Tentang cemburu

5 April, 2016

Kalau istri Anda cemburu, bersyukurlah wahai suami. Itu tanda dia dewasa, tidak cengeng, dan peduli denganmu.

Kalau suami Anda cemburu, bersyukurlah wahai istri, itu tanda dia dewasa, bertanggung jawab dan mengasihimu.

Kalau pasangan Anda sama sekali tidak cemburu, kecewalah, karena itu tanda ia tidak sayang padamu, tidak peduli, tidak bertanggung jawab, dan tidak dewasa.

@ndi, 06042016

Iklan

bukan salah pasangan anda

13 Maret, 2015

Jika Anda menunggu pasangan hidup Anda untuk membuat Anda bahagia, maka Anda akan menunggu untuk waktu yang lama. Tidak mungkin bagi seorang suami mengambil tanggung jawab untuk keamanan emosional istrinya. Begitu pula sebaliknya, tidak mungkin seorang istri bertanggung jawab atas kepuasan suaminya. Ringkasnya: tidak seorang pun dapat mengambil tanggung jawab atas kebahagiaan atau kepuasan orang lain. Harapan yang tidak sehat ini disebabkan oleh ego, ketidakpuasan dan permasalahan “diri” di dalam pikiran. Kadang-kadang mengarahkan seseorang untuk salah menempatkan tanggung jawab pada pasangan hidupnya.

Prinsip dari sebuah hubungan dapat melibatkan apakah mengambil tanggung jawab atau mengelaknya, tergantung kepada mana yang adil. Satu alasan yang didambakan oleh ego dalam membina hubungan adalah karena di dalam hubungan berpeluang besar untuk menghindari tanggung jawab. Ego menginginkan orang lain mengambil tanggung jawab atas rasa bahagia, dihargai, aman, diurus, dll. Ego tidak mau bertanggung jawab atas hal-hal ini jika ada orang lain yang mau melakukannya.

“Mengapa saya harus berupaya mencari kebahagiaan, apabila saya dapat melimpahkan tanggung jawab itu kepada pasangan saya?”

“Banyak laki-laki yang antri untuk menerima saya apa adanya, mengapa saya harus belajar menerima diri sendiri?”

“Itu tanggung jawab istri untuk memuaskan suaminya, mengapa saya harus belajar pengendalian diri?”

Ego barangkali akan bertanya hal-hal seperti ini untuk merasionalisasi kecanduannya, egois, dan kelakuan tidak mau bertanggung jawab, yang dapat merusak hubungan romatis. Ketika seseorang menyadari bahwa ekspresi cintanya yang tanpa pamrih mulai membuat pasangannya tidak bertanggung jawab, maka ia harus melepas tanggung jawab darinya.

Seorang istri dapat mengatakan kepada suaminya bahwa ia dapat mencoba menyenangkan suaminya tetapi ia tidak dapat bertanggung jawab apabila suami tidak puas, tidak dapat dipersalahkan atau dituntut apabila tidak memuaskan. Seorang suami dapat mengatakan kepada istrinya bahwa ia dapat menghabiskan waktu lebih banyak untuk istrinya dan berkomunikasi dengan lebih baik kepadanya tetapi ia tidak dapat bertanggung jawab atas rasa tidak aman atau emosi yang tidak stabil pada istrinya.

Memang, cinta tanpa pamrih itu sehat, tetapi cinta tanpa pamrih hanya dapat terlindungi dengan penerapan yang benar pada tanggung jawab atas hubungan. Ketika seseorang bertanggung jawab atas apa yang ia dambakan, maka cinta tanpa pamrih bebas diekspresikan tanpa berisiko untuk memungkinkan pasangannya tidak bertanggung jawab atau memiliki rasa berhak yang tidak tepat. Secara bersama-sama, cinta tanpa pamrih dan tanggung jawab atas hubungan akan mempertahankan hubungan yang bahagia dan langgeng.

sumber: http://familyshare.com/marriage/ladies-its-not-your-husbands-fault-youre-crying


hak-hak suami dan istri

22 Februari, 2015

– at Masjid Al Muhajirin wal Anshor

View on Path


menjadi suami pendamping persalinan

15 Juli, 2014

Dalam tradisi Islam, perkara yang disebutkan dengan rinci di dalam Alquran biasanya merupakan perkara yang besar dan perlu mendapat perhatian serius. Di antara perkara itu adalah kisah kehamilan Maryam sampai ia melahirkan Isa alaihi salam. Alquran menceritakannya dalam serangkaian ayat yang tersusun secara kronologis dan sarat makna, yaitu di dalam surat Maryam, 19: 22-26.

Pemahaman terhadap ayat-ayat ini dapat kita pelajari dari kitab-kitab tafsir semacam Tafsir Ibnu Katsir dan semisalnya. Adapun artikel ini ditulis hanyalah dengan maksud merefleksikan beberapa faidah dan hikmah dari serangkaian ayat kisah persalinan tersebut ke dalam pengalaman sebagai suami yang mendampingi persalinan.

Kehamilan adalah kondisi yang memayahkan bagi seorang ibu. Sembilan bulan seorang ibu mengandung dan bertambah payah menjelang kelahiran bayinya. Kondisi yang juga dialami oleh Maryam ketika mengandung Isa. Oleh rasa sempit di hatinya, Maryam memencilkan diri ke suatu tempat yang jauh dari Yerusalem, yaitu Betlehem.

فَحَمَلَتْهُ فَانتَبَذَتْ بِهِ مَكَانًا قَصِيًّا

“Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh.” (19:22)

Seorang suami berperan mendukung suasana hati bagi istrinya yang sedang hamil. Meringankan rasa kepayahan oleh karena membawa beban kandungan yang semakin berat. Ketenangan dan kelapangan hati menjadi hal yang sangat berharga bagi ibu hamil, menjaganya untuk tetap optimis dan berprasangka baik kepada Tuhannya.

Sebagaimana Maryam telah menjauh dari keramaian manusia, menjelang kelahiran adalah saat-saat yang sangat membutuhkan privasi. Secara naluri, perempuan yang akan melahirkan akan mencari tempat dan posisi yang nyaman hingga pada titik tertentu kehilangan rasa malu. Maka sangat penting bagi suami untuk menjaga aurat istrinya dari pandangan manusia yang tidak berkepentingan.

Memilih tempat persalinan mestilah mempertimbangkan kenyamanan si ibu, menjaga privasinya, dan menjamin keamanan serta tindakan yang diperlukan apabila timbul masalah. Rumah sakit bersalin biasanya dipilih karena dianggap paling aman karena menyediakan dokter dan peralatan yang memadai ketika menghadapi masalah persalinan.

Persalinan di rumah dapat dipertimbangkan jika kondisi ibu dan janin sehat tanpa komplikasi. Lagipula sebenarnya lebih aman karena kecil kemungkinan terjadinya infeksi (umumnya kuman di rumah lebih sedikit dibandingkan di rumah sakit). Hanya saja dokter atau penolong enggan membantu karena kemungkinan timbulnya kesulitan saat persalinan.

Alih-alih memberikan ketentraman bagi seorang ibu yang akan melahirkan, membawanya ke rumah sakit umum atau rumah bersalin malah membuatnya kehilangan banyak privasi dan sulit untuk menjaga auratnya dari pandangan manusia. Oleh karenanya tidaklah salah jika Syaikh Al-Albani menasihatkan agar  perempuan yang hamil hendaknya melakukan persalinan di rumah.

فَأَجَاءَهَا الْمَخَاضُ إِلَىٰ جِذْعِ النَّخْلَةِ قَالَتْ يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَٰذَا وَكُنتُ نَسْيًا مَّنسِيًّا

“Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan”.” (19:23)

Maryam adalah perempuan pilihan Tuhan, kesalehannya pun tidak dipungkiri, sebaik-baik wanita di masanya. Bagaimanapun ia juga seorang manusia, yang mengalami rasa sakit akan melahirkan seperti perempuan lainnya. Penderitaannya itu pun ditambah pula dengan perasaan berat menanggung fitnah yang akan dihadapinya dengan kelahiran anaknya.

Seorang suami berperan mendampingi istrinya melalui rasa sakit ini. Memilih metode melahirkan juga dapat menjadi pertimbangan sendiri. Persalinan di dalam air dianggap mengurangi rasa sakit saat kontraksi, memberi rasa nyaman dan lebih tenang, serta tidak menimbulkan trauma bagi bayi. Persalinan alami yang tanpa obat penghilang rasa sakit memerlukan ketenangan dan teknik pernapasan, dan yang penting adalah kesiapan hati ibu untuk menghadapi rasa sakit melahirkan.

Pada saat persalinan, suami ibarat pangkal pohon kurma bagi istrinya. Suami berperan dengan menghibur dan memberi semangat. Tetap sabar walaupun istri menjengkelkan pada saat dia sangat menderita. Mengingatkan tentang teknik pernapasan, mengusap kening istrinya yang berkeringat, memeluk bahunya, mengurut punggungnya untuk mengurangi rasa sakit, dan memberi minum bila dia haus.

Suami sangat diharapkan memberikan dukungan agar istrinya tetap menjaga kesalehan selama proses kelahiran. Memperbanyak mengingat Allah untuk menghadirkan ketenangan dan ketentraman hati. Tak lupa memohon keampunan-Nya dan berdoa agar dimudahkan dalam melahirkan.

فَنَادَاهَا مِن تَحْتِهَا أَلَّا تَحْزَنِي قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا

“Maka ia diseru dari tempat yang rendah: “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.” (19:24)

Suami adalah penghibur istrinya di saat kepayahan, memberi semangat dan menyediakan kebutuhan yang diperlukan. Suami harus mendukung secara fisik dan membesarkan hati istri, melalui tahap demi tahap persalinan. Menghapus kesedihan istri dengan kabar gembira akan kelahiran bayi yang dinanti-nantikan.

وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا

“Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu,” (19:25)

Penderitaan dan perasaan frustasi yang dialami Maryam tidak boleh memupuskan harapan dan persangkaan baiknya kepada Allah. Pangkal pohon kurma adalah bagian yang sangat kokoh, sehingga sangat sulit dibayangkan bahwa seorang ibu yang kepayahan dan belum pulih akibat melahirkan dapat menggoyangnya sehingga pohon itu menggugurkan buah kurmanya. Allah mengajarkan Maryam untuk bersikap tawakal, manusia harus tetap berupaya sedangkan hasilnya adalah urusan Tuhan.

Rutab atau kurma segar adalah makanan terbaik bagi ibu melahirkan. Penelitian menunjukkan bahwa kurma mengandung nutrisi yang dibutuhkan untuk pemulihan. Sebuah makalah ilmiah Shiraz E-Medical Journal menyimpulkan bahwa memakan buah kurma setelah melahirkan lebih cepat mengurangi pendarahan daripada penggunaan suntikan oxytocin pada persalinan normal.

Bahkan sebuah makalah ilmiah pada Journal of Obstetrics and Gynaecology menyimpulkan bahwa mengonsumsi kurma pada 4 minggu menjelang persalinan mengurangi kebutuhan akan induksi dan menjaga pembesaran janin secara signifikan, serta menghasilkan kelahiran yang menyenangkan.

فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا

“Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu.” (19:26)

Suami yang suportif menyediakan buah kurma sebagai cadangan bagi istrinya yang sedang hamil tua maupun selepas melahirkan. Apabila kesulitan mendapatkan rutab atau kurma segar, maka kurma kering atau tamar pun dapat menggantikannya agar ibu melahirkan memperoleh manfaatnya.

Kemudian memberi makan dan minum kepada istrinya yang tentu saja kelaparan dan kehausan setelah berjuang menghadapi rasa sakit melahirkan. Maka apabila bayi yang dinantikan kehadirannya itu telah lahir, suami masih diharapkan perannya membantu istri mengatasi perasaan murung akibat perubahan kadar hormon dan euforia melahirkan.

Suka cita kelahiran adalah karunia dari Allah yang diharapkan keberkahannya dan didoakan kesejahteraannya. Menjadi suami pendamping persalinan adalah sebuah kesempatan dan sangat dihargai perannya.

Wallahu a’lam.


beratnya beban suami

4 Maret, 2013

Sebagian orang memandang bahwa kebanyakan suami semena-mena terhadap istrinya. Sebagian lain menganggap bahwa kebanyakan istri tidak tahu terima kasih kepada suaminya. Sebagiannya lagi berprasangkan bahwa kehidupan rumah tangga adalah kehidupan yang rawan konflik sehingga perlu dihindari. Aduhai… betapa piciknya pandangan dan anggapan demikian. Padahal setiap kehidupan manusia bermula dari pertemuan suami dengan istri. Dan Allah bersungguh-sungguh dalam melangsungkan keturunan manusia menuruti firmannya:

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS An-Nisaa’: 1)

Bagaimanapun hadits berikut memang bukan merupakan kebanggaan bagi setiap suami, namun harus dipikirkan betapa berat beban yang dipikul oleh suami, sehingga seandainya dibolehkan maka suami lebih berhak untuk dipersujudi oleh istrinya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَوْ كُنْتُ آمِرَا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لأَحَدٍ لأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا
“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain niscaya aku perintahkan istri untuk sujud kepada suaminya.” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dengan sanad yang hasan. Dishahihkan oleh Al Albany dari Irwa`ul Ghalil no. 1998]

Dalam ayat 34 surat An-Nisaa’ juga dijelaskan mengapa suami dilebihkan dari istri, bukan karena superior melainkan karena suami berkewajiban menafkahi istri dan anak-anaknya. Maka bukan pula untuk dituntut oleh setiap istri, namun demikianlah hak-hak istri yang wajib dipenuhi oleh para suami sebagai wujud beratnya beban dan tanggung jawab suami kepada para istri.

Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Apa hak seorang wanita atas suaminya?” beliau menjawab: “Memberi makan kepadanya apabila dia makan, memberi pakaian apabila ia berpakaian, tidak memukul wajah, tidak menjelek-jelekkannya dan tidak boleh mendiamkannya kecuali di dalam rumah.” [HR. Ibnu Majah no. 1840]

Semoga cukup memberi penjelasan bagaimanapun peran suami dengan segala kekurangannya, begitupun sikap istri dengan segala kekurangannya. Hendaklah masing-masing pihak menyadari kedudukan dan kewajibannya. Mengesampingkan menuntut hak yang tidak dipenuhi oleh yang lain dan saling memaafkan atas kekurangan masing-masing. Semoga Allah mencukupkan keduanya dan memberkahi kehidupan rumah tangganya.


menafkahi istri dengan layak dan cukup

1 Februari, 2013

Ibnu Umar mengatakan: Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- dahulu menyerahkan tanah khaibar (untuk digarap), dengan upah setengah dari hasil buah dan pertaniannya. Dari hasil tersebut, beliau bisa menafkahi para istrinya sebanyak 100 wasaq pertahun. 80 wasaq berupa kurma, sedang 20 wasaq berupa sya’ir (jewawut/malt). Pada saat Umar menjadi khalifah, dia membagi (tanah khaibar itu), dan memberikan pilihan kepada para istri Nabi -shallallahu alaihi wasallam-, antara mengambil tanah dan pengairannya, atau (seperti sebelumnya) menerima hasilnya beberapa wasaq tiap tahunnya. Dan pilihan mereka berbeda-beda, ada yang memilih tanah dan pengairannya, ada juga yang memilih menerima hasilnya beberapa wasaq. Adapun Aisyah dan Hafshah, mereka berdua memilih mengambil tanah dan pengairannya. [HR Muslim]

Hadits tersebut diletakkan oleh Imam Muslim pada bab Musaqah pada Kitab Muzara’ah dalam kumpulan Shahih-nya. Secara bahasa, muzara’ah berarti muamalah atas tanah dengan sebagian yang keluar sebagian darinya. Dan secara istilah muzara’ah berarti memberikan tanah kepada petani agar dia (pemilik tanah) mendapatkan bagian dari hasil tanamannya. Misalnya sepertiga, seperdua atau lebih banyak atau lebiih sedikit dari itu. Musaqah adalah menyerahkan kebun beserta pohonnya, kepada pekerja, agar dirawat, dengan upah dari sebagian hasil buahnya. Hadits tersebut dijadikan dalil praktik muamalah mengambil manfaat dari hasil kebun atau sawah milik sendiri yang digarap oleh orang lain.

Di dalam hadits tersebut disebut bahwa praktik musaqah dilakukan oleh Nabi -shallallahu alaihi wasallam- terhadap tanah khaibar. Tanah khaibar diperoleh sebagai harta rampasan perang Khaibar yang berlangsung di penghujung bulan Muharam pada tahun ke-7 H. Karena tidak memungkinkan untuk dibawa ke Madinah, maka kebun kurma dan malt yang ada diserahkan kepada petani Yahudi (yang dahulu memilikinya) untuk digarap dengan upah sebesar setengah dari hasil pertaniannya. Hal ini menjadi dalil dibolehkannya bermuamalah dengan orang-orang Yahudi maupun non muslim lainnya.

Dari hasil pertanian yang menjadi hak kaum muslimin, Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- dapat memberi nafkah kepada para istrinya sebanyak 100 wasaq pertahun dengan perincian 80 wasaq berupa kurma, sedang 20 wasaq berupa malt. Secara matematis, 1 wasaq adalah 60 shaa’, sedangkan takaran 1 shaa’ setara dengan 2,5 kg. Sehingga nafkah sebesar 100 wasaq per tahun setara dengan 15 ton dengan pembagian 12 ton kurma dan 3 ton malt. Dengan demikian setiap bulannya Nabi -shallallahu alaihi wasallam- menafkahi para istrinya sebesar 1,25 ton hasil pertanian. Apabila menggunakan perbandingan harga saat ini (2012) dimana 1 kg kurma berkualitas baik adalah Rp100 ribu dan 1 kg malt berkualitas baik adalah Rp50 ribu, maka nafkah yang dikeluarkan oleh Nabi -shallallahu alaihi wasallam- setiap bulannya kurang lebih senilai Rp112,5 juta.

Pada tahun ke-7 H hingga wafatnya, Nabi -shallallahu alaihi wasallam- masih memiliki 9 orang istri dan 1 orang selir. Khalifah Abu Bakar –radhiyallahu anhu- tetap melanjutkan hak nafkah para ummul mukminin tersebut hingga di masa Khalifah Umar bin Khattab –radhiyallahu anhu– mengubah mekanisme pembagiannya.

Hal ini mengandung pelajaran bagi para suami untuk memperhatikan keluarganya dengan memberikan nafkah yang layak dan cukup yang bersumber dari harta yang halal dan berkah. Dimana nafkah tersebut masih dapat dinikmati keluarganya bahkan jauh setelah si suami wafat. Hal ini juga mengandung pelajaran bahwa khalifah sebagai pemerintah dapat campur tangan ke dalam masalah hak-hak pribadi apabila melihat maslahat yang lebih baik sehingga dapat bermanfaat lebih bagi kelangsungan bernegara. Wallahu a’lam.


superioritas dan pukulan

1 Juni, 2012

Seorang teman bertanya kepada saya, apakah betul ayat 4:34 mengatakan bahwa laki2 itu superior daripada perempuan dan istri boleh dipukul. Pertanyaan yang menjawabnya butuh pemahaman yang komprehensif terhadap tafsir Quran dan fiqh agama. Dengan hati-hati sekali saya mengorek kembali pemahaman saya dari menghadiri majelis taklim, konsultasi dengan ustadz dan membaca buku-buku agama. Saya pun mencoba menjawabnya dengan tetap mengharapkan koreksi dari para ustadz yang jauh lebih kompeten untuk menjawabnya. wallahu a’lam.

4:34

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka perempuan yang salehah, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”

(QS An-Nisaa’, 4:34)

Kalimat pertama dari ayat 4:34 adalah: ar-rijalu qowamuna ‘ala an-nisa, diartikan bahwa kaum laki2 adalah pemimpin kaum perempuan. qowam juga berarti pelindung dan pemelihara. kalimat kedua menyebutkan alasan mengapa laki2 adalah qowam, yaitu: karena Allah telah melebihkan laki2 dan karena laki2 menafkahkan harta kepada keluarganya.

Bentuk kelebihan yang Allah berikan kepada laki2 adalah dari segi penciptaan, fisiologi tubuh laki2 memungkinkan untuk melakukan aktivitas fisik dan berpikir dengan cara yang berbeda dengan perempuan. Sedangkan memberi nafkah adalah kewajiban yang Allah bebankan kepada laki2. Jika ada kebalikannya, istri yang memberi nafkah kepada suaminya, tanpa uzur (misal sakit) maka hal itu telah menyalahi kodrat dan si suami akan mendapat hukuman dari Allah kelak karena melalaikan kewajiban.

Dengan demikian, laki2 sebagai suami dan kepala keluarga, wajib memimpin keluarga kepada jalan yang benar, wajib melindungi keluarga dari bahaya, dan wajib memelihara keluarga agar tetap utuh dan menjaganya supaya terbentuk sakinah (tenteram), mawaddah (kecintaan), dan rahmah (kasih sayang).

Arti kalimat ketiga: Sebab itu maka perempuan yang salehah, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).

Bermaksud agar perempuan memenuhi kewajiban mereka untuk taat kepada Allah dan memelihara diri ketika suaminya pergi, sebagai rasa syukur kepada Allah yang telah memeilharanya (ketiga suaminya pergi, maupun melalui perantaraan suaminya ketika ada).

Arti kalimat keempat: perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka.

Nusyuz dapat diartikan dengan durhaka atau perilaku yang tidak menyenangkan, alias si istri tidak amanah, tidak taat (dalam hal kebaikan), tidak memelihara diri, bahkan berselingkuh. Maka Allah menyuruh suami untuk melakukan perbaikan secara bertahap. Tahap pertama adalah nasehat (SP1). Kalau nasehat tidak mempan maka tahap kedua dihukum dengan tidak tidur satu ranjang dengan suami (SP2). Kalau tidak mempan juga alias istri tidak memperbaiki perilaku buruknya, barulah tahap ketiga dengan dipukul (SP3) dan pukulan merupakan cara paling akhir untuk mengatasi kedurhakaan istri.

Masalah pukulan ini, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberi rambu-rambu boleh memukul asalkan bukan pada wajahnya. Dan pukulan itu pun bentuknya pukulan yang ringan, bukan pukulan yang membuat cacat. pukulan yang sifatnya sekadar membuat jera, bukan penganiayaan. Suami juga harus mempertimbangkan apakah pukulan itu bermanfaat bagi si istri maupun dirinya, jika pukulan itu tidak bermanfaat, maka alangkah lebih baik ia mengambil metode selain pukulan (yang tentu saja metode yang lebih ringan daripada pukulan, karena pukulan merupakan metode terakhir).

Arti kalimat kelima: Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.

Dimaksudkan bahwa kalau dengan nasehat sudah cukup, maka tidak perlu pisah ranjang atau pukulan. Jika nasehat dan pisah ranjang sudah cukup, maka tidak perlu dipukul. Jika nasehat, pisah ranjang, dan pukulan ringan sudah cukup, maka tidak perlu cari-cari metode lain yang lebih menyusahkan si istri, karena pukulan adalah metode paling terakhir. Di sinilah dibutuhkan kebijaksanaan dan kedewasaan suami dalam menyikapi masalah. Dan di sini pula diperlukan kecerdasan dan ketaatan istri untuk memelihara keutuhan rumah tangga.

Arti kalimat keenam: Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Maksudnya adalah, supaya suami dan istri mengingat bahwa urusan dengan Allah adalah jauh lebih tinggi dan jauh lebih besar, daripada sekadar urusan duniawi. Allah menginginkan keharmonisan antara suami dan istri agar keduanya dapat menjalankan kewajiban kepada Allah dengan tenang dan khusyuk. Andaikata ada keributan di antara suami istri, insya Allah dengan mengingat Allah, semua urusan jadi kecil dan ringan.

Segala kebenaran datangnya dari Allah, kesalahan adalah dari diri saya sendiri. Wallahul-muwaffiq.


%d blogger menyukai ini: