nun di sana

25 Juni, 2013

GambarNun di sana cita-cita kita, ya akhirat namanya
Di dunia ini bukan tempat tinggal, di sini hanya sebentar tidak kekal

Betulkan niat dari sekarang, tukar sikap kita yang merugikan
Qur’an dan sunnah jadikan panduan, agar esok kita tidak kekesalan

Biar susah sedikit kerana Tuhan, untuk menghindar kesusahan yang besar
Yang tidak sanggup ditanggung badan, ambillah i’tibar kalau mahu sedar

Di sana tiada taulan yang membela, amal ibadah itulah pembela kita
Ayo bersegeralah membuat kebajikan, jangan dilalaikan oleh nafsu dan syaitan

Pangkat dan harta tidak akan kekal, bahkan apa yang ada akan ditinggal
Hidup di dunia hanya sementara, buatlah persiapan untuk kesana

Ayo bersegeralah menuju Allah, taatilah Ia minta ampun pada-Nya
Mati bila-bila masa boleh tiba, jangan sampai kita tidak bersedia

Nun disana cita-cita kita, ya akhirat namanya
Di dunia ini bukan tempat tinggal, di sini hanya sebentar tidak kekal

[credit to: nadamurni]


between head and tail

25 Desember, 2012

Ada yang bilang karakter seseorang dapat dilihat dari caranya makan ikan. Biasanya hidangan ikan terbagi ke dalam 3 bagian: kepala, badan, dan ekor. Untuk ikan yang lebih kecil cukup 2 bagian saja: kepala dan ekor. Pemilihan bagian ikan yang akan dimakan ditentukan oleh alam bawah sadar. Sikap tersebut biasanya dapat menjelaskan sikap lahiriah lainnya.

Seseorang yang memilih bagian ekor biasanya mendapatkan bagian yang sedikit yaitu sirip ekor dan sebagian daging di sekitar ekor. Sedangkan yang memilih bagian badan biasanya mendapatkan bagian yang banyak berupa daging ikan. Jika seseorang memilih bagian kepala ia mendapatkan bagian yang sedikit dan tersulit karena harus menghadapi tulang-tulang kepala ikan, apalagi jika berjuang untuk mendapatkan otak ikan tentu lebih sulit lagi.

Berdasarkan pembacaan karakter, kebanyakan orang memilih badan ikan: tidak sulit dan mendapat bagian yang banyak. Orang-orang ini menjadi orang kebanyakan dan menjadi kelas rata-rata. Mereka menikmati hidupnya dan memperoleh sebatas yang ia usahakan. Sedangkan orang-orang yang memilih ekor ikan jauh lebih banyak lagi: sangat mudah namun mendapat bagian yang sedikit. Orang-orang ini memperoleh sisa-sisa dari apa yang sudah dihabiskan oleh orang-orang pertama. Sekeras apapun usahanya, mereka telah dicukupkan dengan apa yang sudah ditentukan: bagian yang sedikit.

Mari kita tanyakan kepada penggemar ikan kakap, gulai terenak untuk ikan kakap bukanlah bagian badan maupun ekornya, melainkan kepalanya. Tanyakan pula mengapa mereka rela merepotkan diri menyantap gulai kepala kakap. Kebanyakan mereka menyukai tantangan, eksotisme pengalaman, dan menikmati proses pencapaian kepuasan. Mereka tidak peduli berapa besar mereka peroleh sebagai hasil kerja. Mereka sangat menikmati perolehan-perolehan yang luar biasa, tidak banyak memang, namun berkualitas.

Sepertinya pilihan kita di dalam hidup akan menentukan tingkat kenyamanan hidup kita sendiri. Di antara dua sisi ketidaknyamanan, perbedaan sikaplah yang membuat kita mampu menikmatinya: dengan biasa-biasa saja, rata-rata, atau berkualitas. Sebaiknya hindari memilih hidup yang tidak berkualitas: sudah rugi di dunia, rugi pula di akhirat. Semoga Allah memperbaiki sikap dan kualitas hidup kita.


patriot dan loyalis

10 September, 2012

di masa revolusi, menjadi loyalis sama dengan setia kepada penguasa kolonial, sama dengan memperbudak diri kepada raja demi kelangsungan hidup yang sejahtera, sama dengan menjadi musuh bagi bangsa sendiri.

sedangkan menjadi patriot, sama dengan menjadi pembangkang kepada pemerintah, sama dengan membebaskan diri dari penjajahan untuk hidup berdikari, sama dengan menjadi pahlawan bangsa.

menjadi loyalis maupun patriot adalah keputusan yang sama-sama sulit. di antara keduanya ada kaum moderat yang bersikap pertengahan, mencoba untuk loyal dengan tetap berjiwa patriot. sebagian orang mengatakan bahwa para moderat ini tidak memiliki sikap yang tegas dan hanya mencari keuntungan bagi dirinya sendiri.

di masa kemerdekaan, para moderat mengambil peran yang besar untuk mengatasi perbedaan yang ada dan melelehkannya dalam kesatuan (konsep the melting pot). sebagian loyalis berpindah kewarganegaraan demi mempertahankan kualitas dan gaya hidupnya. sebagian lagi menerima kemerdekaan, bergabung dengan para moderat dan mewarnainya dengan loyalitas baru.

sedangkan para patriot, ada yang bergabung dengan para moderat untuk kemudian menjadi loyalis kepada pemerintahan merdeka. ada pula yang tetap berjuang untuk mempertahankan idealisme dan kemerdekaan sejati, tanpa khawatir akan ketidakpastian maupun kesejahteraan hidupnya.


%d blogger menyukai ini: