akhlak Islam

19 September, 2016

​ketika bunda Aisyah -semoga Allah meridainya- ditanya tentang bagaimanakah akhlak Rasulullah -sallallahu alaihi wasallam, maka  dijawab, “Akhlak beliau adalah Al-Quran”. diriwayatkan oleh Imam Muslim.

yang hilang dari kita adalah akhlak, agama menjadi formalitas, religiusitas sekadar status, knowledge sebagai justifikasi penghakiman. praktiknya pragmatis. gagal paham.

padahal, islam adalah jalan keselamatan, tentu bagi yang berkomitmen dan berupaya konsisten. 

sebagaimana nasihat Nabi kepada seseorang yang bertanya tentang Islam dalam satu kalimat pendek, “katakanlah aku telah beriman kepada Allah, kemudian istikamahlah.” diriwayatkan oleh Imam Muslim.

istikamah dapat dimulai dari pribadi muslim sebagai penganut Islam, perbaikan diri dan keluarga, lalu masyarakat. menjadikan muslim sebagai sebenar-benar keberserahan diri.

pemaksaan syariat pada umat yg belum siap dapat melahirkan pembangkangan dan pertikaian, minimal kemunafikan.

cukup bahagia tentunya melihat Islam hadir di tengah umat yg terus memperbaiki diri, dan bukan sebagai kendaraan hawa nafsu. semoga Allah mengaruniakan taufik.

@ndi, 17121437



kewajiban menuntut ilmu

21 November, 2011

“Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar atau dirham, yang mereka wariskan hanyalah ilmu, maka barangsiapa yang telah mengambilnya, maka ia mengambil bagian yang banyak.” [HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi]

Masalah warisan bisa jadi berabe, apalagi kalau yang diwariskan adalah harta kekayaan, bisa-bisa saudara sedarah berkelahi sampai berbunuh-bunuhan. Padahal harta dan kekayaan yang sifatnya materi hanya habis pakai selama hidup dan tidak dibawa mati. Kalaupun ada sebagian orang yang dikubur bersamaan dengan harta kekayaannya maka harta itu tidak bermanfaat sama sekali bagi dirinya, apalagi bagi ahli waris yang ditinggalkannya. Bisa-bisa menimbulkan kebiasaan baru: maling kuburan. 🙂

Baca entri selengkapnya »


fungsional dan praktis

17 Februari, 2010

Demi bergaya, seseorang membeli Honda CBR yang baru turun dari kapal, kemudian bergabung dengan klub, melakukan turing, membuat setiap mata yang dilaluinya memandang takjub dan terpana. Perawatan motor itu hanya pada bengkel tertentu saja, mungkin hanya ada beberapa di negeri ini. Suatu saat ia terjatuh sehingga patah spionnya, harus indent untuk mendapat penggantinya. Ketika harus mengganti suku cadang karena sudah waktunya pun harus indent, menunggu kiriman dari kapal karena tidak terdapat di toko suku cadang biasa. Tibalah waktunya si pemiliki motor sport bergaya itu melepas masa lajangnya, ia sadar dirinya tidak berharta lebih, dilego pula CBR kesayangannya pada angka 25 juta.

Baca entri selengkapnya »


%d blogger menyukai ini: