belajar dari terorisme

18 Januari, 2016

Terorisme menurut bahasa adalah penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai tujuan, terutama tujuan politik. Kata terorisme sendiri berasal dari bahasa Perancis yang mengacu secara khusus kepada aksi teror yang dilakukan oleh pemerintahan Perancis pada tahun 1793-1794.  Terorisme menjadi topik hangat kembali setelah beberapa peristiwa pengeboman. Aksi-aksi teror menyita perhatian publik di media massa maupun media sosial. Tidak sedikit yang menarik benang merahnya ke kaum muslim, walaupun tidak melulu, karena para pelaku teror itu kebanyakan beragama Islam.

Dari sisi ideologis, kebanyakan teroris meyakini bahwa pemerintah yang sah bukanlah ulil amri yang patut dipatuhi, yang boleh diperangi, karena dianggap kafir baik karena secara personal bukan muslim atau karena hukum yang dibuat bukan di atas dasar Kitab dan Sunnah. Adapun dari sisi ekonomi dan sosial, terorisme muncul di tengah keputusasaan dan hadir untuk memenuhi harapan. Terorisme berkembang sebagai reaksi atas masalah ketidakadilan, kesenjangan ekonomi, praktik korupsi, dan lahir dari sikap inferior yang ekstrem.

Di dalam sejarah Islam, pemikiran seperti ini berasal dari dua sumber: Dzul Khuwaishirah dan Abdullah bin Saba’. Diriwayatkan bahwa Dzul Khuwaishirah meragukan keadilan Rasulullah -sallallahu alaihi wasallam- dalam membagi ghanimah (harta rampasan perang). Para pengikutnya disebut sebagai Haruri atau lebih terkenal dengan istilah Khawarij. Pemberontakan besar mereka yang pertama telah menyebabkan terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan -radiyallahu anhu.

Adapun Abdullah bin Saba’ telah meramu pemikiran Khawarij ini, menempelkannya kepada sebuah golongan politis dan membungkusnya dalam sebuah akidah baru bernama Rafidhah alias Syiah. Kaum ini tidak mengakui kepemimpinan yang sah kecuali kepemimpinan dari kalangan mereka sendiri. Pemberontakan dan aksi-aksi teror berikutnya di dalam peradaban Islam pastilah dilakukan oleh kedua saudara kembar ini: Khawarij dan Syiah, atau oleh orang-orang yang teracuni oleh pemikiran mereka.

Ibarat tanaman, bibit terorisme tumbuh subur dalam lingkungan yang korup, mendapat pupuk dari pemikiran ekstrem, dan mendapat oksigen melalui publikasi media massa. Tidak dimungkiri pula adanya teror yang dilakukan dan sengaja dipelihara untuk memenuhi kepentingan dan untuk tujuan tertentu. Bagaimanapun terorisme memberikan pelajaran bahwa sikap bijak dalam beragama, menjaga persatuan dan memperjuangkan keadilan adalah hal-hal yang diperlukan untuk mengatasinya.


syiah di masjid nabawi

23 Maret, 2014

azan asar berkumandang, toko-toko dan lapak-lapak ditutup. manusia berbondong-bondong menuju masjid nabawi untuk salat berjamaah. tetapi beberapa orang pergi menjauhi masjid.

perempuannya mengenakan kerudung hitam yang panjang dari kepala hingga kaki, dipegang untuk menutupi pakaiannya yang tidak longgar. laki-lakinya berpakaian biasa saja. sebagian laki-laki yang terpelajar memakai serban dan jubah lebar yang melabuh sampai ke tumit.

di al-rawdah, mereka memenuhi posisi favorit, di bagian belakang dekat kamar fatimah. duduk menghadapnya sambil berdoa. lisannya mewiridkan nama ali, fatimah dan husain.

di waktu salat jumat, sebagian dari mereka keluar membuat jamaah sendiri dan salat empat rakaat. sebagian yang berada di dalam masjid duduk khusyuk menyimak khutbah dan ikut salat dua rakaat di belakang imam. ketika salam mereka langsung bangkit dan melanjutkan dua rakaat lagi.

di lorong antara bab al-salam dan bab al-baqi, kaum laki-laki mereka memberi salam di hadapan kubur rasulullah kemudian lirih mencaci di hadapan kuburan abu bakar dan umar.

di halaman masjid, berkumpul kaum perempuan menghadap kubah hijau. melambaikan tangan menyalami rasulullah, melontarkan cacian bagi kedua sahabat beliau. lalu berdoa ke arah kubah hijau, membelakangi kiblat.

di al-baqi, kaum laki-lakinya ramai berkumpul di hadapan gundukan tanah kuburan yang ditandai susunan batu yang dianggap sebagai kuburan aisyah, ibunda kaum beriman. di hadapan kubur itu mereka mencacimaki istri rasulullah yang dimuliakan. mencacimaki beliau pulalah kaum perempuan mereka yang berada di luar tembok pemakaman.

ketika azan dan ikamah mereka tidak bersegera mendatangi masjid nabawi. bila takbiratulihram ditegakkan mereka berupaya menyisip di sela-sela jemaah. mengingatkan jemaah akan kelakuan salah satu makhluk Allah, sekaligus peringatan untuk merapatkan saf.


keutamaan para sahabat Rasulullah

10 November, 2011

Di antara dasar-dasar ahlussunnah wal jamaah adalah selamatnya hati dan lisan mereka dalam menyikapi para sahabat Rasulullah sallallahu alaihi wasalam. Mereka mengakui dan meyakini kabar keutamaan empat sahabat yang terbaik yaitu Abu Bakar, Umar ibnul Khatthab, Utsman ibn Affan dan Ali ibn Abi Thalib. Mereka mencintai dan loyal kepada keluarga Rasulullah. Mereka loyal kepada istri-istri Rasulullah sebagai ummul mukminin. Mereka tidak membenci para sahabat seperti Syiah Rafidhah, dan mereka tidak menyakiti ahlul bait seperi golongan Nawashib. Mereka juga tidak meyakini bahwa para sahabat bebas dari dosa, melainkan para sahabat juga melakukan kesalahan tetapi mereka memiliki kebaikan yang banyak. Dan ahlussunnah wal jamaah meneladani keutamaan-keutamaan para sahabat Rasulullah radiyallahu anhum.

http://www.ziddu.com/download/17413841/hWasithiyah_UstMuhYahya_KeutamaanSahabatRasulullah.mp3.html


%d blogger menyukai ini: