mengunjungi pasar buku

10 Maret, 2014

Buku adalah jendela pengetahuan. Di antara upaya kami mengenalkan anak-anak pada buku adalah mengunjungi pasar buku. Biasanya kami menikmati waktu untuk berkeliling, memilih dan memilah buku mana saja yang akan dibeli dan dibawa pulang untuk menambah koleksi dalam lemari buku kami. Namun mengunjungi IBF 2014 di Istora Senayan pada hari Ahad, 9 Maret 2014 lalu, membawa kesan berbeda.

Memasuki lokasi, setelah memarkir kendaraan, kami langsung menuju ke lantai 2 untuk melihat Pameran Pedang Nabi. Masuk ke ruangan yang diset agak gelap dikutip Rp20 ribu per orang, kami menikmati keindahan pedang, tongkat, dan sandal peninggalan yang dinisbatkan kepada para nabi dan para sahabatnya. Tidak jelas bagi kami apakah benda-benda yang dipajang itu adalah asli atau replika, sedangkan penjagaan yang disediakan tidaklah seketat penjagaan benda-benda purbakala di museum.

Kami turun menuju kios-kios buku yang disewa oleh para penerbit buku-buku Islam di Indonesia. Begitu banyak yang menarik seperti judul, tampilan, hingga potongan harga yang ditawarkan oleh setiap kios. Hanya saja, kita mesti selektif dalam membeli. Jangan sampai buku-buku yang kita beli tidak bermanfaat atau malah menyesatkan. Sikap selektif ini membuat kami lebih mudah menentukan kios mana yang akan kami hampiri.

Namun anak-anak kami ternyata kurang menikmati suasana pasar buku yang ramai, sesak dan ingar-bingar. Apalagi tidak menemukan buku yang dicari, anak-anak makin gelisah. Bertambah tidak nyaman ketika lantunan musik hip-hop dari panggung utama terdengar membahana di saat yang semestinya dikumandangkan azan asar. Akhirnya kami putuskan keluar gedung, untuk mencari teduh dan meninggalkan pasar buku di hari terakhirnya.


efisiensi busway

11 Maret, 2009

melanjutkan tulisan kemarin keluar dari stasiun gambir, saya melewati  parkiran taksi bluebird langsung menuju halte busway, mengabaikan para supir taksi dan ojek motor. waktu menunjukkan jam 21:45 masih ada 15 menit secara teori sebelum semua halte busway tutup kasir. di depan kasir saya ditanya oleh petugas, “mau ke mana pak?” saya jawab bahwa saya mau ke ragunan, dengan melakukan 2 x transit di harmoni dan dukuh atas.

berbeda dengan kereta yang apabila penumpang hendak berganti rute harus keluar peron untuk membeli karcis kemudian masuk lagi, busway memberikan keleluasaan bahwa selama berada di dalam halte, penumpang tidak perlu membeli karcis lagi untuk dapat menaiki bus dengan rute yang berbeda. inilah efisiensi busway yang perlu ditiru oleh kereta.

Baca entri selengkapnya »


%d blogger menyukai ini: