beratnya beban suami

4 Maret, 2013

Sebagian orang memandang bahwa kebanyakan suami semena-mena terhadap istrinya. Sebagian lain menganggap bahwa kebanyakan istri tidak tahu terima kasih kepada suaminya. Sebagiannya lagi berprasangkan bahwa kehidupan rumah tangga adalah kehidupan yang rawan konflik sehingga perlu dihindari. Aduhai… betapa piciknya pandangan dan anggapan demikian. Padahal setiap kehidupan manusia bermula dari pertemuan suami dengan istri. Dan Allah bersungguh-sungguh dalam melangsungkan keturunan manusia menuruti firmannya:

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS An-Nisaa’: 1)

Bagaimanapun hadits berikut memang bukan merupakan kebanggaan bagi setiap suami, namun harus dipikirkan betapa berat beban yang dipikul oleh suami, sehingga seandainya dibolehkan maka suami lebih berhak untuk dipersujudi oleh istrinya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَوْ كُنْتُ آمِرَا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لأَحَدٍ لأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا
“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain niscaya aku perintahkan istri untuk sujud kepada suaminya.” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dengan sanad yang hasan. Dishahihkan oleh Al Albany dari Irwa`ul Ghalil no. 1998]

Dalam ayat 34 surat An-Nisaa’ juga dijelaskan mengapa suami dilebihkan dari istri, bukan karena superior melainkan karena suami berkewajiban menafkahi istri dan anak-anaknya. Maka bukan pula untuk dituntut oleh setiap istri, namun demikianlah hak-hak istri yang wajib dipenuhi oleh para suami sebagai wujud beratnya beban dan tanggung jawab suami kepada para istri.

Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Apa hak seorang wanita atas suaminya?” beliau menjawab: “Memberi makan kepadanya apabila dia makan, memberi pakaian apabila ia berpakaian, tidak memukul wajah, tidak menjelek-jelekkannya dan tidak boleh mendiamkannya kecuali di dalam rumah.” [HR. Ibnu Majah no. 1840]

Semoga cukup memberi penjelasan bagaimanapun peran suami dengan segala kekurangannya, begitupun sikap istri dengan segala kekurangannya. Hendaklah masing-masing pihak menyadari kedudukan dan kewajibannya. Mengesampingkan menuntut hak yang tidak dipenuhi oleh yang lain dan saling memaafkan atas kekurangan masing-masing. Semoga Allah mencukupkan keduanya dan memberkahi kehidupan rumah tangganya.


superioritas dan pukulan

1 Juni, 2012

Seorang teman bertanya kepada saya, apakah betul ayat 4:34 mengatakan bahwa laki2 itu superior daripada perempuan dan istri boleh dipukul. Pertanyaan yang menjawabnya butuh pemahaman yang komprehensif terhadap tafsir Quran dan fiqh agama. Dengan hati-hati sekali saya mengorek kembali pemahaman saya dari menghadiri majelis taklim, konsultasi dengan ustadz dan membaca buku-buku agama. Saya pun mencoba menjawabnya dengan tetap mengharapkan koreksi dari para ustadz yang jauh lebih kompeten untuk menjawabnya. wallahu a’lam.

4:34

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka perempuan yang salehah, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”

(QS An-Nisaa’, 4:34)

Kalimat pertama dari ayat 4:34 adalah: ar-rijalu qowamuna ‘ala an-nisa, diartikan bahwa kaum laki2 adalah pemimpin kaum perempuan. qowam juga berarti pelindung dan pemelihara. kalimat kedua menyebutkan alasan mengapa laki2 adalah qowam, yaitu: karena Allah telah melebihkan laki2 dan karena laki2 menafkahkan harta kepada keluarganya.

Bentuk kelebihan yang Allah berikan kepada laki2 adalah dari segi penciptaan, fisiologi tubuh laki2 memungkinkan untuk melakukan aktivitas fisik dan berpikir dengan cara yang berbeda dengan perempuan. Sedangkan memberi nafkah adalah kewajiban yang Allah bebankan kepada laki2. Jika ada kebalikannya, istri yang memberi nafkah kepada suaminya, tanpa uzur (misal sakit) maka hal itu telah menyalahi kodrat dan si suami akan mendapat hukuman dari Allah kelak karena melalaikan kewajiban.

Dengan demikian, laki2 sebagai suami dan kepala keluarga, wajib memimpin keluarga kepada jalan yang benar, wajib melindungi keluarga dari bahaya, dan wajib memelihara keluarga agar tetap utuh dan menjaganya supaya terbentuk sakinah (tenteram), mawaddah (kecintaan), dan rahmah (kasih sayang).

Arti kalimat ketiga: Sebab itu maka perempuan yang salehah, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).

Bermaksud agar perempuan memenuhi kewajiban mereka untuk taat kepada Allah dan memelihara diri ketika suaminya pergi, sebagai rasa syukur kepada Allah yang telah memeilharanya (ketiga suaminya pergi, maupun melalui perantaraan suaminya ketika ada).

Arti kalimat keempat: perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka.

Nusyuz dapat diartikan dengan durhaka atau perilaku yang tidak menyenangkan, alias si istri tidak amanah, tidak taat (dalam hal kebaikan), tidak memelihara diri, bahkan berselingkuh. Maka Allah menyuruh suami untuk melakukan perbaikan secara bertahap. Tahap pertama adalah nasehat (SP1). Kalau nasehat tidak mempan maka tahap kedua dihukum dengan tidak tidur satu ranjang dengan suami (SP2). Kalau tidak mempan juga alias istri tidak memperbaiki perilaku buruknya, barulah tahap ketiga dengan dipukul (SP3) dan pukulan merupakan cara paling akhir untuk mengatasi kedurhakaan istri.

Masalah pukulan ini, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberi rambu-rambu boleh memukul asalkan bukan pada wajahnya. Dan pukulan itu pun bentuknya pukulan yang ringan, bukan pukulan yang membuat cacat. pukulan yang sifatnya sekadar membuat jera, bukan penganiayaan. Suami juga harus mempertimbangkan apakah pukulan itu bermanfaat bagi si istri maupun dirinya, jika pukulan itu tidak bermanfaat, maka alangkah lebih baik ia mengambil metode selain pukulan (yang tentu saja metode yang lebih ringan daripada pukulan, karena pukulan merupakan metode terakhir).

Arti kalimat kelima: Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.

Dimaksudkan bahwa kalau dengan nasehat sudah cukup, maka tidak perlu pisah ranjang atau pukulan. Jika nasehat dan pisah ranjang sudah cukup, maka tidak perlu dipukul. Jika nasehat, pisah ranjang, dan pukulan ringan sudah cukup, maka tidak perlu cari-cari metode lain yang lebih menyusahkan si istri, karena pukulan adalah metode paling terakhir. Di sinilah dibutuhkan kebijaksanaan dan kedewasaan suami dalam menyikapi masalah. Dan di sini pula diperlukan kecerdasan dan ketaatan istri untuk memelihara keutuhan rumah tangga.

Arti kalimat keenam: Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Maksudnya adalah, supaya suami dan istri mengingat bahwa urusan dengan Allah adalah jauh lebih tinggi dan jauh lebih besar, daripada sekadar urusan duniawi. Allah menginginkan keharmonisan antara suami dan istri agar keduanya dapat menjalankan kewajiban kepada Allah dengan tenang dan khusyuk. Andaikata ada keributan di antara suami istri, insya Allah dengan mengingat Allah, semua urusan jadi kecil dan ringan.

Segala kebenaran datangnya dari Allah, kesalahan adalah dari diri saya sendiri. Wallahul-muwaffiq.


suami gak sholat

26 November, 2008

sebuah sms masuk di hp dan berbunyi: “maaf ganggu… boleh ga ngajuin cerai karena alasan tidak lagi rajin kerjakan sholat?

sontak saja saya kaget dengan pertanyaan yang sederhana tetapi berat. pertanyaan ini sebenarnya untuk istri saya dari temannya, berhubung pesannya ke hp saya, saya kira akan terlalu lama apabila dia harus menunggu jawaban dari istriku nanti malam. “apakah sudah diingatkan?” begitu balasan smsku.
selanjutnya ya


rumahku panas!

8 November, 2007

“bener deh, semua laki-laki sama!”

“lho, memangnya ada apa kok bisa-bisanya mbak bilang begitu?”

“ya iya lah, tadi mas andi kan cerita kalau kemarin pulang kantor kemalaman, karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan, apa nggak mikir kalau ada yang nungguin di rumah?”

“hehehe, saya sih lebih enak kalau sudah sampai di rumah gak ketemu sama kerjaan kantor, bercengkerama dengan keluarga jadi lebih asyik. makanya saya coba selesaikan di kantor”

“tapi itu pekerjaan gak bakalan pernah selesai, perempuan tuh maunya, laki-laki kalau sudah jamnya pulang ya pulang, gak usah pake alasan macam-macam buat terlambat pulang”

“bukan begitu, mbak. mungkin setiap laki-laki punya alasan berbeda. memang apa yang mendasari mbak mencak-mencak sama saya begitu? apalagi mbak cuma teman saya?”

mulailah perempuan itu bercerita tentang kondisi rumah tangganya karena suaminya yang selalu punya alasan terlambat pulang. saya coba menyimak baik-baik supaya apa yang saya katakan kepadanya nanti tidak melukai perasaannya. maklum perempuan, sama citra aja saya masih suka salah bicara, apalagi sama perempuan itu yang cuma teman biasa.

semua keluhan tentang kelakuan suaminya yang suka terlambat pulang terpampang di muka saya seperti cermin… hehehe, maklum saya kadang-kadang memang suka telat pulang. tetapi ya, itu tadi saya punya alasan yang jelas misalnya rapat yang selesai terlalu sore, atau ada tugas tiba-tiba yang harus saya siapkan karena dibutuhkan malam itu juga oleh bos, atau karena hujan: kalau yang ini saya katakan ke citra, “sayang, masak lebih suka mas sakit kehujanan daripada pulang sehat?” 🙂

nah, berkaitan dengan kelakuan suami teman itu, saya coba mengelus dada, tidak membenarkan dan tidak pula menyalahkan. tetapi saya coba mengarahkan pembicaraan, bahwa apa yang kita inginkan sebenarnya adalah cerminan dari apa yang kita lakukan.

mari bercermin, apa yang kita ingin lihat? wajah cantik menarik penuh senyum dan menawan? lalu apakah pada cermin terbayang hal-hal tersebut? apabila saat bercermin kita baru bangun tidur dengan rambut awut-awutan dan pakaian acak-acakan, tentu saja tidak akan kita lihat wajah cantik menarik penuh senyum dan menawan.

begitu pula, kalau kita ingin melihat pasangan kita memahami kita sesuai dengan keinginan kita, bukankah seharusnya kita bercermin, apakah kita sudah sesuai dengan apa yang ingin dilihat oleh si dia? kadang-kadang sulit karena masing-masing keras kepala! tidak ada yang mau mengalah!

“kan aku juga lelah, bayangkan harus mengejar-ngejar klien, naik turun tangga. pulang-pulang tidak mendapati suami di rumah. bagaimana tidak kesal? bisa-bisa piring terbang bersliweran ketika dia pulang, huh!”

waduh, hal ini dapat dipahami karena kurangnya komunikasi antara pasangan. banyak pasangan lupa bahwa menikah, justru harus memperbanyak komunikasi karena persoalan yang dihadapi jelas bertambah. bagi yang pernah pacaran, komunikasi lebih sering sekedar basa-basi. tetapi kalau sudah menikah, semua komunikasi adalah hal-hal matang yang ada konsekuensinya.

tak pelak lagi, sikap tidak mau mengalah bisa bikin rumah makin panas. cuma toleransi jawabannya: saling mendukung untuk hal-hal yang disepakati dan saling toleran untuk hal-hal yang sulit disepakati. Dalam kacamata islam: toleransi dibatasi dengan hal-hal yang sesuai syariah, sedangkan untuk hal yang diluar syariah hukumnya jelas: haram.

maka upaya saling memahami antara pasangan harus dimulai dari titik persamaan yang dimiliki oleh keduanya. akan sulit, namun pasti kecewa jika tidak dicoba. toh, pasangan yang sudah melalui Golden Anniversary saja masih ada sedikit ketegangan, apalagi yang baru menikah seumur jagung. alangkah sayangnya jika hal-hal yang tidak prinsip secara syar’i  merusak usia pernikahan kita?


jika suami membantu istri

12 Januari, 2007

Tak banyak para suami yang mau membantu istrinya, paling tidak begitu menurut survey kecil-kecilan yang saya lakukan. Secara ilmiah, survey diambil dari obrolan antara teman-teman yang sudah jadi suami maupun yang akan jadi suami, diskusi yang saya ikuti di dunia maya, ditambah dengan diskusi dengan istri saya yang sering mendengar atau jadi curhatan para ibu-ibu tentang kelakuan suaminya. Adapun yang dimaksud dengan membantu istri di antaranya adalah mengerjakan pekerjaan rumah tangga (mengurusi pakaian kotor, membersihkan rumah dan perabotan, memasak makanan), berbelanja kebutuhan rumah tangga, mengurusi dan mendidik anak.

Entah apa yang ada di dalam benak masing-masing suami terhadap “membantu istri”, ada yang bilang bahwa itu semua pekerjaan perempuan. Saya ingat tentang pendapat seorang ahli yang saya lupa namanya, bahwa keluarga yang dibangun memiliki 2 macam:
1) memisahkan peran dan tanggung jawab antara suami dan istri. Macam yang ini juga terbagi 2 yaitu:
a) peran suami di luar rumah lebih besar daripada istri
b) peran istri di luar rumah lebih besar daripada suami
2) menyeimbangkan peran dan tanggung jawab antara suami dan istri. Macam yang ini berusaha secara adil dan melihat kondisi, peran siapa yang dapat lebih besar, dan dapat saling melengkapi satu sama lain.

Secara sejarah, macam yang pertama merupakan warisan nenek moyang dimana para lelaki berburu dan berperang, para perempuan berkebun, menyiapkan makanan dan mengurus anak. Sedangkan macam yang kedua hadir sebagai kebutuhan budaya, kesadaran akan kesetaraan, dan keimanan.

Ketika sejarah mencatat bahwa nilai perempuan di mata lelaki tidak berarti, dianggap menyusahkan dan tidak produktif, bahkan menjadi tempat pemuasan nafsu belaka, sejarah juga mencatat bahwa perempuan dihormati 3 kali daripada lelaki, kedudukannya di mata Allah adalah setara sehingga harkat dan martabat perempuan terangkat, peran perempuan dan laki-laki sama dalam melahirkan peradaban yang berbudaya.

Nabi sendiri amat mencintai istri-istrinya dan menempatkan mereka pada kedudukan yang terhormat dan mulia. Di saat tidak berperang, beliau mencari nafkah, memasak untuk kebutuhan makanan keluarga sampai-sampai beliau menjahit sendiri pakaian dan sandalnya yang putus talinya. Nabi juga mencintai anak-anak dan cucu-cucunya, mengurusi mereka tatkala ibu mereka sedang sibuk, dan berperan besar dalam mendidik mereka menjadi generasi yang kuat dan tangguh.

Pada masa beliau, peran perempuan menjadi jelas dan nyata, eksistensi perempuan menjadi lebih kentara dan diakui seiring dengan produktifitas karya yang dibuat oleh kaum perempuan. Dengan begitu perempuan menyadari posisinya sebagai pendamping laki-laki dalam membesarkan dan mendidik generasi, sehingga para perempuan dengan senang hati dan ikhlas karena Allah, membantu tugas suami dalam menjalankan roda rumah tangga.

Belajar dari cara Nabi dan para sahabat dalam mengurusi rumah tangga, suami tidak sepatutnya menuntut banyak hal kepada istrinya di luar kemampuan mereka. Justru ketika suami mengabdikan dirinya dalam mengurusi rumah tangga, para perempuan salihah itu akan serta merta berpartisipasi. Ini merupakan bentuk pendidikan keluarga, dimana anak-anak akan melihat bagaimana ayah mereka memuliakan ibu mereka, kelak mereka juga akan memuliakan perempuan. Sebaliknya jika suami tidak berbuat demikian, sangat mungkin keluarga yang dibangun akan kehilangan kebahagiaan dan berpotensi gagal dalam melanjutkan pelayaran kehidupan berkeluarga.

Saya berterima kasih kepada Allah yang memberikan orangtua yang mendidik saya untuk memuliakan perempuan sebagaimana juga merupakan ajaran dari Nabi-Nya, dengan begitu saya berusaha untuk menerapkannya dalam kehidupan rumah tangga saya dengan membantu istri dan berusaha mewujudkan keluarga yang salih. Maka ketika saya pulang ke rumah, satu hal yang paling membahagiakan diri saya adalah saya diakui sebagai suami sekaligus ayah.

[lesson on 12012007]


%d blogger menyukai ini: