saring sebelum sharing

20 Januari, 2015

Bagi atau tidak, mesti tabayun pada setiap berita yang kita terima.

View on Path


tukang gosip

2 Maret, 2014

banyak yang bilang gosip itu adalah makin digosok makin sip. seperti aromaterapi yang dibakar di pedupaan, menebar aroma semerbak di tiap sudut ruangan. sayangnya aroma gosip itu busuk, sama sekali tidak harum mewangi.

tukang gosip senang menyebarkan berita  dan malas melakukan cek dan ricek. kalau berita gosipnya tidak benar maka disebut berdusta. jika gosipnya itu benar maka dia telah memfitnah.

tukang gosip juga suka mencari-cari kesalahan orang lain. dan dijadikan sebagai bahan pergosipan. padahal orang yang digosipi bisa jadi lebih baik daripada yang menggosipinya.

penyakit suka menggosip tidak hanya menjangkiti orang yang awam dan jahil terhadap agama. bahkan jadi komoditas mengasyikkan di antara penuntut ilmu. sebagai tirai fitan yang menarik dan sulit disibak.

saking kaburnya, sulit membedakan antara kebencian dan cinta kasih. kesalahan dibumbui penyedap hingga menguatkan rasa. bersikap zalim dan tidak adil pun sebagai hal yang dibanggakan dan dielu-elukan.

takutlah kepada Allah wahai tukang gosip. sebagai orang yang seperti makan bangkai saudaranya, profesi tukang gosip diancam dengan siksa neraka.


informasi dan dusta

9 Februari, 2010

Sebuah ungkapan yang berbunyi: “Cukuplah seseorang dikatakan pendusta jika ia menyampaikan semua yang didengarnya” [1] hendak mengatakan kepada kita bahwa dusta bukan hanya karena ketidakjujuran, namun barangkali kejujuran yang salah kaprah justru membawa kepada kedustaan. Seringkali informasi yang kita dapati dari orang lain bukanlah melulu kebenaran, oleh karenanya mekanisme cek dan ricek menjadi wajib jika kita merasa perlu menyampaikannya lagi. Jika sebuah berita yang kita dengar bukanlah hal yang perlu diteruskan, cukuplah kita membatasi diri dengan cara berdiam, mengabaikan bahkan melupakannya.

Baca entri selengkapnya »


%d blogger menyukai ini: