pernikahan

18 Februari, 2015

Apabila nikah menjadi mewah dan mahal, maka zina menjadi murah. Marilah kita menjadikan agar pesta pernikahan sebisa mungkin sederhana dan tetap terjangkau.

View on Path

Iklan

free mini cup Häagen-Dazs

23 Maret, 2013

banner_shell_free_minicupSebagai salah satu pelanggan pompa bensin Shell dan pengguna kartu kredit Citibank, selalu saja mendapat penawaran bertubi-tubi dari kerja sama keduanya. Yang paling saya nikmati adalah bolehnya potong poin sehingga mendapatkan harga bensin lebih murah daripada harga tertera. Poin diperoleh dari pembelanjaan kartu kredit di manapun termasuk di pombensin. Penawaran yang berlaku pada 18 Februari – 31 Maret 2013 adalah dengan minimum transaksi Rp 300 ribu akan mendapatkan 1 (satu) Minicup Häagen-Dazs. Pada mulanya di spanduk hanya tertera tanda bintang, syarat dan ketentuan berlaku. Kemudian di setiap spanduk yang terpampang di pombensin Shell, ditempel tambahan “pada transaksi kedua”.

Ternyata, tidak cukup sampai di situ. Karena tidak membaca halaman promo Citibank, saya mendapat kejutan justru ketika menukarkan receipt bertuliskan Free 1 Minicup Häagen-Dazs di retail shop bandara Soetta Cengkareng. Pramuniaga yang menerima saya mengatakan bahwa akan memotong poin yang saya miliki untuk memperoleh es krim gratis. Pramuniaga kedua yang melihat saya bertengkar kecil dengan temannya malah dapat menjelaskan dengan lebih baik. Bahwa setiap membeli bensin Shell sebagaimana disebut di atas, pada transaksi kedua akan diberikan bonus poin sebanyak 1350 poin yang dapat ditukarkan dengan es krim gratis. Sebenarnya belanja dengan poin adalah belanja gratis, namun karena banyak pelanggan seperti saya yang tidak membaca lengkap syarat dan ketentuan dan hanya cukup dengan iklan di spanduk, merasa kena jebakan betmen.

Bagaimanapun, ketika kesederhanaan menjadi sesuatu yang berharga, saya akhirnya membawa pulang  1 minicup es krim untuk dinikmati bersama istri tercinta 🙂


rumah bibi berantakan

7 Maret, 2013

messyroomAnak-anak sering pergi bermain ke rumah Bibi, begitu kami memanggil orang yang membantu pekerjaan rumah tangga di rumah kami, begitu Bibi selesai dengan urusan pekerjaan. Selain bercerita tentang bermain dengan ayam dan dengan anak-anak keponakan Bibi, anak-anak juga sering menceritakan kondisi rumah bibi yang sederhana. Komentar mereka seakan-akan mengharapkan agar orang tuanya dapat membagikan sesuatu buat Bibi dan keluarganya. Sehingga tak jarang kami berbagi dengan Bibi dan keluarganya dari kelebihan karunia yang diberikan Allah.

Tsuraya, dalam kesempatan menghabiskan plafon 2000 kata per harinya di malam hari sebelum tidur, menyebutkan, “Rumah Bibi berantakan.” Bubunya menanggapi, “Mengapa rumah Bibi berantakan?”

“Barang-barangnya banyak,” jawab Tsuraya. “Bibi gak sempat membereskan rumahnya, ya?” tanya Bubu. “Iya, Bibi capek,” Tsuraya menjawab sambil memainkan sendok di gelas teh manisnya. “Mengapa Bibi capek?” Bubu balik bertanya. “Bibi capek beresin rumah Tsuraya,” jawab Tsuraya.

“Kasihan ya, rumah Bibi berantakan. Karena capek, Bibi gak sempat membereskan rumahnya sendiri,” Baba menimpali disambut dengan jawaban, “Iya,” setuju Tsuraya. “Kalau begitu, Bibi kita berhentikan saja, supaya tidak capek, dan bisa membereskan rumahnya sendiri. Bagaimana?” tanya Baba.

Tsuraya menjawab, “Nanti, yang beresin rumah Tsuraya, siapa dong?”

***


fungsional dan praktis

17 Februari, 2010

Demi bergaya, seseorang membeli Honda CBR yang baru turun dari kapal, kemudian bergabung dengan klub, melakukan turing, membuat setiap mata yang dilaluinya memandang takjub dan terpana. Perawatan motor itu hanya pada bengkel tertentu saja, mungkin hanya ada beberapa di negeri ini. Suatu saat ia terjatuh sehingga patah spionnya, harus indent untuk mendapat penggantinya. Ketika harus mengganti suku cadang karena sudah waktunya pun harus indent, menunggu kiriman dari kapal karena tidak terdapat di toko suku cadang biasa. Tibalah waktunya si pemiliki motor sport bergaya itu melepas masa lajangnya, ia sadar dirinya tidak berharta lebih, dilego pula CBR kesayangannya pada angka 25 juta.

Baca entri selengkapnya »


[lessons] Hidup hanya seperti parkir

29 Januari, 2007

Wajah lelaki usia setengah baya itu hampir setiap hari menyapa saya dengan senyum dan keramahannya yang khas. Ajaibnya dia selalu punya tempat untuk memarkirkan motor saya (maklum, kalau sering telat ngantor, tempat parkir pun selalu penuh). Sepetik percakapan setiap kali mengisi pertemuan kami. Entah tentang solat subuh, puasa sunah, dan masalah ibadah lainnya (beliau beberapa kali memanggil saya ustad karena sempat mengisi kultum di masjid). Kadang-kadang dia membicarakan keluarganya, mulai dari liburan sekolah yang mengajak mereka pergi menengok sanak saudara di kampung, anak pertamanya yang kontrak kerjanya sudah habis, kebutuhan praktik anak keduanya yang sekolah di STM dan kemanjaan anak ketiganya yang masih duduk di kelas 2 SD.

Sejauh yang saya kenal mengenai dirinya adalah kebersahajaannya. Beliau punya semangat untuk memelajari agama dan hidup sederhana. Pekerjaan sebagai penjaga parkir di gedung perkantoran kami sudah dilakoninya bertahun-tahun. Rasa terima kasihnya atas kebaikan orang lain dia wujudkan dalam bentuk pelayanan yang totalitas. Kadang-kadang saya sampai malu sendiri dilayani beliau yang usianya jauh lebih tua daripada usiaku.

Saya teringat pelajaran tukang parkir yang disampaikan oleh Aa Gym, bagaimana bagus dan banyaknya kendaraan yang berada di lahan parkir tetap tidak membuat si tukang parkir menjadi sombong, apalagi rasa kehilangan apabila kendaraan itu semua diambil oleh pemiliknya. Rasa memiliki si tukang parkir diwujudkan dalam menjaga kendaraan yang diparkir supaya tetap aman dan pemilik kendaraan merasa nyaman. Dan dari sisi kendaraan itu sendiri, kadang-kadang ia parkir di suatu tempat, kemudian berpindah ke tempat lain.

Begitulah hidup hanya seperti parkir, kadang berada di sini kadang berada di sana. Dan begitu juga si tukang parkir, hidup yang dijalani hanyalah untuk memelihara amanah yang dititipkan kepadanya.

Bagi pak Mahmudin, tokoh yang saya ceritakan di atas, tugasnya sebagai penjaga parkir sudah harus selesai per tanggal 25 Januari 07 kemarin walau usianya baru 47 tahun dan beliau kini tidak perlu lagi memusingkan permasalahan hidup yang dihadapinya. Tetapi bagi saya, dengan selesainya tugas beliau sapaan ramah dan obrolan singkat di pelataran parkir tak akan lagi ada. Pertama kalinya saya sowan ke rumahnya kemarin adalah untuk mengantarkan beliau kepada tempat istirahatnya yang terakhir.

Selamat jalan pak Mahmudin, hidup memang hanya seperti parkir.

[lesson on 26012007]

 


%d blogger menyukai ini: