ramadan is coming

9 Mei, 2016

image

Sebulan lagi Ramadan, apakah hal ini mengagetkan atau biasa-biasa saja? Di dalam kitab Lathaiful Maarif disebutkan bahwa sebagian ulama salaf berkata bahwa para sahabat sudah berdoa selama enam bulan sebelumnya agar mereka dipertemukan dengan bulan Ramadan, lalu bagaimana dengan kita?

Mungkin di antara kita sudah berpikir tentang masakan yang akan dihidangkan selama bulan Ramadan, bagaimana menjalani pekerjaan selama berpuasa, bagaimana menghadapi ujian dengan perut kosong? Persiapan yang lebih penting adalah bagaimana menjadi muslim yang lebih kuat daripada sekarang. Barangkali ada sebagian kita yang sudah berpikir untuk mengkhatamkan Quran, menghidupkan malam dengan ibadah, atau menyediakan makanan berbuka setiap hari.

Bagaimana jika kita mulai mengisi Ramadan dengan 3 ide yang sederhana:

1. Quran. Tujuannya untuk menguatkan hubungan kita dengan kalimat-kalimat Allah. Bisa jadi dengan memperbaiki bacaan, menghapalkan sebagian ayat, atau mendalami tafsir surat tertentu. Apapun itu, tetapkan target yang agak tinggi dan berdoalah untuk dimudahkan selama Ramadan.

2. Doa. Ramadan adalah bulan yang utama untuk berdoa. Ambillah waktu-waktu ijabah untuk menyampaikan doa terbaik di dalam hidup kita. Bisa jadi dengan doa yang kita panjatkan pada setiap malam, atau doa-doa yang kita panjatkan pada waktu-waktu ijabah di setiap harinya.

3. Sedekah. Setelah berbulan-bulan makan, kita berpuasa. Siapkan aksi kecil untuk memberi derma dan membagikannya sepanjang bulan Ramadan. Lebih baik konsisten dengan amalan yang ringan selama 30 hari daripada memberatkan diri dengan sedekah yang besar sekaligus.

Jika Anda punya ide kreatif lainnya, silakan berbagi.

@ndi, 01081437


Sedekah

8 Mei, 2016

image

Ada orang yang bersedekah karena ingin mendapat nama, dipuji, dan disebut dermawan. Ada orang yang bersedekah karena ia risau melihat pengemis, ingin menjaga diri dan hartanya, dan mencari keridaan Tuhannya.

Orang yang pertama memiliki niat yang tidak bernilai untuk akhiratnya. Jika ia memperoleh apa yang ia ingini, maka itu cukup baginya. Jika ia tidak memperolehnya, maka ia pun kecewa. Adapun orang yang kedua memiliki niat yang bermanfaat bagi dunia dan akhiratnya.

@ndi, 30071437


tentang sedekah

17 Februari, 2015

Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda:

Bersedekahlah kalian. Karena sesungguhnya hampir tiba masanya bagi kalian, seseorang berkeliling dengan sedekahnya tetapi tidak menemukan orang yang mau menerimanya.

Orang yang hendak diberi berkata: “Kalau saja engkau datang kepadaku kemarin, akan aku terima. Adapun hari ini, tidaklah aku membutuhkannya.”

(Muttafaqun alaihi, dengan lafal dari Al-Bukhari)

View on Path


sedekah yang disembunyikan

20 Agustus, 2014

image

Rasulullah s.a.w bersabda:
Ada tujuh golongan yang Allah ta’ala menaungi mereka dengan naungan-Nya pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya,

dan di antara mereka adalah:

laki-laki yang bersedekah dengan sedekah yang disembunyikan sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dikeluarkan dari tangan kanannya.

[Muttafaqun alaihi]


13-09-1433H

2 Agustus, 2012

gambar diambil di Depok, tanggal 1 Agu 2012 jam 18.40 (13 Rmd 1433) dengan kamera Panasonic Lumix DMC-FZ8, 18x zoom

12 hari sudah Ramadan tahun ini dilalui, insya Allah masih ada 17 hari lagi sebelum merayakan hari berbuka. Mari koreksi kembali amalan puasa kita. Menahan lapar dan haus sudahlah tentu, apakah mata, lisan, dan hati juga berpuasa? Bahkan orang tidak beriman pun kuat berpuasa, apakah kita berpuasa dengan penuh keimanan dan berharap balasan dari Allah semata [1]? Apakah kita tetap menjaga salat-salat fardu? Bagaimana dengan salat-salat sunah? Sudahkah kita lebih dekat dengan Alquran? Apakah kita memperbanyak sedekah?

Banyak yang bilang bahwa Ramadan terbagi tiga fasa: rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Namun Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengindikasikan bahwa setiap hari di bulan Ramadan adalah rahmat, ampunan [2], dan pembebasan dari api neraka [3]. Maka hendaklah kita tidak berputus asa dari rahmat Allah [4], tetap meminta ampunan dari-Nya atas dosa-dosa kita [5], memohon terbebas dari api neraka yang 70 kali lebih panas dari api dunia, serta mengharap surga sebagai balasan dari Allah karena keikhlasan kita dalam beribadah.

[1],[2] “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadan dengan penuh iman dan ihtisab, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” [HR. Albukhari dan Muslim]

[3] “Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang dibebaskan dari neraka setiap siang dan malam di bulan Ramadan, dan semua orang muslim yang berdoa akan dikabulkan doanya.” [HR Bazzar, Ahmad, Ibnu Majah]

[4] “Sesungguhnya Allah menjadikan rahmat seratus bagian, dipeganglah di sisi-Nya sembilan puluh sembilan bagian dan diturunkan satu bagian untuk seluruh makhluk-Nya. Sekiranya orang-orang kafir mengetahui setiap rahmat yang ada di sisi Allah, niscaya mereka tidak akan berputus asa untuk memperoleh surga. Dan sekiranya orang-orang beriman mengetahui setiap siksa yang ada di sisi Allah, maka ia tidak akan merasa aman dari neraka.” [HR Albukhari]

[5] “Sesungguhnya Jibril alaihissalam datang kepadaku, dia berkata: Barangsiapa yang mendapati bulan Ramadan tapi tidak diampuni dosanya maka akan masuk neraka dan akan Allah jauhkan dia, katakan ‘Amin’, maka akupun mengucapkan Amin…” [HR Ibnu Khuzaimah, Ahmad, Albaihaqi, Muslim]


memulai lagi ramadan

21 Agustus, 2009

baru setahun yang lalu berpuasa, walau gak penuh karena harus beritikaf di rumah sakit justru pada hari-hari terakhir. saya mengira saat itu sudah tiba ajal saya sehingga selembar wasiat pun dibuat dalam kondisi yang sangat buruk. alhamdulillah pada bulan puasa itu saya dapat THR 2 kali sementara rekan kerja yang lain hanya 1x,sebab biaya rawat inapnya saja sebesar THR 😀 barangkali Allah terlalu sayang pada saya sehingga membolehkan saya berpuasa ramadhan di luar bulan ramadhan 🙂

sekarang sudah tiba lagi puasa sesuai ketetapan pemerintah sehingga harus membiasakan diri lagi dengan hal-hal yang sudah ditinggalkan:

1. tarawih baik berjamaah di masjid atau di rumah, sebagai tambahan pahala yang sangat sayang ditinggalkan, padahal di luar ramadan gak biasa qiyamulail.

2. berniat puasa di malam hari, padahal di luar ramadan kalau mau puasa tinggal niat saat itu selama belum makan atau minum setelah subuh.

3. bangun lebih pagi untuk bersahur demi mendapatkan keberkahan, padahal di luar ramadan hampir selalu bangun saat iqamat subuh di masjid dikumandangkan

4. rawatib gak boleh lupa, demi menyempurnakan shalat wajib, padahal seringkali malas menambah 2 rakaat sebelum atau sesudah shalat.

5. berbuka puasa bersama-sama, baik di masjid atau di rumah atau di restoran atau memenuhi undangan iftar dari berbagai organisasi maupun tongkrongan, baik yang gratis maupun yang bayar…

6. membaca quran menargetkan satu juz setiap hari, demi khatam di malam takbiran, padahal di luar ramadan quran dipajang di lemari, mending kalau dipajang lha ini lagi nyari-nyari tuh quran ditaruh di mana ya?

7. sedekah setiap hari buat bikin berat timbangan akhirat, dan memberi makan berbuka bagi orang puasa, demi meraih cinta dan kepuasan batin… aduhai indahnya memberi

Masya Allah… padahal Nabi shollallahu alaihi wasalam mengaminkan doa malaikat Jibril yaitu: “celakalah orang yang apabila melalui bulan Ramadhan tidak mendapat keampunan dari Allah”

mudah-mudahan, Allah memberi kemudahan bagi kita semua menjalankan ibadah puasa ramadan dan menjadikan kta pribadi yang taqwa, serta mengampuni segala dosa-dosa kita karena setiap hari selama bulan ini kita berdoa : “Allahumma innaka afuwun tuhibbul afwa fa’fu anniy”


asuransikan dengan sedekah

20 Mei, 2005

telepon di meja saya berbunyi, ketika diangkat, suara di seberang memperkenalkan dirinya sebagai agen asuransi dan menawarkan kepada saya program hospital cash plan dengan perlindungan untuk penggantian biaya rawat inap rumah sakit per kejadian sakit sebesar Rp500 ribu per hari dan per kejadian kecelakaan Rp1 juta per hari, masing-masing kejadian ditanggung maksimal 60 hari saja. Fasilitas tersebut akan diaktifkan sejak saya tutup telepon dan akan ditagihkan preminya setiap bulan ke rekening kartu kredit saya sebesar Rp42 ribu per orang yang dilindungi.

handphone saya membunyikan alert sms, sebuah mesej dari istri: “ternyata ada dhuafa di sebuah perusahaan besar” saya langsung ingat percakapan dengan istri saat makan siang setelah ia bercakap-cakap dengan seorang resepsionis di kantor saya (di kantor saya resepsionis di-hire outsourcing pihak ke-tiga), menurut cerita si resepsionis, ia harus menjadi single parent karena ditinggal suaminya yang tidak bertanggung jawab. Dan gajinya yang tidak sampai Rp1 juta per bulan masih harus dipotong dengan hutang yang pernah dia ajukan karena harus membiayai rumah sakit anaknya atau ibunya.

sesampai di rumah, diskusi saya dengan istri tentang dua kejadian itu,
“sayang ya Rp84 ribu sebulan (karena yg ditanggung asuransi adalah saya dan istri), lebih baik jika diberikan kepada resepsionis itu untuk biaya susu anaknya”
mata saya berbinar mendengar pernyataan itu, ya mengapa tidak saya asuransikan saja diri kami berdua dengan sedekah? apa artinya uang Rp500 ribu atau Rp1 juta per hari jika baru bisa dinikmati setelah jatuh sakit atau kecelakaan?
bukankah jauh lebih nikmat jika selalu sehat wal afiat dan dilindungi Allah?


%d blogger menyukai ini: