tidak ada jadwal ujian

5 Juni, 2014

Banyak orangtua ikut sibuk ketika musim ujian sekolah. Ayah atau ibu mendampingi anaknya mengulang pelajaran untuk menghadapi ujian. “Besok ujian apa?”, “Nak, ayo belajar!”, “Jangan bikin malu orang tua”, “Ayo kamu pasti bisa!”, dan seabrek kalimat lainnya yang serupa.

Jadwal ujian ditempel di tempat yang mudah terlihat. Dengan begitu orang tua dapat mengingatkan anaknya apa materi yang harus dipelajari. Tak jarang orang tua nimbrung belajar, belum lagi mendapati apa yang dipelajari jauh berbeda, “Aduh, pelajaran anak sekarang, susah ya? Di masa ibu sekolah dulu tidak seperti ini.” Nah lho!

Kebanyakan orang tua ingin anaknya berhasil melalui ujian dengan baik dan memperoleh nilai yang bagus. Segala upaya dilakukan orang tua agar anaknya mau belajar menjelang ujian. Namun sayangnya semua yang dipelajari dengan seketika tidaklah meresap dan sangat mungkin sirna segera setelah ujian selesai.

Di rumah belajar Ibnu Abbas, anak-anak dipersiapkan sepanjang waktu untuk menghadapi ujian. Pada setiap harinya anak-anak dibiasakan murajaah (mengulang) pelajaran di rumah. Apa yang diujikan adalah semua hal yang telah dipelajari dan telah dihapal. Dengan demikian mereka akan terbiasa menghadapi ujian dengan penuh kesiapan walaupun tanpa jadwal.

Lagipula, ujian kehidupan akan selalu kita hadapi sewaktu-waktu tanpa jadwal, bukan?


20 cara berbakti kepada orang tua

24 Februari, 2014

(disampaikan oleh Ust. Wira al-Bankawy di Sekolah Islam An-Nash, 23-04-1435)

1. Berbicaralah kepada mereka dengan lembut dan penuh adab. Tidak boleh membentak atau berkata kasar kepada orang tua.

2. Patuh kepada kedua orang tua di dalam kebaikan.

3. Selalu ramah dan tidak boleh cemberut kepada orang tua.

4. Membantu mereka di rumah tanpa harus diperintah.

5. Memenuhi panggilan mereka dengan segera dan disertai wajah yang berseri dan menjawab, “ya bunda” atau “ya ayah”.

6. Belajar yang rajin dan tidak berbuat nakal atau tidak sopan di sekolah.

7. Menghormati dan memuliakan teman-teman orang tua.

8. Tidak membantah ucapan orag tua. Apabila orang tua keliru, berikanlah nasihat dengan santun dan lembut.

9. Apabila ingin bepergian, mintalah izin terlebih dahulu.

10. Jangan makan dulu sebelum mereka makan, muliakanlah mereka dalam menyajikan.

11. Berilah hadiah kepada mereka, hadiah yang membuat mereka senang dan berseri.

12. Janganlah masuk menemui mereka tanpa izin terlebih dahulu, apalagi di waktu tidur dan istirahat mereka.

13. Tidak berbohong kepada mereka.

14. Jika engkau meminta sesuatu kepada kedua orang tuamu, mintalah dengan lembut dan berterima kasihlah jika mereka memberikannya.

15. Jangan mencela mereka, jika mereka mengerjakan perbuatan yang tidak engkau sukai.

16. Janganlah duduk di tempat yang lebih tinggi dari orang tua. Tidak boleh juga menjulurkan kaki di hadapan mereka.

17. Berdoalah selalu untuk kebaikan kedua orang tuamu.

18. Jangan mencela atau mengolok-olok orang tua teman-temanmu, karena mereka nantinya akan membalas dengan mengolok-olok orang tuamu.

19. Bahagiakanlah hati orang tuamu dengan menjadi anak yang salih dan berprestasi.

20. Apabila kalian besar nanti dan menjadi orang yang sukses, janganlah kalian sombong. Tetaplah merendahkan diri dan tidak melupakan jasa-jasa orang tua kalian.


tsuraya bersekolah TK

15 Juli, 2013

Kamis, 4 Juli 2013 adalah hari pertama bagi Tsuraya memulai sekolahnya di TK Islam Fatahillah, Curug – Tanah Baru, Depok. Pagi-pagi sekali selepas salat Subuh, Radya, sang kakak, membangunkan Tsuraya dari tidur malamnya. Masih mengantuk, sambil mengucek-kucek mata, gadis kecil berusia 4 tahun 8 bulan itu segera bangkit dari dipannya menuju kamar mandi. “Brr… diingiin,” gemetar Tsuraya menahan dinginnya air di pagi yang sungguh sejuk.

Ketika berpakaian, Tsuraya bersikeras meminta dikenakan pakaian seragam putih yang diperuntukkan khusus hari Jumat. “Seragam putihnya kalau dipakai hari ini,  Tsuraya besok pakai yang mana?” tanya Baba berupaya membujuk. Sempat bersitegang pula dengan Bubunya tentang memilih celana bawahan. Setelah mendapat penjelasan dari Bubu, ia pun melunak dan meminta dipakaikan gamis yang dibelikan oleh ibunya dua tahun sebelumnya. “Wah, anak gadis Baba sudah besar, ya? Gamis yang dulu kebesaran kini ngepas di badan!” seru Baba penuh takjub.

Ketika memberi nama pada tasnya dengan huruf hijaiyah, Tsuraya yang masih belum bisa membaca itu sempat memprotes Baba untuk menggunakan huruf latin. Rajukannya baru mereda setelah Bubu menuliskan nama sesuai kehendak Tsuraya. Sebagaimana kakaknya dahulu, hari pertama bersekolah diantar oleh Baba. Di pintu halaman sekolah, Bu Guru menyambutnya dengan sapaan yang lembut dan rangkulan mesra. Sirnalah rasa canggung Tsuraya, nampak dari senyumannya yang terkembang ketika menengok kepada Baba sambil melambaikan tangannya.


%d blogger menyukai ini: