kalau masih belajar

4 Mei, 2015

Kalau masih belajar, turuti saja arahan guru, tetap bersamanya sampai materinya selesai.

Kalau masih belajar, abaikan saja ocehan orang lain, fokus pada pelajaran, bertahan hingga lulus ujian.

Kalau masih belajar, jangan hiraukan cibiran orang, mereka mungkin tidak tahu deritamu atau lupa pernah begitu.

Kalau masih belajar, bersabarlah, kerjakan tugas, bersemangat lah walaupun jenuh dan bosan.

(@nd, 14071436)

View on Path


good night, sleep tight

7 Maret, 2013

goodnightGood Night, Sleep Tight” adalah frasa yang biasa diucapkan kepada orang-orang yang beranjak tidur oleh kebanyakan orang yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantarnya. Frasa tersebut juga sering menjadi judul buku anak-anak yang berisi cerita-cerita pengantar tidur. Walaupun frasa “good night” sudah lazim digunakan sebagai ucapan selamat tidur, tambahan frasa “sleep tight” sendiri baru dikenal penggunaannya pada awal abad ke-20. 

Tanpa bermaksud mencari-cari hubungannya, ternyata di dalam dunia Islam, sudah mengenal frasa yang mirip dengan itu. Namun sayangnya cukup mengerikan jika kita tahu siapa yang memopulerkannya pertama kali. Hadits berikut memaparkannya dengan jelas:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلَاثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ: عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ. فَإِنْ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ
“Setan mengikat tengkuk kepala seseorang dari kalian saat dia tidur dengan tiga tali ikatan, dimana pada tiap ikatan tersebut dia meletakkan godaan, “Kamu mempunyai malam yang sangat panjang maka tidurlah dengan nyenyak.” Jika dia bangun dan mengingat Allah maka lepaslah satu tali ikatan, jika dia berwudhu maka lepaslah tali yang lainnya, dan jika dia mendirikan shalat maka lepaslah seluruh tali ikatannya sehingga pada pagi harinya dia akan merasakan semangat dan kesegaran yang menenteramkan jiwa. Namun bila dia tidak melakukan itu, maka pagi harinya jiwanya menjadi jelek dan menjadi malas beraktifitas”.[HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Namun apakah dengan demikian عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ yang berarti “Kamu mempunyai malam yang sangat panjang maka tidurlah dengan nyenyak” dapat diartikan sama dengan “Good night, Sleep tight“?

Wallahu ta’ala a’lam.

Bagaimanapun, beberapa faidah yang dapat dipetik dari hadits tersebut diantaranya adalah:

  1. Kita dikabari hal ghaib oleh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam– yaitu bahwa setan mengikat tengkuk orang yang tidur dengan tiga tali ikatan.
  2. Setiap kali mengikat talinya, setan membisiki dengan ucapan عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ
  3. Untuk melepas ikatan tali setan tersebut, hendaklah ketika bangun kita berzikir kepada Allah diantaranya dengan doa bangun tidur:Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda :إذا استيقظ أحدكم فليقل : أَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي عَافَانِي فِي جَسَدِي، وَرَدَّ عَلَيَّ رُوحِيْ، وَأَذِنَ لِي بِذِكْرِهِ

    “Apabila salah seorang di antara kalian bangun tidur, hendaklah ia membaca : ‘Segala puji bagi Allah yang telah memberikan ‘afiat kepada tubuhku, mengembalikan kepadaku ruhku, dan memberikan ijin kepadaku untuk kembali berdzikir kepada-Nya”. [HR At-Tirmidzi]

  4. Untuk melepas ikatan tali yang kedua adalah dengan berwudhu, dan untuk melepas tali yang ketiga adalah dengan melakukan shalat minimal 2 rakaat dilanjutkan shalat witir jika ia belum mengerjakannya sebelum tidur.
  5. Dengan melakukan aktivitas tersebut, selain melepas ikatan tali setan, bermanfaat untuk menyegarkan dan semangat yang berdampak kepada ketentraman jiwa.
  6. Lalai mengerjakan hal-hal tersebut akan membuat jiwanya jelek dan tidak bersemangat dalam beraktivitas.

Mudah-mudahan Allah memberikan kemudahan bagi kita untuk mendawamkan amalan yang ringan namun berdampak luar biasa bagi aktivitas kehidupan dan penghidupan kita tersebut. Wallahu waliyyut taufiq.


when the drumbeat changes

13 November, 2012

Ada perkataan bahwa tidak satupun yang ada di dunia ini yang tidak mengalami perubahan, kecuali perubahan itu sendiri.  Kita biasanya lebih mudah menerima perubahan apabila menjadikan hidup lebih nyaman dan lebih mudah. Namun sulit menerima apabila perubahan itu mengganggu kenyamanan atau bahkan membuat hidup lebih sulit. Banyak di antara kita yang menolak untuk berubah, hanya karena sudah nyaman dengan keadaan saat ini. Padahal untuk mencapai keadaan saat ini, perubahan demi perubahan telah dilalui sejak saat lalu.

Sebagian orang malah mampu menikmati perubahan demi perubahan tanpa harus kehilangan kenyamanan. Mereka mengambil kesempatan yang ada untuk mereguk apa yang tidak dilihat oleh orang lain. Tanpa kehilangan semangat untuk berkarya, orang-orang ini menciptakan kenyamanan hidup mereka sendiri di atas perubahan. Nampaknya hanya yang mampu dan mau saja yang dapat menarikan gerak berbeda ketika ketukan gendang berubah.


Gentle Birth

18 Agustus, 2011

Bubu lagi kesengsem sama prinsip n metode Gentle Birth.. Rasanya udah ogah banget menjalani proses melahirkan di Rumah Sakit yang full of drama & trauma. Dua kali melahirkan di RS selalu ketemu dgn yg namanya induksi, episiotomi, pemecahan ketuban, pendorongan janin u/ mempercepat kelahiran (lupa istilahnya), dll.
Ingin yang alami dan menyenangkan..

Tapi jujur, nyari info dimana bidan muslimah yg pro gentle-birth, berlokasi di Depok, dan bersedia dipanggil ke rumah sangat2 sulit.. maklum ini pengalaman pertama jadi rasanya masih perlu pendampingan.. next pengen juga nyobain free-birth, dimana proses melahirkan dilakukan sendiri tanpa bantuan bidan atau dokter..

Padahal HPL tinggal sekian minggu lagi.. sempet deg2an juga takut ngga nemu yg pas di hati.. Baba masih pro RS karena khawatir Bubu mengalami pendarahan seperti waktu melahirkan Tsuraya.. padahal tahu ngga, pendarahan bisa terjadi karena ketidakcocokan terhadap obat yg diberikan, terutama obat induksi (ini Bubu baca dari artikel yg ditulis seorang ibu dgn anak penderita Anenchephali).. dan waktu itu Bubu diberikan obat untuk mempercepat pembukaan (sejenis obat induksi) tanpa persetujuan Bubu.. Inilah jeleknya RS, seringkali melakukan tindakan tanpa persetujuan pasien – wali pasien (dalam hal ini Baba) hanya diminta menandatangani form persetujuan tindakan apapun tanpa mengetahui obat/tindakan apa saja yang akan diberikan dan efek sampingnya.. hal ini membuat pihak RS kebal hukum jika suatu saat terjadi komplikasi yang membahayakan nyawa pasien.. masya Allah..
Padahal Islam sangat menghormati jiwa..

Dan prinsip gentle-birth ini, dengan pendekatannya sendiri, juga sangat menghormati jiwa.. menghormati kekuatan alami seorang perempuan, bahwa melahirkan bukanlah proses yang rumit dan tak perlu dianggap sebagai suatu penyakit..
Metode Gentle Birth bermacam-macam, bahkan proses SC pun bisa dianggap gentle birth jika dilakukan dengan penuh penghayatan, tidak terburu-buru dan memberi kesempatan kepada jiwa ibu dan anak untuk saling berkomunikasi hingga proses kelahiran menjadi minim intervensi medis dan pemulihan pasca melahirkannya pun lebih cepat..

Sudah selayaknya setiap kelahiran memakai prinsip Gentle Birth, karena birth trauma itu nyata.. proses kelahiran yang traumatik bisa terekam dalam pikiran bawah sadar kita dan mempengaruhi perilaku.. hasilnya mungkin kita menjadi pribadi yang mudah cemas, mudah marah, mudah tersinggung, atau mudah mendendam..

Bubu jadi berpendapat, bahwa gentle birth adalah hak setiap anak yang lahir ke dunia.. sudah selayaknya kehadiran mereka disambut dengan hangat dan tenang.. dengan dukungan penuh seluruh anggota keluarga.. kelahiran yang supportif bisa menjadi bekal positif untuk kehidupan anak di masa depan, baik secara fisik maupun mental..

Sudah saatnya menghapuskan paradigma rasa takut yang banyak mempengaruhi sendi kehidupan kita.. dimulai dari kelahiran anak-anak kita..

Depok, 18-19 Agustus 2011/18-19 Ramadhan 1432H

ps: join grupnya yuuk https://www.facebook.com/groups/gentlebirthuntuksemua/


12 Sepercik Semangat dari Matak Kecil

6 April, 2006

Kampung terdekat Matak Base adalah Gunung Cak, Payamaram dan Payalaman. Di seberang jetty terdapat kampung Batuampar. Sedangkan yang agak jauh adalah Putik, Ladan, Tebang, Candi, Teluk Gali, Piabung dan Kampung Baru. Pada jalan yang lain adalah Langir. Dari Gunung Cak ada jalan menuju Matak Kecil. Dari Payamaram terdapat jalan menuju Teluk Sunting. Semua kampung tersebut terletak di pulau Matak. Kebanyakan kampung berada di pesisir pantai.Pulau Matak adalah salah satu pulau di kepulauan Anambas yang berada di Laut Natuna Selatan. Batuan vulkanik merupakan pondasi pulau-pulau di Anambas. Sebagian besar pantainya bercadas, hanya sebagian kecil yang berupa pasir putih.

Hutan-hutan di pulau Matak digunakan sebagai ladang karet, durian, singkong, kelapa dan cengkeh. Hewan-hewan penghuninya diantaranya adalah kancil, ular, anjing, bangau, biawak, elang dan kalong. Hewan ternak yang dipelihara penduduk antara lain: ayam, itik, kerbau, dan sapi.

Sore yang cerah, kami memutuskan untuk berjalan menuju Matak Kecil. Keluar dari pos penjagaan Matak Base ke arah kanan melalui kampung Gunung Cak, kemudian berbelok ke kiri menyusuri jalanan tanah yang mendaki. Pendakian landai namun melelahkan karena treknya panjang sekali. Sesampainya di dataran pada sebuah tempat yang dapat disebut puncak kami bertemu dengan seorang petani karet yang sedang beristirahat. Karet ia ambil dari hutan di atas bukit, kemudian dengan gerobak dan pikulan ia bawa karet tersebut menuju Matak Kecil. Terbayang betapa besar usaha yang dilakukannya untuk mencari nafkah. Dari Matak Kecil, ia harus menyusuri selat menuju Tarempa dengan menggunakan pompong. Di Terempa-lah karet-karet itu akan dijual.

Perjalanan kami lanjutkan dengan menuruni bukit, sebagian telah dikongkrit dengan peluran semen dan pasir. Namun jalan menurun ini sangat curam dan licin oleh pasir tanah. Hingga sampailah kami di dekat dermaga PT. PAN. Di sisi bukit kami temui dua orang sedang membakar batu. Batu tersebut sudah dibakar selama 3 jam, dan terus dibakar hingga cukup rapuh untuk dipecah. Pecahan batu akan digunakan sebagai pondasi rumah penduduk.

Kami berkenalan dengan salah seorang dari pembakar batu itu, namanya Erwan. Ia mengajak kami mampir di rumahnya. Rumahnya langsung dapat dikenali dari jauh, karena warna cat yang berbeda dengan rumah sekitar. Erwan pernah bekerja sebagai pegawai catering di Matak Base, namun ia berhenti karena mendengar PT. PAN membutuhkan pekerja. Akan tetapi sampai saat itu ia masih belum bekerja di PT. PAN.

Di rumahnya, Erwan mengusahakan warung kebutuhan sehari-hari. Ia menyuguhi kami dengan botol air mineral dan sebungkus kacang kulit. Sambil menikmati udara pantai di sore hari, kami ngobrol banyak hal. Dari obrolan itu kami ketahui bahwa Erwan yang kelahiran Matak pernah merantau ke Ranai ketika ia menginjak kelas 2 SD. Orang tuanya tidak mampu menyekolahkan beliau hingga tamat. Dengan bekal semangat ia pergi meninggalkan kampung halamannya menuju Ranai di kepulauan Natuna Besar. Di perantauan, ia tinggal bersama orang yang mau menampungnya. Ia rela disuruh mengerjakan segala pekerjaan asalkan ia tetap dapat sekolah. Ketika menginjak SLTA, ada seorang pejabat lokal yang bekerja di PLN mengangkatnya sebagai asuhan. Erwan dibiayai sekolahnya hingga selesai. Namun, orang baik itu harus bertugas di Padang, ia menyarankan kepada Erwan agar meminta ijin orang tua jika hendak mengikut beliau ke Padang.

Pulanglah Erwan ke Matak Kecil dan menyampaikan maksudnya kepada orang tuanya, tetapi orang tuanya mencegah kepergian Erwan. Tidak berapa lama, sang ayah meninggal dunia, menyusul pula sang ibu beberapa waktu kemudian. Erwan dititipi amanah menjaga adik-adiknya perempuan. Karena khawatir akan pengurusan adik-adiknya, Erwan menikah dengan seorang gadis di kampungnya dengan maksud istrinya mampu menjadi kakak sekaligus ibu bagi adik-adiknya.

Sampai kini Erwan memiliki semangat untuk tetap berjuang menghidupi diri dan keluarganya. Ia juga masih punya harapan untuk hidup lebih baik.

Senja pun tiba, setelah membayar minuman dan snack, kami berpamitan dan berlomba dengan malam untuk mencapai Matak Base sebelum gelap.


[resonansi] Tak Ada yang Mengalahkan Pesona Kesederhanaan

10 Mei, 2005

To: “Resonansi (E-mail)”
Date: Wed, 4 Aug 2004 11:10:23 +0700

Semula kita belajar melakukan hal-hal sederhana.
Tak lebih dari satu tambah satu sama dengan dua.
Ketika soal-soal itu semakin terasa mudah, kita coba kerjakan yang sulit.
Kita rambah puluhan, ratusan, perkalian juga pembagian.
Kita namai itu sebagai tantangan.
Tak lama tantangan kehilangan daya tariknya jua.
Maka, kita kepalkan tangan untuk menaklukkan sesuatu yang rumit, besar, dan
tak mudah ditundukkan.
Sebuah soal pun dijawab oleh berlembar-lembar perhitungan hingga nyaris tak
dikenali lagi mana angka mana tanda baca.

Tapi segera saja, kejelimetan itu membosankan.
Tahukah anda apa akhir dari pergulatan ini?
Yaitu, ketika kita mulai meringkas jawaban.
Memendekkan pola perhitungan.
Memangkas baris-baris pembuktian.
Di perjalanan ini kita seolah berbalik ke titik semula : kesederhanaan.
Tak ada yang mengalahkan pesona kesederhanaan.
Kita boleh kumpulkan apa saja dalam hidup ini, namun pada terminal
perhentian, kita kembali dengan tangan yang sederhana dan meninggalkan semua
kerumitan jauh di belakang.

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)

+-+-+-+-+-+-+-+-+-+
resonansi@yahoogroups.com
+-+-+-+-+-+-+-+-+-+

Kisah Sukses, Kisah Nyata, Kisah Unik, Motivasi dan Inspirasi


%d blogger menyukai ini: