jangan coreng janggutmu

16 Maret, 2014

Diceritakan ada dua orang, salah satunya berjanggut dan bercelana cingkrang, memasuki sebuah rumah yang sedang dibangun. Mereka melihat-lihat ke dalam dan seperti mencocokkan sesuatu di dalam kertas yang mereka bawa dengan rumah tersebut. Dari dalam rumah, sedang beristirahat si empunya rumah dan para tukang yang sedang menikmati kopi dan cemilan. Melihat kedua orang tersebut, si empunya rumah menghampiri dan mengucapkan salam, “Assalamualaikum.” Tanpa mendapat jawaban, si empunya rumah mengulangi lagi salamnya lalu berkata, “Maaf, Anda siapa?” Kedua orang itu tidak memperhatikan pertanyaan malah terus sibuk dengan urusannya. Si empunya rumah bertanya kepada tukangnya perihal orang itu. Dikatakan mereka adalah pemilik tanah di seberang jalan yang sedang membangun pondasi. Maka si empunya rumah berkata, “Pak, adabnya kalau bertamu mengucapkan salam, walaupun rumah yang didatangi belum jadi. Dan kalau bapak mau mencontoh rumah ini, silakan saja difoto, biar tidak bolak-balik masuk sini tanpa izin.”

Si empunya rumah yang bercerita kepada saya tentang hal itu kemudian menyimpulkan, “Kok gitu ya, orang jenggotan dan celana cingkrang gak punya sopan santun?” Jlebb!!! Kita tidak bisa menyalahkan maupun membenarkan seratus persen pengambilan kesimpulan tersebut. Apalagi jika fakta yang membuktikannya. Akan tetapi hal itu menunjukkan bahwa masyarakat awam masih punya harapan bagi para pengamal sunah. Pemahaman yang cukup baik mengenai agama tidaklah menunjukkan apapun jika tanpa pengamalan dan penghayatan. Telah banyak ditulis dan diajarkan kitab adab oleh para ulama sebelum mereka mengajarkan ilmu. Oleh karena adab juga merupakan bagian dari sunah, maka hendaknya para pengamal sunah memerhatikannya dan berakhlak mulia, tidak mencoreng janggut dan celana cingkrangnya.

Iklan

sopan santun bertelepon

22 Januari, 2014

sebuah panggilan masuk di hp saya dari nomor yg belum saya simpan, saya angkat, “halo.”

suara di seberang berkata, “halo juga.”

“maaf, anda siapa dan apa yg dapat saya bantu?” tanya saya.

“oh gitu ya…, sama teman sendiri lupa?” jawab suara di seberang.

“maaf, saya tidak menyimpan data anda. mohon kiranya memperkenalkan diri,” pinta saya.

“oh gitu sekarang, sudah lupa sama teman. atau apakah karena nomor saya baru, ya?” kata suara di seberang.

“lho. ya kalau tidak mau memperkenalkan diri, bagaimana saya mengetahui dengan siapa saya bicara?” jelas saya.

“saya cuma mau ngobrol sama kamu. tapi karena kamu ga mengenali. ya sudah. kamu simpan nomor saya. lalu ingat2 dulu siapa saya. oke? selamat malam!” telepon ditutup sepihak oleh suara di seberang.

tinggallah saya terbengong2. kok bisa ya? ada orang dewasa yg sopan santun berteleponnya kalah dengan anak TK?


ketuk pintu dan beri salam

23 Mei, 2011

sudah dibiasakan bagi anak-anak untuk mengetuk pintu dan memberi salam setiap kali masuk rumah atau minta ijin masuk ke kamar orang tua. Ketika Radya, 5 tahun, menggedor-gedor pintu kamar, kami sengaja tidak segera membukakan pintunya hingga terdengarlah rajukannya disertai sedikit raungan.  Kemudian kami buka pintunya dan melihat cucuran air mata di pipi bocah kecil itu. Sambil jongkok Baba menasihati agar setiap kali minta ijin masuk kamar yang tertutup atau terkunci dengan cara mengetuk dan memberi salam dengan sopan. Tak lupa peluk cium Baba buat Radya agar ia menyadari bahwa ayahnya sangat menyayanginya untuk berlaku baik.

Suatu ketika Radya membuat kesal Bubu karena mengunci kamarnya, sedangkan Bubu ada keperluan di kamar itu sehingga Bubu harus menggedor pintu kamarnya. Lalu dari dalam terdengar suara yang diiringi isakan tangis: “Bubu, assalamualaikum-nya mana?”


%d blogger menyukai ini: