas kehidupan para pemeluk Islam, huruf ba ini diaplikasikan kepada banyak hal. Sebagai salah satu huruf dari huruf-huruf Alquran, apabila dibaca huruf ba bernilai 10 kebaikan.

Adalah kebiasaan umat Islam untuk membaca “bismillah” setiap kali mengawali aktivitasnya. Hal itu sangat dianjurkan dan menunjukkan kepasrahan kepada Allah. Apabila tidak ada huruf ba pada kalimat “bismillah” maka kalimat itu menjadi tidak berarti. Dalam sehari semalam, dapat dipastikan seorang muslim membaca kalimat “bismillah” minimal 22 kali. Angka itu diperoleh dari jumlah rakaat salat wajib karena membaca surat Al-Fatihah dan ketika memulai wudu. Sehingga jika ia memenuhi syarat, ia berhak memperoleh 220 kebaikan. Belum lagi jika dalam memulai aktivitas lainnya ia juga membacanya tentu akan lebih banyak kebaikan yang diterimanya.

Akan tetapi, investasi huruf ba tidak berakhir di sini. Allah juga menjanjikan bahwa siapapun yang memberi contoh kebaikan di dalam Islam, maka si pemberi contoh akan mendapatkan nilai kebaikan yang setara apabila contoh itu diamalkan oleh orang lain dan orang-orang setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka. Dengan kata lain apabila kalimat “bismillah” sebagai kalimat yang baik kita contohkan kepada orang lain, maka dari 1 orang yang mengamalkannya kita berhak mendapatkan minimal 220 kebaikan yang sama. Bagaimana kalau lebih dari 1 orang, tinggal dikalikan saja. Luar biasa! Duhai betapa beruntungnya para guru ngaji yang mengajarkan huruf ba.

Karena investasi huruf ba sudah jelas dan pasti hasilnya, jelas tinggi harga jualnya (nilai pahalanya) dan tidak membutuhkan biaya. Dapat dipastikan bahwa berinvestasi pada huruf ba, akan memperoleh ROI yang tinggi dan BEP (sekaligus risiko) yang rendah.

Namun, jangan berkecil hati jika kita tidak menjadi guru ngaji. Investasi terbesar bagi setiap orang tua adalah anak-anak yang dititipkan oleh Allah baik secara kandung, maupun secara asuh. Jika orang tua menginginkan bagian yang banyak pada investasi huruf ba, sangat dianjurkan untuk mulai mengajari anak-anaknya membaca huruf ba secara baik dan benar. Tentu dengan tetap memenuhi 2 syarat: ikhlas dan ittiba. Insya Allah mendapatkan ROI dan BEP yang diharapkan.


%d blogger menyukai ini: