Membaca Al Quran dengan Sanad

6 September, 2016


Sejak kecil kita telah membaca Al Quran, tanpa disadari kita membacanya dengan suatu gaya pembacaan tertentu.

Di Indonesia dan juga di kebanyakan belahan bumi lainnya, gaya pembacaan yang masyhur adalah Riwayat Hafsh dari Qiraat Ashim melalui jalur Imam Asy Syathibi (w. 590 H).

Jika ditarik ke atas dari Imam Ashim, beliau mendapat dari tabii Abu Abdurrahman As Sulami, dari para sahabat yang menguasai 7 Qiraat seperti Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Ubay bin Ka’ab, Abdullah bin Mas’ud radiyallahu anhum, dari Rasulullah Muhammad bin Abdullah shallallahu alaihi wasallam, dari malaikat Jibril alaihi salam, dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Imam Asy Syathibi sendiri telah menguasai 7 Qiraat, beliau meriwayatkan Al Quran yang sanadnya terkenal (ma’ruf).

Ada beberapa ciri khas pembacaan Riwayat Hafsh dari Qiraat Ashim melalui jalur Imam Asy Syathibi, di antaranya adalah:

1. Mad jaiz munfashil dibaca 4/2 harakat.
2. Mad jaiz muttashil dibaca 4/5 harakat.
3. Huruf hijaiyah نقصعسلكم dibaca 6 harakat, pada huruf ع boleh dibaca 4/6 harakat.
4. Ada tanda saktah pada 6 tempat yaitu jika disambung kalimatnya harus berhenti tanpa mengambil nafas selama 1 harakat.
5. Membaca panjang kata “fihii” pada ayat QS 25: 69
6. Membaca dhommah kata “alaihu” pada ayat QS 48: 10
7. Mad lazim dibaca 6 harakat

Masih banyak aturan pembacaan Al Quran pada riwayat ini, yang tentu saja seorang pembaca Al Quran harus mempelajarinya untuk memperoleh faedah.

Para ulama tidak menyarankan, seorang pembaca berpindah-pindah dari satu qiraat ke qiraat lainnya atau mencampur aduk gaya (riwayat) pembacaan Al Quran, demi menjaga sanad.

Wallahu a’lam.


beratnya beban suami

4 Maret, 2013

Sebagian orang memandang bahwa kebanyakan suami semena-mena terhadap istrinya. Sebagian lain menganggap bahwa kebanyakan istri tidak tahu terima kasih kepada suaminya. Sebagiannya lagi berprasangkan bahwa kehidupan rumah tangga adalah kehidupan yang rawan konflik sehingga perlu dihindari. Aduhai… betapa piciknya pandangan dan anggapan demikian. Padahal setiap kehidupan manusia bermula dari pertemuan suami dengan istri. Dan Allah bersungguh-sungguh dalam melangsungkan keturunan manusia menuruti firmannya:

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS An-Nisaa’: 1)

Bagaimanapun hadits berikut memang bukan merupakan kebanggaan bagi setiap suami, namun harus dipikirkan betapa berat beban yang dipikul oleh suami, sehingga seandainya dibolehkan maka suami lebih berhak untuk dipersujudi oleh istrinya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَوْ كُنْتُ آمِرَا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لأَحَدٍ لأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا
“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain niscaya aku perintahkan istri untuk sujud kepada suaminya.” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dengan sanad yang hasan. Dishahihkan oleh Al Albany dari Irwa`ul Ghalil no. 1998]

Dalam ayat 34 surat An-Nisaa’ juga dijelaskan mengapa suami dilebihkan dari istri, bukan karena superior melainkan karena suami berkewajiban menafkahi istri dan anak-anaknya. Maka bukan pula untuk dituntut oleh setiap istri, namun demikianlah hak-hak istri yang wajib dipenuhi oleh para suami sebagai wujud beratnya beban dan tanggung jawab suami kepada para istri.

Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Apa hak seorang wanita atas suaminya?” beliau menjawab: “Memberi makan kepadanya apabila dia makan, memberi pakaian apabila ia berpakaian, tidak memukul wajah, tidak menjelek-jelekkannya dan tidak boleh mendiamkannya kecuali di dalam rumah.” [HR. Ibnu Majah no. 1840]

Semoga cukup memberi penjelasan bagaimanapun peran suami dengan segala kekurangannya, begitupun sikap istri dengan segala kekurangannya. Hendaklah masing-masing pihak menyadari kedudukan dan kewajibannya. Mengesampingkan menuntut hak yang tidak dipenuhi oleh yang lain dan saling memaafkan atas kekurangan masing-masing. Semoga Allah mencukupkan keduanya dan memberkahi kehidupan rumah tangganya.


%d blogger menyukai ini: