pilih surga atau neraka

28 April, 2015

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال‏:‏ ‏ “‏حجبت النار بالشهوات، وحجبت الجنة بالمكاره‏”‏ ‏
(‏‏(‏متفق عليه‏)‏‏)‏‏.‏

Dari Abu Hurairah radiyallahu anhu, bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Neraka dikelilingi oleh syahawat (hasrat, gairah, kebebasan), sedangkan surga dikelilingi oleh makarah (belenggu, keterpaksaan, kesulitan).”

(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

http://sunnah.com/riyadussaliheen/1/101

View on Path


Anak kecil meninggal

2 Desember, 2014

عَنْ أَبِي حَسَّانَ، قَالَ: قُلْتُ لِأَبِي هُرَيْرَةَ: إِنَّهُ قَدْ مَاتَ لِيَ ابْنَانِ، فَمَا أَنْتَ مُحَدِّثِي عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحَدِيثٍ تُطَيِّبُ بِهِ أَنْفُسَنَا عَنْ مَوْتَانَا؟ قَالَ: قَالَ: نَعَمْ، «صِغَارُهُمْ دَعَامِيصُ الْجَنَّةِ يَتَلَقَّى أَحَدُهُمْ أَبَاهُ – أَوْ قَالَ أَبَوَيْهِ -، فَيَأْخُذُ بِثَوْبِهِ – أَوْ قَالَ بِيَدِهِ -، كَمَا آخُذُ أَنَا بِصَنِفَةِ ثَوْبِكَ هَذَا، فَلَا يَتَنَاهَى – أَوْ قَالَ فَلَا يَنْتَهِي – حَتَّى يُدْخِلَهُ اللهُ وَأَبَاهُ الْجَنَّةَ»

Dari Abu Hassan Radhiyallahu ’anhu, ia berkata:
Saya memberitahu Abu Hurairah, bahwa dua orang anakku telah meninggal dunia. Adakah berita (hadits) Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam yang dapat engkau sampaikan kepadaku yang dapat menyenangkan hati kami berkenaan dengan anak kami yang meninggal itu. Abu Hurairah menjawab: Ada! Anak-anak kecil (yang meninggal) menjadi kanak-kanak surga, ditemuinya kedua ibu bapaknya, lalu dipegangnya pakaian ibu bapaknya – sebagaimana saya memegang tepi pakaian ini – dan tidak berhenti (memegang pakaian) sampai Allah memasukkannya dan kedua ibu bapaknya kedalam surga.

HR. Muslim no. 2635

😥

View on Path


hancur dan bangun

24 Agustus, 2014

Memperhatikan Radya yang sedang bermain lego hero factory dan terus menerus membongkar pasang mainannya itu, Baba bertanya, “Mas, kok dibongkar lagi lalu dipasang lagi?” Radya menjawab, “Iya, Ba. Ini jadi scorpion. Lalu yang ini berubah jadi  monster raksasa.” Baba mengangguk mencoba memahami kreativitas Radya.

Radya menghampiri Baba dengan orang-orangan legonya, lalu berkata, “Baba, ini kan dilepas. Hancur, lalu dibentuk lagi. Terus dibongkar. Hancur, lalu dibangun lagi.”

Baba menimpali, “Begitulah yang terjadi dengan penghuni neraka.” Radya tercengang. “Mereka dihancurkan, lebur, kemudian dibangun dan dibangkitkan kembali. Dihancurkan, lebur dan dibangun kembali. Begitu seterusnya,” lanjut Baba. “Seterusnya, Ba?” selidik Radya. Baba menjawab, “Seterusnya bagi orang-orang yang berdosa lagi kafir.”

“Kecuali orang beriman, setelah habis dosanya dilebur di neraka. Kemudian mereka diangkat ke surga. Atas berkat rahmat Allah,” Baba meneruskan. “Pintu surganya dibuka, deh,” timpal Radya sambil memeragakan robot hero factory dengan gerakan membuka pintu.

“Iya, tapi bukan dibuka oleh robot melainkan oleh malaikat penjaga yang besar-besar,” jelas Baba. Radya pun tersenyum.


taman-taman surga di masjid nabawi

4 Maret, 2014

Didasari oleh hadits riwayat Al-Bukhari & Muslim yang menyebutkan, “tempat antara mimbarku dan rumahku adalah satu taman dari taman-taman surga”, kebanyakan peziarah di Masjid Nabawi begitu bersemangat untuk mendapati Al-Rawdah. Tak peduli waktu dan kondisinya, sampai harus mengantri berdesak-desakan, menunggu waktu buka tirai, berebutan, bahkan sampai menginjak jamaah lain yang terjatuh, demi mendapatkan salah satu taman surga. Banyak di antara mereka yang karena semangat untuk salat di Al-Rawdah malah meninggalkan keutamaan salat di saf pertama. Padahal di Masjid Nabawi, taman surga tidak hanya di Al-Rawdah.

Setiap bada salat Subuh, bada salat Asr, dan bada salat Magrib, akan mudah bagi yang mau untuk mendapati beberapa taman surga di Masjid Nabawi. Taman-taman yang lebih sejuk, damai dan orang-orang yang duduk di dalamnya tidak berdesak-desakan. Majelis yang dinaungi oleh sakinah, rahmat dan dikelilingi para malaikat. Yang apabila orang-orang yang mendatanginya menyebut nama Allah, akan Allah sebut nama mereka di majelis yang lebih mulia di sisi-Nya. Di taman-taman itu ada yang membacakan Alquran dan mempelajarinya, baik dari tahsin (memperbagus bacaan), tafsir (pemahaman), dan hukum-hukum tentang halal dan haram. Ada pula yang mempelajari hadits Nabi.

Bagaimana bisa perkumpulan orang-orang yang membaca kitabullah dan mempelajarinya disebut sebagai taman surga? Bukankah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam– bersabda: “‘Jika kalian melewati taman surga maka berhentilah.’ Mereka bertanya, ‘Apakah taman surga itu?’ Beliau menjawab, ‘Halaqah dzikir (majelis ilmu).'” (HR At-Tirmidzi). Selain itu, mendatangi majelis ilmu di Masjid Nabawi, selain bermanfaat bagi kehidupan juga dijanjikan pahala yang setara dengan pahala jihad. Dari Abu Hurairah beliau berkata, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Barang siapa mendatangi masjidku ini, tidak datang kecuali untuk kebaikan yang ingin dia pelajari atau dia ajarkan, maka kedudukannya seperti mujahid di jalan Allah. Dan barang siapa datang untuk selain itu, maka ia laksana orang yang hanya memandang barang orang lain.” (HR. Ibnu Majah)

Duhai, seandainya para peziarah itu tahu keutamaan majelis ilmu di Masjid Nabawi, tentu mereka tidak hanya berebut Al-Rawdah, tetapi juga memperebutkan taman-taman surga lainnya.

Referensi :

Abu Muawiah (2010, October 13). Keistimewaan Masjid Al-Haram dan Nabawi | Al-Atsariyyah.Com. Retrieved February 28, 2014, from http://al-atsariyyah.com/keistimewaan-masjid-al-haram-dan-nabawi.html

Al-Khalafi, A. A. (2004, August 19). Menziarahi Kota Madinah Al-Munawwarah – almanhaj.or.id. Retrieved February 28, 2014, from http://almanhaj.or.id/content/995/slash/0/menziarahi-kota-madinah-al-munawwarah61482/

Syamhudi, K. (2002). Adab majelis ilmu. retrieved February 28, 2014, from http://majalah-assunnah.com/index.php/kajian/hadits/253-adab-majelis-ilmu


13-09-1433H

2 Agustus, 2012

gambar diambil di Depok, tanggal 1 Agu 2012 jam 18.40 (13 Rmd 1433) dengan kamera Panasonic Lumix DMC-FZ8, 18x zoom

12 hari sudah Ramadan tahun ini dilalui, insya Allah masih ada 17 hari lagi sebelum merayakan hari berbuka. Mari koreksi kembali amalan puasa kita. Menahan lapar dan haus sudahlah tentu, apakah mata, lisan, dan hati juga berpuasa? Bahkan orang tidak beriman pun kuat berpuasa, apakah kita berpuasa dengan penuh keimanan dan berharap balasan dari Allah semata [1]? Apakah kita tetap menjaga salat-salat fardu? Bagaimana dengan salat-salat sunah? Sudahkah kita lebih dekat dengan Alquran? Apakah kita memperbanyak sedekah?

Banyak yang bilang bahwa Ramadan terbagi tiga fasa: rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Namun Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengindikasikan bahwa setiap hari di bulan Ramadan adalah rahmat, ampunan [2], dan pembebasan dari api neraka [3]. Maka hendaklah kita tidak berputus asa dari rahmat Allah [4], tetap meminta ampunan dari-Nya atas dosa-dosa kita [5], memohon terbebas dari api neraka yang 70 kali lebih panas dari api dunia, serta mengharap surga sebagai balasan dari Allah karena keikhlasan kita dalam beribadah.

[1],[2] “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadan dengan penuh iman dan ihtisab, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” [HR. Albukhari dan Muslim]

[3] “Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang dibebaskan dari neraka setiap siang dan malam di bulan Ramadan, dan semua orang muslim yang berdoa akan dikabulkan doanya.” [HR Bazzar, Ahmad, Ibnu Majah]

[4] “Sesungguhnya Allah menjadikan rahmat seratus bagian, dipeganglah di sisi-Nya sembilan puluh sembilan bagian dan diturunkan satu bagian untuk seluruh makhluk-Nya. Sekiranya orang-orang kafir mengetahui setiap rahmat yang ada di sisi Allah, niscaya mereka tidak akan berputus asa untuk memperoleh surga. Dan sekiranya orang-orang beriman mengetahui setiap siksa yang ada di sisi Allah, maka ia tidak akan merasa aman dari neraka.” [HR Albukhari]

[5] “Sesungguhnya Jibril alaihissalam datang kepadaku, dia berkata: Barangsiapa yang mendapati bulan Ramadan tapi tidak diampuni dosanya maka akan masuk neraka dan akan Allah jauhkan dia, katakan ‘Amin’, maka akupun mengucapkan Amin…” [HR Ibnu Khuzaimah, Ahmad, Albaihaqi, Muslim]


kewajiban menuntut ilmu

21 November, 2011

“Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar atau dirham, yang mereka wariskan hanyalah ilmu, maka barangsiapa yang telah mengambilnya, maka ia mengambil bagian yang banyak.” [HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi]

Masalah warisan bisa jadi berabe, apalagi kalau yang diwariskan adalah harta kekayaan, bisa-bisa saudara sedarah berkelahi sampai berbunuh-bunuhan. Padahal harta dan kekayaan yang sifatnya materi hanya habis pakai selama hidup dan tidak dibawa mati. Kalaupun ada sebagian orang yang dikubur bersamaan dengan harta kekayaannya maka harta itu tidak bermanfaat sama sekali bagi dirinya, apalagi bagi ahli waris yang ditinggalkannya. Bisa-bisa menimbulkan kebiasaan baru: maling kuburan. 🙂

Baca entri selengkapnya »


Jangan menyiksa binatang

15 Oktober, 2010

Dalam sebuah hadits yang sahih yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dikisahkan bahwa ketika mengimami shalat gerhana, diperlihatkan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasalam surga dan neraka dan terdapat seorang wanita yang sedang dicakar oleh kucing. Sebabnya dahulu kucing itu telah mencuri dendeng kemudian wanita itu mengurung si kucing tanpa memberinya makan sehingga kucing itu mati kelaparan dalam penyiksaan. Wanita tersebut mendapat balasan atas perbuatannya di dunia dengan siksaan di neraka.


%d blogger menyukai ini: