subsidi bbm

18 November, 2014

Data speaks. We may say that it’s only a statistics. But we can see the realities that the haves enjoy the subsidies more.

View on Path

Iklan

mobil dinas dan bbm subsidi

19 Juli, 2012

“Mobil dinas Pemerintah, BUMN, BUMD harus menggunakan BBM Non Subsidi,” begitu bunyi spanduk yang terpampang di jembatan penyeberangan, halte bus, dan pagar SPBU Pertamina. Upaya ini merupakan salah satu cara pemerintah menggalakkan kepedulian masyarakat untuk menggunakan BBM Non Subsidi setelah kampanye “BBM Subsidi adalah BBM Miskin” tidak terlalu berhasil. Diharapkan dengan mengawali penggunaan BBM Non Subsidi di lingkungan pemerintahan dan badan usaha milik pemerintah, akan banyak masyarakat kalangan “non miskin” tergerak hatinya untuk mengikuti.

Selama ini diketahui bahwa subsidi yang dialokasikan kepada BBM tidak sepenuhnya dinikmati oleh masyarakat miskin, malah kebanyakan daripada penggunanya adalah kalangan mampu dan usahawan. Sehingga sempat ada empat bupati yang memprotes  pembatasan BBM bersubsidi di wilayah mereka. Bukan karena memenuhi kebutuhan rakyat miskin yang mereka naungi, namun demi kepentingan bisnis mereka sendiri yang potensi keuntungannya berkurang karena menggunakan BBM non subsidi. Langkah yang diambil pemerintah sebagaimana tertera di spanduk patut diacungi jempol, walaupun patut juga untuk dikritisi.

Bukankah kendaraan dinas pemerintah, BUMN dan BUMD mendapatkan uang pengganti BBM sesuai pemakaian? Artinya sudah ada subsidi bagi kendaraan dinas. Jika menggunakan BBM bersubsidi, maka dianggap terdapat subsidi kembar. Namun tidak berarti jika menggunakan BBM non subsidi sama dengan bebas subsidi sama sekali. Bahkan subsidinya sama atau bisa jadi lebih besar karena harga BBM yang dua kali harga biasa.

Ada usulan solusi tidak populer yang belum diambil saat ini oleh Pemerintah, yaitu menghilangkan subsidi sama sekali sehingga harga BBM murah menjadi setara dengan harga BBM non subsidi. Dijamin tidak hanya masalah subsidi saja yang terselesaikan secara baik dengan penerapan solusi ini, namun juga masalah lainnya seperti kemacetan akan berkurang, fasilitas kesehatan dan pendidikan gratis akan tercapai. Semoga.


(belum) ada bedanya

2 Juni, 2008

di tengah pertikaian antara pro dan kontra kenaikan BBM, saya gak mau ikut ambil bagian ah… bagi saya keputusan pemerintah, apapun di luar jangkauan kemampuan saya. toh di akhirat nanti para pembuat kebijakan itu yang akan ditanyakan oleh Tuhan. sebagai rakyat, saya hanya butuh jaminan kehidupan saya dilindungi secara hukum 🙂

tapi, lucu juga ya… kenaikan BBM ternyata tidak mengubah gaya hidup perkotaan yang doyan mobil maupun motor. setiap pagi, para pengendara kendaraan bermotor itu rela antri menghabiskan BBM dalam meneruskan parade kemacetan. sepertinya ini semakin membuktikan bahwa subsidi BBM selama ini hanya dinikmati oleh orang-orang tingkat menengah ke atas. lalu ke mana kalangan rakyat miskin?

selanjutnya dibaca ya


imbauan BBM salah alamat?

29 April, 2008

imbauan presiden pada acara peresmian infrastruktur di surabaya [27-Apr-08] mengenai upaya penghematan energi harus mulai dilakukan oleh setiap lini masyarakat agaknya kurang mengena. walau kondisi saat ini kita kekurangan pasokan listrik dan kesulitan pencapaian target produksi migas, sikap pemerintah baru-baru ini untuk mempertahankan bahkan menambah subsidi BBM sama saja dengan jauh panggang dari api, tidak adanya harmoni antara sikap dan imbauan. ibarat seorang ayah yang menyuruh anak-anaknya berhemat tetapi justru menambah jumlah uang jajan mereka, walhasil bukannya berhemat malahan tambah boros.

trus, bagaimana?


mengomentari pembatasan subsidi BBM

13 Februari, 2008

baru 3 bulan yang lalu saya tulis jurnal mengenai kebijakan BBM (baca di sini), harian media indonesia pada 11 februari 2008 mengangkat judul editorial “Beban Rakyat Pada BBM Nonsubsidi”. Jelas sekali pada editorial tersebut, khas media indonesia, selalu mengritik kebijakan pemerintah 🙂

memang benar bahwa pemerintah saat ini banyak keliru menerapkan strategi ekonomi secara menyeluruh. seperti benang kusut, akan lama menelusuri ujung dan pangkal supaya semua permasalahan ditangani dengan baik. tetapi tuntutan rakyat meminta pemerintah cepat menyelesaikan permasalahan, sehingga belum selesai satu masalah, muncul masalah yang lain.

lemahnya pemerintah kita dalam mengendalikan ekonomi negara juga lebih banyak ditunjang oleh perilaku para pelaku ekonomi kita yang maunya gampang dan susah diatur. akhirnya pemerintah terburu-buru mengambil kebijakan yang tidak efektif. mau tidak mau kita harus mengakui kekurangan pemerintah tersebut, dan berupaya memberikan jalan yang terbaik buat pemerintah. bukan hanya mengritisi kebijakan pemerintah, tetapi turut serta mendukung kebijakan yang sudah ditetapkan sambil memberi masukan untuk perbaikan.

dalam tulisan saya sebelumnya, saya mendukung kebijakan subsidi BBM diterapkan secara benar dan tepat sasaran. insya Allah jika diterapkan dengan benar kebijakan pembatasan BBM bersubsidi ini akan menyelesaikan beberapa masalah sekaligus dan bersifat adil. subsidi hanya bagi industri dan fasilitas umum, sedangkan fasilitas pribadi tidak perlu disubsidi. diharapkan penghematan sebesar Rp20 triliun dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas fasilitas umum.

secara gampangnya, tidak akan ada lagi pemborosan energi secara massal oleh karena kemacetan di jalan-jalan kota besar, karena hanya yang mampu membeli bbm nonsubsidi saja yang akan menjalankan kendaraan pribadi, selebihnya akan menggunakan kendaraan umum 🙂

setelah kebijakan ini diterapkan, pemerintah dapat melanjutkan dengan langkah-langkah lain misalnya yang diusulkan oleh editor media indonesia yaitu menekan pemborosan dalam cost recovery bidang migas yang sejauh ini terus diupayakan (bukan dibiarkan), atau memperbaiki teknologi kilang kita agar efisien sehingga menekan impor BBM (kalau yang satu ini butuh evaluasi lebih lanjut), serta membangun kerja sama dengan negara-negara yang jauh lebih menguntungkan dalam pemenuhan dan investasi bidang energi (hmm… dominasi negara maju masih menguasai bidang ini dibanding negara-negara yang dianggap menguntungkan).

apapun keputusan pemerintah, ada baiknya kita hargai dan kita dukung karena sudah saatnya kebiasaan buruk beberapa kalangan yang selalu merongrong kebijakan pemerintah tanpa solusi jitu diakhiri 🙂

note: satu lagi yang saya kurang suka dari media indonesia yaitu menampilkan sedikit sekali komentar yang mendukung kebijakan pemerintah daripada komentar yang mencela atau menolaknya :p


semua gak mau macet! (2)

13 November, 2007

petrol4.gif 

kemacetan di jakarta dan kota-kota besar lainnya adalah keniscayaan bagi negara berkembang. perlu kesabaran dan ketekunan dalam mengatasinya. dan terlebih lagi, perlu dukungan dari masyarakat kota tersebut untuk bekerja sama menyelesaikan masalah dengan arif bijak, bukan dengan menentang kebijakan pemkot.

tetapi kita tidak bisa bilang kemacetan hanya menjadi tanggung jawab pemkot. perlu penyelesaian lebih global melalui kacamata pemerintah pusat. kalau saja para wakil rakyat itu banyak berkoar solusi yang aneh-aneh. saya yang cuma anggota masyarakat punya sebuah solusi: kebijakan BBM.

BBM adalah darah bagi kendaraan dan industri, kebijakan BBM yang bersubsidi jelas tidak membuat masyarakat lebih arif menyikapi kenaikan harga minyak dunia. buktinya mereka tetap adem ayem meluncurkan mobil di jalan-jalan kota besar yang sarat kemacetan untuk arisan membuang energi besar-besaran.

dalam Republik Mimpi, dikatakan bahwa menaikkan harga BBM menyebabkan peningkatan kemelaratan 100 juta penduduk. Ya jelas kalau itu dipukul rata. seharusnya kebijakan BBM bersubsidi harus lebih mengena.

Subsidi BBM jika diterapkan hanya untuk industri, kendaraan umum, kota-kota kecil, daerah terpencil akan memberi jawaban yang pasti akan mengurangi kemacetan secara drastis. Karena masyarakat akan memilih penggunaan transportasi umum daripada pribadi. Bayangkan jika sebuah mobil yang dapat diisi 8-10 orang hanya ditumpangi seorang saja, sedangkan sebuah bus dapat diisi 60-80 orang, atau sebuah gerbong kereta dapat diisi hingga 100 orang.

Cukup tinjau ulang subsidi BBM, insya Allah kemacetan teratasi, masyarakat akan lebih bijak menggunakan kendaraan pribadi dan memilih transportasi umum untuk bepergian. kemudian tugas pemerintah selanjutnya adalah membuat kebijakan transportasi massa yang aman dan nyaman 🙂

bacaan sebelumnya


%d blogger menyukai ini: