Pendidikan membangun karakter

3 Mei, 2016

image

Sikap jujur idealnya ditanamkan di sekolah melalui pembiasaan, bukan penyuruhan. Diperlukan komitmen dari guru dan orangtua untuk terus menjadikan diri sebagai teladan bagi para siswa. Saatnya prestasi siswa tak dihargai dalam bentuk materi.

Di dalam Islam konsep pendidikan terdiri atas tarbiyah dan taklim. Tarbiyah menekankan kepada penghayatan pribadi dan akhlak (budi pekerti). Adapun taklim merupakan pengembangan nalar dan pengajaran ilmu pengetahuan. Dengan demikian, pendidikan merupakan proses internalisasi nilai-nilai ke dalam pengetahuan dan karakter siswa, dengan tujuan untuk membangun pribadi yang mulia.

Pribadi yang berkarakter mulia bukan hanya yang memiliki kecerdasan dan ilmu pengetahuan. Bukan pula yang menguasai bidang-bidang kehidupan, berprestasi tinggi, dan berpenghasilan besar. Pribadi berkarakter mulia adalah pribadi yang memiliki sifat-sifat jujur, santun, rajin, dan kuat.

Jujur tidak sama dengan terbuka atau apa adanya. Jujur adalah keseiaan antara hati, kata dan perbuatan. Pribadi yang jujur adalah pribadi yang ikhlas. Ia beramal demi perbaikan diri sendiri, memihak kepada kebenaran dan tidak pamrih ataupun merisaukan apa kata orang. Pribadi yang jujur percaya bahwa Allah selalu mengawasi dirinya sehingga tidak ada tempat dan waktu baginya untuk berbuat curang.

Santun adalah karakter yang halus dan baik budi bahasa maupun tingkah lakunya. Pribadi yang santun, berperilaku sopan dan bertata krama. Ia menghormati orang yang lebih tua dan mengasihi kepada sesamanya atau kepada yang lebih muda. Pribadi yang santun penuh belas kasih dan gemar menolong (membantu dan memperhatikan kepentingan orang lain).

Pribadi yang rajin, adalah pribadi yang senang bekerja dan giat belajar. Tidak malas, tetapi yakin bahwa hanya dengan bersungguh-sungguh ia akan mencapai apa yang dicita-citakannya. Pribadi yang rajin berkomitmen dengan dirinya sendiri baik berupa janji kepada Tuhannya begitupula janji kepada orang lain.

Orang yang kuat bukanlah orang yang mampu mengalahkan lawannya dalam bergulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan amarahnya. Pribadi yang kuat adalah pribadi yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi. Ketika marah, ia mampu mengendalikan emosinya agar tidak merusak. Pribadi yang kuat bukan pula pribadi yang cengeng. Ketika sedih, ia mampu mengendalikan emosinya agar tidak meratapi. Ia tidak banyak menuntut hak, sebaliknya ia menuntut dirinya sendiri untuk mengerjakan kewajiban-kewajibannya.

Keempat karakter mulia tersebut menjadi modal utama dalam menjalani kehidupan. Pribadi yang memiliki keempat karakter tersebut adalah pribadi yang mulia. Pendidikan karakter, semestinya melahirkan pribadi-pribadi mulia.

Karena pendidikan karakter ini tidak bisa instan dan butuh proses, maka proses belajar-mengajar menjadi penting. Orangtua dan guru perlu berkomitmen untuk terus menjadikan diri sebagai teladan berkarakter bagi para siswa.

#hardiknas

Bacaan lain:

https://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/2009/03/17/sebelum-anak-terlanjur-cerdas/

Orientasi hasil abaikan proses; Kompas, Senin, 2 Mei 2016, halaman 11

Sekolah terjebak pragmatisme; Kompas, Senin, 2 Mei 2016, halaman 1 dan 15


azan mempersatukan hati

11 Desember, 2014

Hari ini di kantor kami kedatangan pengunjuk rasa. Digelar oleh SPSI berseragam biru strip merah. Sebagai solidaritas pekerja alih daya bidang migas. Menuntut agar menghapus outsourcing, mengangkat mereka jadi permanen.

Satuan pengamanan disiapkan. Sepasukan polisi berjaga-jaga. Lengkap dengan barikade kawat dan senjata seperlunya.

Azan zuhur berkumandang. Unjuk rasa pun bubar. Berbondong-bondong mereka menyerbu masjid. Sama-sama mengantre wudu. Berdiri berdampingan salat berjamaah. Duduk menyimak taklim.

Seusai makan siang, unjuk rasa berlanjut penuh semangat. Tak lama pun usai pula. Tanpa ada keributan. – at Wisma Mulia

See on Path


هل تتكلم العربيه

12 Maret, 2014

1.

“هل تتكلم العربيه؟”

Seseorang tiba-tiba memberi salam kepada saya yang sedang berjalan di pelataran Masjid Nabawi dan bertanya dengan pertanyaan tersebut. Tergagap, saya pun menjawab, “I am sorry, أنا لا أتكلم العربية”

Orang itu tersenyum kemudian mengucapkan terima kasih dalam bahasa arab dan pergi meninggalkan saya. Saya mengira dia hendak menanyakan sesuatu namun tidak jadi karena saya tidak berbahasa yang sama dengannya.

2.

Lain waktu saya menghadiri majelis tahsin alquran setelah subuh dibimbing seorang syaikh. Setiap hadirin selesai membaca, syaikh mengomentari dan bercakap sebentar dengannya. Pada giliran saya membaca beliau menyimak dengan saksama, kemudian mencukupkan bacaan saya dan bertanya, “جيد ، هل أنت أندونيسي؟”

Terkesima, saya pun menjawab, “نعم، أنا اندونيسي”

Beliau tersenyum dan mendoakan keberkahan lalu beralih kepada giliran berikutnya.

3.

Usai mengikuti pengajian tafsir Juz Amma berbahasa Indonesia di Masjid Nabawi yang dibawakan oleh Ustaz Firanda, seorang pemuda mendatangi saya dan bertanya, “Excuse me, in what language the talk was presented?” Saya pun menjawab pertanyaannya dengan bahasa Inggris dan terjadi percakapan beberapa saat dengannya. Pemuda yang berasal dari suatu daerah di Turki itu tidak terlalu fasih berbahasa Inggris namun kami berusaha saling memahami.

4.

Pada kesempatan saya menghadiri majelis taklim bada magrib di Masjidil Haram, saya berharap dengan beraneka ragamnya peziarah mendapati orang yang saya dapat berkomunikasi dengannya. Saya membuka pertanyaan dengan orang yang duduk di samping saya, “Excuse me, who is the sheikh who was giving a lesson?” Orang itu pun menjawab, “باللغة العربية، من فضلك”

Saya kaget, lalu bertanya dengan terbata-bata, “ما هو اسم الشيخ؟” Orang itu pun menjawab, “أنا لا أعرف؟” Kami pun kembali menyimak pelajaran tanpa berpanjang kalam.

5.

Setiap waktu salat berjamaah yang saya hadiri di Masjidil Haram maupun di Masjid Nabawi, saya merasa bersyukur dapat menjadi salah seorang makmum. Menikmati kesyahduan lantunan qiraah para imam yang  selama ini bacaannya hanya didengar melalui rekaman. Namun untuk menghayatinya sepenuh hati, barulah pada ayat-ayat yang sering saya dengar atau yang saya hafal dan diketahui maknanya.

6.

Suatu ketika saya mengunjungi maktab atau perpustakaan yang berada di sisi barat Masjid Nabawi. Melihat koleksi buku-buku yang terpampang di sana, terbayang betapa banyak pengetahuan yang tersedia dan siap untuk dibaca oleh para penuntut ilmu. Saya memindai setiap rak mencari-cari buku yang dapat saya baca. Hati dan perasaan saya bergolak, tak terasa saya pun menitikkan air mata. Mendapati diri ini tak mampu memetik sedikitpun faidah dari ribuan buku yang ada, hanya karena kemampuan berbahasa yang minim.

7.

-epilog-

Dari Hasan Al-Bashri, beliau pernah ditanya, “Apa pendapat Anda tentang suatu kaum yang belajar bahasa arab?” Maka beliau menjawab, “Mereka adalah orang yang baik, karena mereka mempelajari agama nabi mereka.”


tentang dai

16 November, 2011

Bismillah,
Miris memang membaca kenyataan tentang audisi dai di televisi, bahkan ada artikel yang mempertanyakan mengapa tidak ada audisi untuk pendeta, pertanyaan itu terjawab dengan sebuah tertawaan: “Menjadi pendeta ada sekolahnya, Bung. Di seminari, bukan di televisi.”

Melihat betapa orang Islam yang mengikuti audisi dai di televisi, kebanyakan di antara mereka miskin ilmu, hanya bermodalkan buku agama, menghapalnya lalu menyampaikannya kepada khalayak. Sebaliknya ada juga para santri yang menekuni ilmu agama sejak kecil, mengenyam bangku pesantren, sampai duduk di majelis para ulama timur tengah namun sekembalinya mereka ke tanah air, kekayaan ilmu yang telah diperolehnya tidak disampaikan kepada umat, atau justru ikut-ikutan audisi dai dan tenggelam dalam industrialisasi hiburan di televisi. Menggenapi nubuat Rasulullah tentang banyaknya para pengkhutbah di akhir zaman dan hilangnya ilmu di tengah-tengah umat.

Ada juga pemuda-pemuda yang dengan semangat bergabung dalam kelompok dakwah, tidak membekali diri dengan keilmuan agama, bahkan mengabaikan hal-hal yang pokok, padahal terdapat kaidah: “barangsiapa yang tidak menguasai pokok-pokok ilmu maka ia tidak akan mampu menguasai ilmu.” Akhirnya mereka hanya ikut-ikutan pendahulunya, lebih mengutamakan amal jama’i daripada amal bil ilmi. Bahkan ada sebagian kelompok yang karena kebodohan mereka sampai mengafirkan umat Islam dan melakukan teror. Sehingga apabila kelompoknya bubar (dengan sendirinya ataupun dibubarkan oleh pemerintah), mereka kelimpungan tak tahu arah kemana melangkahkan kaki. Alih-alih insyaf dari kesalahannya, menutup mata dari majelis taklim, maka kembali kepada keadaannya semula yang jahil dari ilmu, kembali memuaskan hawa nafsu. Naudzu billahi min dzalik.

Ada lagi pemuda-pemuda yang dididik oleh pendidikan moderen, melihat dakwah dengan cara moderen, mengernyitkan mata dari kajian kitab-kitab salaf, lebih menjunjung metode berpikir khalaf, kemudian membuat-buat bidah baru atau merekonstruksi bidah-bidah lama dengan pijakan yang salah tentang hadits “man sanna sunnatan”. Maka ketika dakwah mereka mengawang-awang dan tidak lagi berpijak, mereka pun kehilangan pegangan, menerima semua konsep dan membenarkannya lalu hidup dalam kebingungan. Alih-alih insyaf dari kesalahannya, menutup mata dari majelis taklim, maka mereka mempersalahkan yang tidak dapat menerima pemikiran mereka, kembali memenuhi anggapan hawa nafsu. Naudzu billahi min dzalik.

Namun ada di antara umat yang tetap konsisten dan konsekuen terhadap jalan yang dirintis oleh 3 generasi terbaik umat Islam, berpijak pada pokok-pokok yang benar, tegas dan tidak bimbang, berdakwah dengan hikmah, ikhlas dalam beramal, tanpa pamrih maupun bergeming pada godaan kursi, berakhlak mulia dalam pergaulan.  Mereka duduk memenuhi majelis taklim, mengaji kitab-kitab salaf, menghadiri jamuan ilmu para ulama, terbimbing dalam berdakwah, berhujah dengan dalil dan pemahaman yang sahih saja. Mereka menghidupkan sunnah dan mematikan bidah dalam setiap gerak ibadah maupun kesehariannya, menjadi asing di tengah dunia, dan tidak dilirik oleh siapapun kecuali oleh orang-orang yang berhati jernih.

Allah-ul-musta’an


%d blogger menyukai ini: